LOGINAroma teh chamomile memenuhi sudut ruangan, menghadirkan kehangatan yang lembut di tengah dinginnya malam. Uap tipis mengepul dari cangkir porselen yang berada di atas meja kecil dekat jendela.Agnira mengangkat cangkir itu perlahan. Ia meniup permukaannya sebentar sebelum menyesap sedikit demi sedikit. Rasa hangatnya mengalir turun ke tenggorokan, sedikit meredakan ketegangan yang sejak tadi memenuhi kepalanya.Angin malam kembali berembus, menggerakkan tirai putih hingga menari pelan. Tatapan Agnira menerobos pekatnya malam. Taman di luar tampak sunyi. Hanya lampu-lampu taman yang memancarkan cahaya kekuningan di antara pepohonan."Tenang sekali," gumamnya lirih.Keheningan seperti inilah yang selalu ia sukai. Tidak ada suara pertengkaran, tidak ada tatapan merendahkan, dan tidak ada kepura-puraan yang menguras tenaga.Ia kembali menyesap teh hangatnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Entah mengapa, firasatnya mendadak terasa tidak enak.Agnira mengernyit pelan. Matanya m
Prang!Vas bunga terlempar ke arah dinding. Pecahan kacanya berhamburan di lantai marmer, sebagian bahkan meluncur hingga ke kaki sofa. Tubuh Ratih dan Aurelie sama-sama tersentak. Keduanya membeku saat melihat raut murka yang ditunjukkan Surya."Sudah saya katakan, jangan bertindak bodoh!" bentak pria itu lantang.Napasnya memburu. Urat di lehernya menegang, sementara telunjuknya mengarah bergantian kepada istri dan putrinya. "Kalian tahu siapa Sambara!"Tak ada yang menjawab. Ratih menundukkan kepala, sedangkan Aurelie menggigit bibir bawahnya erat."Tapi kalian tetap mencari masalah!" lanjut Surya. "Apa kalian pikir dia masih Sambara yang dulu bisa kalian atur sesuka hati?"Ratih mengangkat wajah perlahan. "Saya hanya ingin mengajarkan etika kepada Agnira.""Etika?" Surya tertawa sinis. "Menurutmu itu etika? Itu penghinaan bagi Sambara!"Suara Surya menggema memenuhi ruang tamu. "Kamu mempermalukan istri pemilik rumah di depan semua orang. Apa yang kamu harapkan? Sambara akan diam?
Ketegangan terjadi di halaman rumah Lakeswara. Koper milik keluarga Surya sudah berjejer rapi di teras paviliun. Beberapa kardus berisi dokumen dan barang-barang pribadi ikut ditumpuk di sampingnya.Surya berdiri mematung di depan tumpukan barang itu. Jemarinya saling meremas gelisah, sementara pandangannya berkali-kali beralih ke arah rumah utama. Ratih berdiri di sisi suaminya dengan wajah pucat. Wanita itu sesekali menggigit bibir bawah, berusaha menekan kegelisahan yang terus menghantui pikirannya.Sementara Aurelie hanya menundukkan kepala. Otaknya berputar cepat mencari solusi, agar ia tidak pergi dari kediaman ini. Jika ia pergi dan menjauh dari Sambara, bagaimana bisa ia menjalankan rencananya.Tak lama kemudian, pintu rumah utama terbuka. Sambara keluar dengan langkah tenang. Di belakangnya berjalan Agnira yang menggenggam lengan sang suami. Nayara dan Robi ikut menyusul beberapa langkah di belakang.Tatapan Surya langsung jatuh kepada Sambara. Tanpa menunggu lebih lama, pria
Isak tangis Agnira memenuhi ruang kamar. Wanita itu memeluk guling erat, lalu menenggelamkan wajahnya di balik bantal, berusaha meredam suara tangis yang tak kunjung berhenti.Bahu mungilnya berguncang. Semua kalimat Ratih terus berputar di dalam kepalanya."Melihatmu makan saja membuat seleraku hilang. Orang akan mengira keluarga Lakeswara tidak pernah mengajarkan etika.""Jangan sampai orang berpikir Sambara menikahi wanita yang tidak memahami tata krama."Semakin ingin dilupakan, semakin jelas kata-kata itu terdengar. "Aku memang memalukan ..." gumamnya lirih di sela tangis.Ia mengusap air mata dengan kasar, tetapi justru semakin deras mengalir. "Kenapa aku tidak bisa seperti wanita lain?"Pintu kamar terbuka perlahan. Sambara masuk tanpa suara. Di tangannya terdapat segelas susu hangat yang tadi sempat ia minta pada pelayan untuk Agnira. Begitu melihat istrinya menangis hingga tubuhnya bergetar, langkahnya langsung terhenti.Sorot mata dingin yang selama ini selalu ia tunjukkan
Di tengah aksi merajuk Agnira, suara langkah kaki dan sapaan hangat mengalihkan perhatian semua orang. Keluarga Maheswara baru saja tiba.Surya melangkah lebih dulu, diikuti Ratih yang berjalan anggun dengan dagu terangkat. Aurelie yang wajahnya masih tampak pucat berjalan perlahan di belakang orang tuanya. Mereka menyapa Sambara sebelum duduk di meja yang telah disiapkan.Ratih sempat melirik ke arah Agnira. Tatapannya langsung berubah tipis penuh penilaian. Wanita itu mengamati bagaimana Agnira menyuap nasi dengan lahap, sesekali menyendok kuah hingga menetes ke piring, bahkan tanpa sadar menyeka sudut bibir menggunakan punggung tangan. Ratih mengembuskan napas pelan, lalu menggeleng."Agnira," panggilnya dengan nada halus, tetapi terdengar menusuk. "Seorang wanita itu harus makan dengan anggun. Pelan, rapi, bukan seperti orang yang kelaparan seperti itu." Suasana meja mendadak sunyi. Celetukan Ratih membuat Surya membeku, pria tua itu langsung menatap ke arah Sambara yang terlihat
Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di depan paviliun keluarga Lakeswara. Pintu mobil terbuka perlahan, memperlihatkan keluarga Maheswara yang satu per satu turun. Wajah Aurelie masih tampak pucat, seolah tenaga di tubuhnya belum benar-benar pulih. Ratih dan Surya sigap menggandeng wanita itu, menuntunnya melangkah menuju paviliun dengan hati-hati. Tepat sebelum memasuki bangunan, langkah Aurelie sempat terhenti. Ia menoleh ke arah rumah utama Lakeswara, menatap bangunan megah itu beberapa saat dengan sorot mata yang sulit diartikan, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya bersama orangtuanya.Ratih yang menyadari putrinya kembali menoleh ke arah rumah utama segera menggenggam tangannya lebih erat."Sudah," ucap wanita paruh baya itu pelan. "Jangan dipikirkan lagi."Aurelie menarik napas panjang. Senyum tipis yang dipaksakan menghiasi bibirnya. "Aku tidak memikirkan apa-apa, Mah."Ratih tidak membalas. Ia mengenal putrinya terlalu baik. Tatapan barusan bukan tatapan seseora
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge







