Beranda / Romansa / Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian! / Bab 1 Runtuhnya Kesetiaan di Balik Bayang Masa Lalu

Share

Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!
Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!
Penulis: Irbapiko

Bab 1 Runtuhnya Kesetiaan di Balik Bayang Masa Lalu

Penulis: Irbapiko
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 20:17:07

"Masih mikirin dia, Wa?" suara Dion rendah, memecah kesunyian kamar.

Wawa tersentak. Ia segera mematikan ponsel dan berbalik dengan wajah pucat. "Dion? Kamu... kok sudah pulang? Katanya rapat sampai malam?"

Dari pantulan cermin, Dion melihat mata istrinya berkaca-kaca, apalagi di foto itu nampak sekali ada foto seorang pria yang sangat Dion kenal. Dion merasa hampa, padahal selama tiga tahun menikah, tatapan kerinduan Wawa itu, tak pernah lagi diberikan untuknya selama setahun terakhir.

Dion berjalan masuk, langkahnya terasa berat di atas karpet bulu. Ia meletakkan kotak hadiah itu di meja dengan bunyi klak yang tajam.

"Rapatnya bubar cepat," jawab Dion pendek. "Tapi sepertinya, aku pulang di waktu yang salah. Atau mungkin, selama ini aku memang tinggal di rumah yang salah?"

Wawa berdiri, mencoba menyentuh lengan Dion. "Yon, kamu salah paham. Ini nggak kayak yang kamu pikir."

"Salah paham gimana lagi?" potong Dion dingin.

Wawa menunduk, suaranya bergetar. "Satria balik, Yon. Dia menduda. Dia... dia hubungin aku lagi."

Dion terkekeh sinis. Tawa yang lebih terdengar seperti rintihan. "Dia menduda, terus dia hubungin kamu, dan tiba-tiba tiga tahun pernikahan kita nggak ada artinya?"

Dion menatap istrinya dalam-dalam. "Aku kasih segalanya, Wa. Kesetiaan, harga diri, kerja keras biar kamu nggak kurang apa pun. Tapi ternyata, cuma butuh satu chat dari masa lalu buat ngeruntuhin semuanya?"

"Ini bukan soal materi, Dion! Kamu nggak ngerti!" Wawa mulai berteriak, air matanya tumpah. "Aku udah coba sayang sama kamu, beneran. Tapi pas tahu Satria hancur setelah cerainya... aku ngerasa dia butuh aku!"

Dion tertegun. Kalimat itu seperti tamparan fisik. Dia butuh aku. "Dia butuh kamu?" ulang Dion dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat dingin. "Terus aku apa, Wa? Cuma pajangan buat pamer ke orang-orang kalau kamu punya suami sukses?"

Dion melepas jam tangan Rolex-nya dengan gerakan pelan, menunjukkan otot lengannya yang kencang. Ia tampak begitu berkarisma bahkan saat dunianya sedang runtuh.

"Prinsipku simpel, Wa. Kalau hati kamu udah kebagi, berarti emang nggak ada lagi tempat buat aku. Aku nggak sudi berbagi ranjang sama bayangan orang lain."

"Dion, tunggu! Jangan mutusin sepihak begini!"

"Kita selesai," potong Dion mutlak. "Aku bakal urus semuanya ke pengacara. Kamu pergi aja ke dia, ke masa lalu kamu itu."

"Oh, yaudah kalau gitu, aku pergi dulu. Dasar emang kamu ga pernah cinta sama aku!" Wawa langsung berdiri dari cermin, mengambil parfum, dan berjalan meninggalkan Dion seorang diri di kamar.

Kejadian itu membuat Dion teringat malam sebelumnya.

Di ranjang yang sama, Dion mencoba menyalakan kembali api yang mulai redup. Ia mengecup tengkuk Wawa, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu ia puja. Tangannya membelai lembut pinggang Wawa, menariknya merapat. Ia ingin membuktikan bahwa ia adalah satu-satunya pria di sana.

Wawa sempat membalas. Jemarinya meremas sprei dengan napas memburu saat Dion menjelajahi titik-titik sensitifnya. Dion tahu persis cara memanjakan wanita itu.

Namun, saat gairah mencapai puncaknya, ia merasakan sesuatu yang janggal. Tubuh Wawa perlahan menjadi kaku.

Dion menatap mata Wawa, mencari percikan gairah, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan. Wawa menerawang jauh ke langit-langit, seolah sedang membayangkan pria lain yang berada di posisi Dion.

Karena lelah dengan perilaku Wawa, Dion memutuskan pergi meringankan beban pikirannya sejenak di teras depan rumah.

Tiba-tiba, sebuah pesan dari Santi, kakak iparnya.

[“Yon, kata Ibu, Wawa mulai aneh lagi ya? Kamu nggak apa-apa? Kalau butuh temen ngobrol, mampir ke rumah ya. Aku masak makanan kesukaan kamu malam ini.”]

Dion menatap layar itu cukup lama. Ia teringat sosok Santi—kakak kandung Wawa yang selalu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Santi yang lebih dewasa, lebih tenang, dan selalu tampak lebih menghargainya dibanding istrinya sendiri.

"Oke, Wa. Kalau kamu milih masa lalu, aku bakal milih masa depan yang nggak akan pernah kamu duga," gumamnya.

Dion menyalakan mesin, lalu berharap siang ini bisa mencari solusi problematika Wawa dan Satrio di hadapan Santi. Dion tahu kalau kakak kandung Wawa itu betul-betul memahami istrinya, apalagi sedari kecil Wawa sangat akrab dengan Santi.

Saat mobil berjalan, pikiran Dion masih kacau—terjebak pada penolakan dingin Wawa dan tatapan kosong istrinya itu.

Dion memarkirkan mobilnya di depan rumah minimalis modern yang asri.

Sejak gagal menikah beberapa tahun lalu karena diselingkuhi, Santi memilih menutup diri. Begitulah setidaknya kata orang-orang.

Dion mengetuk pintu. Tak butuh waktu lama sampai pintu itu terbuka.

"Dion? Kamu basah kuyup," sapa sebuah suara lembut namun serak.

Santi berdiri di depannya mengenakan silk slip dress merah marun yang sangat tipis. Tanpa bra di baliknya, lekuk tubuh wanita itu tercetak jelas setiap kali ia bernapas. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai berantakan, menciptakan kesan sensual yang terang-terangan.

"Maaf, San... aku mendadak ke sini. Aku cuma nggak tahu harus ke mana lagi," ujar Dion.

"Masuk, Yon. Kamu kelihatan hancur banget," Santi menarik lengan Dion, menutup pintu, dan langsung memutar kunci.

Klik.

Di ruang tamu yang remang dengan aroma lilin terapi, Santi tidak menjaga jarak. Ia berdiri sangat dekat, membantu Dion melepas jasnya yang lembap. Jemari Santi sengaja menyentuh kulit leher Dion, membuat pria itu sedikit bergidik.

"Aku udah dengar dari Ibu, Dion, Wawa emang bener-bener keterlaluan sama kamu," bisik Santi sambil menatap bibir Dion. "Gimana bisa dia nyia-nyiain pria kayak kamu cuma demi bayangan masa lalu yang belum tentu peduli sama dia?"

Santi melingkarkan lengannya di leher Dion. Tubuhnya yang hangat menempel rapat pada dada Dion.

Bagi Santi, Dion adalah segalanya yang tidak ia dapatkan dari mantan tunangannya yang brengsek dulu. Ia haus akan sosok pria yang bisa ia hormati, dan pria itu ada di pelukannya sekarang.

"San, jangan peluk aku kayak gini, aku nggak mau nyakitin Wawa, dia masih istri sahku!" Gairah Dion mulai tersulut, tapi bayangan Wawa masih membekas, membuat perasaannya terasa tumpul.

Santi yang tidak menyerah, mengecup rahang Dion, lalu berbisik tepat di telinganya. "Aku udah nahan ini bertahun-tahun, Yon. Sejak kamu pertama kali dibawa Wawa ke rumah, aku selalu penasaran... gimana rasanya disentuh pria kayak kamu. Tunanganku dulu cuma pengecut. Tapi kamu... aku tahu kamu beda."

Tangan Santi turun, meraba perut Dion yang keras di balik kemeja. Keinginan yang terpendam bertahun-tahun itu meluap malam ini.

Dion mencengkeram pergelangan tangan Santi, menghentikan gerakannya sebelum turun lebih jauh. Ia menatap mata Santi yang penuh kabut nafsu dan luka yang serupa dengannya.

"Kamu cantik, San. Jujur, aku selalu kagum sama kamu," ucap Dion dengan suara berat. "Tapi kalau kita lakuin sekarang, aku bener-bener nggak bisa. Aku emang dihianatin Wawa, tapi aku ga bisa ngehianatin dia, apalagi aku masih berstatus jadi suaminya!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 14 Makan Siang Berbumbu Intrik

    Dion menghentikan mobilnya di halaman rumah mewah Bu Diana dengan deru mesin yang terdengar seperti luapan emosinya. Napasnya masih sedikit memburu setelah konfrontasi panas dengan Satria di apartemen Wawa tadi. Di genggamannya, map berisi sertifikat rumah dan bukti-bukti baru terasa seperti senjata yang baru saja ia rebut dari medan perang.Begitu melangkah masuk, aroma rendang dan udang balado—menu favoritnya—sudah menyambut indra penciumannya. Namun, alih-alih merasa tenang, bulu kuduk Dion sedikit meremang melihat dua sosok wanita yang sudah duduk manis di meja makan. Bu Diana tampil elegan dengan terusan sutra yang menonjolkan aura matangnya, sementara Santi sudah berganti pakaian dengan blus tipis yang terlihat sangat santai—mungkin terlalu santai."Dion, akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah beres urusan 'sampah' itu?" sapa Bu Diana dengan senyum manis yang penuh selidik.Dion menarik kursi, duduk tepat di tengah-tengah kedua wanita itu. "Sudah, Bu. Wawa sudah tanda tangan. Satri

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 13 Panas di Apartemen

    Dion menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, membuat mesin sedan mewahnya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Napasnya masih terasa berat, bukan hanya karena sisa gairah yang sempat tersulut di kamar Bu Diana tadi, tapi karena amarah yang kini mulai mengambil alih.Ponselnya yang diletakkan di dashboard terus bergetar. Sebuah pesan dari Santi masuk.Santi: "Jangan gegabah, Yon. Wawa lagi emosi banget. Satria juga di sana. Kalau perlu bantuan 'cadangan', telepon aku aja ya, ganteng."Dion mendecih pelan. "Bantuan cadangan dengkulmu, San," gumamnya kesal. Ia melempar ponsel itu ke kursi penumpang.Pikirannya melayang pada sertifikat rumah yang tadi sempat disinggung Maya melalui telepon. Rumah itu adalah hasil keringatnya selama tiga tahun lembur bagai kuda, dan sekarang Wawa ingin menggadaikannya demi pria yang bahkan tidak punya harga diri untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu?Begitu sampai di area parkir apartemen, Dion tidak menunggu lama. Ia keluar dari mobil

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 12 Musuh dalam Selimut

    Pagi itu, suasana di kantor pusat raksasa properti milik keluarga Bu Diana terasa lebih dingin dari biasanya. Dion melangkah tegap melewati lobi, mencoba mengabaikan sisa-sisa aroma parfum mawar Bu Diana yang masih terasa menempel di ujung kemejanya setelah kejadian di kamar tadi pagi.Baru saja ia menduduki kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Bram, sahabat sekaligus tangan kanannya, masuk dengan wajah tegang."Yon, kita punya masalah gede," ujar Bram tanpa basa-basi. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja jati milik Dion.Dion mengernyit, tangannya meraih map tersebut. "Masalah apa lagi? Urusan cerai Wawa belum cukup bikin kepala gue mau pecah?"."Ini bukan soal ranjang, ini soal dapur perusahaan," Bram duduk di depan Dion, suaranya merendah. "Gue dapet info dari orang dalem, Satria nggak cuma diem di balik jeruji besi. Dia mulai gerakin pion-pionnya. Ada aliran dana gelap yang masuk ke beberapa pemegang saham minoritas kita. Tujuannya cuma satu: mosi tidak

