LOGINAgnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya.
"Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat. Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya." "Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa ragu. Ia berbalik dan melangkah pergi. Suara langkahnya terdengar samar saat meninggalkan ruang kerja Sambara dengan tenang. Sambara menatap kepergian istrinya dengan sorot yang tak biasa. Inilah yang selalu ia sesalkan, sikap dingin dan acuh Agnira justru membuatnya semakin tertarik. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia melirik pada asistennya. "Siapkan kado untuk istriku malam ini." "Baik, Tuan," jawab sang asisten, lalu segera pergi. Tubuh Agnira terhempas pelan ke atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar, lalu menutup matanya dengan sebelah tangan. Jika bukan karena perusahaan yang terlilit utang, ia tak perlu terikat dengan Sambara, pria dingin yang bahkan jarang menegurnya. Mereka tinggal di bawah satu atap yang sama. Namun hanya sebatas itu. Tak ada percakapan, tak ada kehangatan. Semua terasa dingin, tanpa sentuhan apa pun di dalamnya. Tok tok tok. Suara ketukan pintu membuat Agnira membuka mata. Ia bangkit pelan saat seorang pelayan berdiri di depan, membawa satu paper bag berwarna hitam. "Ada apa?" tanya Agnira, malas. "Ini hadiah dari Tuan, Nyonya. Beliau berpesan agar Anda memakainya malam ini," ucap pelayan itu sopan, menyerahkan bungkusan di tangannya. Agnira menerimanya, lalu mengintip isinya dengan cepat. Dua kotak kado berwarna hitam tersusun rapi di dalamnya. "Apalagi kali ini," gumam Agnira, mulai lelah. Kotak pertama dibuka perlahan. Sebuah bando dengan telinga kelinci, lengkap dengan ekornya, tergeletak di dalam. "Apa-apaan ini...?" bisik Agnira bingung. Kotak kedua dibuka. Kali ini, sebuah piyama tidur berwarna hitam dengan bordir cantik di setiap sisinya. Namun bagian bawahnya transparan dan terlalu minim. Jemari Agnira meremas kain itu kuat. Giginya bergemeletuk pelan, urat di lehernya mencuat. "Apa-apaan pria itu..." desis Agnira kesal. Ia mengembuskan napas kasar, berusaha menahan diri. Beberapa detik kemudian, matanya terbuka kembali, namun kali ini lebih tajam. Tanpa pikir panjang, Agnira melangkah keluar kamar. Langkahnya lebar dan cepat menuju kamar di seberang. Lantai dua itu hanya diisi dua kamar, miliknya dan milik Sambara. Berseberangan, dengan warna pintu yang kontras. Putih untuk Agnira. Hitam untuk Sambara. Tangannya terangkat, mengetuk pintu dengan cukup keras. Tok! Tok! Tok! Pintu terbuka. Sambara berdiri menjulang di hadapannya, mengenakan piyama yang dibiarkan terbuka. Kancingnya tak terpasang, memperlihatkan dada bidang dan perutnya tanpa ragu. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sambara masih dengan sikap tenangnya. Agnira mendengus pelan. Pandangannya sempat goyah sesaat. Ayolah ... dia juga wanita normal. "Agnira Jiwani," panggil Sambara pelan. Agnira mengerjap, tersadar. Ia menatap pria itu, sedikit gugup. "Aku ... itu ..." Ia mengumpat dalam hati. Sial. Fokusnya buyar. Bibir Sambara berkedut tipis. Ia menikmati ekspresi itu. "Iya, kenapa?" tanyanya santai. Agnira menarik napas dalam, lalu mendongak, menatap lurus. "Baju ... tidak, maksudku piyama itu. Kenapa kamu mengirimkan sesuatu seperti itu?" tanyanya, kini lebih terkendali. Alis Sambara mengernyit. "Saya tidak mengirimkan apa pun." "Pelayan mengantarkan dua kotak hadiah. Katanya darimu," balas Agnira cepat. "Hadiah? Seperti apa?" tanya Sambara, masih heran. "Tunggu. Aku ambilkan." Agnira berbalik cepat, namun sebelum pergi, ia kembali menatap Sambara. "Dan benarkan pakaianmu itu. Kamu kira ini klub malam?" Sambara