Share

Bab 49

Penulis: D.N.A
last update Tanggal publikasi: 2026-05-10 19:55:09

Bau antiseptik begitu menusuk indra penciuman Agnira. Wanita itu menggeliat pelan saat kesadarannya mulai terkumpul. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit ruangan yang putih tanpa cela.

“Nyonya, Anda sudah sadar.” Nayara mendekat dengan wajah lega. “Saya panggil dokter dulu.”

Wanita itu segera keluar dari ruangan, tepat ketika Sambara baru saja tiba. Pria itu melangkah mendekat ke arah Agnira dan menatap istrinya dengan sorot mata dingin.

Beberapa saat kemudian, Nayara kembali bers
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 145

    Tangan Agnira mengusap pelan rambut hitam suaminya perlahan. Memberikan rasa nyaman dan aman yang membuat Sambara kehilangan fokus pada kartun yang Nana tonton, kartun dunia anak SD berasal dari China itu berhasil membuat Sambara anteng dan diam."Dia salah, seharusnya meminta maaf," komentar Sambara, saat melihat salah satu tokoh merusak kotak pencil temannya.Nana memalingkan wajah, matanya menyipit saat ia dengan kesadaran penuh tahu maksud dari ucapan itu. Namun, bukannya meminta maaf, Nana justru berjalan ke arah Agnira dan duduk di sisi wanita itu. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas paha Agnira yang lainnya."Ko ikut-ikutan sih," sentak Sambara yang merasa tidak nyaman, kepalanya terhantuk kepala milik adiknya."Apa sih, Ka Agnira juga tidak keberatan ko, iya 'kan, Ka?" Nana mencoba mencari pembelaan dari kakak iparnya.Agnira hanya mampu mendesah lelah, adik-kakak ini berhasil membuat tensi darahnya meningkat drastis. Ingin menonton televisi saja sulit sekali, dia merindukan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 144

    "Kita tidak mungkin tidur di lantai atas dengan kondisi mu yang seperti ini, jadi aku meminta Bi Nurma untuk membersihkan kamar tamu yang berada di lantai bawah," ujar Agnira memberitahu.Ia mendorong tubuh suaminya menuju kamar yang berada di pojok ruang tamu. Kamar kosong yang tidak pernah di buka sama sekali, kamar yang dulu sempat di tempati oleh Panji.Kamar itu cukup luas, walaupun tidak seluas kamar utama miliknya. Kasurnya pun terbilang kecil dari dua kamar di lantai atas. Akan tetapi, apa boleh buat, Agnira tidak akan sanggup menggendong Sambara ke lantai atas."Ke mana Nana?" tanya Sambara yang tidak melihat keberadaan adiknya sejak tadi."Mungkin di halaman belakang. Dia sedang gemar melukis saat ini," ucap Agnira sambil berjalan ke arah jendela.Wanita itu membuka tirai selebar mungkin. Membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar dan menerangi seisi kamar, membuat suasana semakin nyaman. "Lihat, adikmu di sana," tunjuk Agnira pada halaman belakang yang langsung terlih

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 143

    "Sidang pertama Panji akan di adakan satu minggu dari sekarang," beritahu Nayara di sela langkah mereka, "dan Tuan harus hadir di sana." "Iya, saya tau." Sambara menggeser duduknya agar terasa nyaman. Kini mereka akan pulang ke rumah Lakeswara, karena Sambara yang bersikeras sudah sembuh dari rasa sakitnya. Walaupun sangat jelas dari segi fisik pria itu sangat jauh dari kata sembuh.Untuk berdiri tegak saja kesulitan, bahkan duduk tegak pun harus ekstra menahan sakit. Akan tetapi, apa boleh buat, Sambara itu keras kepala. "Aku pengen bakso," celetuk Agnira sambil menatap keluar kaca mobil. Wanita itu menarik napas dalam seperti sedang merasakan sakit yang luar biasa.Sambara berpura-pura tuli. Dia lebih memilih membuka notebook nya daripada mendengarkan permintaan aneh Agnira. Makanan pinggir jalan sangat tidak baik di konsumsi terlalu sering, dan itu adalah hal yang harus Agnira patuhi."Untuk apa duitmu banyak, kalau seharga dua puluh ribu saja tidak punya," sindir Agnira tajam.

