MasukSanti terdiam.
Penolakan halus itu justru membuat Dion terlihat seribu kali lebih menarik. Dia bukan pria murahan yang gampang digoda nafsunya. Justru, hal inilah yang membuat Santi semakin ingin memiliki Dion.
"Oke," Santi melepaskan pelukannya, tapi tetap menyandarkan kepalanya di dada Dion. "Tapi inget satu hal, Yon. Aku nggak akan lepasin kamu gitu aja. Kalau Wawa buang kamu, sementara dia adikku. Aku yang bakal tanggung jawab kalau kamu dilukain terus sama dia. Aku bakal bikin kamu lupa kalau pernah ada wanita lain di dunia ini."
Dion menarik napas panjang dan coba menjaga jaraknya dengan Santi. Ia sadar, ini baru permulaan. Di luar sana dunianya runtuh, tapi di rumah ini, ia baru saja menyadari kekuasaan besarnya atas wanita yang haus cinta.
"Sana mandi dulu, Yon. Kamu capek banget, baju kamu juga lembab. Oh iya, aku udah siapin teh hangat di meja. Shower di kamar mandi tamu udah aku nyalain. Pakai jubah mandi yang ada di sana, ya."
Dion mengangguk. Guyuran air hangat mungkin bisa menjernihkan otaknya. Setelah menyesap teh rempah buatan Santi, ia melangkah ke kamar mandi. Di bawah kucuran shower yang beruap, Dion memejamkan mata, membiarkan air membasuh sisa amarahnya.
Suara air dari balik pintu kaca itu terdengar seperti godaan bagi Santi. Ia tidak kembali ke kamar, melainkan berdiri di lorong gelap, tepat di depan pintu kamar mandi yang sengaja ia biarkan sedikit terbuka.
Di sana, ada celah kecil untuk fantasinya.
Melalui uap panas, Santi bisa melihat siluet tubuh Dion. Saat pria itu membelakangi pintu, Santi menahan napas. Punggung itu lebar dan kokoh, hasil disiplin yang disia-siakan Wawa.
Saat Dion berbalik untuk membasuh wajah, mata Santi membelalak. Pandangannya terpaku pada bagian bawah perut Dion. Kejantanan pria itu terlihat begitu perkasa, berurat dan menunjukkan kekuatan yang kontras dengan pria-pria yang pernah dikenalnya.
Tangan Santi gemetar dan tanpa sadar, jemarinya menyelinap ke balik slip dress merahnya. Ia mulai menyentuh dirinya sendiri, membayangkan tangan kekar Dion yang sedang menjamah kulitnya.
"Dion, kenapa harus Wawa yang punya kamu duluan?" bisiknya sangat lirih di antara suara air. Ia mencapai kepuasan singkat yang terasa perih karena hanya berupa bayangan, padahal pria itu hanya berjarak beberapa meter darinya.
Tak lama, Dion keluar dengan handuk yang melilit pinggang. Tetesan air mengalir di atas otot dadanya yang bidang. Santi masih berdiri di sana, mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit tersengal.
"Dion, udah selesai?" tanya Santi, suaranya terdengar lebih parau dari sebelumnya.
Dion mengusap rambutnya yang masih lembap, lalu mengangguk pelan. "Ya, San. Thanks. Aku jauh lebih tenang sekarang. Tapi... kayaknya aku tidur di sofa depan aja, deh. Nggak enak ganggu kamu."
Santi melangkah mendekat. Aroma sabun maskulin dari tubuh Dion yang baru mandi seolah menyengat indranya. "Di sofa? Jangan konyol, Yon. Kamarku luas, kok. Kamu bisa tidur di sebelahku, aku nggak keberatan sama sekali."
Dion tersenyum tipis, jenis senyum sopan yang mengandung batas tegas. "Enggak, San. Kepalaku masih penuh soal Wawa. Kalau aku masuk ke kamar kamu, nanti malah nggak enak juga ke dia sama Ibu kamu. Hubunganku sama Wawa udah hampir rusak, aku ga mau juga hubunganku sama kamu, sama Ibu, rusak juga gara-gara aku yang lancang."
"Tapi aku justru mau kamu ngerusaknya, Yon!" batin Santi menjerit frustrasi.
Namun, di bibirnya, Santi hanya bisa mendesah pasrah. "Ya sudah kalau itu mau kamu. Aku ambilkan bantal sama selimut tebal ya."
***
Di dalam kamarnya, Santi gelisah. Tubuhnya terasa panas dan birahinya yang sempat tersulut di depan pintu kamar mandi tadi belum benar-benar padam. Ia bangkit, melangkah tanpa suara menuju ruang tengah.
Santi berlutut di samping sofa, menatap wajah Dion yang tertidur. Bahkan dalam tidur pun, pria ini terlihat begitu berwibawa.
Tangan Santi mulai bergerak nakal, mengelus lengan Dion, turun ke dada, dan perlahan ujung jarinya menyentuh area pribadi Dion di balik selimut. Ia bisa merasakan gairah Dion bereaksi secara alami meski pria itu sedang terlelap.
