Masuk"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.
Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya. Tangan Agnira mengerat menggenggam sprei dengan kuat, tatkala kepala Sambara mulai mengendus pelan leher jenjangnya. Mengantarkan rasa geli yang membuat ia terpejam kembali. "Ah ..." Satu desahan lolos begitu saja, saat Sambara secara perlahan mengecap belakang telinga Agnira. Pria itu tersenyum saat aksinya menuai keberhasilan. "Buka matamu, Agnira," desis Sambara, sekali lagi. Agnira membuka mata perlahan. Napasnya terdengar tidak beraturan. Dia mencoba menahan dada Sambara saat pria itu kembali merunduk dan akan memulai aksinya lagi. "Sebentar ... Bisakah aku yang memulai," pinta Agnira. "Kau yakin?" tanya Sambara, memastikan. Ia bukan tipe yang sabar dengan hal seperti ini. Agnira mengangguk cepat. Dengan tidak sabaran Agnira berusaha untuk bangun dari tidurnya. Namun posisi yang setengah tertindih badan besar itu sedikit kesulitan. Bagaimana bisa tubuh Sambara begitu berat. "Menyingkirlah, aku yang akan melakukannya." Agnira kembali meminta. Sambara mengangguk samar. Dia bergeser dan membuat tubuh kecil yang terperangkap itu kembali bebas. Agnira berhasil menarik napas dalam. Namun tidak berlangsung lama karena Sambara dengan cepat memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Dekapan hangat itu membuat tubuh Agnira tersentak pelan. Sambara benar-benar membuat jantungnya harus berpacu lebih cepat dari biasanya. "Kau wangi sekali," bisik Sambara pelan. Aroma mint menguar dari napas Sambara, membuat Agnira lagi-lagi harus tenggelam dalam pesonanya. Jemari hangat Sambara mulai merayap, menyentuh benda kenyal milik Agnira, perlahan tangan itu meremas lembut dan membuat mata Agnira terpejam pelan. Kepalanya mendongak merasakan sensasi aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. "Ah ..." Desah halus terdengar dari bibir mungil itu. "Apa yang kau lakukan?" tanya Agnira merasa tidak nyaman. Tubuhnya terasa melayang saat Sambara melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Sambara tersenyum penuh arti. Pria itu terus melakukan aksinya, perlahan dan penuh kehati-hatian. Napas Agnira mulai terasa berat, kepalanya menengadah saat gelombang aneh mulai terasa menghampiri tubuhnya. Bagian bawahnya terasa berdenyut pelan, membuat ia benar-benar kehilangan akal. "Kau ... Melakukan apa?" tanya Agnira di sela desah pelannya. Sambara kembali tersenyum. Ia secara perlahan menghentikan aksinya. Napas Agnira yang semula terengah berangsur menurun, meski dadanya masih naik turun dengan cara tidak teratur. Sensasi hangat yang tadi terasa kini hanya meninggalkan jejak asing di tubuhnya. Wajah cantik itu memerah. Ia menunduk dalam merasa malu dengan apa yang barusan terjadi pada dirinya. Belum cukup sampai di sana. Sambara mundur perlahan. Bersandar santai di sandaran ranjang dengan kaki terbuka lebar. "Kemarilah, Agnira," ucap Sambara, tangannya terulur meminta Agnira mendekat ke arahnya. Wanita itu perlahan berbalik. Tangannya ragu, namun dengan cepat ia mendekat dengan kedua tangan yang bertumpu pada kasur. Merangkak perlahan dengan ekor kelinci yang bergoyang pelan, membuat Sambara terdiam dengan tangan menggantung di udara. Jarak mereka hanya tinggal sejengkal. Hembusan napas Agnira terasa hangat di leher Sambara. Pria itu meraih helai rambut Agnira yang terlihat berantakan, menyelipkan ke balik telinga dan menarik tengkuk Agnira mendekat ke arahnya. "Cium saya," perintah Sambara, dingin. Dengan ragu, Agnira mulai mendekatkan bibirnya. Bibir mereka bertemu, hangat, kenyal, dan lembab. Agnira sempat terkejut. Namun dengan cepat ia menguasai dirinya sendiri. Sementara Sambara mulai menikmati apa yang tersaji di depannya, tangannya kembali menarik tubuh sang istri, membuat Agnira kembali terduduk di pangkuannya. Kecupan itu lambat laun berubah menjadi lumatan penuh hasrat yang mulai terbakar. Tidak hanya bibir yang bertemu, tetapi Sambara mulai melesakkan lidah dan mengobak-abrik bagian dalam Agnira, membuat wanita itu kesulitan