LOGINRuang tamu kediaman Sambara yang selalu di isi keheningan serta kehampaan, mendadak terasa berat dan menekan. Orang-orang yang berada di dalam ruangan terlihat berwajah dingin dan tegang, tidak sama seperti keluarga hangat pada umumnya. Hanya Agnira yang masih terlihat santai dengan piyama tidurnya, wanita itu bahkan terlihat acuh dan terus mengunyah di ruangan terpisah.
"Nyonya, apa saya harus membuat sarapan lebih?" tanya Nurma setengah berbisik.Agnira menggeleng pelan, dRuang tamu kediaman Sambara yang selalu di isi keheningan serta kehampaan, mendadak terasa berat dan menekan. Orang-orang yang berada di dalam ruangan terlihat berwajah dingin dan tegang, tidak sama seperti keluarga hangat pada umumnya. Hanya Agnira yang masih terlihat santai dengan piyama tidurnya, wanita itu bahkan terlihat acuh dan terus mengunyah di ruangan terpisah."Nyonya, apa saya harus membuat sarapan lebih?" tanya Nurma setengah berbisik.Agnira menggeleng pelan, dia ikut berisik, "nggak usah, sebentar lagi juga di usir Sambara." Wanita itu begitu yakin dengan perkataannya. Dia kembali menatap ke arah Sambara yang terlihat santai dengan wajah dinginnya, pria itu terlihat menyimpan bara yang siap meledak kapan saja. Tatapan Agnira berpindah pada mertuanya serta Kirana, mereka terlihat acuh dan tidak tahu malu."Nak, kenapa kamu kemarin tidak datang ke rumah?" tanya Dini, suaranya terdengar lembut dan halus.Tidak ada jawaban dar
"Nona, Anda tidak boleh sembarangan seperti ini," ucap salah satu pelayan dari belakang Kirana."Minggir, jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" sentak Kirana sengit.Pelayan itu menarik napas dalam, mencoba tetap tenang dan sabar. Ia juga menarik pintu kamar Agnira agar kembali tertutup rapat, bisa habis jika Sambara bangun dan mengetahuinya."Nona, turunlah dulu biar saya yang memberitahu Tuan dan Nyonya," mohon pelayan itu sekali lagi.Kirana masih berdiam diri, enggan untuk pergi. "Biar saya saja, kau diam atau saya adukan pada papa dan mama." Pelayan itu terdiam, ragu, tetapi tidak dapat berbuat banyak. Ia di ambang kebimbangan antara menurut pada perintah Kirana atau mengikuti instruksi yang sudah Sambara perintahkan. "Minggir atau saya pecat kamu detik ini juga," desis Kirana tajam.Pelayan itu menunduk takut, lalu bergeser pelan memberi jalan. Kirana tersenyum sinis merasa puas, wanita itu mengangkat tangan dan hendak membuka pintu, namun sebelum tangannya sempat mer
"Lepas, lepas!" teriakan itu menggema, memantul di dinding ruangan hampa bercat putih.Tubuh kecilnya meronta, rambut berantakan, serta kedua kaki dan tangan yang terikat sempurna. Ia terus mencoba melepaskan diri walaupun terasa sia-sia, jerit serta tangisnya pecah begitu saja menggema di ruangan itu. Napasnya tersengal, tubuhnya terlihat bergetar."Lepas!" pekik wanita itu lagi, "kalian akan mati di tangan Sambara karena sudah memperlakukan aku seperti ini!" Ancaman demi ancaman terucap dari bibir pucat itu, matanya menyorot tajam ke arah Nayara yang berdiri tegak dengan wajah dingin. Nayara terlihat acuh dan tidak bereaksi–hanya diam, menunggu kedatangan tuannya. Hingga akhirnya pintu kayu bercat cokelat itu terbuka lebar, menampilkan sosok Sambara dengan raut wajah panik. Penampilannya berantakan, jauh dari sosok Sambara yang biasa dikenal banyak orang. Langkah Sambara lebar, masuk lebih dalam dan berlutut di samping ranjang."Sayan
Agnira menyingkirkan lembar kertas di depannya, lalu menatap pada pria di depannya. "Jika aku menolak untuk pergi? Bagaimana?" Sambara tidak bereaksi, tetapi tatapan matanya sudah menyiratkan, jika ia tidak masalah dengan apapun keputusan yang Agnira ambil. Namun ia juga tidak ingin mengambil resiko saat pulang sendirian tanpa Agnira di sisinya."Sebenarnya tidak masalah, tapi apa kau sudah lupa kenapa saya menikahimu?" suara Sambara terdengar tenang, namun tatapan matanya menyimpan banyak hal.Wanita itu terdiam, Agnira hanya mampu menarik napas dalam, lalu dengan cepat tangannya bergerak, menyusun beberapa berkas dan merapihkan segalanya. Mulutnya diam, tetapi gestur tubuhnya jelas menunjukkan rasa enggan, Agnira terlalu malas untuk bertemu dengan orang tua Sambara, bukan tidak menghormati, tetapi cara mereka memperlakukan Agnira cukup menguras emosi."Kapan berangkatnya?" tanya Agnira sambil terus memungut kertas-kertas di atas lantai.
"Kenapa kau menyiramku juga?" tanya Sambara heran. Agnira melirik kecil, tatapannya terlihat jengah dan lelah. Wanita itu menarik napas dalam, sebelum menghampiri Sambara, tangannya terlipat di depan dada sambil menatap tajam pria tampan di depannya. Sambara terlihat berantakan, baju basah serta rambut lepek karena air pel yang ia siramkan. "Siapa suruh bakterinya menempel di tubuhmu," jawab Agnira santai, bibirnya terlihat menahan senyum puas. Mata Sambara menyipit tajam, menuduh lebih tepatnya. "Kau sengaja." Agnira mendelik pelan. "Tentu saja tidak, untuk apa saya sengaja. Kan sudah saya katakan ada bakteri di tubuhmu." Sambara masih terus menatap dingin, ia lebih memilih tidak melanjutkan percakapan karena pasti akan menimbulkan keributan. Agnira tipe wanita yang tidak ingin kalah dari apapun juga, hanya perusahaan kecil itu yang membuat wanita itu kalah. Sambara kembali melanjutkan langkahnya, namun tepat saat tangan itu meraih gagang pintu, suara Agnira kembali terd
Tangan itu terbuka lebar dengan wajah ceria yang tidak memudar. Namun alih-alih pelukannya tersambut mesra, Sambara justru menghindar begitu saja. Wanita itu akhirnya hanya mendekap angin pagi yang berhembus pelan, membelai wajah cantiknya.Dia mengerjap singkat, lalu berbalik pelan dengan tubuh kaku. Malu, jelas sekali. Nyatanya, Sambara tidak semudah itu disentuh sembarang orang, walaupun orang itu adalah adiknya sendiri."Kakak kok gitu sih," ucap wanita itu dengan wajah cemberut.Sambara hanya menatap dingin, sedangkan Agnira terlihat mulai jengah. Ia menarik napas dalam dan memilih masuk lebih dulu ke dalam. Bukan karena tidak ingin terlibat percakapan, melainkan karena tidak suka dengan kehadiran Kirana.Sambara menatap sengit pada adik tirinya itu. "Mau apa kau kemari?""Ih Kakak, kamu kok bicara begitu sih? Aku datang karena kangen, tahu," jawab Kirana manja. Ia kembali melangkah mendekat, hendak meraih lengan Sambara.Pr







