Share

Bab 7 Tamu Tak Diundang

Penulis: Irbapiko
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 16:54:10

Dion memarkirkan mobilnya dengan gerakan kasar di basement kantor. Bunyi decit ban yang bergesekan dengan lantai beton seolah mewakili isi kepalanya yang sedang berteriak. Pikirannya masih dipenuhi bayangan punggung montok Bu Diana yang tadi pagi pasrah di bawah jemarinya, juga foto lingerie hitam Santi yang masih tersimpan di folder tersembunyi ponselnya.

Namun, sebuah pesan mendesak dari Wina, sekretaris pribadinya, segera membuyarkan semua fantasi liar itu.

“Pak, Satria ada di ruang tunggu bersama pengacara. Dia bawa berkas klaim aset. Mohon segera.”

Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, suasana terasa mencekam. Di ruang tamu, Satria duduk dengan gaya angkuh. Ia menyilangkan kaki, tampak begitu percaya diri ditemani seorang pria berkacamata yang sibuk membolak-balik dokumen.

"Wah, sang pahlawan kita akhirnya datang juga," sindir Satria begitu melihat Dion melangkah keluar lift. Wajahnya yang dulu sering memelas kini terlihat penuh kemenangan yang menjijikkan.

Dion mengabaikan sindiran itu seolah Satria hanyalah debu yang lewat. Ia menatap Wina yang berdiri sigap dengan map di depan dada. "Wina, masuk ke ruangan saya. Sekarang."

"Siap, Pak," jawab Wina cepat. Ia sempat memberikan tatapan tajam dan penuh kebencian pada Satria sebelum mengikuti langkah tegap bosnya.

Di dalam ruangan, Dion melepas jasnya dan melemparnya ke atas kursi kulit. Ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. "Apa maunya si parasit itu?"

Wina mendekat, membantu merapikan kerah kemeja Dion. Jemarinya sengaja menyentuh kulit leher Dion sedikit lebih lama dari biasanya. "Mereka mau menggugat aset kantor yang diklaim sebagai harta bersama Wawa, Pak. Satria merasa punya kartu as karena Wawa sudah menandatangani beberapa surat kuasa di bawah tangan."

Dion terkekeh sinis. Tawa yang terdengar sangat dingin. "Wawa benar-benar sudah gila. Dia pikir pernikahan tiga tahun bisa dihapus begitu saja dengan membawa selingkuhannya ke kantor suaminya sendiri?"

"Jangan khawatir, Pak," bisik Wina. Suaranya berubah menjadi lembut, namun penuh intrik. Ia berpindah ke belakang kursi Dion, lalu meletakkan tangannya di bahu pria itu, memijatnya perlahan. "Saya sudah siapkan kejutan. Saya punya rekaman percakapan Satria dengan bandar judi di Surabaya. Dia butuh uang Wawa buat bayar utang, bukan karena cinta."

Dion mendongak, menatap Wina yang tersenyum nakal di atasnya. "Kamu memang agresif, Wina. Berbahaya."

"Cuma untuk Bapak aja, kok!" jawab Wina manja. Ia sedikit membungkuk, membuat belahan dadanya terlihat jelas di mata Dion. "Mau saya panggil mereka masuk sekarang? Atau Bapak butuh... relaksasi sebentar buat nurunin tensi?"

Dion menatap mata Wina, gairahnya sempat tersulut melihat keberanian sekretarisnya itu. "Panggil mereka. Aku mau lihat sejauh mana nyali pria itu."

Pintu terbuka, Satria masuk dengan langkah yang dibuat-buat gagah. "Kita selesaikan ini cepat, Dion. Wawa sudah muak melihat muka kamu. Dia mau semua asetnya kembali, termasuk pembagian saham di perusahaan ini."

"Aset yang mana, Sat? Aset yang aku bangun pakai keringatku sendiri saat kamu masih mendekam di balik jeruji besi gara-gara kasus penipuan itu?" Dion melempar sebuah map cokelat ke tengah meja. "Lihat itu. Itu bukti transfer Wawa ke rekening kamu selama enam bulan terakhir. Saat kalian asyik check-in di Hotel Cempaka sementara aku kerja lembur sampai pagi."

Wajah Satria sedikit berubah, namun ia mencoba tetap tenang. "Itu cuma uang pinjaman untuk modal bisnis."

"Pinjaman untuk bayar utang judi kamu, maksudnya?" potong Wina dengan nada mengejek yang kental. "Kami punya semua datanya, Mas Satria. Termasuk rencana busuk kamu yang mau menjual sertifikat rumah warisan ayah Wawa setelah cerai ini beres. Kamu pikir kami bodoh?"

