ログインDi tengah aksi merajuk Agnira, suara langkah kaki dan sapaan hangat mengalihkan perhatian semua orang. Keluarga Maheswara baru saja tiba.Surya melangkah lebih dulu, diikuti Ratih yang berjalan anggun dengan dagu terangkat. Aurelie yang wajahnya masih tampak pucat berjalan perlahan di belakang orang tuanya. Mereka menyapa Sambara sebelum duduk di meja yang telah disiapkan.Ratih sempat melirik ke arah Agnira. Tatapannya langsung berubah tipis penuh penilaian. Wanita itu mengamati bagaimana Agnira menyuap nasi dengan lahap, sesekali menyendok kuah hingga menetes ke piring, bahkan tanpa sadar menyeka sudut bibir menggunakan punggung tangan. Ratih mengembuskan napas pelan, lalu menggeleng."Agnira," panggilnya dengan nada halus, tetapi terdengar menusuk. "Seorang wanita itu harus makan dengan anggun. Pelan, rapi, bukan seperti orang yang kelaparan seperti itu." Suasana meja mendadak sunyi. Celetukan Ratih membuat Surya membeku, pria tua itu langsung menatap ke arah Sambara yang terlihat
Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di depan paviliun keluarga Lakeswara. Pintu mobil terbuka perlahan, memperlihatkan keluarga Maheswara yang satu per satu turun. Wajah Aurelie masih tampak pucat, seolah tenaga di tubuhnya belum benar-benar pulih. Ratih dan Surya sigap menggandeng wanita itu, menuntunnya melangkah menuju paviliun dengan hati-hati. Tepat sebelum memasuki bangunan, langkah Aurelie sempat terhenti. Ia menoleh ke arah rumah utama Lakeswara, menatap bangunan megah itu beberapa saat dengan sorot mata yang sulit diartikan, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya bersama orangtuanya.Ratih yang menyadari putrinya kembali menoleh ke arah rumah utama segera menggenggam tangannya lebih erat."Sudah," ucap wanita paruh baya itu pelan. "Jangan dipikirkan lagi."Aurelie menarik napas panjang. Senyum tipis yang dipaksakan menghiasi bibirnya. "Aku tidak memikirkan apa-apa, Mah."Ratih tidak membalas. Ia mengenal putrinya terlalu baik. Tatapan barusan bukan tatapan seseora
Kehadiran kembali Nayara di kediaman Lakeswara membawa angin segar. Sambara menjadi jauh lebih tenang setiap kali harus meninggalkan istrinya di rumah. Setidaknya kini ada seseorang yang benar-benar mampu melindungi Agnira apabila sesuatu yang buruk kembali terjadi.Meski sikap Nayara tetap dingin seperti biasanya, wanita itu tidak pernah lalai menjalankan tugasnya. Sejak pagi, ia sudah memeriksa seluruh sudut rumah, memastikan setiap pintu, jendela, dan sistem keamanan berfungsi dengan baik. Bahkan jadwal para petugas keamanan kini berada di bawah pengawasannya.Agnira yang melihat semua itu hanya bisa menggeleng pelan. "Nay."Wanita itu segera menghentikan langkahnya. "Ya, Nyonya?""Kamu sudah berkeliling rumah tiga kali sejak pagi.""Empat kali," ralat Nayara datar.Agnira menghela napas panjang. "Memangnya ada bedanya?""Ada." Nayara menjawab tanpa ekspresi. "Pada putaran keempat saya menemukan satu kamera taman yang mati."Agnira terdiam beberapa detik. "Serius?""Sudah saya gant
Sesuai permintaan Agnira, setelah pulang dari kantor, keduanya langsung menuju rumah Kenan. Tempat peristirahatan terakhir pria itu kini terasa jauh lebih sunyi dibandingkan beberapa hari sebelumnya.Mobil berhenti perlahan di halaman rumah sederhana yang dipenuhi tanaman bunga putih. Langit sore mulai berubah jingga, sementara semilir angin membawa aroma tanah yang masih lembap sehabis hujan siang tadi.Agnira turun lebih dulu. Tangannya secara refleks mengusap perutnya yang mulai membulat sebelum melangkah memasuki halaman. Beberapa pot bunga yang dulu selalu dirawat Kenan masih tersusun rapi di teras. Tak ada yang berubah. Justru itulah yang membuat dada Agnira semakin sesak. Seolah pemilik rumah itu hanya sedang pergi sebentar dan akan kembali kapan saja."Mas ..." bisiknya lirih.Sambara meraih tangan istrinya tanpa berkata apa pun. Keduanya berjalan perlahan menuju sebuah nisan marmer putih di samping rumah, sesuai wasiat yang pernah disampaikan Kenan. Pria itu memang ingin dim
Angin berembus kencang, membelai dan mengacak helai rambut Leonard yang berdiri kaku di rooftop rumah sakit milik Arsen. Tatapan matanya dingin, tertuju pada deretan mobil mewah yang perlahan bergerak meluncur meninggalkan area rumah sakit.Pandangan matanya beralih pada langit yang terlihat cerah dengan matahari teriknya, matanya sedikit menyipit, menghalau silau yang menusuk tepat ke retina. Betapa ironis, langit cerah dan terik matahari seolah mengejek kekacauan hatinya.Leonard mengembuskan napas panjang, membiarkan hawa panas dan hempasan angin menerpa wajahnya tanpa bergeming sedikit pun. Bagi pria itu, kehangatan cahaya di atas kepalanya sama sekali tak mampu menyentuh bongkahan es yang membeku di dalam dadanya.Perlahan, ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah pemantik api perak yang dingin. Dengung samar deru mesin mobil yang kian menjauh di bawah sana menyisakan keheningan yang tajam.Angin kembali berembus, membuat jas hitam panjang yang dikenakannya berkibar pelan.
"Maaf, Pak Sambara, putri saya sudah kembali lancang." Surya segera mendekat. Pria tua itu menatap putrinya dengan wajah menahan geram. Ratih juga ikut mendekat. Wajah wanita paruh baya itu tampak dipenuhi rasa cemas sekaligus malu."Aurelie," tegurnya pelan. "Jangan membahas masa lalu lagi."Aurelie menggigit bibir bawahnya. Jemarinya mencengkeram ujung selimut, lalu mengangguk lemah. "Maaf, Mah."Surya kembali membungkukkan badan ke arah Sambara. "Maaf, Pak Sambara, putri saya sudah kembali lancang." Suaranya terdengar penuh penyesalan. "Tolong jangan dimasukkan ke hati. Kondisinya memang belum stabil."Ratih pun ikut menundukkan kepala. "Kami benar-benar minta maaf. Seharusnya dia tidak mengatakan hal seperti itu."Sambara menatap kedua orang tua Aurelie tanpa perubahan ekspresi. "Tidak perlu meminta maaf kepada saya."Surya dan Ratih mengangkat kepala bersamaan. Merasa lega dengan ucapan Sambara yang masih memiliki hati nurani, jika ia terusir dari kediaman Lakeswara, entah akan
Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak







