MasukDion memarkirkan mobilnya dengan gerakan yang masih sedikit kasar di halaman rumah mewah Bu Diana. Langit Jakarta mulai berubah menjadi kelabu keunguan, memantulkan suasana hatinya yang remang-remang. Setelah kejadian panas dengan Wina di kantor tadi, kepalanya memang terasa sedikit lebih ringan, namun sisa amarah terhadap Satria yang mencoba mengusik asetnya masih berdenyut di pelipis.
Begitu melangkah masuk, keheningan rumah besar itu menyambutnya. Dion teringat pesan singkat Bu Diana tadi siang bahwa wanita itu akan pulang terlambat karena ada urusan mendadak di butik sebelum makan malam mereka. Namun, saat ia melewati ruang tamu, matanya menangkap sepasang high heels merah yang tergeletak sembarangan di dekat sofa.
“Sepatu Santi?” batin Dion. Ia tahu benar kebiasaan kakak iparnya itu. Santi memang sering mampir untuk sekadar menumpang mandi atau bersantai jika toko kuenya sedang ramai dan ia butuh pelarian dari rumahnya sendiri yang sepi sejak gagal menikah.
Tubuh Dion terasa lengket bukan main. Perpaduan keringat, sisa gairah dari kantor, dan debu Jakarta membuatnya ingin segera diguyur air dingin. Ia memutuskan menuju kamar mandi tamu di lorong dekat dapur, mengira kamar mandi utama di atas mungkin sedang dibersihkan.
Dion masuk, mengunci pintu, dan mulai melepas kemejanya satu per satu. Namun, saat jemarinya baru saja menyentuh kancing celana, telinganya menangkap suara gemericik air yang halus dari balik pintu kaca shower yang sudah beruap tebal.
"Tumben jam segini baru balik, Yon? Aku kira kamu sudah dikunci Ibu di kamarnya buat 'pemanasan' makan malam," suara renyah itu muncul dari balik uap, disusul dengan siluet tubuh yang sangat ia kenal.
Dion tersentak. Ia segera menyambar handuknya kembali dengan gerakan kikuk. "Santi?! Ngapain kamu di sini? Bukannya tadi bilang mau ke toko?"
Santi mendorong pintu kaca shower perlahan. Ia berdiri di sana tanpa sehelai benang pun, membiarkan butiran air hangat membasahi kulit putihnya yang montok. Rambut hitamnya yang basah menempel di pundak, menciptakan kesan liar yang amat provokatif.
"Toko lagi kacau, pegawainya pada lelet. Pusing aku, Yon," ujar Santi dengan tawa kecil yang terdengar nakal. "Makanya aku mampir sini, niatnya mau mandi tenang sebelum Ibu pulang dan mulai menceramahi soal omzet. Eh, nggak tahunya malah kamu yang masuk. Jodoh memang nggak lari ke mana, ya?"
Dion memalingkan wajah sekuat tenaga, meskipun insting prianya memberontak. Otot-ototnya menegang hebat melihat kemolekan Santi yang terpampang nyata di depan mata.
"San, keluar sekarang. Aku mau mandi. Jangan cari gara-gara lagi, kita ini baru saja berurusan dengan surat cerai adikmu. Situasinya lagi panas," tegas Dion dengan suara yang sedikit parau.
Santi justru melangkah keluar dari area shower tanpa rasa malu sedikit pun. Ia mendekat hingga aroma sabun stroberinya menyeruak masuk ke indra penciuman Dion.
"Gara-gara apa sih? Wawa saja sudah asyik 'reunian' sama masa lalunya di hotel. Masa kamu mau terus-terusan jadi pria suci yang kesepian di rumah ini?" Santi menyentuh dada bidang Dion dengan ujung jarinya. "Aku tahu kok semalam kamu sadar pas aku elus di sofa. Kamu cuma pura-pura tidur, kan?"
Jemari Santi mulai bermain di kancing celana Dion, menelusuri setiap inci otot yang mengeras. "Aku sudah nungguin momen ini sejak pertama kali kamu dibawa Wawa ke rumah, Yon. Aku jauh lebih tahu cara memanjakan pria sepertimu daripada adikku yang bodoh itu."
Dion mencengkeram pergelangan tangan Santi, mencoba menahan dorongan liar yang mulai menguasai logikanya. "Santi, berhenti. Kalau Ibu Diana pulang sekarang, kita habis. Kamu tahu sendiri gimana Ibu kalau sudah marah."
"Ibu masih di butik, Yon. Kita punya waktu..." bisik Santi seraya merosot ke bawah. Ia berlutut di hadapan Dion dengan tatapan lapar, persis seperti yang ia tunjukkan semalam.
Dion memejamkan mata. Bayangan tamparan Wawa dan penghinaan Satria di kantor tadi kembali muncul. Rasa sakit itu kini bertemu dengan tawaran gairah Santi yang begitu agresif. Kenapa aku harus terus menjaga moral kalau mereka semua saja ingin menghancurkanku? pikirnya gelap.
