Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Desahan di Balik Triplek

Share

Desahan di Balik Triplek

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-05-22 15:15:36

Tangan Leo merenggut gaun merah marun itu hingga meluncur jatuh menumpuk di atas ubin semen. Kulit punggung Wulan terekspos langsung di bawah cahaya bohlam redup.

Permukaan meja kayu berderit pelan menahan bobot tubuh wanita tersebut.

"Kita harus menyusun jadwal pengisi panggung untuk besok pagi," suara bariton Pak RT terdengar sangat dekat dari arah luar.

Langkah sepatu bot beberapa pria berhenti tepat di balik dinding triplek. Jarak mereka hanya terhalang selembar papan kayu setebal tiga mili
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Boneka Politik

    Leo menahan pinggul Elara menggunakan kedua telapak tangannya yang besar. Pria itu mengatur ritme pergerakannya dengan perhitungan matematis.Setiap dorongan pinggul Leo menargetkan persimpangan saraf sakral di dasar tulang belakang sang wanita. Titik itu menyambung langsung dengan pusat kendali motorik di otak.Elara melebarkan matanya menatap langit-langit kamar. Kuku jarinya menancap dalam menembus lapisan sprei katun putih."Ini... terlalu kuat," rintih Elara dengan napas tersengal-sengal.Tubuh rampingnya mengejang keras menerima rangsangan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya."Tubuhmu kelaparan selama dua tahun terakhir," desis Leo tanpa menurunkan kecepatan. "Aku hanya memberinya porsi yang pantas."Istri bupati itu menggelengkan kepalanya berulang kali ke kanan dan ke kiri di atas bantal.Saraf simpatiknya yang mati kini dibombardir oleh sinyal listrik berkekuatan maksimal dari ujung jari Leo.Leo menggeser posisi tangannya ke bagian perut bawah Elara. Ibu jari pria i

  • Rayuan Desa Wanita   Diagnosis Mati Rasa

    Engsel pintu kayu jati kamar Maya berderit pelan. Elara melangkah masuk menembus keremangan ruang tidur berukuran tiga kali empat meter tersebut.Kamar itu hanya berisi sebuah ranjang kayu jati berlapis seprai putih polos. Sebuah lemari pakaian rotan berdiri kaku di sudut ruangan.Leo menyusul masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Bunyi klik dari selot logam mengunci akses mereka dari dunia luar."Waktu sepuluh menitmu dimulai dari sekarang," ucap Elara menyentuh layar jam tangan pintar di pergelangan kirinya.Wanita itu berdiri canggung di tengah ruangan. Ia merapatkan kedua lengannya menutupi dada."Lepaskan kain loak itu," perintah Leo tanpa memedulikan hitungan mundur sang pasien."Kau bisa memeriksaku tanpa harus menelanjangiku," tolak Elara mempertahankan sisa harga dirinya.Istri pejabat tinggi itu menatap tajam mata Leo. Ia mencari keraguan di wajah sang dokter bedah."Saraf simpatik tidak merespons manipulasi dari balik pakaian tebal," balas Leo datar.Leo berjalan mendekati s

  • Rayuan Desa Wanita   Tamu Misterius

    Ujung sepatu bot Leo menapaki teras kayu rumah Maya. Aroma melati yang tidak biasa tercium dari sela-sela pintu depan yang sedikit terbuka.Maya melangkah lebih dulu, mendorong pintu kayu itu tanpa suara. Janda kembang tersebut menunjuk ke arah ruang tamu dengan gerakan matanya.Seorang wanita duduk bersandar kaku di atas sofa rotan usang. Ia mengenakan daster batik luntur yang jelas bukan miliknya, tampak sangat kebesaran menutupi lekuk tubuhnya.Topi anyaman bambu lebar tergeletak di samping tas kulit buaya berwarna hitam mengkilap."Tuan Dokter sudah tiba, Nyonya," sapa Maya formal.Wanita misterius itu menoleh pelan. Kacamata hitam besar menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan ekspresi matanya dari pengawasan."Kunci pintu depan dan tutup semua jendela," perintah wanita itu dengan nada suara yang terbiasa memberi instruksi pada bawahan.Leo menyilangkan tangannya di depan dada, bersandar santai pada kusen pintu kayu."Maya, tinggalkan kami berdua," instruksi Leo datar.Maya menu

  • Rayuan Desa Wanita   Menundukkan Mandor Proyek

    Pintu pagar bambu kembali memunculkan suara gesekan pelan dari luar.Nadia melangkah masuk membawa sebuah map plastik berwarna merah. Mantan inspektur provinsi itu menghentikan langkahnya melihat Diana tergeletak tanpa busana di atas batu datar."Saya membawa salinan pencabutan izin proyek komersial untuk Firma Tata Graha, Tuan," lapor Nadia datar.Nadia menatap lurus tubuh lemas arsitek elit tersebut tanpa ekspresi terkejut.Leo melempar handuk putih basahnya ke lantai batu."Berikan dokumen pembatalan itu padanya," perintah Leo mengambil kemeja linen hitamnya dari gantungan.Nadia berjalan mendekati undakan kolam dan menjatuhkan map itu tepat di samping kepala Diana.Diana tidak berusaha menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya. Wanita kota itu terlalu kehabisan tenaga bahkan untuk bergeser sejengkal pun dari posisinya."Kau tidak perlu bersusah payah membatalkan izinku, Inspektur Nadia," bisik Diana dengan suara serak.Arsitek elit itu menoleh menatap pergerakan tangan Leo yang

  • Rayuan Desa Wanita   Terapi Uap

    Bunyi retakan tulang terdengar pelan teredam genangan air belerang. Diana melebarkan rahangnya meraup udara kosong."Saraf lumbalmu sangat kaku," ucap Leo melepaskan tekanannya. "Terapi sesungguhnya dilakukan saat suhu malam mendingin."Lampu lampion menyala menerangi kolam VIP. Suara jangkrik menggantikan deru mesin alat berat yang telah pergi.Diana duduk bersandar pada dinding batu sedalam leher. Arsitek elit itu tidak mengenakan sehelai benang pun.Leo melangkah turun menapaki undakan semen. Pria itu menanggalkan kemejanya, menyisakan celana kain hitam ketat."Tuan, rasa sakit tulang ekorku kembali," lapor Diana bergetar.Keangkuhannya sebagai pengembang properti kota lenyap tak tersisa di hadapan sang dokter."Berbaliklah menghadap dinding batu," perintah Leo mutlak.Diana memutar tubuhnya susah payah. Air panas beriak menabrak dada polos wanita itu.Leo menyusupkan lutut kanannya di antara kaki Diana. Pria itu memberikan pijakan kokoh agar pasiennya tidak merosot."Manipulasi sa

  • Rayuan Desa Wanita   Korset Ketat

    Tangan kiri Diana mencengkeram pinggang kemeja sutranya. Hak sepatunya tergelincir menabrak bebatuan kerikil jalan setapak. "Nyonya Diana!" seru dua asisten berjas hitam itu serempak. Mereka membuang sabak digitalnya dan menjulurkan tangan. Diana menepis tangan kedua pria itu dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" Wanita kota itu memaksakan kakinya berdiri tegak. Ujung bibirnya bergetar hebat menahan siksaan fisik di balik pakaian mahalnya. "Kau memaksakan struktur tulang belakangmu," ucap Leo memecah keributan kecil tersebut. Leo melangkah satu tindak mendekati arsitek itu. Matanya memindai garis kaku di balik kemeja sutra putih Diana. "Aku hanya salah urat," kilah Diana memalingkan wajahnya. "Tanah di desamu ini terlalu bergelombang." "Korset pembentuk tubuh," potong Leo tanpa basa-basi. "Bahan serat kawatnya menekan tulang rusuk bawahmu terlalu kuat." Mata Diana membelalak lebar. Ia merapatkan kedua lengannya ke perut secara refleks. "Itu bukan urusanmu," desis Diana m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status