Santi memejamkan mata, membayangkan Dion mendadak bangun dan menariknya ke dalam pelukan yang kasar. Namun, Dion hanya melenguh kecil dan mengubah posisi tidurnya, memunggungi Santi.
Sebenarnya, Dion sempat tersadar. Ia merasakan sentuhan hangat itu, aroma parfum Santi yang menyengat, dan gerakan menggoda di area pribadinya. Namun, egonya sebagai pria yang baru saja dikhianati membuatnya memilih untuk tetap memejamkan mata. Ia memaksakan diri untuk tetap hanyut dalam kantuk, meski jantungnya berdegup kencang karena rangsangan itu.
"Sabar, Santi... pelan-pelan dia bakal jadi milikmu," bisiknya sebelum kembali ke kamar dengan langkah gontai.
Sore saat terbangun, Dion duduk di sofa, mencoba mengumpulkan nyawanya saat pintu kamar mandi utama terbuka.
Santi keluar dari sana, dan kali ini dia benar-benar tidak menahan diri. Ia hanya mengenakan selembar handuk putih pendek yang terlilit di atas dada, menutupi tubuhnya hanya sampai pangkal paha. Rambutnya basah, dan ia sengaja berjalan melewati Dion sambil sedikit membungkuk untuk mengambil sesuatu di meja kopi, memamerkan lekukan dadanya.
"Pagi, Yon. Tidur nyenyak?" tanya Santi dengan nada menggoda.
Dion menelan ludah.
Sore hari adalah saat gairah pria berada di puncaknya.
Menatap kaki jenjang Santi dan bahunya yang mulus, Dion merasa kejantannya menegang hebat di balik celana.
"Pagi, San. I-i-iya... nyenyak banget," jawab Dion pendek.
Santi menyadari tatapan itu dan tersenyum menggoda. "Mau mandi, atau sarapan dulu? Aku bisa buatin sesuatu yang anget-anget."
Dion berdiri, mencoba mengalihkan pandangan meski sulit. "Aku harus jalan sekarang, San. Banyak urusan kantor sebelum aku urus. Aku juga ingat Santi udah minta diceraiin dan aku harus urus surat cerai itu, biar aku nggak kebebani terus."
"Kenapa buru-buru sih?" Santi mendekat, memegang lengan Dion. Handuknya sedikit melonggar, seolah siap jatuh kapan saja. "Wawa nggak bakal nyariin kamu. Dia lagi asyik sama Satria. Kenapa nggak di sini aja dulu sebentar?"
Dion menarik napas panjang, menatap mata Santi dalam-dalam. "San, jangan bikin makin susah. Aku ini normal, San, apalagi liat kamu sekarang yang cuma pakai handuk. Kalau aku nggak pergi dalam lima menit, aku nggak jamin handuk itu tetep nempel di badan kamu."
Santi tertawa kecil, tawa yang sangat provokatif. "Emangnya siapa yang bilang aku mau handuk ini tetep nempel?"
Tepat saat ketegangan itu memuncak, bel pintu depan berbunyi nyaring.
Ting tong!
Ting tong!
Keduanya tersentak dan mereka saling pandang dalam kepanikan.
"Siapa sih pagi-pagi begini?" gumam Santi kesal. Ia mengintip dari balik jendela dan wajahnya langsung pucat. "Mampus... itu Ibu!"
Keheningan di dalam apartemen Maya yang baru saja pecah oleh desah lega dan tangis haru, seketika berubah menjadi kaku yang mematikan. Bunyi kunci pintu yang diputar dengan kasar itu seolah-olah adalah lonceng kematian bagi ketenangan yang baru saja Dion bangun untuk Maya.Dion dengan sigap berdiri, mengancingkan kemejanya yang sempat berantakan dengan gerakan tenang namun waspada. Maya, di sisi lain, tampak gemetar hebat. Ia buru-buru merapikan dasternya, wajahnya yang tadi merona merah kini pucat pasi seperti kertas."Maya! Kamu di mana? Kok pintu nggak dikunci?!" suara Robi menggelegar dari arah lorong depan.Langkah sepatu pantofel Robi yang berat terdengar mendekat. Maya menatap Dion dengan tatapan memohon, matanya seolah berkata, 'Tolong, jangan sampai ada darah'. Dion hanya memberikan anggukan kecil, berdiri tegak di tengah ruang tamu, menunggu badai itu datang.Begitu Robi muncul di ambang ruang tengah, langkahnya terhenti. Matanya yang merah, mungkin karena alkohol atau kuran
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar tamu di rumah Bu Diana terasa begitu menyengat, seolah memaksa Dion untuk menghadapi realita yang makin kacau. Pikirannya masih dipenuhi sisa-sia aroma parfum yang berbeda dari semalam; antara manisnya vanila milik Santi di ruang kedap suara dan aroma floral elegan milik Bu Diana di ranjang king size-nya. Dion membasuh wajahnya kasar di wastafel.Saat ia hendak memakai jam tangan Rolex-nya, ponselnya bergetar panjang. Bukan dari Santi atau Bu Diana, melainkan dari Maya.Maya: "Yon, aku tahu kamu lagi suntuk banget setelah kejadian di apartemen Wawa kemarin. Kalau kamu butuh tempat yang bener-bener tenang buat sekadar napas tanpa ada gangguan siapa pun, kamu bisa ke apartemenku siang ini. Aku masak sup ayam buat bayiku, dan ada porsi lebih buat kamu. Robi lagi dinas luar kota."Dion menatap pesan itu cukup lama. Maya adalah sahabat Wawa, namun ia adalah satu-satunya orang yang memandangnya sebagai manusia, bukan sekadar alat pemuas
