LOGIN"Bu Diana? Ngapain ke sini?"
"Mungkin nyari kamu, Yon! Cepet, pake baju kamu yang bener!" Santi bergegas merapatkan handuknya dan segera membuka pintu.
Begitu pintu dibuka, sosok Bu Diana berdiri di sana dengan gaya elegan. Di usia 47 tahun, ia terlihat jauh lebih muda dengan setelan olahraga branded yang membentuk tubuhnya dengan sempurna, hasil disiplin di gym setiap pagi.
Mata tajam Bu Diana langsung memindai Santi yang hanya berbalut handuk, lalu beralih pada Dion yang duduk di sofa dengan kemeja agak berantakan.
"Santi? Kamu baru mandi pas ada tamu pria di rumah?" suara Bu Diana datar, tapi penuh selidik. "Dan Dion... Ibu sudah menduga kamu pasti di sini."
Santi tergagap. "I-ibu... Dion cuma numpang istirahat dari tadi siang. Kasihan dia, lagi kacau gara-gara Wawa."
"Gitu? Ya sudah, sana ganti baju. Nggak sopan biarin pria natap kamu cuma pake kain selembar gitu," perintah Bu Diana.
Santi mendengus, memberikan tatapan 'jangan pergi dulu' pada Dion, lalu lari ke kamarnya. Kini, tinggal Dion dan Bu Diana. Suasana mendadak terasa lebih sempit karena energi dominan sang mertua.
Bu Diana duduk di samping Dion. Alih-alih menjaga jarak, ia duduk cukup dekat hingga Dion bisa menghirup aroma parfum floral mahalnya. "Dion, Ibu terpukul banget dengar keputusan Wawa tadi pagi. Dia anak Ibu, tapi kali ini Ibu bener-bener malu. Kamu pria luar biasa, Yon. Kamu nggak pantes diginiin."
"Makasih, Bu," jawab Dion canggung. "Aku cuma butuh waktu buat mikirin semuanya."
"Justru itu, Yon. Ibu ke sini karena mau mastiin kamu baik-baik aja, soalnya di sini kamu nggak salah. Jangan sendirian dulu, ya, bahaya buat pikiran kamu." Bu Diana mengusap punggung tangan Dion perlahan.
"Nanti sore, pulang ngurus surat cerai langsung ke rumah Ibu ya. Kita makan malam berdua aja. Ibu bakal masakin menu favorit kamu, terus kita buka sebotol wine biar kamu rileks. Kamu butuh tempat nyaman, dan pintu rumah Ibu selalu terbuka buat kamu. Santi sama Ibu pastiin kamu baik-baik aja dan kita berdua bakal ngasih kamu rasa nyaman. Ahh, anggap aja itu penebusan rasa bersalah kita gara-gara sikap Wawa ke kamu."
Dion merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu betul reputasi ibu mertuanya.
Bu Diana sudah menjanda bertahun-tahun, dan gosip di keluarga besar selalu menyebutkan betapa kuatnya energi wanita ini. Tatapan Bu Diana seolah sedang menguliti Dion, mengagumi bahu lebarnya dengan cara yang tidak biasa.
Tak lama, Santi kembali ke ruang tamu. Ia sudah berganti baju dengan blus tipis dan rok pendek yang memamerkan kakinya, berusaha merebut kembali atensi Dion. Namun, ia langsung sadar suasana sudah berubah.
"Gimana bisnis toko kue kita, San?" tanya Bu Diana tiba-tiba.
Santi duduk di kursi tunggal, merasa agak terasing di rumahnya sendiri. "Lancar, Bu. Tiga cabang Jakarta grafiknya naik terus. Oh ya, toko pusat lagi ramai banget belakangan ini. Kita baru rekrut pegawai baru, namanya Sita."
"Sita?" Bu Diana menaikkan alis.
"Iya. Masih muda, cantik banget, dan... yah, seksi. Cara dia ngelayanin pelanggan pinter banget. Dia punya daya tarik yang bikin pelanggan pria betah nongkrong lama-lama. Dia aset bagus buat branding kita," jelas Santi bangga.
Bu Diana tersenyum puas. "Bagus. Dalam bisnis, penampilan sama pelayanan itu emang harus sejalan. Sama kayak pria," ia melirik Dion lagi dengan tatapan penuh arti, "pria bakal betah di tempat yang bisa kasih kenyamanan total."