bernapas. Tangan Agnira memukul dada bidang Sambara dengan kencang. Membuat ciuman itu terlepas begitu saja. Napas keduanya terlihat tidak beraturan, tetapi Sambara puas dengan apa yang sudah ia lakukan. "Kau sengaja ingin membunuhku, ya," hardik Agnira, napasnya masih terdengar tidak beraturan. Sambara hanya tersenyum. Ia merasa gemas dengan penampilan Agnira yang terlihat berantakan. Bajunya sudah tersingkap memperlihatkan tubuh indahnya, leher wanita itu terdapat jejak merah tanda kepemilikan dirinya. Belum lagi bibir yang terlihat bengkak. Agnira yang merasa diperhatikan mulai mengikuti arah pandang Sambara. Ia dengan cepat meraih bantal dan menutupi bagian depan dirinya. "A-apa yang kamu lihat?" tanya Agnira terbata. Dia begitu malu saat ini, terlebih dengan desahan yang sempat lolos tadi. "Kenapa ditutup?" ujar Sambara tenang. "Kita bahkan belum sampai ke bagian utama." "A-apa?" Agnira menegang.Ketukan pelan di pintu kamar mandi membuyarkan lamunan Agnira."Bu Agnira?" panggil Dokter Surya dari luar dengan nada tenang. "Sudah selesai?"Agnira mengembuskan napas panjang. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menyeka air mata di pipinya, lalu membasuh wajahnya hingga bekas tangis itu sedikit memudar. Setelah merasa lebih tenang, ia menggenggam erat alat tes kehamilan di tangannya sebelum akhirnya membuka pintu.Begitu keluar, seluruh tatapan di dalam ruangan langsung tertuju kepadanya. Tidak ada yang bersuara. Bahkan Nana yang biasanya paling cerewet pun memilih diam."Bagaimana hasilnya?" tanya Sambara, suaranya terdengar jauh lebih pelan daripada biasanya, pria itu berusaha mendekat, dan menggenggam tangan istrinya.Agnira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Sambara beberapa detik. Bibirnya bergetar, sementara matanya kembali dipenuhi air mata. Melihat itu, wajah Sambara perlahan memucat."Negatif?" bisik pria itu, lirih. "Tidak apa-apa kalau negatif, kita bisa mencoba
Dokter sudah hadir bersamaan dengan kedatangan Robi. Pria itu terlihat mengeryit heran saat melihat raut tegang yang tercetak di wajah masing-masing orang yang berada di dalam ruangan."Ada apa ini?" bisik Robi yang kini berada tepat di belakang Nana."Kakak ipar terkena guna-guna," jawab Nana tanpa beban."Hah, ... Apa?" Robi mengalihkan pandangannya pada Nayara yang berdiri di ujung lain. "Lalu, kenapa memanggil dokter, bukankah seharusnya dukun." "Setannya gaul," celetuk Nana dengan wajah lempengnya.Sementara itu, dokter mulai mendekat pada Agnira. Dia mengangguk samar pada Sambara sebagai sapaan sopannya. "Kenapa dokternya lelaki?" tanya Sambara, menatap tajam pada Nayara.Nayara meringis kecil, ia mengusap tengkuknya yang terasa dingin. "Tapi, Tuan. Dia adalah dokter keluarga ini." Sambara masih menatap dokter itu dengan wajah datar. "Memangnya tidak ada dokter perempuan?" Dokter terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. "Pak Sambara, saya sudah menjadi dokter keluarga Lakesw
"Sambara, jangan berteriak seperti itu, kau berisik sekali," ujar Agnira menatap sinis pada suaminya."Berisik? Saya ini khawatir," ucap pria itu tidak percaya, rasa khawatirnya di anggap sebuah kebisingan."Apapun itu, jangan berteriak seperti itu," peringat Agnira sekali lagi.Di tengah kepanikan itu, Nana datang membawa segelas teh hangat, minuman yang biasa Agnira seduh setiap pagi.Namun, baru saja aroma teh itu tercium, wajah Agnira kembali berubah. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan. Perutnya kembali bergejolak hebat, sementara rasa mual yang sempat mereda perlahan menyeruak lagi, bahkan lebih kuat dari sebelumnya."Bau busuk apa ini?" tanya Agnira, matanya menatap sekitar guna mencari sumber baunya.Semua orang saling pandang, mereka tidak mencium bau apapun. Hanya ada aroma wangi dari teh chamomile yang memenuhi ruangan, dan itu terasa menenangkan pikiran. "Tidak ada bau apapun, justru ini san
