로그인Tumpukan material baja dan semen curah kembali tertata rapi di area proyek pembangunan Rumah Sakit Terpadu. Rantai derek alat berat bergerak aktif menarik pilar pondasi diiringi deru mesin tegangan tinggi.Pasokan daya listrik dari gardu induk distrik mengalir stabil tanpa interupsi.Namun, debu tanah merah di sekitar lokasi proyek beterbangan tidak terkendali akibat kekeringan parah. Saluran pembuangan sementara dan bak penampung utama proyek menyusut drastis menyisakan lapisan lumpur retak.Sekar berlari kecil melintasi pelataran proyek membawa setumpuk laporan operasional. Mandor wanita itu mengusap wajahnya yang kotor oleh debu menggunakan punggung tangan."Dokter, ada berita gawat. Debit air tanah di seluruh desa menyusut ke batas kritis pagi ini," lapor Sekar menghentikan langkah Leo."Fasilitas sterilisasi rumah sakit kita membutuhkan jutaan liter air bersih untuk beroperasi," tambah Sekar menyodorkan kertas laporannya. "Sumur bor utama proyek kita mati total."Leo mengam
Suara derap langkah sepatu bot menjauh meninggalkan area trafo tegangan tinggi. Bau tembaga panas mendominasi udara di celah sempit itu saat Leo memutus tekanan jarinya dari perut bawah Nita.Pria itu memegang kedua bahu sang insinyur menstabilkan postur tubuh wanita tersebut agar tidak jatuh.Nita mengatur napasnya yang masih memburu menahan sisa-sisa lonjakan hormon endorfin.Keringat dingin membasahi pelipis wanita berkacamata itu, menyamarkan rona merah di wajah eksotisnya."Kau akan memperbaiki meteran itu setelah aku menyingkirkan lintah darat ini," perintah Leo dengan nada sangat rendah.Leo memutar tubuhnya menghadap pintu panel trafo dan mengangkat kaki kirinya. Tendangan keras dari sepatu pantofel sang dokter menghantam engsel baja panel tersebut hingga patah.Pintu panel terlempar ke luar membentur dinding beton gardu menciptakan suara dentuman keras.Haryo yang sedang berdiri tidak jauh dari posisi itu terkesiap membalikkan badannya. Mafia kelistrikan itu memegang se
Angin malam berembus membawa hawa panas dari deretan gardu beton bertegangan tinggi di pusat distrik. Leo mematikan mesin Jeep hitamnya di balik rimbunan semak belukar yang menutupi pagar kawat berduri.Pria itu memanjat pagar kawat tersebut tanpa merobek kemeja linennya sedikit pun. Ia mendarat tanpa suara di atas pelataran aspal gardu induk kelistrikan.Ruang kontrol utama berada di sebuah bangunan beton di ujung fasilitas tersebut. Cahaya lampu neon putih menerangi ruangan yang dipenuhi deretan monitor panel sirkuit.Leo mendorong pintu ruang kontrol yang tidak terkunci rapat dan melangkah masuk menghindari pantulan cahaya.Dua preman berseragam teknisi sedang menyudutkan seorang wanita ke arah meja panel meteran. Nita berdiri kaku menahan rasa perih di sudut bibirnya yang mengeluarkan garis darah tipis.Insinyur kelistrikan wanita itu mengenakan kemeja kerja lapangan yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Kacamata minusnya sedikit miring akibat tamparan kasar barusan."Ma
Suara mesin bor beton terhenti mendadak di tengah pengerjaan fondasi Rumah Sakit Terpadu.Rantai derek alat berat menggantung kaku di udara tanpa daya penggerak.Proyek pembangunan fasilitas medis Leo membutuhkan pasokan listrik tegangan tinggi dari jaringan pusat untuk menyalakan seluruh alat berat.Namun, gardu induk distrik memutus aliran listrik ke seluruh desa secara sepihak tepat pada pertengahan hari.Bidan Ayu berlari menuruni tangga puskesmas membawa radio komunikasi portabel. Keringat membasahi dahi asisten medis itu menahan hawa panas."Dokter, seluruh mesin ventilator di ruang rawat darurat terpaksa dialihkan ke baterai cadangan," lapor Ayu dengan napas memburu. "Kapasitas daya darurat kita hanya mampu bertahan maksimal selama dua jam.""Hubungi pihak gardu induk sekarang juga dan tanyakan alasan pemadaman ini," instruksi Leo berdiri tegak menghadap jalan raya.Tiga mobil operasional pemeliharaan jaringan listrik memasuki pelataran proyek tanpa izin, menggilas papan p
Suara laci arsip yang dibanting ke lantai mendominasi ruangan di luar brankas malam itu.Vanya semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Leo. Gigi wanita itu menancap kuat pada kemeja linen sang pria. Keringat membasahi dahi dan lehernya menembus kerah kemeja kerjanya. Tubuh elegan itu mengejang pelan menerima manipulasi saraf yang tidak henti.Leo menarik tangannya perlahan dari perut bagian bawah Vanya. Pria itu menopang pinggang wanita itu agar tidak jatuh merosot ke lantai baja."Mereka sudah menghancurkan separuh mejamu," ucap Leo menatap pintu brankas dalam kegelapan. "Ini saatnya kita membereskan mafia tanah itu."Vanya mengangguk pelan melepaskan gigitannya dari dada Leo. Napas wanita itu masih tersengal memburu oksigen yang menipis. Ego dan kesombongannya telah menguap digantikan gairah fisik yang menundukkan akal sehatnya.Leo memutar tuas pengunci brankas dari dalam.Pria itu mengangkat kaki kanannya dan menendang pintu baja itu dengan kekuatan penuh. Pintu brankas
Pintu kaca tebal biro hukum Vanya hancur berantakan menghantam lantai lobi pada pertengahan malam. Leo menarik kembali tendangan kaki kanannya setelah memastikan jalur masuk terbuka lebar.Pemuda itu melangkah melewati pecahan kaca tanpa menimbulkan suara gesekan pada sepatu pantofelnya.Ruang utama biro hukum itu berantakan dengan tumpukan dokumen yang berserakan di atas meja kerja. Leo menyusuri lorong gelap menuju ruang arsip yang letaknya berada di bagian paling belakang gedung.Tiga penjaga berbadan kekar berdiri mengelilingi Vanya yang masih terikat erat di kursi kayu."Tanda tangani dokumen sialan ini sekarang atau jari-jarimu akan kupatahkan satu per satu!" bentak penjaga pertama memegang pisau lipat."Palsukan saja tanda tanganku, kalian sudah merampas kebebasanku," tolak Vanya dengan suara lemah namun tegas.Notaris muda itu memejamkan mata menghindari silau lampu senter yang diarahkan langsung ke wajahnya.Leo melangkah memotong jarak dari ambang pintu tanpa memberik
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu
Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog







