แชร์

Bab 60

ผู้เขียน: D.N.A
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-16 12:00:28

Tubuh Agnira menempel pada kaca balkon yang terasa dingin. Napasnya naik turun tidak beraturan saat Sambara berjalan pelan ke arahnya, tatapan pria itu tajam dan lapar seperti predator yang memburu mangsanya.

Agnira menggigit bibir bawahnya pelan. Jemarinya bergerak naik, menyentuh tali spaghetti yang melingkar manis di leher jenjangnya. Dengan gerakan lambat dan menggoda, wanita itu menarik tali itu perlahan.

Kain tipis piyama yang sejak tadi membalut tubuhnya langsung melo
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 76

    Agnira menjadi orang pertama yang tersadar setelah kejadian panjang yang mereka lewati. Wanita itu menggeliat pelan di dalam dekapan Sambara, tubuhnya terasa pegal karena tertidur dalam posisi duduk di ruang sempit mobil.Kelopak matanya mengerjap perlahan saat merasakan sesuatu yang keras dan hangat berada dalam pelukannya. Agnira mendongak pelan, matanya langsung membulat sempurna saat menyadari Sambara tertidur tepat di sampingnya.Napas Agnira tercekat. Terlebih saat ia sadar tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh mereka, selain jas Sambara yang tersampir berantakan di paha wanita itu.“Sial ... kenapa bisa aku semurah ini?” bisiknya pelan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, merutuki dirinya sendiri.Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian Agnira menjauh dari dekapan Sambara. Cahaya matahari senja mulai meredup di balik gedung-gedung tinggi, menandakan waktu sudah hampir malam saat Agnira akhirnya terbangun.Agnira menelan ludah pelan. Wajahnya masih terasa panas

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 75

    "Aaah ...,"desah halus itu terdengar samar di dalam ruang sempit mobil.Kepala Agnira perlahan mendongak saat bibir Sambara mulai menelusuri lehernya dengan kecupan-kecupan hangat. Jemari wanita itu tanpa sadar meremas pelan rambut Sambara, sementara tubuhnya bergetar samar setiap kali pria itu kembali menyentuhkan bibirnya di sana.Napas mereka saling bertabrakan. Udara di dalam mobil terasa semakin panas, dipenuhi suara desahan kecil dan detak jantung yang sejak tadi berdentum tidak karuan.Sambara mengangkat wajahnya perlahan, menatap Agnira yang masih berada di atas pangkuannya dengan napas memburu. Wajah wanita itu memerah, sementara jemarinya masih mencengkeram pelan bahu suaminya."Apa kau menginginkannya?" tanya Sambara di sela-sela aktivitasnya. Jemarinya terus bergerak perlahan menyusuri tubuh Agnira, menghadirkan sentuhan hangat yang membuat wanita itu tanpa sadar memejamkan mata, larut dalam setiap sentuhan Sambara.Tangan pria itu turun perlahan hingga berhenti di paha A

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 74

    Sirine ambulans terdengar nyaring saat kendaraan itu perlahan meninggalkan area rumah sakit. Setelahnya, keheningan yang sejak tadi menggantung kembali menyelimuti suasana. Agnira masih menatap lurus ke arah Ambulance yang kian menjauh, pandangannya kosong dengan dada yang terasa sesak."Kita harus bicara." Sambara berucap serius dan menarik lengan Agnira. Wanita itu berusaha memberontak, namun cekalan pada lengannya terlalu erat untuk dilepaskan. Agnira terseret mengikuti langkah lebar Sambara, hingga tubuhnya terdorong pelan ke sisi pintu mobil."Tidak cukup dengan mulut jahatmu aku tersiksa, sekarang kau ingin menambah dengan fisik juga!" hardik Agnira sambil mengusap lengannya yang memerah.Sambara memijat pelan pangkal hidungnya. Agnira benar-benar sedang sensitif hari ini, dan itu cukup membuat Sambara kewalahan."Dengarkan saya dulu!" pinta Sambara sedikit meninggikan suaranya."Mau apa? Hah!" bentak Agnira tak kalah murk

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 73

    Seseorang yang duduk di seberang Agnira terus menatap tajam ke arahnya, tatapan itu membuat Agnira merasa tidak nyaman bahkan untuk sekadar bergerak. Cukup lama keduanya terdiam dalam hening yang menyesakkan, tidak ada satu pun yang berani membuka suara terlebih dulu.Agnira masih dengan ego tingginya. Sementara itu, Sambara masih mempertahankan harga dirinya, mereka sama-sama bungkam, sampai waktu berlalu cepat dan ruang IGD terbuka lebar. Satu dokter keluar, wajahnya menunjukkan lelah dan sendu secara bersamaan."Bagaimana keadaan adik kami, dok?" tanya Agnira cepat, wajahnya menunjukkan raut cemas.Dokter menunduk sekilas. "Maaf, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Mata Agnira membulat sempurna, kepalanya berdenging tatkala mendengar berita yang cukup menghantam dirinya. Kakinya limbung dan dengan cepat di tangkap oleh Sambara, pria itu mendekapnya hangat dan menahan tubuh istrinya dengan kuat."M-maksud Dokter ...? Suara Agnira terdengar bergetar samar.Dokter itu menari

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 72

    "Jadi, Bu Agnira akan tetap pada rencana awal?" tanya Kenan sekali lagi, ia harus memastikan dengan cermat.Agnira mengangguk yakin. Ini sudah menjadi keputusannya sejak awal dan tidak bisa diganggu gugat, toh tinggal satu minggu lagi semua akan selesai."Setelah dari sini saya akan ke pengadilan agam untuk mengurus segalanya," beritahu Agnira dengan wajah tersenyum pahit.Hati Kenan ikut terremas saat melihat senyum milik atasannya itu. Namun apa yang membuat Agnira begitu yakin ingin bercerai dari Sambara? "Kamu cepat sehat, dan sepertinya kamu harus mencari pekerjaan lain Kenan, saya tidak akan bisa menjadi bos kamu ke depannya," bisik Agnira terdengar lemah.Alis Kenan mengeryit heran. "Maksud Bu Agnira, apa?" "Seperti yang kamu tahu, perusahaan Sambara sudah mengakuisisi kantor kita. Mungkin setelah bercerai nanti, aku tidak akan mendapatkan apa pun karena semua sudah tertulis di dalam perjanjian." Agnira menarik napas pelan sebelum melanjutkan, "Aku juga tidak meminta harta go

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 71

    Langit terlihat cerah, sementara hangat matahari mulai terasa menusuk kulit. Namun sejak tadi Agnira hanya diam tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya.Wanita itu terduduk lemas di balkon kamar, menatap kosong ke arah halaman rumah. Bahkan sarapan pun ia lewatkan begitu saja. Perasaannya yang terluka membuat Agnira enggan beranjak ke mana pun."Mau sampai kapan kau di sana, Agnira?" tanya Sambara, suaranya memecah kesunyian yang sejak tadi Agnira rasa.Wanita itu tidak mengalihkan tatapannya sedikit pun. Ia hanya memeluk lututnya erat sambil berulang kali menarik napas panjang.Sikap diam itu perlahan memancing kekesalan yang sejak tadi Sambara tahan. Pria itu melangkah mendekat, lalu menarik tangan Agnira secara tiba-tiba hingga membuat wanita itu terhenyak kaget."Turun dan makan, jika tidak ...""Apa? Kau akan melakukan apa lagi?" tantang Agnira mulai lelah, pikirannya sudah kacau oleh pria di depannya ini."Jawab ... kau akan melakukan apa lagi pada hidupku? Hah!" Wanita itu t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status