LOGIN[Terima kasih atas bekalnya, Lily. Saya sangat menyukainya. Masakanmu enak.] Senyuman itu tersungging begitu cerah ketika membaca pesan, bahkan nyaris diiringi pekikan kecil. Jantungnya copot. Akhirnya hal yang ia tunggu-tunggu ia terima. Balasan. Dari Jonathan. "Ya Tuhan ... dia menghubungiku!" Lily berseru lirih di balik meja kasir, berusaha agar rekannya yang sedang mengatur barang di luar sana tidak mendengar. Tangannya sampai gemetar. Ponselnya ia genggam erat, seolah kalau dilepas pesan itu akan hilang. Sungguh, ia merasa sangat senang. Rasanya seperti menang undian. Nyatanya, usahanya tidak berakhir sia-sia. Dua hari begadang masak, bangun jam empat, semuanya terbayar lunas. Apalagi ketika masakannya dipuji enak oleh orang yang ia cinta, ia benar-benar merasa tak lagi menapaki bumi. Melayang. Ia semakin semangat untuk meluluhkan hati Si pria, tentu dengan masakannya. Kalau lewat perut belum bisa, lewat apa lagi coba? Lily buru-buru mengetikkan balasan, dengan senyuman ya
Pukul delapan kurang lima menit, tepat ketika Jonathan selesai memarkirkan mobilnya dengan rapi pada parkiran khusus dokter di sisi kanan gedung rumah sakit besar tempat dirinya mengabdikan diri. Langkahnya terayun cukup ringan ketika menjejak pelataran menuju pintu masuk. Udara pagi masih sejuk. Dan di sanalah ia berpapasan dengan Marcell Hashmi. Temannya yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam itu tampak tersenyum cerah, secerah cuaca pagi ini ketika mata mereka bertemu. "Wah, dokter yang biasanya rajin tumben datang jam segini?" secara spontan langkah Marcell terhenti, sekedar untuk bertegur sapa. Tentu saja Jonathan turut menghentikan langkah kakinya. Salah satu tangannya yang membawa kunci kendaraan ia masukkan ke dalam saku celana, lalu membalas senyuman. "Aku memang bangun agak kesiangan. Ada beberapa masalah di klinik yang harus kuselesaikan, dan berakhir pulang hampir tengah malam." Secara otomatis Marcell menatap wajah tampan Jonathan, meneliti. Kantung
"Sialan!" decakan terlontar diiringi umpatan. Melihat perubahan raut wajah Lily membuat Dimas sadar bahwa dirinya sama sekali tidak diharapkan. "Toko sedang sepi, dan aku hanya ingin menikmati udara luar. Memangnya tidak boleh, hah? Ini kursi umum, bukan?" ujarnya kemudian, memberi alasan selogis mungkin. Tapi, Dimas berbohong. Ia memang sengaja menemani gadis itu untuk menjaganya. Ia peduli, apalagi ketika mengingat bahwa Lily hidup sebatang kara. Dan perasaannya tulus, tanpa mengharapkan balasan. "Yah, jujur saja. Aku merasa tidak nyaman diperhatikan ketika sedang makan." Hela napas terembus, Lily mengakui alasan yang sebenarnya. Biar bagaimanapun menyebalkan, ia tahu bahwa Dimas sebenarnya adalah teman yang baik. "Kau hanya perlu diam dan melanjutkan menikmati bekalmu, anggap saja aku tidak ada di hadapanmu. Aku hanya akan duduk sambil bermain ponsel." Selanjutnya Dimas memajukan wajah, berbisik lirih di hadapan Lily seraya memberikan lirikan ke arah kanan. "Pria di seberang jal
Suasana masih cukup tenang, waktu pun masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Namun, pria berjas putih itu sudah duduk manis di balik meja konsultasi. Ia sudah begitu siap mengerahkan segenap tenaga, pengetahuan serta keterampilannya untuk membantu pasien kembali mendapatkan kesehatan. Sejujurnya ia memang datang terlalu pagi. Setelah Sang istri berangkat bekerja dengan dijemput Si asisten pribadi, Jonathan memang turut serta angkat kaki. Toh, di rumah tidak ada siapa-siapa. Rumah besar itu akan kembali sepi dan dingin. Baginya, rumah tak ubahnya seperti tempat persinggahan, tak lebih dari tempat untuk menumpang tidur saja. Ia dan istrinya jarang sekali bercengkerama dalam waktu lama, karena sama-sama sibuk dengan kariernya masing-masing. Akhir pekan pun tak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Jadwal Diandra padat, jadwalnya juga padat. Ketika ia hendak menyalakan komputer di hadapannya, suara ketukan di pintu menginterupsi. Jonathan sejenak melirik pada jam di dinding. Jam
Langit di luar sana belum sepenuhnya terang. Jam baru menunjukkan pukul lima pagi. Warna biru keabu-abuan masih menggantung di jendela, tapi Lily sudah sibuk di dapur kecil di rumahnya. Dapurnya sempit. Kompornya cuma satu tungku. Meja kayunya sudah agak lapuk di pojok. Tapi hangat. Hangat karena di sanalah ia menghabiskan sebagian besar waktunya sejak nenek meninggal. Tumis sayuran yang ia masak sudah matang. Aroma gurih bawang putih yang ditumis bersama saus tiram menguar dari wajan, bercampur dengan wangi ikan goreng. Aroma itu membuatnya tersenyum senang. Senyum yang tulus, bukan senyum saat bekerja di kafe. "Sebaiknya kukoreksi dulu rasanya!" Tangan kanannya meraih sendok, kemudian mengambil sedikit hasil masakannya untuk ia cicipi. Panas. Lidahnya sampai sedikit kelu. Dan ketika ia merasa bahwa rasanya telah sesuai, kepala dengan rambut panjang itu terangguk puas. Ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi agar tidak terkena minyak. Beberapa helai jatuh ke pipi, tapi ia biarkan.
Jonathan baru saja selesai mandi ketika Diandra memasuki kamar mereka dengan secangkir kopi di tangan kanan. Rambut wanita itu masih tampak lembab, sebab ia memang belum sempat mengeringkannya. Namun, gaun panjang tanpa lengan berwarna marun sudah terpasang rapi membalut tubuhnya yang ramping. Meski tanpa riasan, Diandra masih tetap terlihat cantik menawan. Ini akhir pekan, namun istrinya tetap berangkat bekerja. Sangat berbeda dengan Jonathan, biasanya ketika libur bekerja ia memilih menghabiskan waktunya dengan membakar kalori di salah satu gedung pusat kebugaran terdekat. Tetap memiliki tubuh atletis di usianya yang menginjak kepala empat tentu bukanlah hasil yang instan, bukan? Pria itu gemar berolahraga bukan hanya untuk menjaga bentuk tubuhnya, namun untuk menjaga stamina dan kesehatannya juga. Apalagi profesinya sebagai dokter menuntut tenaga ekstra. Tapi, hari ini ia harus berangkat bekerja, sebab ia mendapatkan shift darurat di rumah sakit. Ada pasien kecelakaan berunt







