Share

Bab 21

Penulis: D.N.A
last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 11:00:11

Fajar mulai menyingsing ketika Agnira sudah selesai dengan semua pekerjaannya, wanita itu tampak santai, mondar-mandir untuk menyiapkan sarapan. Rambutnya tercepol berantakan, baju kaos kebesaran dengan celana pendek sebatas paha, dia benar-benar menikmati akhir pekan dengan perasaan sedikit lega.

"Nyonya, apa sebaiknya Anda duduk diam saja. Biar kami yang bekerja," ucap salah satu pelayan, merasa tidak enak hati.

Agnira berhenti melangkah, "Memang kenapa? Bukankah ini peke
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 49

    Bau antiseptik begitu menusuk indra penciuman Agnira. Wanita itu menggeliat pelan saat kesadarannya mulai terkumpul. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit ruangan yang putih tanpa cela. “Nyonya, Anda sudah sadar.” Nayara mendekat dengan wajah lega. “Saya panggil dokter dulu.” Wanita itu segera keluar dari ruangan, tepat ketika Sambara baru saja tiba. Pria itu melangkah mendekat ke arah Agnira dan menatap istrinya dengan sorot mata dingin. Beberapa saat kemudian, Nayara kembali bersama seorang dokter dan suster. Sorot mata Sambara langsung berubah semakin dingin saat melihat dokter yang dibawa Nayara. “Saya mau dokter wanita,” ucap Sambara datar. Ia menatap tajam pada dokter pria yang Nayara bawa. Dokter itu pun digantikan oleh dokter wanita. Setelah masuk ke dalam ruangan, dokter mulai memeriksa kondisi Agnira secara menyeluruh. Wanita itu tampak lemah dan tidak berdaya. "Ibu Agnira sudah lebih baik. Anda hanya kelelahan dan terlalu syok," jelas dokter dengan ramah. S

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 48

    "Selain tua, kau juga terlihat menjijikan yah," ejek pria itu, ia turun dari motornya perlahan dan berjalan mendekat.Herman menggeram saat melihat kedatangan pria itu. Dia dengan cepat berdiri menghadang pandangan si pria agar tidak menatap Agnira."Kalian biseksual, sangat menjijikan sekali. Kaum seperti kalian itu harusnya mati," desisnya tajam.Jaket kulitnya tertiup angin pantai, saat pria itu turun dari motornya, berkibar pelan dan terlihat gagah. Matanya menyapu keadaan, Agnira yang terlihat berantakan, serta asisten yang terkapar lemah.Pria itu berhenti tepat di depan Agnira, lalu tersenyum manis, hingga matanya menyipit. "Hallo sayang, asistenmu itu benar-benar lemah." Rahang Agnira mengeras. Bukan dia yang ia harapkan untuk membantunya, tetapi tidak ada lagi orang di sekitar mereka selain Arjuna."Butuh bantuanku?" tawar Arjuna, pria itu masih terlihat tersenyum manis."Hey bocah, jangan ikut campur urusanku!

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 47

    Langit bergemuruh kencang, kilat terus menyambar-nyambar, angin tertiup kuat dengan debur ombak dahsyat yang menghantam terumbu karang. Suasana itu menambah rasa mencekam yang teramat dalam, Agnira terlihat sudah basah kuyup, bahkan baju yang wanita itu kenakan terlihat mencetak jelas lekuk tubuhnya.Suasana mencekam itu tidak membuat Agnira gentar, tatapannya bahkan semakin menajam. Seiring dengan sosok pria di depannya yang berjalan pelan ke arahnya.Pria itu tersenyum lebar, hingga membuat matanya menyipit perlahan. "Masuklah, kamu kedinginan menantu." Tangan Agnira terkepal kuat. "Dimana adikku, Herman." Pria yang di panggil Herman itu tertawa kencang. "Mana saya tahu di mana adikmu sekarang." Tangan Agnira terkepal kuat saat mendengar penuturan Herman. Bagaimana bisa ibu mertuanya menikahi pria seperti ini? Herman terlihat menggunakan kode pada beberapa anak buahnya, terlihat dari mereka yang semakin mendekatkan diri pad

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 46

    Angin laut begitu kencang saat Agnira sampai di pesisir pantai. Langit terlihat menghitam di atas sana dengan guntur yang saling bersahutan, udara semakin dingin dengan cuaca yang memburuk."Bagaimana Bu? Apa kita menunggu pak Sambara saja?" tanya Kenan sekali lagi. Agnira terdiam. Mereka hanya berdua terlebih Kenan tidak dapat diandalkan jika harus beradu kepala tangan, Nayara pun sulit di hubungi, dia juga tidak mempunyai nomor ponsel Sambara, semua semakin runyam saat guntur di atas sana berubah menjadi butiran air kecil yang semakin besar.Hujan turun, mengguyur tubuh Agnira. Bukan masuk kembali ke dalam mobil, wanita itu malah berjalan cepat ke arah pohon lebat yang tidak jauh dari kendaraannya. "Bu, sebaiknya kita pulang saja, ini biar menjadi urusan pak Sambara." Kenan mencoba memperingati. Entah kenapa perasaannya tidak tenang."Ck, kita nggak bisa menunggu Sambara, lagipula dia tidak tahu kita berada di sini!" teriak Agnira, su

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 45

    Mobil milik Agnira melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah jalanan ramai ibukota, menyalip beberapa kendaraan di depannya. Agnira meremas kedua tangan dengan kuat, jantungnya berpacu cepat saat alamat yang tertera di kertas membuat ia mengingat kejadian tiga tahun lalu."Bu, sebaiknya Anda hubungi Pak Sambara." Kenan berusaha fokus pada jalanan di depannya, sesekali ia melihat Agnira dari balik kaca spion."Iya, kamu benar." Agnira dengan cepat menggulir nomor yang tertera, namun tidak mendapati nomor suaminya. Wanita itu meringis pelan, saat menyadari bahwa ia tidak menyimpan nomor ponsel Sambara."Sial," desis Agnira pelan. "Aku tidak menyimpan nomor ponselnya." Kenan tercengang mendengar ungkapan Agnira, bagaimana bisa suami istri tidak saling menyimpan nomor ponsel? Pria itu menarik napas dalam, lalu menyerahkan ponselnya pada Agnira."Coba hubungi Nayara lewat ponsel saya Bu." Agnira mengeryit heran,

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 44

    Langkah kaki itu menggema di sepanjang koridor rumah sakit jiwa, tidak hanya Sambara yang menunjukkan raut wajah cemas, tetapi Agnira pun sama. Mereka sama-sama bergerak cepat menghampiri petugas rumah sakit yang berjaga."Bagaimana bisa adik saya pergi?!" hardik Sambara, sorot matanya begitu tajam.Dokter tertegun sekilas, lalu berdeham pelan. "Maaf Tuan Sambara, tapi ini di luar kendali kami." Sambara dengan cepat meraih kerah kemeja dokter di depannya. Ia mencengkeram erat kerah kemeja itu dan mendorong tubuh dokter, hingga terbanting ke arah dinding."Di luar kendali? Saya membayar kalian untuk menjaga adik saya! Kenapa bisa kalian mengatakan di luar kendali!" teriak Sambara kehilangan kesabaran. Suaranya menggema di lorong rumah sakit yang lenggang."Dengarkan ini baik-baik, jika sesuatu terjadi pada adik saya. Maka saya pastikan rumah sakit ini di tutup seketika," ujar Sambara dingin, ia mencabut name tag dokter itu begitu saja. "

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status