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 11 Sarapan yang Panas

    Suasana ruang makan di rumah mewah Bu Diana pagi itu terasa begitu kental dengan ketegangan yang kontras dengan aroma sedap nasi goreng gila dan emping renyah di atas meja. Dion, yang baru saja keluar dari kamar Bu Diana dengan napas yang masih sedikit berburu setelah sesi "pijat" yang menguras emosi, mencoba bersikap senormal mungkin. Namun, ia tahu, di rumah ini tidak ada yang benar-benar normal.Santi sudah duduk manis di sana, menyesap kopi hitamnya dengan mata yang tidak lepas dari anak tangga. Begitu melihat Dion turun, ia menyeringai nakal."Lama banget mandinya, Yon? Apa dipijit dulu sama Ibu biar seger?" sindir Santi telak, suaranya renyah namun tajam.Dion menarik kursi, mencoba mengabaikan tatapan Santi. "Punggung Ibu kaku, San. Salah bantal katanya," jawab Dion pendek, tangannya meraih teko air putih."Halah, salah bantal atau kangen sentuhan tangan kamu?" Santi tertawa kecil, tawa provokatif yang membuat Dion nyaris tersedak air yang diminumnya.Tak lama, Bu Diana muncul

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 10 Singa Betina dalam Satu Kandang

    "Beda sama Ibu, Yon," bisik Bu Diana dengan suara yang serak namun dalam. Ia meletakkan telapak tangannya di atas paha Dion, lalu meremasnya pelan. "Ibu tahu apa yang pria seperti kamu butuhkan. Kamu itu pria kuat, Yon. Tapi Ibu lihat kamu kesepian. Wawa sudah keterlaluan menghancurkan harga diri kamu, dan Ibu nggak sanggup kalau harus lihat kamu menderita sendirian di rumah ini."Dion menatap mata mertuanya. Ada ambisi yang berkobar di sana, bercampur dengan gairah wanita matang yang sudah lama tidak tersentuh. "Bu, ini nggak benar. Aku ini menantu Ibu—maksudku, mantan menantu Ibu. Hubungan kita seharusnya punya batasan."Bu Diana tertawa kecil, suara yang terdengar sangat provokatif di tengah keheningan malam. "Aturan itu cuma buat orang yang hidupnya sudah bahagia dan sempurna, Dion. Faktanya, kita berdua ini sama-sama terluka. Kamu dikhianati istri, dan Ibu sudah kesepian bertahun-tahun sejak Papa Wawa meninggal. Apa salahnya kalau kita saling menyembuhkan? Apa itu dosa?"Wanita i

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 9 Jamuan Makan Berduri

    Suasana ruang makan rumah mewah Bu Diana malam itu terasa begitu mencekam, meski aroma martabak telur dan rendang yang hangat memenuhi ruangan. Dion duduk di kursi tengah, terjepit di antara dua energi yang saling beradu. Sejak kejadian di kamar mandi tamu tadi, jantung Dion belum sepenuhnya kembali ke ritme normal."Dion, kok rendangnya cuma diaduk-aduk gitu? Ibu sengaja lho pesankan yang bumbunya kental, kesukaan kamu," suara Bu Diana memecah keheningan. Ia menatap Dion dengan kelembutan yang terasa begitu manipulatif.Dion mendongak, mencoba memaksakan senyum tipis. "Eh, iya Bu. Maaf, masih agak kepikiran urusan kantor tadi.""Kepikiran kantor atau... kejadian di rumah ini yang bikin kamu gagal fokus, Yon?" celetuk Santi sambil menyuap potongan martabak dengan gaya santai. Ia sudah berganti pakaian dengan slip dress tipis yang lagi-lagi sangat provokatif, seolah tidak terjadi apa-apa di kamar mandi beberapa menit lalu.Bu Diana menghentikan gerakan sendoknya. Ia melirik putrinya de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status