Share

Blokade Jalan

Author: Falisha Ashia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-13 14:54:23

Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.

Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh. Gadis berhijab itu memeluk tas medisnya dengan rona merah yang masih menghiasi wajah cantiknya.

"Pastikan suplai herbal penetralisir untuk para korban Lereng Timur tetap terjaga hari ini, Ayu," perin
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rayuan Desa Wanita   Hukum Rimba

    Silau lampu sorot halogen dari Jeep hitam itu perlahan meredup, namun tekanan aura membunuh yang dibawanya justru semakin pekat mencekik udara.Kobra menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya pada siluet tinggi tegap yang melangkah turun dengan tenang. Pisau parangnya masih menempel di leher Sekar, namun entah mengapa telapak tangannya mulai berkeringat dingin."Kau yang bernama Dokter Leonardo?!" bentak Kobra dengan suara serak, berusaha mati-matian mempertahankan wibawanya di depan anak buahnya. "Ternyata kau punya nyali juga datang mengantarkan nyawa ke sarang serigala!""Aku menyuruhmu menjauhkan pisau karatan itu dari wanitaku, Tikus," ulang Leo dengan suara bariton yang teramat tenang namun mematikan. Langkah sepatunya terdengar berat, memecah keheningan malam yang tegang.Merasa harga dirinya sebagai eksekutor mafia diinjak-injak, Kobra menarik parangnya dari leher Sekar dan menudingkannya tepat ke arah dada sang dewa bedah."Habisi dokter sombong ini! Cincang tubuhny

  • Rayuan Desa Wanita   Kepungan di Tengah Malam

    Tengah malam menyelimuti desa teh dengan kepekatan yang mencekam. Berkat sapuan badai berdarah dingin dari sang dewa bedah di perbatasan tadi siang, sepuluh armada truk pengangkut baja dan semen kini telah terparkir aman di area proyek puskesmas."Wibawa Tuan Leo sungguh tak masuk akal. Saya dengar dari para sopir, barikade di perbatasan itu hancur hanya dalam lima belas menit," gumam Pak Joko dengan nada takjub, merapatkan jaket tebalnya di pos jaga darurat."Itulah mengapa kita harus menjaga material ini dengan nyawa kita," balas Sekar tegas. Janda sintal yang kini menjabat Kepala Operasional itu memanggul pipa besi di bahunya, menatap waspada ke arah gulita. "Sindikat Naga Hitam tidak akan menelan rasa malu itu begitu saja."Firasat tajam sang mandor rupanya sangat akurat.Belum genap Pak Joko menyesap kopinya, suara deru puluhan mesin motor bersilangan dengan langkah kaki berat memecah kesunyian malam. Dari arah hutan pinus yang berbatasan dengan jalan kabupaten, puluhan titik api

  • Rayuan Desa Wanita   Blokade Jalan

    Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh. Gadis berhijab itu memeluk tas medisnya dengan rona merah yang masih menghiasi wajah cantiknya."Pastikan suplai herbal penetralisir untuk para korban Lereng Timur tetap terjaga hari ini, Ayu," perintah Leo mutlak tanpa menoleh sedikit pun."Siap, Tuan Leonardo. Saya akan mengawasi mereka tanpa henti," jawab Ayu lembut, suaranya dipenuhi ketundukan penuh sebagai abdi setia.Leo mengangguk pelan, lalu melangkah menuju area proyek di sisi barat desa. Namun, alih-alih disambut oleh deru bising ekskavator dan pekerja yang sibuk, suasana pagi itu justru hening. Ratusan pemuda desa hanya duduk-duduk di atas gundukan tanah galian dengan wajah tegang dan tangan mengepal."Ada apa ini, Sekar? Kenapa

  • Rayuan Desa Wanita   Hadiah Putih Sang Bidan

    Matahari akhirnya tenggelam di balik cakrawala, membawa pergi sisa-sisa kekacauan dari balai desa.Puluhan warga Lereng Timur kini tertidur pulas dengan wajah damai di bawah tenda darurat yang disiapkan warga, tubuh mereka telah sepenuhnya bersih dari ancaman racun mematikan.Di dalam ruang istirahat darurat klinik desa yang remang-remang, Leonardo Xaverius duduk bersandar di tepi ranjang periksa. Sang dewa bedah memejamkan mata, memulihkan tenaga batinnya setelah melakukan akupunktur massal yang cukup menguras energi."Tuan Leonardo... Anda belum istirahat?" sapa sebuah suara lembut dari ambang pintu.Bidan Ayu berdiri di sana, masih mengenakan seragam dinas perawat putihnya yang bersih. Wajah cantiknya memancarkan kelelahan, namun sepasang matanya berbinar dengan rasa kagum yang luar biasa pekat saat menatap wibawa Leo."Darah kotor dan racun tidak akan membiarkan seorang raja tertidur sebelum tugasnya dipastikan selesai," jawab Leo dengan suara bariton yang berat dan maskulin. Mata

  • Rayuan Desa Wanita   Mempermalukan Di Hadapan Publik

    "Enam puluh detik dimulai dari sekarang, Tuan Leonardo!" seru Bidan Ayu sambil menekan tombol stopwatch di ponselnya. Suara gadis berhijab itu melengking tegas, sepenuhnya terbawa oleh dominasi sang dewa bedah.Mendengar hitungan mundur itu, wajah dr. Herman merah padam. Gengsinya sebagai dokter spesialis senior dari kabupaten merasa diinjak-injak hingga rata dengan tanah."Kau pikir trik murahan menghitung mundur itu bisa mengintimidasiku?!" geram Herman dengan urat leher menonjol. Ia berbalik menatap perawatnya. "Abaikan orang gila ini! Suntikkan Diazepam dosis tinggi untuk menghentikan kejangnya, lalu masukkan antibiotik Ceftriaxone ke pembuluh darah pria gemuk di sana!""Tahan jarum kalian," peringat Leo dengan nada suara sedingin es batu. Pria berjaket kulit itu melangkah maju dengan tangan di dalam saku. "Kau menyuntikkan Diazepam pada pasien dengan toksisitas arsenik dan timbal? Kau baru saja menandatangani surat kematiannya, Herman.""Jangan sok tahu kau, Dokter Udik!" bentak

  • Rayuan Desa Wanita   Kedatangan Dokter Senior Yang Iri

    Suara decit rem dan raungan sirine itu membelah ketegangan di balai desa, mengalihkan perhatian seluruh warga dari keajaiban jarum perak Leonardo Xaverius.Dari dalam mobil dinas berpelat merah muda, turunlah seorang pria paruh baya mengenakan jas putih kedokteran yang disetrika sangat rapi. Di lehernya terkalung stetoskop impor mahal. Pria itu menatap jijik ke arah tanah berdebu balai desa, melangkah angkuh diikuti empat perawat pria bertubuh tegap."Hentikan semua tindakan medis ilegal ini detik ini juga!" bentak pria berjas putih itu dengan suara melengking arogan.Bidan Ayu yang sedang menyiapkan alkohol seketika terlonjak. Wajah gadis berhijab itu memucat saat mengenali siapa yang baru saja datang."D-dokter Herman?! Kepala Pengawas Medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten?" cicit Ayu dengan tangan bergetar, tanpa sadar mundur selangkah mendekati punggung kokoh Leo."Siapa anjing tua yang berani menggonggong dan mengotori halamanku di tengah prosedur penyelamatan nyawa?" sahut Leo da

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status