Share

Bab 47

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-05-10 11:00:27

Langit bergemuruh kencang, kilat terus menyambar-nyambar, angin tertiup kuat dengan debur ombak dahsyat yang menghantam terumbu karang. Suasana itu menambah rasa mencekam yang teramat dalam, Agnira terlihat sudah basah kuyup, bahkan baju yang wanita itu kenakan terlihat mencetak jelas lekuk tubuhnya.

Suasana mencekam itu tidak membuat Agnira gentar, tatapannya bahkan semakin menajam. Seiring dengan sosok pria di depannya yang berjalan pelan ke arahnya.

Pria itu tersenyum leb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 48

    "Selain tua, kau juga terlihat menjijikan yah," ejek pria itu, ia turun dari motornya perlahan dan berjalan mendekat.Herman menggeram saat melihat kedatangan pria itu. Dia dengan cepat berdiri menghadang pandangan si pria agar tidak menatap Agnira."Kalian biseksual, sangat menjijikan sekali. Kaum seperti kalian itu harusnya mati," desisnya tajam.Jaket kulitnya tertiup angin pantai, saat pria itu turun dari motornya, berkibar pelan dan terlihat gagah. Matanya menyapu keadaan, Agnira yang terlihat berantakan, serta asisten yang terkapar lemah.Pria itu berhenti tepat di depan Agnira, lalu tersenyum manis, hingga matanya menyipit. "Hallo sayang, asistenmu itu benar-benar lemah." Rahang Agnira mengeras. Bukan dia yang ia harapkan untuk membantunya, tetapi tidak ada lagi orang di sekitar mereka selain Arjuna."Butuh bantuanku?" tawar Arjuna, pria itu masih terlihat tersenyum manis."Hey bocah, jangan ikut campur urusanku!

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 47

    Langit bergemuruh kencang, kilat terus menyambar-nyambar, angin tertiup kuat dengan debur ombak dahsyat yang menghantam terumbu karang. Suasana itu menambah rasa mencekam yang teramat dalam, Agnira terlihat sudah basah kuyup, bahkan baju yang wanita itu kenakan terlihat mencetak jelas lekuk tubuhnya.Suasana mencekam itu tidak membuat Agnira gentar, tatapannya bahkan semakin menajam. Seiring dengan sosok pria di depannya yang berjalan pelan ke arahnya.Pria itu tersenyum lebar, hingga membuat matanya menyipit perlahan. "Masuklah, kamu kedinginan menantu." Tangan Agnira terkepal kuat. "Dimana adikku, Herman." Pria yang di panggil Herman itu tertawa kencang. "Mana saya tahu di mana adikmu sekarang." Tangan Agnira terkepal kuat saat mendengar penuturan Herman. Bagaimana bisa ibu mertuanya menikahi pria seperti ini? Herman terlihat menggunakan kode pada beberapa anak buahnya, terlihat dari mereka yang semakin mendekatkan diri pad

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 46

    Angin laut begitu kencang saat Agnira sampai di pesisir pantai. Langit terlihat menghitam di atas sana dengan guntur yang saling bersahutan, udara semakin dingin dengan cuaca yang memburuk."Bagaimana Bu? Apa kita menunggu pak Sambara saja?" tanya Kenan sekali lagi. Agnira terdiam. Mereka hanya berdua terlebih Kenan tidak dapat diandalkan jika harus beradu kepala tangan, Nayara pun sulit di hubungi, dia juga tidak mempunyai nomor ponsel Sambara, semua semakin runyam saat guntur di atas sana berubah menjadi butiran air kecil yang semakin besar.Hujan turun, mengguyur tubuh Agnira. Bukan masuk kembali ke dalam mobil, wanita itu malah berjalan cepat ke arah pohon lebat yang tidak jauh dari kendaraannya. "Bu, sebaiknya kita pulang saja, ini biar menjadi urusan pak Sambara." Kenan mencoba memperingati. Entah kenapa perasaannya tidak tenang."Ck, kita nggak bisa menunggu Sambara, lagipula dia tidak tahu kita berada di sini!" teriak Agnira, su

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 45

    Mobil milik Agnira melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah jalanan ramai ibukota, menyalip beberapa kendaraan di depannya. Agnira meremas kedua tangan dengan kuat, jantungnya berpacu cepat saat alamat yang tertera di kertas membuat ia mengingat kejadian tiga tahun lalu."Bu, sebaiknya Anda hubungi Pak Sambara." Kenan berusaha fokus pada jalanan di depannya, sesekali ia melihat Agnira dari balik kaca spion."Iya, kamu benar." Agnira dengan cepat menggulir nomor yang tertera, namun tidak mendapati nomor suaminya. Wanita itu meringis pelan, saat menyadari bahwa ia tidak menyimpan nomor ponsel Sambara."Sial," desis Agnira pelan. "Aku tidak menyimpan nomor ponselnya." Kenan tercengang mendengar ungkapan Agnira, bagaimana bisa suami istri tidak saling menyimpan nomor ponsel? Pria itu menarik napas dalam, lalu menyerahkan ponselnya pada Agnira."Coba hubungi Nayara lewat ponsel saya Bu." Agnira mengeryit heran,

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 44

    Langkah kaki itu menggema di sepanjang koridor rumah sakit jiwa, tidak hanya Sambara yang menunjukkan raut wajah cemas, tetapi Agnira pun sama. Mereka sama-sama bergerak cepat menghampiri petugas rumah sakit yang berjaga."Bagaimana bisa adik saya pergi?!" hardik Sambara, sorot matanya begitu tajam.Dokter tertegun sekilas, lalu berdeham pelan. "Maaf Tuan Sambara, tapi ini di luar kendali kami." Sambara dengan cepat meraih kerah kemeja dokter di depannya. Ia mencengkeram erat kerah kemeja itu dan mendorong tubuh dokter, hingga terbanting ke arah dinding."Di luar kendali? Saya membayar kalian untuk menjaga adik saya! Kenapa bisa kalian mengatakan di luar kendali!" teriak Sambara kehilangan kesabaran. Suaranya menggema di lorong rumah sakit yang lenggang."Dengarkan ini baik-baik, jika sesuatu terjadi pada adik saya. Maka saya pastikan rumah sakit ini di tutup seketika," ujar Sambara dingin, ia mencabut name tag dokter itu begitu saja. "

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 43

    "Agnira," panggil Sambara pelan.Agnira yang hendak masuk ke dalam kamar mengurungkan niatnya, ia berbalik dan menatap sepenuhnya pada pria itu. Wanita itu menunggu, namun Sambara malah terdiam."Selamat beristirahat," ucap Sambara pelan.Agnira hanya mengangguk lemah, ia memang sudah lelah. Kehidupan tenangnya mungkin sudah tidak akan ada lagi, terlebih karena dia memilih berperang dengan Kirana, adik ipar gila yang tiga tahun lalu membuat ulah cukup besar.Tubuh Agnira terhempas pelan ke arah ranjang, memantul ringan dan menenggelamkannya pada balutan empuk itu. Sedangkan di kamar lain, Sambara terlihat memandang langit malam, pikirannya masih tertuju pada Nana, adik satu-satunya yang ia jaga.Sejak kecil, Nana dan Sambara memang hidup terpisah akibat perceraian orang tua mereka. Nana ikut bersama ibunya, sementara Sambara ikut bersama ayahnya ke Belanda. Pria itu tidak tahu apa yang selama ini menimpa adiknya, sampai saat ayahnya menin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status