Satria berdiri dengan marah, wajahnya memerah. "Heh, sekretaris murah! Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!"

Dion bangkit dari kursinya dengan perlahan namun penuh intimidasi. Tubuh tegapnya yang sering dilatih di gym membuat Satria tampak kecil dan ciut. "Jaga mulut kamu, Satria. Wina benar. Kamu itu cuma parasit yang kebetulan dapet inang baru. Dan soal Wawa... sampaikan padanya, kalau dia mau perang, aku akan kasih dia neraka yang paling panas."

"Dion, kamu nggak akan bisa menang. Ibu Diana juga pasti bakal bela anaknya," ancam Satria, membawa-bawa nama sang mertua.

Dion tersenyum dingin, hampir seperti seringai pembunuh. Ia teringat betapa tunduk dan pasrahnya Bu Diana pagi tadi di kamar mandi. "Ibu Diana? Kamu yakin dia masih di pihak Wawa? Jangan terlalu percaya diri, Sat. Kamu nggak tahu apa yang terjadi di balik pintu rumah itu pagi ini. Kamu nggak tahu siapa yang sekarang memegang kendali atas Ibu Diana."

"Maksud kamu apa?" Satria tampak bingung dan mulai ragu.

"Keluar dari sini sebelum aku panggil keamanan untuk menyeret kamu keluar seperti sampah," usir Dion mutlak.

Setelah Satria dan pengacaranya pergi dengan wajah merah padam dan langkah seribu, Wina mendekati Dion. "Bapak hebat banget tadi. Sangat dominan... aku sampai merinding lihatnya."

Wina berjalan pelan menuju pintu, lalu terdengar bunyi klik. Ia mengunci pintu ruangan. Ia berjalan mendekati Dion yang masih berdiri menatap jendela besar ke arah kota Jakarta.

"Pak... sepertinya Bapak butuh hadiah karena sudah berhasil mengusir hama itu dengan cara yang sangat berkelas," bisik Wina.

Wina berlutut di depan Dion, tangannya mulai meraba ikat pinggang kulit pria itu. "Biarkan saya yang mengurus sisa amarah Bapak hari ini. Jangan dipendam sendiri."

Dion memejamkan mata sejenak. Bayangan pengkhianatan Wawa yang menjijikkan, godaan Santi yang liar, dan kemolekan Bu Diana yang manipulatif berputar di kepalanya seperti film pendek. "Lakukan, Win. Tapi ingat, jangan pernah jatuh cinta kalau kamu nggak mau mati pelan-pelan."

Wina tertawa kecil, suara yang sangat menggoda dan penuh tantangan. "Siapa yang butuh cinta kalau gairah sesaat bisa senikmat ini?"

Jemari lentik Wina bergerak cekatan. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melepas pengait ikat pinggang Dion, menimbulkan bunyi denting logam yang halus namun memekakkan telinga di ruangan yang kini senyap. Dion tetap berdiri tegak, membiarkan sekretarisnya itu melakukan apa yang ia inginkan.

"Kamu tahu kan, Win? Aku paling benci pengkhianatan," suara Dion berat, bergetar rendah saat merasakan tangan Wina mulai menyelinap ke balik pakaiannya.

Wina mendongak, menatap Dion dengan mata yang berkabut oleh gairah. "Saya bukan Wawa, Pak. Saya tahu siapa yang memegang kendali di sini," bisiknya seraya memberikan kecupan ringan di perut Dion yang berotot keras.

Dion mencengkeram rambut Wina, tidak terlalu keras namun cukup untuk menunjukkan dominasinya. Ia merasakan gairah yang sempat tertahan sejak pagi—akibat godaan Santi yang ceroboh dan kemolekan Bu Diana yang haus perhatian—kini menemukan muaranya pada sosok Wina yang tanpa basa-basi.

"Buktikan kalau kamu memang lebih berguna daripada mereka semua," perintah Dion mutlak.

Wina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma maskulin Dion memenuhi indranya sebelum ia membenamkan wajahnya lebih dalam. Dion mengerang rendah, tangannya yang kekar meremas bahu Wina saat merasakan sensasi hangat yang menjalar, menghancurkan sisa-sisa amarahnya.

Pikiran Dion melayang sesaat; ia teringat bagaimana Wawa selalu tampak dingin dan terpaksa di ranjang. Kontras sekali dengan Wina yang begitu agresif dan lapar akan kehadirannya. Di tengah kepungan intrik keluarga mertuanya yang haus kuasa, gairah dari Wina terasa seperti pelampiasan yang sangat ia butuhkan.

