Share

Bab 02

Penulis: D.N.A
last update Tanggal publikasi: 2026-04-15 21:14:06

Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya.

"Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.

Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya."

"Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa ragu. Ia berbalik dan melangkah pergi. Suara langkahnya terdengar samar saat meninggalkan ruang kerja Sambara dengan tenang.

Sambara menatap kepergian istrinya dengan sorot yang tak biasa. Inilah yang selalu ia sesalkan, sikap dingin dan acuh Agnira justru membuatnya semakin tertarik.

Senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia melirik pada asistennya. "Siapkan kado untuk istriku malam ini."

"Baik, Tuan," jawab sang asisten, lalu segera pergi.

Tubuh Agnira terhempas pelan ke atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar, lalu menutup matanya dengan sebelah tangan.

Jika bukan karena perusahaan yang terlilit utang, ia tak perlu terikat dengan Sambara, pria dingin yang bahkan jarang menegurnya. Mereka tinggal di bawah satu atap yang sama. Namun hanya sebatas itu.

Tak ada percakapan, tak ada kehangatan. Semua terasa dingin, tanpa sentuhan apa pun di dalamnya.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membuat Agnira membuka mata. Ia bangkit pelan saat seorang pelayan berdiri di depan, membawa satu paper bag berwarna hitam.

"Ada apa?" tanya Agnira, malas.

"Ini hadiah dari Tuan, Nyonya. Beliau berpesan agar Anda memakainya malam ini," ucap pelayan itu sopan, menyerahkan bungkusan di tangannya.

Agnira menerimanya, lalu mengintip isinya dengan cepat. Dua kotak kado berwarna hitam tersusun rapi di dalamnya.

"Apalagi kali ini," gumam Agnira, mulai lelah.

Kotak pertama dibuka perlahan. Sebuah bando dengan telinga kelinci, lengkap dengan ekornya, tergeletak di dalam.

"Apa-apaan ini...?" bisik Agnira bingung.

Kotak kedua dibuka. Kali ini, sebuah piyama tidur berwarna hitam dengan bordir cantik di setiap sisinya. Namun bagian bawahnya transparan dan terlalu minim.

Jemari Agnira meremas kain itu kuat. Giginya bergemeletuk pelan, urat di lehernya mencuat.

"Apa-apaan pria itu..." desis Agnira kesal.

Ia mengembuskan napas kasar, berusaha menahan diri. Beberapa detik kemudian, matanya terbuka kembali, namun kali ini lebih tajam.

Tanpa pikir panjang, Agnira melangkah keluar kamar. Langkahnya lebar dan cepat menuju kamar di seberang. Lantai dua itu hanya diisi dua kamar, miliknya dan milik Sambara. Berseberangan, dengan warna pintu yang kontras. Putih untuk Agnira. Hitam untuk Sambara.

Tangannya terangkat, mengetuk pintu dengan cukup keras.

Tok! Tok! Tok!

Pintu terbuka. Sambara berdiri menjulang di hadapannya, mengenakan piyama yang dibiarkan terbuka. Kancingnya tak terpasang, memperlihatkan dada bidang dan perutnya tanpa ragu.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sambara masih dengan sikap tenangnya.

Agnira mendengus pelan. Pandangannya sempat goyah sesaat. Ayolah ... dia juga wanita normal.

"Agnira Jiwani," panggil Sambara pelan.

Agnira mengerjap, tersadar. Ia menatap pria itu, sedikit gugup. "Aku ... itu ..." Ia mengumpat dalam hati. Sial. Fokusnya buyar.

Bibir Sambara berkedut tipis. Ia menikmati ekspresi itu. "Iya, kenapa?" tanyanya santai.

Agnira menarik napas dalam, lalu mendongak, menatap lurus. "Baju ... tidak, maksudku piyama itu. Kenapa kamu mengirimkan sesuatu seperti itu?" tanyanya, kini lebih terkendali.

Alis Sambara mengernyit. "Saya tidak mengirimkan apa pun."

"Pelayan mengantarkan dua kotak hadiah. Katanya darimu," balas Agnira cepat.

"Hadiah? Seperti apa?" tanya Sambara, masih heran.