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 142

    Begitu memasuki gedung utama, seorang polisi berpangkat inspektur segera menghampiri mereka."Selamat pagi, Pak Sambara.""Pagi." Sambara menjawab sapaan itu dengan apa adanya. "Terima kasih sudah datang memenuhi panggilan kami," lanjut polisi itu, sambil tersenyum hangat.Sambara hanya mengangguk singkat. Pria itu memang tidak pernah pandai berbasa-basi."Silakan ikut saya." Polisi itu memimpin mereka menuju sebuah ruangan pemeriksaan yang berada di lantai bawah yang berada di paling ujung ruangan.Sesampainya di sana, Sambara dipersilakan masuk. Namun ketika Agnira hendak mengikuti dari belakang, petugas itu mengangkat tangan."Maaf, Bu. Hanya Pak Sambara yang bisa masuk."Langkah Agnira langsung terhenti. Wanita itu menoleh ke arah Sambara, lalu menatap Nayara dan juga Robi. Ia tidak bisa membiarkan Sambara masuk sendirian, mengingat terakhir kali pria itu bersama aparat kepolisian dan berakhir seperti ini."Kenapa?" tanya Sambara yang melihat wajah ragu istrinya. "Tidak apa-apa,

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 141

    Seperti yang dikatakan Nayara, Sambara wajib memenuhi panggilan dari pihak kepolisian. Pagi itu, pria itu sudah tampil rapi dengan pakaian sederhana yang jarang ia kenakan.Rambut hitamnya tersisir rapi, sementara sorot matanya yang tajam telah kembali seperti semula. Namun, ada satu hal yang berbeda. Kali ini, Sambara harus duduk di atas kursi roda karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih."Kau yakin akan datang?" tanya Agnira untuk kesekian kalinya, sambil merapikan sweater yang membungkus tubuh suaminya."Tentu saja. Ini panggilan dari pihak berwajib," jawab Sambara tenang.Meski demikian, tatapannya sempat beralih ke Nayara dengan sorot mata yang penuh arti. Tentu saja ia akan datang.Bagaimana mungkin ia melewatkan momen ketika musuh-musuhnya akhirnya menerima kekalahan yang pantas mereka dapatkan?Sudut bibir Sambara terangkat tipis. Setelah semua yang terjadi, akhirnya ia akan melihat mereka jatuh dengan matanya sendiri. Bukankah sudah ia katakan, bahwa dirinya tidak akan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 140

    Setelah pengakuan perasaan itu, keduanya sama-sama terdiam dalam kecanggungan yang sulit dijelaskan. Tidak ada percakapan yang terjalin di antara mereka.Sambara terlihat sibuk membaca jurnal yang berada di tangannya, sementara Agnira berpura-pura fokus pada ponsel yang sejak tadi ia pegang. Namun, sesekali keduanya diam-diam saling melirik.Setiap kali tatapan mereka bertemu, baik Sambara maupun Agnira akan segera mengalihkan pandangan dengan gugup, seolah tidak terjadi apa-apa. Meski begitu, sudut bibir keduanya beberapa kali terlihat terangkat tipis tanpa sadar.Suasana hening itu terasa aneh, tetapi juga menenangkan. Mereka tidak merasa perlu mengisi keheningan dengan pertengkaran atau sindiran seperti biasanya. Hanya duduk bersama dalam ruangan yang sama sudah cukup membuat jantung keduanya berdebar dengan cara yang berbeda.Ini gila dan itulah kenyataannya. Bibir mereka mungkin saling bungkam, namun takdir Tuhan sedang bekerja di dalamnya. "Agnira," panggil Sambara pelan.Agnir

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 16

    Tubuh Agnira terhempas ke atas kursi dengan cukup kuat, dadanya bergemuruh saat barisan kalimat itu kembali ia baca ulang. Rahang Agnira mengeras, ia tidak langsung meledak, justru diamnya menjadi hal yang paling berbahaya, dan kini dia ingin sekali menghajar siapapun yang berada di depannya.

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 15

    "Bisakah lain kali saja?" tanya Agnira mencoba bernegosiasi. Tubuh Agnira mundur perlahan saat jarak di antara mereka begitu dekat. Aroma parfum Sambara begitu menusuk hidungnya, membuat Agnira sedikit tidak nyaman."Hmmm ... tidak," tolak Sambara tegas.Mata Agnira membulat. Tangannya semakin era

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 11

    "Cepatlah, saya ada urusan penting," ujar Sambara, mulai tidak sabar.Agnira mendengus. Ia berbalik sepenuhnya pada Sambara dan menatap sengit pria itu, "Kalau begitu, terima uang lima puluh jutaku. Sisanya akan aku transfer."Sambara menggeleng pelan, "Tidak.""Kau..." Tangan Agnira menunjuk tepat

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 10

    Agnira melirik kecil ke arah Sambara, "Kau mengikutiku?" Sambara terdiam. Pria itu terlihat sibuk dengan tab yang berada di tangannya sedari tadi, "Hanya kebetulan saja." Di luar mobil keadaan sudah kembali kondusif. Arjuna dan para antek-antek pergi saat suara sirine polisi terdengar di kejauhan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status