"Ahhh... Wina..." Dion mendesah, kepalanya mendongak ke langit-langit ruangan.

Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang memuncak. Saat gairah itu hampir mencapai titik didihnya, Dion menarik Wina untuk berdiri. Ia membalikkan tubuh wanita itu dan menekannya ke meja kerja yang besar, tepat di atas tumpukan berkas klaim aset yang tadi dibawa Satria.

"Jangan berhenti sekarang, Win. Tunjukkan padaku siapa pemilikmu sebenarnya," gumam Dion tepat di telinga Wina, napasnya memburu.

Wina hanya bisa melenguh pasrah, membiarkan Dion mengambil alih segalanya. Di ruang kerja yang terkunci rapat itu, Dion melepaskan seluruh bebannya. Ia tidak lagi peduli pada aturan moral; di rumah mewah mertuanya atau di kantor ini, ia sedang belajar untuk menjadi raja yang akan menaklukkan setiap wanita yang berani masuk ke dalam jaring yang ia tenun sendiri.

Setelah semuanya usai, Dion merapikan pakaiannya dengan tenang, kembali menjadi sosok pria sempurna yang dingin dan berwibawa. Wina berdiri dengan napas yang masih tersengal, merapikan rok span-nya sambil tersenyum puas, menatap bayangannya di cermin.

"Sudah lebih rileks sekarang, Pak?" tanya Wina sambil mengusap sudut bibirnya yang sedikit berantakan.

Dion hanya menatapnya sekilas melalui pantulan cermin sambil memasang kembali jam tangan Rolex-nya. "Siapkan mobil. Aku mau pulang ke rumah Bu Diana sekarang. Permainan di sana sepertinya baru saja akan dimulai, dan aku tidak ingin melewatkan satu detik pun."

Dion melangkah keluar ruangan dengan aura yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ia bukan lagi Dion yang patah hati. Ia adalah sang pemburu yang baru saja menyadari betapa kuat daya tariknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 20 Jeratan yang Mengencang

    Di sebuah apartemen kelas menengah di pinggiran Jakarta, suasana terasa pengap oleh asap rokok dan ketegangan yang nyaris meledak. Satria duduk di sofa dengan kemeja yang sudah kusut, sementara Wawa mondar-mandir di depannya sambil terus menatap layar ponsel dengan cemas."Sat, ini nggak mungkin! Masa kartu kreditku decline semua?" suara Wawa meninggi, nada bicaranya mulai melengking panik. "Tadi aku mau bayar belanjaan di supermarket bawah, malu-maluin banget di depan kasir!"Satria mengembuskan asap rokoknya kasar. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak gelisah. "Bukan cuma kartu kamu, Wa. Rekening bank yang kita pakai buat deposit ke agen di Surabaya juga diblokir. Katanya ada instruksi dari kantor pusat karena ada indikasi transaksi mencurigakan.""Pasti Dion!" Wawa menghentakkan kakinya ke lantai parket. "Dia bener-bener mau main kotor! Dia kan tahu itu satu-satunya peganganku sekarang setelah aku diusir dari rumah!"Satria mendengus sini

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 19 Janji di Ujung Malam

    Jarum jam di dasbor mobil menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit. Dion memacu kendaraannya membelah sisa kemacetan Jakarta dengan pikiran yang berkecamuk. Aroma alkohol tipis dan parfum menyengat milik Lisa—LC yang tadi begitu agresif menempel padanya—masih tertinggal di kerah kemejanya. Ia sempat mengusap lehernya kasar, mencoba membuang sisa-sisa sensasi tangan Lisa yang tadi nyaris menyelinap masuk ke dalam celananya."Gila si Bram," gumam Dion sambil menggelengkan kepala. Ucapan Bram di karaoke tadi terus terngiang. Tentang pernikahan yang hanya menjadi beban dan hubungan transaksional yang jauh lebih jujur. Di satu sisi, Dion merasa logika itu masuk akal bagi pria yang baru saja dihancurkan oleh pengkhianatan, namun di sisi lain, ia tahu dirinya tidak bisa sekadar menjadi Bram.Ia punya harga diri yang berbeda. Dan malam ini, harga diri itu akan diuji oleh janji pukul sebelas kepada sang mantan ibu mertua.Begitu mobilnya memasuk

