Se connecter"Apa? Kenapa kita harus tidur sekamar?"protes Agnira kesal.Sambara terlihat acuh pada protes istrinya. Pria itu duduk santai di sisi ranjang, tangannya mulai melepaskan arloji perlahan, disusul jas yang masih melekat di tubuhnya."Ayolah, aku juga butuh privasi,"geram Agnira jengkel karena tidak ditanggapi."Apa salahnya? Kita suami istri, jadi tidak ada yang aneh kalau tidur dalam satu kamar."Pria itu berjalan ke arah jendela lalu menutup tirai yang terbuka lebar.Kamar itu langsung tampak remang saat Sambara menutup akses cahaya dari luar.Beberapa saat sebelumnya, ketika mereka baru sampai di rumah, Sambara mengatakan bahwa kamar Agnira akan ditempati Nana untuk sementara waktu, sedangkan Agnira harus tidur bersamanya."Bukan itu, kita ini tidak sewajarnya suami istri pada umumnya. Kau tahu sendiri 'kan!" Sambara mulai membuka kemejanya, memperlihatkan dada bidangnya perlahan. Agnira mengalihkan tatapan saat melihat
"Nona Nana akan kami pindahkan ke ruangan khusus," ucap dokter itu memberitahu. Ia tersenyum ke arah Sambara dengan gestur genitnya.Agnira berdecih pelan, tangannya terus mengusap rambut Nana penuh kelembutan. Sedangkan matanya menatap tajam pada dokter genit disamping Sambara."Nana akan kami bawa pulang, tidak perlu ruangan khusus." Tatapan Sambara terus tertuju pada Agnira dan Nana.Dokter wanita itu tersenyum canggung. "Baik jika seperti itu, Pak. Akan kami urus kepulangannya." Dokter itu mendelik ke arah Agnira dan berlalu dari ruangan. Hal itu sangat jelas tertangkap oleh mata Agnira, bibirnya bergerak pelan, ingin sekali sumpah serampah ini keluar."Dokter pun dia goda, dasar menyebalkan," gerutu Agnira pelan, nyaris tidak terdengar.Namun pendengaran Sambara jauh lebih tajam, pria itu berdeham sekilas dan ikut duduk di samping Nana, menyentuh pelan bahu adiknya dan membuat atensi Nana teralih padanya. "Kita pulang yah, Nana mau pulang?" Sambara menarik sudut bibirnya, membe
"Bagaimana Herman?" tanya Agnira di sela langkah mereka.Dia mendongak dan menatap ekspresi Sambara yang selalu terlihat tenang dan santai. Pria itu terus berjalan di depan Agnira, tanpa melihat ke arah wanita itu, sorot matanya begitu angkuh dan dingin, sosok yang sangat sulit di gapai. Entah bagaimana Sambara bisa begitu dekat dengan Nayara?"Dia mendapatkan hukuman yang setimpal," jawab Sambara pelan, berhenti melangkah dan menatap dalam ke arah Agnira.Alis Agnira mengeryit heran. "Apa sudah dilaporkan pada pihak berwajib, dia harus masuk penjara dan di hukum lama." Sambara melirik wanita itu sekilas, lalu kembali berjalan lebih dulu. Hal itu membuat Agnira merasa heran, kepalanya mendongak menatap Nayara."Herman di masukkan ke dalam penjara, bukan?" tanyanya penasaran.Nayara terdiam. "Maaf Nyonya, itu bukan hak saya untuk menjawab." Agnira memutar bola mata malas. Nayara ini benar-benar bawahan yang setia, dia m
Bau antiseptik begitu menusuk indra penciuman Agnira. Wanita itu menggeliat pelan saat kesadarannya mulai terkumpul. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit ruangan yang putih tanpa cela. “Nyonya, Anda sudah sadar.” Nayara mendekat dengan wajah lega. “Saya panggil dokter dulu.” Wanita itu segera keluar dari ruangan, tepat ketika Sambara baru saja tiba. Pria itu melangkah mendekat ke arah Agnira dan menatap istrinya dengan sorot mata dingin. Beberapa saat kemudian, Nayara kembali bersama seorang dokter dan suster. Sorot mata Sambara langsung berubah semakin dingin saat melihat dokter yang dibawa Nayara. “Saya mau dokter wanita,” ucap Sambara datar. Ia menatap tajam pada dokter pria yang Nayara bawa. Dokter itu pun digantikan oleh dokter wanita. Setelah masuk ke dalam ruangan, dokter mulai memeriksa kondisi Agnira secara menyeluruh. Wanita itu tampak lemah dan tidak berdaya. "Ibu Agnira sudah lebih baik. Anda hanya kelelahan dan terlalu syok," jelas dokter dengan ramah. S
"Selain tua, kau juga terlihat menjijikan yah," ejek pria itu, ia turun dari motornya perlahan dan berjalan mendekat.Herman menggeram saat melihat kedatangan pria itu. Dia dengan cepat berdiri menghadang pandangan si pria agar tidak menatap Agnira."Kalian biseksual, sangat menjijikan sekali. Kaum seperti kalian itu harusnya mati," desisnya tajam.Jaket kulitnya tertiup angin pantai, saat pria itu turun dari motornya, berkibar pelan dan terlihat gagah. Matanya menyapu keadaan, Agnira yang terlihat berantakan, serta asisten yang terkapar lemah.Pria itu berhenti tepat di depan Agnira, lalu tersenyum manis, hingga matanya menyipit. "Hallo sayang, asistenmu itu benar-benar lemah." Rahang Agnira mengeras. Bukan dia yang ia harapkan untuk membantunya, tetapi tidak ada lagi orang di sekitar mereka selain Arjuna."Butuh bantuanku?" tawar Arjuna, pria itu masih terlihat tersenyum manis."Hey bocah, jangan ikut campur urusanku!
Langit bergemuruh kencang, kilat terus menyambar-nyambar, angin tertiup kuat dengan debur ombak dahsyat yang menghantam terumbu karang. Suasana itu menambah rasa mencekam yang teramat dalam, Agnira terlihat sudah basah kuyup, bahkan baju yang wanita itu kenakan terlihat mencetak jelas lekuk tubuhnya.Suasana mencekam itu tidak membuat Agnira gentar, tatapannya bahkan semakin menajam. Seiring dengan sosok pria di depannya yang berjalan pelan ke arahnya.Pria itu tersenyum lebar, hingga membuat matanya menyipit perlahan. "Masuklah, kamu kedinginan menantu." Tangan Agnira terkepal kuat. "Dimana adikku, Herman." Pria yang di panggil Herman itu tertawa kencang. "Mana saya tahu di mana adikmu sekarang." Tangan Agnira terkepal kuat saat mendengar penuturan Herman. Bagaimana bisa ibu mertuanya menikahi pria seperti ini? Herman terlihat menggunakan kode pada beberapa anak buahnya, terlihat dari mereka yang semakin mendekatkan diri pad