Dion pun melirik jam tangannya, lalu menatap Bu Diana yang masih menyesap tehnya dengan tatapan posesif."Bu," panggil Dion pelan, memecah kesunyian taman. "Soal tawaran Ibu untuk nemenin Ibu malam ini... Dion nggak bermaksud menolak. Tapi Dion ada janji yang nggak bisa dibatalkan dengan Santi di toko pusat."Gelas teh Bu Diana berdenting cukup keras saat menyentuh tatakannya. Matanya yang tajam langsung menatap Dion dengan kilatan cemburu yang tak bisa disembunyikan. "Santi lagi? Kenapa sih kamu lebih mentingin urusan toko kecil itu daripada istirahat di sini sama Ibu? Kamu tahu kan, Ibu sudah siapkan semuanya?"Dion menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Santi bantu Dion banyak hari ini, Bu. Dia yang buka akses data Satria sampai kita bisa gerak cepat ke apartemen Wawa. Dia menagih laporan itu beres malam ini. Dion nggak mau punya utang budi yang lama-lama sama dia."Bu Diana bersedekap, dadanya naik turun menahan kesal. "Halah, laporan atau cuma alasan dia saja biar bisa ber
Dion menghentikan mobilnya di halaman rumah mewah Bu Diana dengan deru mesin yang terdengar seperti luapan emosinya. Napasnya masih sedikit memburu setelah konfrontasi panas dengan Satria di apartemen Wawa tadi. Di genggamannya, map berisi sertifikat rumah dan bukti-bukti baru terasa seperti senjata yang baru saja ia rebut dari medan perang.Begitu melangkah masuk, aroma rendang dan udang balado—menu favoritnya—sudah menyambut indra penciumannya. Namun, alih-alih merasa tenang, bulu kuduk Dion sedikit meremang melihat dua sosok wanita yang sudah duduk manis di meja makan. Bu Diana tampil elegan dengan terusan sutra yang menonjolkan aura matangnya, sementara Santi sudah berganti pakaian dengan blus tipis yang terlihat sangat santai—mungkin terlalu santai."Dion, akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah beres urusan 'sampah' itu?" sapa Bu Diana dengan senyum manis yang penuh selidik.Dion menarik kursi, duduk tepat di tengah-tengah kedua wanita itu. "Sudah, Bu. Wawa sudah tanda tangan. Satri
Dion menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, membuat mesin sedan mewahnya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Napasnya masih terasa berat, bukan hanya karena sisa gairah yang sempat tersulut di kamar Bu Diana tadi, tapi karena amarah yang kini mulai mengambil alih.Ponselnya yang diletakkan di dashboard terus bergetar. Sebuah pesan dari Santi masuk.Santi: "Jangan gegabah, Yon. Wawa lagi emosi banget. Satria juga di sana. Kalau perlu bantuan 'cadangan', telepon aku aja ya, ganteng."Dion mendecih pelan. "Bantuan cadangan dengkulmu, San," gumamnya kesal. Ia melempar ponsel itu ke kursi penumpang.Pikirannya melayang pada sertifikat rumah yang tadi sempat disinggung Maya melalui telepon. Rumah itu adalah hasil keringatnya selama tiga tahun lembur bagai kuda, dan sekarang Wawa ingin menggadaikannya demi pria yang bahkan tidak punya harga diri untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu?Begitu sampai di area parkir apartemen, Dion tidak menunggu lama. Ia keluar dari mobil
Pagi itu, suasana di kantor pusat raksasa properti milik keluarga Bu Diana terasa lebih dingin dari biasanya. Dion melangkah tegap melewati lobi, mencoba mengabaikan sisa-sisa aroma parfum mawar Bu Diana yang masih terasa menempel di ujung kemejanya setelah kejadian di kamar tadi pagi.Baru saja ia menduduki kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Bram, sahabat sekaligus tangan kanannya, masuk dengan wajah tegang."Yon, kita punya masalah gede," ujar Bram tanpa basa-basi. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja jati milik Dion.Dion mengernyit, tangannya meraih map tersebut. "Masalah apa lagi? Urusan cerai Wawa belum cukup bikin kepala gue mau pecah?"."Ini bukan soal ranjang, ini soal dapur perusahaan," Bram duduk di depan Dion, suaranya merendah. "Gue dapet info dari orang dalem, Satria nggak cuma diem di balik jeruji besi. Dia mulai gerakin pion-pionnya. Ada aliran dana gelap yang masuk ke beberapa pemegang saham minoritas kita. Tujuannya cuma satu: mosi tidak