***
Sudah jam tiga dan waktu mengurus perceraian tiba. Dion berdiri, berpamitan pada kedua wanita yang kini menatapnya dengan ambisi berbeda.
"Inget ya, Dion. Malam nanti langsung ke rumah Ibu. Jangan mampir-mampir," tegas Bu Diana. Ia merapikan kerah kemeja Dion, sengaja membiarkan dadanya sedikit bersentuhan dengan lengan menantunya itu.
Santi yang melihat itu merasa dadanya terbakar. Ia ingin sekali berteriak bahwa semalam ia hampir saja mendapatkan Dion di kamar mandi, tapi ia tak berani melawan ibunya, sang pemegang kendali di keluarga besar.
"Yon... lain kali mampir ke sini lagi ya? Aku masih punya banyak cerita soal toko," ujar Santi dengan nada memelas yang kentara.
Dion hanya tersenyum tipis. "Aku berangkat dulu, Bu, San."
Begitu Dion sudah pergi, suasana rumah menjadi dingin. Bu Diana menatap putrinya dengan senyum kemenangan. "Santi, Ibu tahu apa yang ada di otak kamu, tapi inget satu hal. Pria kayak Dion itu butuh wanita yang bisa ngimbangin dia dengan kedewasaan, bukan cuma gairah muda yang meledak-ledak. Jangan terlalu maksa, nanti dia malah takut."
Santi terdiam saat ibunya melenggang pergi dengan anggun. Ia mengepalkan tangan. Persaingan ini ternyata bukan cuma dari luar, tapi bahkan dari dalam keluarganya sendiri.
Sementara itu, di balik kemudi, Dion mencengkeram setir erat-erat. Ia merasa seperti mangsa yang dikelilingi singa betina yang lapar. Dan anehnya, ia mulai menikmati sensasi itu.
***
Wawa duduk di sofa, menatap layar ponselnya yang terus berkedip. Nama 'Satria' muncul di sana dengan pesan yang bikin jantungnya mau copot: “Aku nggak bisa lupa tatapan kamu kemarin, Wa. Aku tahu kita masih punya rasa yang sama. Aku tunggu di tempat biasa, ya.”
Wawa menghela napas. Ia merasa berdiri di persimpangan jalan yang penuh duri.
Wawa tahu, dia sudah ada Dion, suami sempurna yang selama tiga tahun pertama pernikahan telah memberikan segalanya. Ia ingat betapa gairah mereka pernah meledak; mereka sering bercinta di sofa ini, di dapur, bahkan di koridor, seolah dunia cuma milik berdua.
Tapi semua itu hasil perjodohan bisnis.
Dulu Wawa cuma bisa pasrah karena Satria, cinta sejatinya, menghilang dan menikah dengan wanita lain.
Kini, setelah Satria kembali sebagai duda dan akhirnya pertahanan Wawa runtuh.
Tok!
Tok!
"Wa? Kamu di dalam?" Maya, sahabatnya sejak kuliah, muncul dengan senyum yang dipaksakan.
"Maya? Masuk, May."
Maya duduk di samping Wawa sambil menaruh sekantong buah. "Aku denger dari Ibu Diana kalau kamu lagi nggak mood. Ada apa sih? Berantem lagi sama Dion?"
Wawa menatap Maya dengan mata mendung. "Bukan cuma berantem, May. Aku yang minta cerai sama Dion, terus dia iyain aja. Gatau, jadi laki-laki kayak ga ada harga dirinya gitu, diiyain minta cerai. Lagian aku masih sayang sama Satria, aku juga nikah sama Dion gara-gara dijodohin, bukan karena pilihanku sendiri."
Maya tersentak karena ternyata dia diam-diam mengagumi Dion sejak lama. Baginya, Dion adalah standar pria ideal.
"Cerai?" Maya menatap Wawa nggak percaya. "Wa, kamu gila ya? Dion itu pria idaman semua wanita. Mau nyari apa lagi sih dari Satria? Dia pria yang dulu ninggalin kamu gitu aja, ga perjuangin kamu waktu kamu dijodohin sama Dion!"
"Tapi aku cintanya sama dia, May! Sama Dion itu... itu karena terbiasa aja."