Agnira menggeliat pelan di atas ranjang. Seluruh tubuhnya terasa kaku karena semalaman tidur dalam posisi yang sempit. Ia menguap lebar sambil merentangkan kedua lengannya, berusaha mengusir rasa pegal yang masih tersisa.Namun, sebelum benar-benar sadar sepenuhnya, hidungnya menangkap aroma teh yang samar memenuhi ruangan. Seketika wajahnya berubah. Perutnya mendadak bergejolak hebat. Dengan refleks, Agnira menutup mulutnya lalu bergegas turun dari ranjang. Tanpa sempat mengatakan apa pun, wanita itu berlari sekencang mungkin menuju kamar mandi."Agnira!" panggil Sambara dengan nada terkejut.Pria itu refleks hendak bangkit dari tempat tidur, tetapi segera meringis saat rasa nyeri kembali menjalar dari luka di perutnya, serta rasa nyeri hebat yang menjalar dari betisnya.Suara muntah itu terdengar memenuhi ruangan kamar. Dengan sekuat tenaga Sambara berusaha bangkit berdiri dari ranjang, pria itu mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa bergeser dan meraih kursi roda.Namun, jarak ku
Ranjang yang tidak terlalu luas membuat keduanya harus tidur saling berhimpitan. Agnira bahkan memilih tidur menyamping agar Sambara bisa berbaring telentang dengan lebih leluasa tanpa khawatir mengenai luka di tubuhnya.Di tengah keheningan malam, mata Sambara perlahan terbuka saat merasakan gerakan kecil dari sisi kirinya. Ia menoleh dan mendapati Agnira tampak gelisah dalam tidurnya. Tubuh wanita itu beberapa kali bergeser, seolah berusaha mencari posisi yang lebih nyaman di ruang yang sempit.Tanpa berkata apa pun, Sambara menggeser tubuhnya perlahan, menahan nyeri yang menjalar dari luka di perutnya. Ia menyisakan ruang yang lebih lega untuk Agnira, berharap wanita itu bisa tidur lebih nyaman, meski dirinya sendiri harus menahan rasa sakit.Fajar menyingsing perlahan, membawa hari baru bagi semua penghuni rumah. Sambara sudah membuka mata sejak satu jam yang lalu. Dengan punggung bersandar pada kepala ranjang, pria itu kembali bergelut dengan setumpuk dokumen dan tablet yang sema
Tangan Agnira mengusap pelan rambut hitam suaminya perlahan. Memberikan rasa nyaman dan aman yang membuat Sambara kehilangan fokus pada kartun yang Nana tonton, kartun dunia anak SD berasal dari China itu berhasil membuat Sambara anteng dan diam."Dia salah, seharusnya meminta maaf," komentar Sambara, saat melihat salah satu tokoh merusak kotak pencil temannya.Nana memalingkan wajah, matanya menyipit saat ia dengan kesadaran penuh tahu maksud dari ucapan itu. Namun, bukannya meminta maaf, Nana justru berjalan ke arah Agnira dan duduk di sisi wanita itu. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas paha Agnira yang lainnya."Ko ikut-ikutan sih," sentak Sambara yang merasa tidak nyaman, kepalanya terhantuk kepala milik adiknya."Apa sih, Ka Agnira juga tidak keberatan ko, iya 'kan, Ka?" Nana mencoba mencari pembelaan dari kakak iparnya.Agnira hanya mampu mendesah lelah, adik-kakak ini berhasil membuat tensi darahnya meningkat drastis. Ingin menonton televisi saja sulit sekali, dia merindukan
Sorot tajam masih suami istri itu layangkan, bahkan saat keduanya sudah terduduk diam di kursi meja makan. Beberapa hidangan sudah terjadi, dengan berbagai menu beraroma menggugah selera."Duduklah," perintah Agnira pada Kenan dan Nayara.Kenan dengan cepat menarik kursi, sement
Tangan itu terbuka lebar dengan wajah ceria yang tidak memudar. Namun alih-alih pelukannya tersambut mesra, Sambara justru menghindar begitu saja. Wanita itu akhirnya hanya mendekap angin pagi yang berhembus pelan, membelai wajah cantiknya.Dia mengerjap singkat, lalu berbalik pelan deng
Sinar senja meredup perlahan, terbenam bersama kehangatan yang mulai memudar. Kaki jenjang itu melangkah pelan, menyusuri taman sepi yang tidak pernah terinjak orang. Hanya di sini Agnira bisa meluapkan segalanya.Tubuhnya mulai luruh perlahan, duduk diam dikursi kayu yang berada di tengah-tengah t
Ruang konferensi pers itu dipenuhi cahaya putih yang menyilaukan. Lampu-lampu sorot menggantung di setiap sudut, memantul pada lantai mengilap dan meja panjang di depan ruangan. Deretan kamera sudah bersiap, lensa-lensanya mengarah ke satu titik, menunggu momen yang akan menjadi berita besar.