"Tunggu. Aku ambilkan." Agnira berbalik cepat, namun sebelum pergi, ia kembali menatap Sambara. "Dan benarkan pakaianmu itu. Kamu kira ini klub malam?"

Sambara terdiam, lalu menggeleng pelan. "Sikapnya seperti anak kecil ... kekanakan."

Tak lama, Agnira kembali dengan satu paper bag di tangan. Ia menyerahkannya pada Sambara yang bersandar santai di pintu.

"Ini."

Sambara membuka salah satu kotak. Matanya sedikit membesar saat melihat isi di dalamnya. "Cukup seksi," komentarnya ringan.

Kotak kedua dibuka. Ia mengangkat bando telinga kelinci dengan ekor kecilnya. "Yang ini ... menarik."

Wajah Agnira memerah seketika. Komentar itu benar-benar tidak dibutuhkan.

"Kamu bisa memakainya besok malam," lanjut Sambara santai, meliriknya. "Saat malam pertama kita."

"Apa?" Agnira tertegun. "Tunggu ... malam pertama?"

"Iya. Bukankah kamu setuju?"

Agnira terdiam. Tidak, Ini bukan yang ia bayangkan. Ia mengira hanya sebatas menjalankan peran sebagai istri formalitas, bukan hal semacam itu. Matanya kembali terangkat, menatap Sambara yang berdiri di hadapannya.

"Semua yang dilakukan suami dan istri pada umumnya, Nyonya Lakeswara," ucap Sambara pelan. Ia mendekat, lalu merunduk sedikit. Bibirnya nyaris menyentuh telinga Agnira. "Termasuk urusan ranjang."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 36

    Agnira sudah berpindah kamar, kini dia terlentang di atas kasur Sambara yang besar dan dingin. Nuansa kamar ini terasa gelap menurutnya, dia berjalan ke sisi jendela, membuka gorden hitam yang membingkainya.Cahaya hangat matahari masuk menerobos begitu saja, membuat ruangan gelap itu disinari sepenuhnya, udara mulai berganti menjadi lebih segar. Agnira kembali meneliti kamar Sambara, langkahnya berjalan pelan, menyusuri setiap jengkal kamar suaminya.Mata Agnira menyipit tatkala melihat dokumen hitam yang berada di atas meja, tangannya menyentuh dokumen itu. Surat cerai yang ia ajukan satu minggu yang lalu, di bagian bawah belum terbubuh tanda tangan Sambara, hanya milik dirinya yang sudah tertera."Dia belum menandatangani surat cerai ini," bisik Agnira pelan, pandangannya beralih pada figura besar di kamar itu.Foto pengantin mereka berdua, berdiri di atas altar dengan gaun seadanya. Agnira tersenyum miris, dia bahkan tidak tersenyum dalam foto

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 35 🥵🔥🔥🔥🔥

    Tubuh Agnira terhentak kencang saat dorongan dari belakangnya semakin kencang, matanya terpejam dengan desisan halus di bibirnya. "Aaaahhh ... Sambara, lebih cepat!" jerit Agnira mulai kehilangan akal.Sambara terus menggerakkan miliknya dengan kuat, menghujam lembah Agnira dengan brutal. Tangannya tidak tinggal diam, meremas gundukan kenyal Agnira dan memainkan benda hitam kecilnya."Aaahhh ... kau nikmat sekali, Agnira." Desahan itu terus terdengar memenuhi kamar, ranjang berderit pelan seiring dengan penyatuan yang semakin brutal. Sambara memutar tubuh istrinya tanpa melepas menyatuan mereka, memangku Agnira dan membawanya duduk di atas meja rias. Bagian kaki Agnira terbuka lebar, memperlihatkan lembah nikmat miliknya yang basah dan lembab. Sambara tidak membuang waktu lagi, dia berlutut melumat benda itu dan membuat Agnira mendongak, pikirannya kacau saat intinya merasakan hangat lidah suaminya. Jilatan demi jilatan Sambara berikan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 34 🔥🔥🔥