Maya terdiam, mengusap perutnya yang sudah kembali ramping setelah melahirkan enam bulan lalu. "Setidaknya Dion masih mau nyentuh kamu, Wa, dia juga masih pengen sama kamu."
Wawa menyadari ada yang aneh. "May? Kamu kenapa? Ada masalah sama Robi?"
Maya tertawa getir. "Robi, dia berubah sejak aku hamil besar kemarin. Dulu dia semangat banget, tapi sekarang? Jangankan hubungan badan, nyentuh kulit aku aja dia kayak males. Alasannya selalu capek kerja, terus langsung tidur."
Wawa mengernyit. "Mungkin dia emang lagi sibuk, May."
"Aku pengen percaya gitu, Wa," bisik Maya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi gairahku lagi tinggi-tingginya abis lahiran. Aku butuh dia. Tapi dia kayak kehilangan selera sama aku. Aku ngerasa... aku udah nggak cantik lagi."
Maya tidak tahu, bahwa saat ia merana di rumah, Robi suaminya justru sedang menikmati layanan panti pijat mewah. Bagi Robi, Maya sekarang cuma ibu dari anaknya, bukan lagi wanita yang memicu gairahnya.
"May, jangan ngomong gitu. Kamu cantik banget, kok," hibur Wawa sambil menggenggam tangan sahabatnya.
"Makasih, Wa. Tapi jujur, kadang aku mikir... andai aja suamiku kayak Dion," Maya keceplosan, lalu buru-buru meralat ucapannya.
Di sebuah apartemen kelas menengah di pinggiran Jakarta, suasana terasa pengap oleh asap rokok dan ketegangan yang nyaris meledak. Satria duduk di sofa dengan kemeja yang sudah kusut, sementara Wawa mondar-mandir di depannya sambil terus menatap layar ponsel dengan cemas."Sat, ini nggak mungkin! Masa kartu kreditku decline semua?" suara Wawa meninggi, nada bicaranya mulai melengking panik. "Tadi aku mau bayar belanjaan di supermarket bawah, malu-maluin banget di depan kasir!"Satria mengembuskan asap rokoknya kasar. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak gelisah. "Bukan cuma kartu kamu, Wa. Rekening bank yang kita pakai buat deposit ke agen di Surabaya juga diblokir. Katanya ada instruksi dari kantor pusat karena ada indikasi transaksi mencurigakan.""Pasti Dion!" Wawa menghentakkan kakinya ke lantai parket. "Dia bener-bener mau main kotor! Dia kan tahu itu satu-satunya peganganku sekarang setelah aku diusir dari rumah!"Satria mendengus sini
Jarum jam di dasbor mobil menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit. Dion memacu kendaraannya membelah sisa kemacetan Jakarta dengan pikiran yang berkecamuk. Aroma alkohol tipis dan parfum menyengat milik Lisa—LC yang tadi begitu agresif menempel padanya—masih tertinggal di kerah kemejanya. Ia sempat mengusap lehernya kasar, mencoba membuang sisa-sisa sensasi tangan Lisa yang tadi nyaris menyelinap masuk ke dalam celananya."Gila si Bram," gumam Dion sambil menggelengkan kepala. Ucapan Bram di karaoke tadi terus terngiang. Tentang pernikahan yang hanya menjadi beban dan hubungan transaksional yang jauh lebih jujur. Di satu sisi, Dion merasa logika itu masuk akal bagi pria yang baru saja dihancurkan oleh pengkhianatan, namun di sisi lain, ia tahu dirinya tidak bisa sekadar menjadi Bram.Ia punya harga diri yang berbeda. Dan malam ini, harga diri itu akan diuji oleh janji pukul sebelas kepada sang mantan ibu mertua.Begitu mobilnya memasuk
