LOGIN"Tuan, kok sudah pulang?" Orang kepercayaan yang ditugaskan untuk menjaga Viona tampak terkejut.
Bagaimana bisa tiba-tiba Renzo sudah menginjakkan kaki lagi di mansion.
"Kenapa?" Renzo tampak mengintimidasi.
Ia melihat sekeliling.
Dia tak menemukan Viona di kamar, berarti anak itu sudah berada di tempat lain di rumahnya. Gawat!
"Nona sedang bekerja membantu pekerja di proyek renovasi di sana!" Dia menunjuk di lokasi proyek renov rumah.
Ada beberapa orang pekerja yang tampak menurunkan atap.
Dengan langkah buru-buru, Renzo segera mencari di mana istrinya berada. Dia sengaja meminta timnya untuk menyiapkan penerbangan dengan jet pribadi sepagi mungkin agar bisa segera sampai rumah lagi.
"Ah, jadi begini? Di saat suamimu pergi, kamu membantu proyek renovasi! Sungguh istri yang sangat berguna!" Renzo mengucapkan kalimat yang membuat Viona hampir saja melompat karena terkejut.
"Renzo? Kau sudah pulang?" Dia tampak bingung karena di sebelahnya masih ada Alexander. Pensil sketsanya jatuh.
Tak percaya pada apa yang dilihat karena ia mengira pria itu akan pulang beberapa hari lagi.
"Ya. Lantas, begitukah caramu menyambut suamimu pulang setelah hampir sembilan hari tidak ada di rumah?" Kata-kata ini terdengar lebih seperti gertakan daripada sebuah kalimat mesra.
"Pergilah, Viona. Suamimu pulang. Aku bisa melanjutkan sendiri." Alex membisikkan kalimat itu agar suasana tak semakin memanas.
Ia tak ingin jadi pengacau di hubungan rumah tangga Viona, meski ia masih menyimpan perasaan padanya.
"Benarkah?" Viona merasa keberatan dan sangat merasa terganggu karena ia dimarahi suaminya. "Tapi ini tidak mudah untuk mengukur dan melakukan perubahan di sana-sini seorang diri..."
"Ayo, pergilah. Sebelum pria tua itu berubah menjadi monster!" Alex meneruskan kalimat yang disambut tawa oleh Viona.
Wanita muda itu pun menyerahkan diri pada suaminya.
Tangan kekar Renzo merangkul dan sedikit memaksanya untuk pergi meninggalkan lokasi.
"Apa yang kamu lakukan dengan pemuda tampan tapi lemah itu?" Tanya Renzo di saat mereka berjalan menuju kamar mereka.
"Dia teman kuliahku, Renzo. Dan.. dia punya nama. Alexander Petrov!"
"Ahhh, Rusia! Namanya mengingatkanku pada dinginnya kota Saint Petersburg." Seru Renzo sambil menyindir istrinya.
"Apa maumu sekarang? Aku harus kembali bekerja." Sahut Viona saat mereka berada di dalam kamar.
"Kamu memang naif dan gila, Viona! Aku sudah beberapa lama tidak berada di rumah dan tak sekalipun kamu mencoba menghubungiku!" Selorohnya sambil mencengkeram kedua lengan istrinya.
"Apa? Menghubungimu?"Viona ingin tertawa dengan kalimat kekanakan itu,"untuk apa menghubungimu? Aku baik-baik saja di sini."
Viona merasa tidak bersalah sama sekali. Suaminya setiap detik mengkhawatirkan kesehatannya tapi justru ia tak merasa perlu untuk memberi tahu suaminya yang berada di kejauhan.
"Begitu? Apa menurutmu aku tidak ingin tahu bagaimana kondisimu di rumah?" Renzo menyerang kembali.
"Khawatir? Kupikir kamu tidak ada waktu untuk sempat khawatir. Karena..." Mata bening itu menatap Renzo.
"Karena apa?" Renzo makin mendekati wajah itu. Ingin sekali saat ini ia menciumnya segera.
"Karena tentu kamu sudah sibuk mengunjungi wanita-wanita simpananmu di sana. Jadi, tak ada gunanya aku bagimu..." Viona sadar kalau dia salah bicara. "Lagipula, aku tidak punya handphone atau apapun untuk menghubungimu, Renzo!"
Dia baru ingat kalau Viona memang tak membawa apapun saat ke sini.
"Alasan saja kamu!" Bagi Renzo ini namanya adalah perlawanan. "Kamu memang pandai membuat alasan, kan?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Renzo!"
"Beberapa hari saja kita tidak bertemu, kamu sudah semakin berani, Little Snake!" Renzo memainkan tangannya untuk menyentuh kembali bibir istri yang lama tak ia sentuh.
Mulailah Viona tampak kebingungan.
"Hentikan! Renzo, ini siang hari. Jangan bertindak macam-macam.." Viona menurunkan kembali roknya ke bawah saat tangan suami mulai menaikkannya ke paha.
"Aku malah semakin menginginkanmu ketika kamu melawanku begini!" Renzo tak berhenti.
Kini dia sudah mendekatkan hidungnya ke leher istrinya. Lagi-lagi tangannya menaikkan rok yang dikenakan istrinya.
"Renzo, aku akan berteriak! Hentikan!" Viona masih saja mengelak.
Dia masih trauma teringat pada kejadian beberapa minggu lalu saat ia terkapar seusai disentuh oleh Renzo.
"Aku harus mendisiplinkanmu lebih rajin sekarang!" Sebelum Viona bisa mengucapkan kata-kata lainnya, Renzo sudah lebih dulu mengunci mulutnya dengan bibirnya.
Viona terkejut dengan hal yang dilakukan suaminya itu. Tanpa aba-aba sehingga ia tak bisa mengantisipasinya.
"Aku merindukanmu, Viona! Kau tahu, setiap malam aku selalu memimpikanmu di ranjangku!" Bisiknya sebelum melancarkan aksinya seperti biasa.
Wanita muda itu hanya bisa berteriak dalam hati untuk dibebaskan.
Apa daya, kini tak hanya tubuh yang sudah dikuasai oleh Renzo. Melainkan jiwanya juga sudah terkunci.
"Ahhhh..." Erangnya.
"Bagus! Aku tahu kamu mulai menikmati ini Viona! Kuharap kau bisa melupakan mimpimu untuk bekerja terlebih berdekatan dengan Alex si pria lemah itu!"
Viona buru-buru melepaskan diri dari jeratan tangan suaminya.
"Maaf, aku sedang datang bulan!" Dia membenarkan letak pakaiannya lalu menata kembali rambut yang sempat acak-acakan.
"APA?" Renzo hanya bisa mengepalkan tangan di saat situasi begini. Keinginannya tak tersalurkan bahkan istrinya keluar lagi dari kamar.
"Fez!" Kaki Renzo seperti orang lari maraton ke area luar.
Teriaknya pada Fez, pembantu yang biasa membersamai Viona.
"FEZ!" Kali ini lebih kencang lagi.
"Ya, Tuan!" Sang pelayan itu lari mendekat.
Renzo mengucapkan kalimat dalam satu kali tarikan nafas, "Suruh orang-orang itu untuk menghentikan renovasi! Aku tidak mau mencium banyak debu berterbangan di rumah ini!"
"Ba-ba-baik, Tuan!"
"Kita sudah sampai?" Viktoriya dibuat kagum dengan bentukan pintu gerbang yang sangat artistik dan kokoh.Beberapa pria berseragam hitam berjaga di sekelilingnya."Viki, buka jendelamu! Mereka akan melihat kita dulu...""Oke..." ia buru-buru membuka jendela mobil kanan dan kiri."Maaf, kami ada janji dengan Nona Viona... Aku Alex dan ini temanku, Viki!" ucap Alex pada saat petugas itu memeriksa mereka.Ia mengangguk dan menyuruh mereka menunggu untuk memastikan kalau Alex benar-benar ada janji dengan Viona.Mereka berdua tak sabar lagi karena menunggu cukup lama hanya untuk soal konfirmasi."Sampai kapan kita harus menunggu di sini, Alex?" Viki berbisik.Andai saja ia punya kuasa dan kenal dengan orang dalam... mungkin akan lain ceritanya!"Sabar dulu... kali ini memang kita tak punya banyak pilihan, Viki... ini semua demi anakmu!" bisiknya menjawab pertanyaan dan keluhan wanita di sampingnya."Mohon kalian berdua menelpon Nona Viona langsung dan untuk memastikan kalau kalian tidak me
"Viktoriya..." Ivan ingin menyela panggilan itu dan mengingatkan adiknya untuk tidak gegabah.Ia sebagai laki-laki sangat paham dan bisa membaca pikiran Alex, ia sedang memanfaatkan kegundahan sang adik untuk mencapai tujuannya sendiri."Kamu diam dulu, Ivan!" ia menyuruh kakaknya untuk tidak ikut campur tentang masalahnya sekarang.Walau bagaimanapun ini adalah peperangan yang harus ia lakoni sendiri."Viki.. apa kamu mendengarkanku?" tanya Alex lagi."Iya, aku masih di sini... Apa rencanamu Alex?" Ia pun membeberkan hal yang perlu untuk dilakukan. Viktoriya menyimak dengan sungguh-sungguh."Jadi.. aku harus menjemputmu sekarang?" tanya Viktoriya sambil berjalan mengambil jaket kulit dan sepatunya.Wanita itu hanya mengenakan celana pendek dan tanktop rumah saja."Iya... aku ingin kita ke sana berdua!" kata Alex lagi.Sang kakak tentu khawatir jika adik perempuannya bertandang sendirian, apalagi ia tahu kalau mereka akan menuju ke rumah Renzo.Sama saja dengan masuk ke kandang buaya
"No, Viona.. Masalah tidak sesimple itu... Silvano adalah anak dari Renzo!" Kalimat Alfonso tak semudah itu dicerna oleh akal pikirannya.Bagaimana ini? Sementara dirinya tengah berbadan dua dan mengandung anak sang mafia!Apakah nanti... ketika anak-anaknya lahir ke dunia, Renzo akan sama cintanya dengan rasa yang ia miliki pada Silvano?Berbagai pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul.Ia menjadi menyesal mengapa harus hamil jika pada dasarnya Renzo sudah punya anak? Kenapa ia baru tahu sekarang?"Viona, kamu kenapa?" tanya Alfonso melihat kakak iparnya yang tampak diam dan cemas.Wanita muda itu tak lagi banyak bicara dan terkesan merenungi sendirian."Viona!" bahkan saat dipanggil untuk kedua kalinya ia tak merespon.Apa yang ada di benaknya?"Viona?" kali ini ia menyenggol lengan kanannya dan berhasil menggugah kesadaran Viona juga akhirnya."Apa? Kamu bilang apa tadi?" ia tampak gugup dan berusaha untuk terlihat tenang.Meski sebenarnya ia terasa seperti mau terjun saja dari balko
"Apa? Silvano itu jadi..."Viona tak mampu melanjutkan kata-katanya. Hati wanita mana yang tak hancur ketika tahu suaminya yang sebelumnya belum pernah menikah, ternyata telah memiliki seorang anak dengan wanita lain.Ini membuatnya sangat kecewa, meski ia tak pernah mengakui kalau dirinya memiliki rasa pada Renzo."Iya, Renzo belum tahu soal ini karena test DNA dilakukan Papaku secara tersembunyi..." Alfonso menjawab."Kamu pasti bohong!" Viona mengelak dan tak bisa mempercayainya."Buat apa aku bohong untuk hal sepenting ini? Kami para mafia tidak boleh berbohong untuk soal urusan anak!"Viona makin meradang, "berarti kalian boleh bohong soal yang lain?""Tidak begitu juga, Viona..." Alfonso adalah pria dari keluarga mafia yang punya perasaan halus.Ia tahu kalau apa yang ia katakan ini akan menyakiti hatinya."Aku..." Viona tak mampu lagi bagaimana harus menghadapi hal yang menurutnya sama saja dengan pengkhiana
"Kenapa mengkhawatirkan? Ia sudah dewasa dan pergi dalam keadaan baik-baik saja!" kata Alfonso menjelaskan.Ia paham kalau Viona menanyakannya karena ada suatu hal yang disembuyikan dari Alfonso.Untuk urusan rumah tangga, rasanya dia tak perlu tahu dan turut campur."Iya, sebaiknya mungkin aku kembali ke kamar tidur saja!" ia membawa satu lilin sebagai penuntunnya berjalan pelan-pelan ke kamar tidur.Rupanya, setelah bersusah payah menemukan kamar dengan lilin itu, ia mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Alex."Ya ampun... aku lupa kalau aku harus mengecek lagi handphone-nya..." ia mengambilnya dari tempat di mana suaminya biasa meletakkan.Aji mumpung ketika suaminya tak berada di rumah, ia bisa menggunakannya sesuka hati."Halo, Alex?"Syukurlah pria itu bisa dihubungi dengan mudah."Viona? Kamu bisa menghubungiku juga akhirnya...""Iya, Alex. Aku..."Alex memotong pembicaraannya, "sementara ini keluarga Ivanov kebingungan karena kehilangan anak Viktoriya... dan... aku ha
"Kita ke mana, Paman Renzo?" tanya Silvano yang merasa bosan karena sepanjang jalan tiba-tiba Renzo jadi diam.Pria itu terus menyusuri jalanan yang mengarah semakin dekat dengan area tempat tinggal Silvano."Kita mau ke pegunungan...""Jangan!" ia mendadak menolak."Kenapa?" Renzo kaget."Aku lebih suka pantai dari pada gunung..." terangnya.Aneh, anak ini punya kesukaan yang sama dengan Renzo semasa kecil."Tapi suasana pantai akan sangat ramai. Sebaiknya... kita tidak ke pantai malam begini!" "Baiklah.. kita ke pegunungan saja kalau begitu! Tapi, jika ada orang yang bertanya tentangku, bilang saja Paman tidak tahu!" ia berjaga-jaga dan masih memiliki kecemasan kalau-kalau bertemu dengan body guard keluarga Ivanov nanti.Ada getaran yang tak biasa ketika ia mengatakan kalau Silvano adalah anaknya. Seolah ini adalah hal yang lumrah dan memang sewajarnya."Apa kamu tahu banyak soal orang bernama Alex itu?" Renzo sebenarnya sangat tidak menyukai pria itu lagi.Meski dulu sempat dikon