Share

Bab 05

Author: D.N.A
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-15 21:15:30

"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.

Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.

Tangan Agnira mengerat menggenggam sprei dengan kuat, tatkala kepala Sambara mulai mengendus pelan leher jenjangnya. Mengantarkan rasa geli yang membuat ia terpejam kembali.

"Ah ..."

Satu desahan lolos begitu saja, saat Sambara secara perlahan mengecap belakang telinga Agnira. Pria itu tersenyum saat aksinya menuai keberhasilan.

"Buka matamu, Agnira," desis Sambara, sekali lagi.

Agnira membuka mata perlahan. Napasnya terdengar tidak beraturan. Dia mencoba menahan dada Sambara saat pria itu kembali merunduk dan akan memulai aksinya lagi.

"Sebentar ... Bisakah aku yang memulai," pinta Agnira.

"Kau yakin?" tanya Sambara, memastikan. Ia bukan tipe yang sabar dengan hal seperti ini.

Agnira mengangguk cepat. Dengan tidak sabaran Agnira berusaha untuk bangun dari tidurnya. Namun posisi yang setengah tertindih badan besar itu sedikit kesulitan. Bagaimana bisa tubuh Sambara begitu berat.

"Menyingkirlah, aku yang akan melakukannya." Agnira kembali meminta.

Sambara mengangguk samar. Dia bergeser dan membuat tubuh kecil yang terperangkap itu kembali bebas. Agnira berhasil menarik napas dalam. Namun tidak berlangsung lama karena Sambara dengan cepat memeluk tubuh mungil itu dari belakang.

Dekapan hangat itu membuat tubuh Agnira tersentak pelan. Sambara benar-benar membuat jantungnya harus berpacu lebih cepat dari biasanya.

"Kau wangi sekali," bisik Sambara pelan. Aroma mint menguar dari napas Sambara, membuat Agnira lagi-lagi harus tenggelam dalam pesonanya.

Jemari hangat Sambara mulai merayap, menyentuh benda kenyal milik Agnira, perlahan tangan itu meremas lembut dan membuat mata Agnira terpejam pelan. Kepalanya mendongak merasakan sensasi aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Ah ..." Desah halus terdengar dari bibir mungil itu. "Apa yang kau lakukan?" tanya Agnira merasa tidak nyaman.

Tubuhnya terasa melayang saat Sambara melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Sambara tersenyum penuh arti. Pria itu terus melakukan aksinya, perlahan dan penuh kehati-hatian.

Napas Agnira mulai terasa berat, kepalanya menengadah saat gelombang aneh mulai terasa menghampiri tubuhnya. Bagian bawahnya terasa berdenyut pelan, membuat ia benar-benar kehilangan akal.

"Kau ... Melakukan apa?" tanya Agnira di sela desah pelannya.

Sambara kembali tersenyum. Ia secara perlahan menghentikan aksinya. Napas Agnira yang semula terengah berangsur menurun, meski dadanya masih naik turun dengan cara tidak teratur. Sensasi hangat yang tadi terasa kini hanya meninggalkan jejak asing di tubuhnya.

Wajah cantik itu memerah. Ia menunduk dalam merasa malu dengan apa yang barusan terjadi pada dirinya.

Belum cukup sampai di sana. Sambara mundur perlahan. Bersandar santai di sandaran ranjang dengan kaki terbuka lebar.

"Kemarilah, Agnira," ucap Sambara, tangannya terulur meminta Agnira mendekat ke arahnya.

Wanita itu perlahan berbalik. Tangannya ragu, namun dengan cepat ia mendekat dengan kedua tangan yang bertumpu pada kasur. Merangkak perlahan dengan ekor kelinci yang bergoyang pelan, membuat Sambara terdiam dengan tangan menggantung di udara.

Jarak mereka hanya tinggal sejengkal. Hembusan napas Agnira terasa hangat di leher Sambara. Pria itu meraih helai rambut Agnira yang terlihat berantakan, menyelipkan ke balik telinga dan menarik tengkuk Agnira mendekat ke arahnya.

"Cium saya," perintah Sambara, dingin.

Dengan ragu, Agnira mulai mendekatkan bibirnya.

Bibir mereka bertemu, hangat, kenyal, dan lembab. Agnira sempat terkejut. Namun dengan cepat ia menguasai dirinya sendiri. Sementara Sambara mulai menikmati apa yang tersaji di depannya, tangannya kembali menarik tubuh sang istri, membuat Agnira kembali terduduk di pangkuannya.

Kecupan itu lambat laun berubah menjadi lumatan penuh hasrat yang mulai terbakar. Tidak hanya bibir yang bertemu, tetapi Sambara mulai melesakkan lidah dan mengobak-abrik bagian dalam Agnira, membuat wanita itu kesulitan bernapas.

Tangan Agnira memukul dada bidang Sambara dengan kencang. Membuat ciuman itu terlepas begitu saja. Napas keduanya terlihat tidak beraturan, tetapi Sambara puas dengan apa yang sudah ia lakukan.

"Kau sengaja ingin membunuhku, ya," hardik Agnira, napasnya masih terdengar tidak beraturan.

Sambara hanya tersenyum. Ia merasa gemas dengan penampilan Agnira yang terlihat berantakan. Bajunya sudah tersingkap memperlihatkan tubuh indahnya, leher wanita itu terdapat jejak merah tanda kepemilikan dirinya. Belum lagi bibir yang terlihat bengkak.

Agnira yang merasa diperhatikan mulai mengikuti arah pandang Sambara. Ia dengan cepat meraih bantal dan menutupi bagian depan dirinya.

"A-apa yang kamu lihat?" tanya Agnira terbata. Dia begitu malu saat ini, terlebih dengan desahan yang sempat lolos tadi.

"Kenapa ditutup?" ujar Sambara tenang. "Kita bahkan belum sampai ke bagian utama."

"A-apa?" Agnira menegang.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 38

    "Apa maksud gadis aneh itu?" gumam Kenan merasa heran.Sementara Agnira hanya mampu terdiam, pandangannya terus tertuju ke arah Kirana menghilang. Rasa sakit si pergelangan kakinya berganti dengan rasa tidak enak dalam hati, apa yang akan Kirana lakukan padanya? "Bu, Anda baik-baik saja?" tanya Kenan berulang kali.Agnira menarik napas lelah, lalu mengangguk pelan. Akan tetapi, hatinya merasa risau, ancaman Kirana pasti tidak hanya terucap di bibir saja, gadis itu terlalu licik.Serpihan kaca sudah di bersihkan, semua kembali terlihat normal saat Sambara pulang. Tidak ada jejak keributan di rumahnya, hanya kehadiran Kenan yang membuat ia merasa sedikit tidak nyaman.Terlebih asisten pribadi Agnira itu memegang sebuah nampan, yang berisi makanan sisa dari lantai dua. Kenan berhenti melangkah, ia menunduk hormat saat melihat kehadiran Sambara."Selamat sore, Pak," sapa Kenan berusaha terlihat tenang.Tatapan Sambara menaj

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 37

    "Kamu tuh sama kaya aku, Kakak ipar. Cintanya bertepuk sebelah tangan," bisik Kirana pelan, gadis itu terkekeh ringan dan berjalan ke arah kursi ruang tamu.Duduk di sana dengan pandangan yang terus menyapu sekitar. Tawa Kirana mereda, berganti dengan tatapan tajam, yang langsung menyorot pada foto kecil di sudut meja."Lihat, dia bahkan masih memajang fotonya." Gadis itu kembali berdiri, meraih foto itu dan menatapnya dalam. "Seharusnya aku yang dia pilih, bukan dia ataupun kamu!" Tangan Kirana menunjuk ke arah Agnira, sorot matanya jelas menunjukkan kekesalan. Namun, Agnira masih diam, tidak banyak berkomentar ataupun menyela, dia hanya ingin tahu sejauh mana Kirana meluapkan segalanya."Kalian wanita sampah! kalian hanya benalu dalam hubungan kami, karena kalian kami tidak dapat bersama!" teriak Kirana membabi buta.Gadis itu melempar foto itu tanpa ragu. Kacanya pecah seketika, serpihannya berhamburan ke lantai, sebagian bahkan menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 36

    Agnira sudah berpindah kamar, kini dia terlentang di atas kasur Sambara yang besar dan dingin. Nuansa kamar ini terasa gelap menurutnya, dia berjalan ke sisi jendela, membuka gorden hitam yang membingkainya.Cahaya hangat matahari masuk menerobos begitu saja, membuat ruangan gelap itu disinari sepenuhnya, udara mulai berganti menjadi lebih segar. Agnira kembali meneliti kamar Sambara, langkahnya berjalan pelan, menyusuri setiap jengkal kamar suaminya.Mata Agnira menyipit tatkala melihat dokumen hitam yang berada di atas meja, tangannya menyentuh dokumen itu. Surat cerai yang ia ajukan satu minggu yang lalu, di bagian bawah belum terbubuh tanda tangan Sambara, hanya milik dirinya yang sudah tertera."Dia belum menandatangani surat cerai ini," bisik Agnira pelan, pandangannya beralih pada figura besar di kamar itu.Foto pengantin mereka berdua, berdiri di atas altar dengan gaun seadanya. Agnira tersenyum miris, dia bahkan tidak tersenyum dalam foto

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 35 🥵🔥🔥🔥🔥

    Tubuh Agnira terhentak kencang saat dorongan dari belakangnya semakin kencang, matanya terpejam dengan desisan halus di bibirnya. "Aaaahhh ... Sambara, lebih cepat!" jerit Agnira mulai kehilangan akal.Sambara terus menggerakkan miliknya dengan kuat, menghujam lembah Agnira dengan brutal. Tangannya tidak tinggal diam, meremas gundukan kenyal Agnira dan memainkan benda hitam kecilnya."Aaahhh ... kau nikmat sekali, Agnira." Desahan itu terus terdengar memenuhi kamar, ranjang berderit pelan seiring dengan penyatuan yang semakin brutal. Sambara memutar tubuh istrinya tanpa melepas menyatuan mereka, memangku Agnira dan membawanya duduk di atas meja rias. Bagian kaki Agnira terbuka lebar, memperlihatkan lembah nikmat miliknya yang basah dan lembab. Sambara tidak membuang waktu lagi, dia berlutut melumat benda itu dan membuat Agnira mendongak, pikirannya kacau saat intinya merasakan hangat lidah suaminya. Jilatan demi jilatan Sambara berikan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 34 🔥🔥🔥

    Ruang keluarga terlihat remang, hanya sinar dari televisi yang menjadi satu-satunya penerangan. Kenan terlihat sudah beringsut dari tempatnya duduk, ia mendekat dan merapat pada Nayara. Wanita itu benar-benar terlihat berwajah datar tanpa ekspresi."Ck, menyingkirlah," desis Nayara mendorong Kenan kencang.Pria itu tersungkur pelan, namun dengan cepat terduduk kembali dan meraih lengan Nayara erat. Agnira terus meronta di atas pangkuan Sambara, tubuhnya bergerak gelisah, mencoba melepaskan diri. Gerakan itu justru membuat rahang Sambara mengeras, menahan sesuatu yang nyaris lepas. Tangannya langsung mencekal pinggang Agnira dengan kuat, memaksa wanita itu diam di tempat."Sambara ... lepaskan," desis Agnira tajam, ia terus meronta kuat.Pria itu tidak menjawab. Malah diam seribu bahasa, namun tatapannya jelas menyimpan bara yang bergelora. Setiap gerakan yang Agnira lakukan menimbulkan rasa panas yang membakar gairahnya."Saya s

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 33

    Sorot tajam masih suami istri itu layangkan, bahkan saat keduanya sudah terduduk diam di kursi meja makan. Beberapa hidangan sudah terjadi, dengan berbagai menu beraroma menggugah selera."Duduklah," perintah Agnira pada Kenan dan Nayara.Kenan dengan cepat menarik kursi, sementara Nayara masih diam tidak bergeming sedikitpun. Alis Agnira mengeryit bingung, keduanya lantas saling berpandangan singkat. Namun tak lama, perhatian Nayara beralih pada Sambara yang masih diam, seolah tak peduli, pria itu sibuk mengiris steak di hadapannya dengan tenang.Agnira mengikuti arah lirikan itu. Seketika ia mengerti, dan desahan lelah pun lolos dari bibirnya."Duduk Nayara, kau tidak akan mati hanya karena duduk bersama kami," ucap Agnira menekan setiap kalimatnya."Memang tidak akan mati, tapi saya tidak suka satu meja dengan bawahan saya," sambar Sambara dengan suara tenang.Kenan yang hendak meraih centong nasi mendadak menarik tangannya, a

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status