    Ruang keluarga terlihat remang, hanya sinar dari televisi yang menjadi satu-satunya penerangan. Kenan terlihat sudah beringsut dari tempatnya duduk, ia mendekat dan merapat pada Nayara. Wanita itu benar-benar terlihat berwajah datar tanpa ekspresi."Ck, menyingkirlah," desis Nayara mendorong Kenan kencang.Pria itu tersungkur pelan, namun dengan cepat terduduk kembali dan meraih lengan Nayara erat. Agnira terus meronta di atas pangkuan Sambara, tubuhnya bergerak gelisah, mencoba melepaskan diri. Gerakan itu justru membuat rahang Sambara mengeras, menahan sesuatu yang nyaris lepas. Tangannya langsung mencekal pinggang Agnira dengan kuat, memaksa wanita itu diam di tempat."Sambara ... lepaskan," desis Agnira tajam, ia terus meronta kuat.Pria itu tidak menjawab. Malah diam seribu bahasa, namun tatapannya jelas menyimpan bara yang bergelora. Setiap gerakan yang Agnira lakukan menimbulkan rasa panas yang membakar gairahnya."Saya s

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 33

    Sorot tajam masih suami istri itu layangkan, bahkan saat keduanya sudah terduduk diam di kursi meja makan. Beberapa hidangan sudah terjadi, dengan berbagai menu beraroma menggugah selera."Duduklah," perintah Agnira pada Kenan dan Nayara.Kenan dengan cepat menarik kursi, sementara Nayara masih diam tidak bergeming sedikitpun. Alis Agnira mengeryit bingung, keduanya lantas saling berpandangan singkat. Namun tak lama, perhatian Nayara beralih pada Sambara yang masih diam, seolah tak peduli, pria itu sibuk mengiris steak di hadapannya dengan tenang.Agnira mengikuti arah lirikan itu. Seketika ia mengerti, dan desahan lelah pun lolos dari bibirnya."Duduk Nayara, kau tidak akan mati hanya karena duduk bersama kami," ucap Agnira menekan setiap kalimatnya."Memang tidak akan mati, tapi saya tidak suka satu meja dengan bawahan saya," sambar Sambara dengan suara tenang.Kenan yang hendak meraih centong nasi mendadak menarik tangannya, a

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 32

    "Kamu ganti baju dulu," perintah Sambara pada istrinya, sorot matanya dingin dan tegas.Agnira menatap pada piyama tidur yang masih ia kenakan. Lagi-lagi baju indahnya harus sobek akibat ulah Sambara. Wanita itu melirik suaminya yang terlihat berwajah santai, seperti tidak pernah merasa bersalah."Bibi bisa turun terlebih dahulu, bilang pada tamu bahwa kami akan segera turun," ucap Agnira lembut. Nurma mengangguk patuh, lalu berlalu setelah menunduk hormat pada Sambara–kebiasaan yang selalu dilakukan para pelayan di rumah itu. Sambara menganut sistem kasta; baginya, pelayan dan majikan tak akan pernah setara. Pria itu memang tidak sombong, melainkan angkuh yang sudah mendarah daging."Cepatlah," perintah Sambara sekali lagi.Agnira hanya mampu melirik sinis. "Sabar, tidak lihat aku kesulitan melangkah." "Lelet sekali," ejek pria itu dingin.Agnira membulatkan mulutnya, ia berbalik dan menatap sengit Sambara. "Ini semua

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 31

    Sambara keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, handuk melilit pinggang serta tangan yang mengusak rambut perlahan, memamerkan otot perut dan juga lengannya. Hal itu terlihat seksi bagi Agnira, matanya bahkan tidak berkedip dan terus menatap, sampai Sambara berjalan ke arahnya pun ia tidak sadar."Kau ingin makan apa?" tanya Sambara pelan.Agnira mengerjap singkat, dia mengusap liur di ujung mulutnya yang hampir menetes, bisa gila bila dirinya terus satu ruangan dengan Sambara. Belum lagi otaknya yang selalu tertuju pada benda besar di balik handuk itu."Agnira," panggil Sambara sekali lagi. Pria itu berbalik untuk melihat keadaan istrinya. Namun, yang ia dapati hanya sorot mata Agnira yang terfokus pada satu hal. Ia mengikuti arah pandang wanita itu, lalu melangkah pelan mendekat."Kau mau lagi?" tanya Sambara berbisik. Ia menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan Agnira.Tanpa sadar kepala Agnira mengangguk pelan, menghadir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status