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 18 Gairah di Karaoke

    Sesampainya di kantor, Dion tampak kehilangan gairah hidupnya. Ia duduk di kursi CEO-nya yang empuk, namun matanya hanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan kemacetan Jakarta. Bram, yang sudah mengenalnya sejak masa kuliah, masuk tanpa mengetuk pintu sambil membawa aroma rokok yang khas."Muka lo kusut banget, Yon. Kayak kain pel nggak diperes seminggu," celetuk Bram sambil menjatuhkan diri di kursi depan meja Dion. "Habis dihajar Wawa kemarin, sekarang ditambah drama Maya? Lo butuh 'udara segar'."."Gue capek, Bram. Rasanya semua orang mau narik gue ke arah yang beda-beda," keluh Dion sambil menyandarkan punggungnya."Makanya, sore ini cabut cepet yuk. Kita ke tempat biasa, karaoke tempat gue biasa 'buang sampah' pikiran. Gue udah janji mau ketemu Laras, LC langganan gue yang paling ngerti cara bikin rileks," Bram mengedipkan mata.Dion awalnya menolak. "Gue lagi nggak mood, Bram. Kepala gue mau pecah mikirin Wawa sa

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 17 Labirin Luka di Lantai Atas

    Keheningan di dalam apartemen Maya yang baru saja pecah oleh desah lega dan tangis haru, seketika berubah menjadi kaku yang mematikan. Bunyi kunci pintu yang diputar dengan kasar itu seolah-olah adalah lonceng kematian bagi ketenangan yang baru saja Dion bangun untuk Maya.Dion dengan sigap berdiri, mengancingkan kemejanya yang sempat berantakan dengan gerakan tenang namun waspada. Maya, di sisi lain, tampak gemetar hebat. Ia buru-buru merapikan dasternya, wajahnya yang tadi merona merah kini pucat pasi seperti kertas."Maya! Kamu di mana? Kok pintu nggak dikunci?!" suara Robi menggelegar dari arah lorong depan.Langkah sepatu pantofel Robi yang berat terdengar mendekat. Maya menatap Dion dengan tatapan memohon, matanya seolah berkata, 'Tolong, jangan sampai ada darah'. Dion hanya memberikan anggukan kecil, berdiri tegak di tengah ruang tamu, menunggu badai itu datang.Begitu Robi muncul di ambang ruang tengah, langkahnya terhenti. Matanya yang merah, mungkin karena alkohol atau kuran

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 16 Luka yang Mencari Pelabuhan

    Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar tamu di rumah Bu Diana terasa begitu menyengat, seolah memaksa Dion untuk menghadapi realita yang makin kacau. Pikirannya masih dipenuhi sisa-sia aroma parfum yang berbeda dari semalam; antara manisnya vanila milik Santi di ruang kedap suara dan aroma floral elegan milik Bu Diana di ranjang king size-nya. Dion membasuh wajahnya kasar di wastafel.Saat ia hendak memakai jam tangan Rolex-nya, ponselnya bergetar panjang. Bukan dari Santi atau Bu Diana, melainkan dari Maya.Maya: "Yon, aku tahu kamu lagi suntuk banget setelah kejadian di apartemen Wawa kemarin. Kalau kamu butuh tempat yang bener-bener tenang buat sekadar napas tanpa ada gangguan siapa pun, kamu bisa ke apartemenku siang ini. Aku masak sup ayam buat bayiku, dan ada porsi lebih buat kamu. Robi lagi dinas luar kota."Dion menatap pesan itu cukup lama. Maya adalah sahabat Wawa, namun ia adalah satu-satunya orang yang memandangnya sebagai manusia, bukan sekadar alat pemuas

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 15 Permainan di Balik Tirai Malam

    Dion pun melirik jam tangannya, lalu menatap Bu Diana yang masih menyesap tehnya dengan tatapan posesif."Bu," panggil Dion pelan, memecah kesunyian taman. "Soal tawaran Ibu untuk nemenin Ibu malam ini... Dion nggak bermaksud menolak. Tapi Dion ada janji yang nggak bisa dibatalkan dengan Santi di toko pusat."Gelas teh Bu Diana berdenting cukup keras saat menyentuh tatakannya. Matanya yang tajam langsung menatap Dion dengan kilatan cemburu yang tak bisa disembunyikan. "Santi lagi? Kenapa sih kamu lebih mentingin urusan toko kecil itu daripada istirahat di sini sama Ibu? Kamu tahu kan, Ibu sudah siapkan semuanya?"Dion menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Santi bantu Dion banyak hari ini, Bu. Dia yang buka akses data Satria sampai kita bisa gerak cepat ke apartemen Wawa. Dia menagih laporan itu beres malam ini. Dion nggak mau punya utang budi yang lama-lama sama dia."Bu Diana bersedekap, dadanya naik turun menahan kesal. "Halah, laporan atau cuma alasan dia saja biar bisa ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status