Sesampainya di kantor, Dion tampak kehilangan gairah hidupnya. Ia duduk di kursi CEO-nya yang empuk, namun matanya hanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan kemacetan Jakarta. Bram, yang sudah mengenalnya sejak masa kuliah, masuk tanpa mengetuk pintu sambil membawa aroma rokok yang khas."Muka lo kusut banget, Yon. Kayak kain pel nggak diperes seminggu," celetuk Bram sambil menjatuhkan diri di kursi depan meja Dion. "Habis dihajar Wawa kemarin, sekarang ditambah drama Maya? Lo butuh 'udara segar'."."Gue capek, Bram. Rasanya semua orang mau narik gue ke arah yang beda-beda," keluh Dion sambil menyandarkan punggungnya."Makanya, sore ini cabut cepet yuk. Kita ke tempat biasa, karaoke tempat gue biasa 'buang sampah' pikiran. Gue udah janji mau ketemu Laras, LC langganan gue yang paling ngerti cara bikin rileks," Bram mengedipkan mata.Dion awalnya menolak. "Gue lagi nggak mood, Bram. Kepala gue mau pecah mikirin Wawa sa
Keheningan di dalam apartemen Maya yang baru saja pecah oleh desah lega dan tangis haru, seketika berubah menjadi kaku yang mematikan. Bunyi kunci pintu yang diputar dengan kasar itu seolah-olah adalah lonceng kematian bagi ketenangan yang baru saja Dion bangun untuk Maya.Dion dengan sigap berdiri, mengancingkan kemejanya yang sempat berantakan dengan gerakan tenang namun waspada. Maya, di sisi lain, tampak gemetar hebat. Ia buru-buru merapikan dasternya, wajahnya yang tadi merona merah kini pucat pasi seperti kertas."Maya! Kamu di mana? Kok pintu nggak dikunci?!" suara Robi menggelegar dari arah lorong depan.Langkah sepatu pantofel Robi yang berat terdengar mendekat. Maya menatap Dion dengan tatapan memohon, matanya seolah berkata, 'Tolong, jangan sampai ada darah'. Dion hanya memberikan anggukan kecil, berdiri tegak di tengah ruang tamu, menunggu badai itu datang.Begitu Robi muncul di ambang ruang tengah, langkahnya terhenti. Matanya yang merah, mungkin karena alkohol atau kuran
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar tamu di rumah Bu Diana terasa begitu menyengat, seolah memaksa Dion untuk menghadapi realita yang makin kacau. Pikirannya masih dipenuhi sisa-sia aroma parfum yang berbeda dari semalam; antara manisnya vanila milik Santi di ruang kedap suara dan aroma floral elegan milik Bu Diana di ranjang king size-nya. Dion membasuh wajahnya kasar di wastafel.Saat ia hendak memakai jam tangan Rolex-nya, ponselnya bergetar panjang. Bukan dari Santi atau Bu Diana, melainkan dari Maya.Maya: "Yon, aku tahu kamu lagi suntuk banget setelah kejadian di apartemen Wawa kemarin. Kalau kamu butuh tempat yang bener-bener tenang buat sekadar napas tanpa ada gangguan siapa pun, kamu bisa ke apartemenku siang ini. Aku masak sup ayam buat bayiku, dan ada porsi lebih buat kamu. Robi lagi dinas luar kota."Dion menatap pesan itu cukup lama. Maya adalah sahabat Wawa, namun ia adalah satu-satunya orang yang memandangnya sebagai manusia, bukan sekadar alat pemuas
Dion pun melirik jam tangannya, lalu menatap Bu Diana yang masih menyesap tehnya dengan tatapan posesif."Bu," panggil Dion pelan, memecah kesunyian taman. "Soal tawaran Ibu untuk nemenin Ibu malam ini... Dion nggak bermaksud menolak. Tapi Dion ada janji yang nggak bisa dibatalkan dengan Santi di toko pusat."Gelas teh Bu Diana berdenting cukup keras saat menyentuh tatakannya. Matanya yang tajam langsung menatap Dion dengan kilatan cemburu yang tak bisa disembunyikan. "Santi lagi? Kenapa sih kamu lebih mentingin urusan toko kecil itu daripada istirahat di sini sama Ibu? Kamu tahu kan, Ibu sudah siapkan semuanya?"Dion menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Santi bantu Dion banyak hari ini, Bu. Dia yang buka akses data Satria sampai kita bisa gerak cepat ke apartemen Wawa. Dia menagih laporan itu beres malam ini. Dion nggak mau punya utang budi yang lama-lama sama dia."Bu Diana bersedekap, dadanya naik turun menahan kesal. "Halah, laporan atau cuma alasan dia saja biar bisa ber