Dion menarik rambut Santi agar wanita itu mendongak menatapnya. Tatapannya kini bukan lagi penolakan, melainkan dominasi yang tajam. "Kamu benar-benar nggak punya rasa takut, ya, San?"
Santi tersenyum penuh kemenangan, jemarinya semakin berani. "Buat apa takut kalau hadiahnya seenak ini, Kakak Ipar?"
Tepat saat Dion hendak menarik Santi lebih dekat ke dalam pelukannya, suara pintu utama rumah terbuka dengan bantingan keras.
BRAK!
"Dion? Santi? Ibu bawa martabak kesukaan kalian, nih! Kok gelap-gelapan begini?" suara Bu Diana menggelegar dari ruang tengah, disusul langkah sepatu hak tingginya yang mendekat.
Keduanya membeku. Adrenalin yang tadi berupa gairah kini berubah menjadi ketakutan murni.
"Aduhhh... Ibu sudah pulang!" bisik Santi dengan wajah pucat pasi. Tangannya gemetar mencari handuk yang tersampir.
Dion dengan sigap mendorong Santi kembali ke dalam area shower yang masih beruap dan menutup pintu kacanya rapat-rapat. "Diam di situ, jangan ada suara sedikit pun!" perintahnya dengan bisikan tajam.
Dion dengan cepat menyalakan keran wastafel dan membasuh mukanya dengan sisa sabun yang ada, mencoba bersikap seolah ia baru saja hendak mulai mandi.
TOK! TOK! TOK!
"Dion? Kamu di dalam?" tanya Bu Diana dari balik pintu kayu kamar mandi tamu.
"I-iya, Bu. Lagi mandi bentar, gerah banget abis dari kantor tadi banyak urusan," jawab Dion, berusaha menstabilkan suaranya agar tidak terdengar gemetar.
"Oalah, pantesan mobil kamu sama Santi ada di depan tapi orangnya nggak kelihatan satu pun. Ya sudah, nggak usah lama-lama mandinya. Habis itu langsung ke meja makan ya, martabaknya nanti dingin. Ibu juga mau bahas soal investasi cabang baru toko kue Santi sekalian," ujar Bu Diana sebelum langkah kakinya terdengar menjauh menuju dapur.
Dion mengembuskan napas panjang yang terasa sangat panas di dadanya. Ia menoleh ke arah pintu kaca shower dan melihat Santi yang sedang mengintip dari balik uap dengan senyum nakal—seolah ketegangan karena hampir ketahuan itu justru membuatnya semakin bergairah.
"Hampir saja jantungku copot, Yon," bisik Santi sambil keluar dari persembunyiannya, handuknya kini melilit asal di tubuhnya. "Tapi janji ya, kita lanjutin nanti malam kalau Ibu sudah tidur pulas."
Dion tidak menjawab. Ia hanya menunjuk pintu belakang kamar mandi agar Santi segera menyelinap pergi dari sana. Di depan cermin yang berembun, Dion menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar sudah terjebak di tengah-tengah singa betina yang siap menerkamnya kapan saja. Dan anehnya, ia mulai menyukai peran itu.
"Permainan baru saja dimulai, Wawa," gumamnya dingin sambil menatap pantulan dirinya yang kini terlihat jauh lebih berbahaya.
Dion menghentikan mobilnya di halaman rumah mewah Bu Diana dengan deru mesin yang terdengar seperti luapan emosinya. Napasnya masih sedikit memburu setelah konfrontasi panas dengan Satria di apartemen Wawa tadi. Di genggamannya, map berisi sertifikat rumah dan bukti-bukti baru terasa seperti senjata yang baru saja ia rebut dari medan perang.Begitu melangkah masuk, aroma rendang dan udang balado—menu favoritnya—sudah menyambut indra penciumannya. Namun, alih-alih merasa tenang, bulu kuduk Dion sedikit meremang melihat dua sosok wanita yang sudah duduk manis di meja makan. Bu Diana tampil elegan dengan terusan sutra yang menonjolkan aura matangnya, sementara Santi sudah berganti pakaian dengan blus tipis yang terlihat sangat santai—mungkin terlalu santai."Dion, akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah beres urusan 'sampah' itu?" sapa Bu Diana dengan senyum manis yang penuh selidik.Dion menarik kursi, duduk tepat di tengah-tengah kedua wanita itu. "Sudah, Bu. Wawa sudah tanda tangan. Satri
Dion menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, membuat mesin sedan mewahnya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Napasnya masih terasa berat, bukan hanya karena sisa gairah yang sempat tersulut di kamar Bu Diana tadi, tapi karena amarah yang kini mulai mengambil alih.Ponselnya yang diletakkan di dashboard terus bergetar. Sebuah pesan dari Santi masuk.Santi: "Jangan gegabah, Yon. Wawa lagi emosi banget. Satria juga di sana. Kalau perlu bantuan 'cadangan', telepon aku aja ya, ganteng."Dion mendecih pelan. "Bantuan cadangan dengkulmu, San," gumamnya kesal. Ia melempar ponsel itu ke kursi penumpang.Pikirannya melayang pada sertifikat rumah yang tadi sempat disinggung Maya melalui telepon. Rumah itu adalah hasil keringatnya selama tiga tahun lembur bagai kuda, dan sekarang Wawa ingin menggadaikannya demi pria yang bahkan tidak punya harga diri untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu?Begitu sampai di area parkir apartemen, Dion tidak menunggu lama. Ia keluar dari mobil
Pagi itu, suasana di kantor pusat raksasa properti milik keluarga Bu Diana terasa lebih dingin dari biasanya. Dion melangkah tegap melewati lobi, mencoba mengabaikan sisa-sisa aroma parfum mawar Bu Diana yang masih terasa menempel di ujung kemejanya setelah kejadian di kamar tadi pagi.Baru saja ia menduduki kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Bram, sahabat sekaligus tangan kanannya, masuk dengan wajah tegang."Yon, kita punya masalah gede," ujar Bram tanpa basa-basi. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja jati milik Dion.Dion mengernyit, tangannya meraih map tersebut. "Masalah apa lagi? Urusan cerai Wawa belum cukup bikin kepala gue mau pecah?"."Ini bukan soal ranjang, ini soal dapur perusahaan," Bram duduk di depan Dion, suaranya merendah. "Gue dapet info dari orang dalem, Satria nggak cuma diem di balik jeruji besi. Dia mulai gerakin pion-pionnya. Ada aliran dana gelap yang masuk ke beberapa pemegang saham minoritas kita. Tujuannya cuma satu: mosi tidak
Suasana ruang makan di rumah mewah Bu Diana pagi itu terasa begitu kental dengan ketegangan yang kontras dengan aroma sedap nasi goreng gila dan emping renyah di atas meja. Dion, yang baru saja keluar dari kamar Bu Diana dengan napas yang masih sedikit berburu setelah sesi "pijat" yang menguras emosi, mencoba bersikap senormal mungkin. Namun, ia tahu, di rumah ini tidak ada yang benar-benar normal.Santi sudah duduk manis di sana, menyesap kopi hitamnya dengan mata yang tidak lepas dari anak tangga. Begitu melihat Dion turun, ia menyeringai nakal."Lama banget mandinya, Yon? Apa dipijit dulu sama Ibu biar seger?" sindir Santi telak, suaranya renyah namun tajam.Dion menarik kursi, mencoba mengabaikan tatapan Santi. "Punggung Ibu kaku, San. Salah bantal katanya," jawab Dion pendek, tangannya meraih teko air putih."Halah, salah bantal atau kangen sentuhan tangan kamu?" Santi tertawa kecil, tawa provokatif yang membuat Dion nyaris tersedak air yang diminumnya.Tak lama, Bu Diana muncul
"Beda sama Ibu, Yon," bisik Bu Diana dengan suara yang serak namun dalam. Ia meletakkan telapak tangannya di atas paha Dion, lalu meremasnya pelan. "Ibu tahu apa yang pria seperti kamu butuhkan. Kamu itu pria kuat, Yon. Tapi Ibu lihat kamu kesepian. Wawa sudah keterlaluan menghancurkan harga diri kamu, dan Ibu nggak sanggup kalau harus lihat kamu menderita sendirian di rumah ini."Dion menatap mata mertuanya. Ada ambisi yang berkobar di sana, bercampur dengan gairah wanita matang yang sudah lama tidak tersentuh. "Bu, ini nggak benar. Aku ini menantu Ibu—maksudku, mantan menantu Ibu. Hubungan kita seharusnya punya batasan."Bu Diana tertawa kecil, suara yang terdengar sangat provokatif di tengah keheningan malam. "Aturan itu cuma buat orang yang hidupnya sudah bahagia dan sempurna, Dion. Faktanya, kita berdua ini sama-sama terluka. Kamu dikhianati istri, dan Ibu sudah kesepian bertahun-tahun sejak Papa Wawa meninggal. Apa salahnya kalau kita saling menyembuhkan? Apa itu dosa?"Wanita i
Suasana ruang makan rumah mewah Bu Diana malam itu terasa begitu mencekam, meski aroma martabak telur dan rendang yang hangat memenuhi ruangan. Dion duduk di kursi tengah, terjepit di antara dua energi yang saling beradu. Sejak kejadian di kamar mandi tamu tadi, jantung Dion belum sepenuhnya kembali ke ritme normal."Dion, kok rendangnya cuma diaduk-aduk gitu? Ibu sengaja lho pesankan yang bumbunya kental, kesukaan kamu," suara Bu Diana memecah keheningan. Ia menatap Dion dengan kelembutan yang terasa begitu manipulatif.Dion mendongak, mencoba memaksakan senyum tipis. "Eh, iya Bu. Maaf, masih agak kepikiran urusan kantor tadi.""Kepikiran kantor atau... kejadian di rumah ini yang bikin kamu gagal fokus, Yon?" celetuk Santi sambil menyuap potongan martabak dengan gaya santai. Ia sudah berganti pakaian dengan slip dress tipis yang lagi-lagi sangat provokatif, seolah tidak terjadi apa-apa di kamar mandi beberapa menit lalu.Bu Diana menghentikan gerakan sendoknya. Ia melirik putrinya de