terdiam, lalu menggeleng pelan. "Sikapnya seperti anak kecil ... kekanakan." Tak lama, Agnira kembali dengan satu paper bag di tangan. Ia menyerahkannya pada Sambara yang bersandar santai di pintu. "Ini." Sambara membuka salah satu kotak. Matanya sedikit membesar saat melihat isi di dalamnya. "Cukup seksi," komentarnya ringan. Kotak kedua dibuka. Ia mengangkat bando telinga kelinci dengan ekor kecilnya. "Yang ini ... menarik." Wajah Agnira memerah seketika. Komentar itu benar-benar tidak dibutuhkan. "Kamu bisa memakainya besok malam," lanjut Sambara santai, meliriknya. "Saat malam pertama kita." "Apa?" Agnira tertegun. "Tunggu ... malam pertama?" "Iya. Bukankah kamu setuju?" Agnira terdiam. Tidak, Ini bukan yang ia bayangkan. Ia mengira hanya sebatas menjalankan peran sebagai istri formalitas, bukan hal semacam itu. Matanya kembali terangkat, menatap Sambara yang berdiri di hadapannya. "Semua yang dilakukan suami dan istri pada umumnya, Nyonya Lakeswara," ucap Sambara pelan. Ia mendekat, lalu merunduk sedikit. Bibirnya nyaris menyentuh telinga Agnira. "Termasuk urusan ranjang."Arsen melemparkan sesuatu begitu saja ke atas meja. Kini mereka bertiga berada di ruang kerja Sambara, tanpa kehadiran siapa pun dari luar. Suasana yang sebelumnya dipenuhi candaan mendadak berubah jauh lebih serius.Alis Sambara mengernyit ketika pandangannya jatuh pada benda menjijikkan yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia menarik napas dalam-dalam. Tatapannya kemudian berpindah dari benda tersebut kepada Arsen, lalu kepada Leonard. Bibirnya tetap terkatup, tetapi sorot matanya sudah cukup jelas menyampaikan satu pertanyaan.Arsen terkekeh pelan. "Jari Aurelie." Ia menunjuk benda di atas meja dengan santai. "Dia kalah taruhan."Arsen menyandarkan tubuhnya pada kursi, seolah baru saja menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak mengganggu pikirannya."Jadi, aku memotong jarinya." Senyum tipis terukir di wajahnya. "Sederhana, bukan?"Sambara menarik napas dalam, ia meraih benda itu dan menatapnya tajam. Kuku runcing berwarna merah dengan bagian bawah yang masih mengeluarkan dara
Aroma masakan menguar di atas meja makan. Beberapa hidangan terjadi dengan rapi dan tertata baik. Agnira sudah duduk dengan nyama, walaupun matanya terus menatap takut pada pria yang duduk di depannya.Leonard, pria itu terlihat jauh lebih dingin dari Sambara. Auranya menekan, sorot mata birunya menusuk begitu tajam."Jangan terus menatap istriku, Leon," tegur Sambara dingin.Leonard melirik ke arah sahabatnya dengan sinis, tetapi pandangan tetap mengarah pada Agnira. Iris biru itu terus memperhatikan setiap gerak yang Agnira lakukan, dari cara Agnira duduk, makan, dan bahkan minum. Semua sama, seperti Leana.Agnira yang merasa tidak tahan dengan tatapan itu, menaruh sendoknya di atas meja dan menatap tajam pada Leonard. "Kenapa kamu melihatku terus?"Leonard tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil gelas di samping piringnya, meneguk sedikit air, kemudian meletakkannya kembali dengan gerakan tenang."Kau mirip dengannya."Alis Agnira berkerut. "Dengan siapa?""Adikku."Jawaban si
Aroma harum dari arah dapur membuat langkah Agnira berbelok. Wanita itu berjalan pelan dan melihat punggung lebar suaminya yang entah sedang membuat apa. Beberapa pekerja dapur pun terlihat berderet rapi sambil menatap cemas pada Sambara.Bahkan salah satu koki terlihat panik saat Sambara mulai menyalakan kompor. Pria paruh baya itu mendekat dan berusaha membantu sebisa mungkin, tetapi tatapan Sambara yang seperti akan menelan orang membuat koki itu merasa takut dan mengurungkan niatnya.Agnira menahan senyum. Pemandangan di hadapannya benar-benar aneh. Sambara Lakeswara, pria yang biasanya membuat orang-orang gemetar hanya dengan satu tatapan, kini berdiri di depan kompor dengan celemek hitam yang terikat seadanya di pinggang.Tangannya sibuk mengaduk sesuatu di dalam wajan. Membuat Agnira penasaran dan mendekat dengan langkah pelan."Masak apa?" tanya Agnira akhirnya.Gerakan tangan Sambara langsung berhenti. Pria itu menoleh, lalu tatapannya berubah seketika ketika mendapati istrin
Siulan pelan terdengar dari mulut tipis Arsen, memecah kesunyian yang menyelimuti lorong bangunan tua itu. Langkahnya santai, seolah tempat tersebut bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Kedua tangannya bahkan terselip di saku celana, sementara matanya menyapu setiap sudut lorong yang remang-remang. Beberapa lampu di atas kepalanya berkedip tidak beraturan. Cahaya yang datang dan pergi membuat bayangan Arsen memanjang di lantai, kemudian menghilang, lalu muncul kembali."Sudah lama sekali," gumamnya pelan.Ia berhenti di depan sebuah pintu besi tua. Tangannya terangkat, menyentuh permukaan pintu yang dingin dan berdebu. Dari balik pintu itu terdengar suara samar.Arsen tersenyum tipis, ia menghirup udara lembap di sekitarnya yang terasa sesak. "Aroma ini, sudah lama sekali."Begitu pintu terbuka, suara Aurelie langsung menusuk telinganya. Membuat pria manis berwajah polos itu melirik dengan sinis."Lepaskan aku ..." Suara Aurelie nyaris tidak terdengar.Tubuhnya terasa lemas setelah
Basah. Hangat, dan nyaris membuat gila. Itulah yang Sambara rasakan di waktu pagi. Ia terbangun dengan keadaan memalukan.Bagian bawahnya basah, miliknya menegang karena memimpikan hal gila. Ia melirik malu pada Agnira yang menatapnya sambil menahan senyuman."Mas, kamu ngompol?" tanya Agnira polos. Matanya bergerak menatap bagian bawah Sambara yang basah.Pria itu mendesah pelan, lalu melirik sang istri dengan pandangan heran. Bagaimana bisa Agnira terlihat menggairahkan di pagi ini? Apa ini efek mimpi semalam? "Mas, malah bengong," tegur Agnira mengguncang pelan bahu suaminya.Sambara mendesah lelah, lalu menatap kembali pada celananya yang basah. "Tidak, mana ada mengompol tapi tidak basah ke kasur." "Lalu? Kenapa dengan celanamu?" tanya Agnira lagi.Sambara menarik napas dalam-dalam. Jika ia menginginkan istrinya pagi ini, apakah Agnira akan marah? Ia tidak tahu jawabannya sebelum mencoba, dan Sambara terlalu takut untuk mencoba bertanya. Pria itu kembali melirik sang istri, lal
Mobil Arsen berhenti tepat di sebuah bangunan tua yang berdiri terpencil di ujung kawasan yang nyaris tidak berpenghuni. Bangunan itu tampak seperti gudang lama yang telah bertahun-tahun ditinggalkan.Dinding luarnya dipenuhi lumut dan noda hitam akibat hujan, sementara beberapa bagian cat berwarna kelabu telah mengelupas hingga memperlihatkan permukaan semen yang kasar. Jendela-jendelanya tinggi dan sempit, sebagian ditutup papan kayu lapuk yang warnanya sudah memudar.Pagar besi yang mengelilingi bangunan itu dipenuhi karat. Beberapa bagiannya bahkan telah bengkok, seolah pernah dipaksa dibuka. Di atas gerbang, sebuah lampu tua menggantung dengan cahaya kekuningan yang berkedip-kedip, membuat suasana di sekitarnya terasa semakin mencekam.Tidak ada rumah di sekitar tempat itu. Hanya tanah kosong, semak liar yang tumbuh tidak beraturan, serta pepohonan besar yang rantingnya bergerak pelan diterpa angin malam.Arsen mematikan mesin mobil. Suara me
Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak
Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang
"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b
"Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge







