LOGINEngsel pintu insulasi perak itu berderit pelan merespons dorongan bahu kanan Leo.Hawa beku berhembus keluar berbenturan langsung dengan udara pengap bekas pabrik tekstil.Leo melangkah keluar dari ruang pendingin raksasa menenteng kemeja linennya di tangan kiri.Sinta berjalan mengekor tepat di belakang sang dokter bedah dengan langkah kaki yang menapak stabil.Suhu inti tubuh perawat muda itu telah kembali normal sepenuhnya pasca terapi termal di dalam mesin pembeku.Rona kemerahan menghiasi wajah dan leher Sinta menyisakan jejak guncangan biologis barusan.Napas wanita itu masih sedikit tersengal menahan lonjakan hormon endorfin yang memabukkan jaringan otaknya.Sembilan penjaga bayaran mengerang parau memegangi pergelangan kaki mereka yang cacat permanen."Berhenti melangkah sekarang juga, Dokter keparat!" bentak Frans dari ujung lorong timur.Mantan ahli anatomi itu mengangkat sebuah pistol pembius bertekanan gas pneumatik tinggi.Laras hitam berlubang besar itu mengarah lurus m
Ujung tongkat baja pertama melayang lurus mengincar pelipis kanan Leo.Pemuda itu merendahkan bahunya membiarkan besi tumpul tersebut melewati kepalanya.Pisau titanium di tangan sang dokter bedah berputar memantulkan cahaya neon."Pukul kepalanya dari belakang!" perintah seorang preman berwajah parut.Leo melangkah mundur memotong lintasan serangan lawan dengan presisi geometris.Bilah perak murni itu menyayat bagian belakang pergelangan kaki preman pertama.Tendon Achilles pria tersebut terputus rapi dalam satu tarikan garis lurus.Preman berwajah parut itu menjerit keras kehilangan fungsi tumpuan kakinya seketika.Dia ambruk menghantam lantai tanpa kesempatan untuk berdiri tegak kembali."Kalian terlalu membebani otot betis saat mengayunkan senjata," evaluasi Leo datar."Potong lidahnya biar dia bungkam!" teriak preman lain melompat maju.Tiga penjaga bayaran lainnya merangsek serentak dari arah samping.Leo memutar tubuhnya menggunakan poros tumit kiri dengan kelenturan efisien.S
Ban mobil Jeep hitam itu berdecit keras menggesek aspal berlubang di kawasan kumuh pinggiran kota.Layar jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul satu dini hari lewat lima belas menit.Leo mematikan mesin kendaraannya tepat di depan sebuah bangunan bekas pabrik tekstil yang terbengkalai.Jejak ban truk pendingin medis tercetak sangat jelas di atas tanah lumpur dekat pintu masuk."Distribusi kantong plasma darah golongan O negatif bermuara di tempat pembuangan sampah ini," gumam Leo.Sepatu pantofelnya menghindari genangan air kotor, melangkah menuju pintu baja berkarat di bagian belakang bangunan.Suara mesin pendingin ruangan terdengar beroperasi melebihi kapasitas standar sebuah gedung kosong.Di balik pintu itu, Frans berdiri mengenakan celemek plastik yang dipenuhi noda kecokelatan.Sinta, seorang perawat muda berseragam putih, terbaring kaku terikat sabuk kulit di atas meja operasi.Mulut Sinta disumbat gulungan kain kasa medis yang menahan suara teriakannya meminta tolon
Leo menarik kedua jarinya dari leher Rina saat suara derap langkah menjauh.Polisi wanita itu merosot lemas menghirup sisa oksigen dengan rakus."Ambil map merahmu dari lantai baja itu sekarang," perintah Leo membenarkan kerahnya.Rina merangkak cepat memungut dokumen tersebut dengan tangan bergetar.Leo memutar tubuhnya menghadap pintu brankas setebal lima belas sentimeter.Pria itu memusatkan tenaga murni ke ujung sepatu pantofel kanannya.Leo menendang engsel baja pintu brankas tersebut menggunakan satu hentakan brutal.Brak!Baut penahan pintu patah berhamburan menghantam dinding lorong.Pelat baja seberat ratusan kilogram itu terlempar membentur lantai keramik.Komandan Bayu yang berjarak lima langkah refleks memutar tubuhnya.Wajah perwira distrik itu memucat melihat pintu brankas jebol paksa."Penyusup!" teriak Bayu mengangkat laras senapan serbunya setinggi dada.Jari telunjuk Bayu menekan pelatuk tanpa peringatan tembakan.Suara letusan mesiu menggema memekakkan telinga di
Leo memutar kawat baja kecil di dalam lubang kunci ganda pintu ruang arsip. Bunyi klik pelan terdengar berpadu dengan dengungan lampu neon koridor markas besar aparat distrik.Jam digital di pergelangan tangan sang dokter bedah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia mendorong panel kayu solid itu dan menyusup masuk tanpa bunyi engsel.Cahaya senter kecil menyorot deretan lemari besi di sudut ruangan gelap tersebut. Leo melangkah meredam suara sepatunya menghampiri sumber cahaya yang bergerak acak.Inspektur Rina membongkar paksa laci kabinet baja menggunakan linggis mini. Polisi wanita itu menarik setumpuk map merah berisi deretan angka transfer rekening."Mencuri dokumen atasan di tengah malam berisiko pemecatan tidak hormat," tegur Leo.Rina terkesiap memutar tubuhnya dan menodongkan pistol ke arah sumber suara. Matanya membelalak mengenali pria berkemeja linen yang bersandar di rak."Bagaimana kau bisa menembus tiga lapis pos penjagaan di luar sana?" tanya Rina menurunkan laras pi
Roda bergerigi mobil taktis militer menggilas kasar aspal mulus pelataran Puskesmas Elite tepat pukul dua siang.Suara decit rem berpadu dengan raungan mesin diesel memecah ketenangan jadwal operasional medis harian.Dua peleton pasukan berseragam hitam melompat turun dari bak truk membawa senapan serbu laras panjang.Sepatu bot mereka berderap serentak menyebar cepat mengepung seluruh pintu masuk bangunan."Blokir semua akses pintu keluar dan pasang garis polisi kuning sekarang juga!" perintah Komandan Bayu melangkah turun dari Jeep komando.Pria paruh baya itu mengenakan seragam perwira distrik lengkap dengan pangkat balok emas di pundaknya.Staf medis dan puluhan pasien yang sedang antre mundur perlahan merapatkan punggung ke dinding gedung.Beberapa ibu-ibu memeluk anak mereka dengan erat saat melihat moncong senjata api diarahkan ke udara."Jangan ada yang berani mengambil foto atau merekam kejadian ini!" bentak salah satu aparat merebut paksa ponsel seorang warga."Siapa yang
Ketukan pelan di kaca jendela yang berembun itu menyita perhatian Leo. Siluet tubuh wanita di luar sana tampak menggigil, menembus gerimis malam yang membuat udara desa terasa semakin dingin menusuk tulang.‘Benar-benar istri Kades yang nekat,’ batin Leo sambil tersenyum miring. ‘Dia berani menanta
Malam merangkak semakin larut, membawa serta hawa dingin sisa hujan sore tadi yang menusuk pori-pori. Namun, suhu di dalam rumah kayu sederhana milik Maya justru terasa seperti mendidih.Dari balik bilik kamar yang hanya dibatasi anyaman bambu tipis, terdengar dengkuran halus Kania. Gadis belia itu
Sofa reyot di ruang tamu itu seakan menjadi saksi bisu runtuhnya moral dan akal sehat. Udara pagi yang mulai menyusup dari celah jendela tak mampu mengusir aroma pekat percintaan liar yang masih menggantung di ruangan tersebut.Leo bersandar dengan dada telanjang yang dipenuhi bekas cakaran dan gig
Tangan besar Leonardo bergerak secepat kilat. Dengan kecekatan seorang ahli bedah yang tak membiarkan satu milimeter pun kesalahan, ia menarik selimut tebal dari ujung ranjang dan menutupi tubuh Sekar yang setengah telanjang.“Sembunyi di bawah selimut, meringkuk ke arah dinding. Jangan bernapas te







