ログインBan bergerigi Jeep hitam berhenti tepat satu sentimeter di depan gerbang baja berkarat.Leo mematikan mesin kendaraannya dan mencabut kunci kontak.Pria itu melangkah turun menginjak kubangan lumpur bercampur kotoran sapi di pintu masuk Peternakan Lembu Putih.Papan reklame kayu berukuran besar terpampang miring di atas gerbang tersebut.Dua penjaga berbadan tegap langsung menyilangkan tongkat besi menghalangi langkah sang dokter."Buka gerbang ini sekarang juga," perintah Leo menatap lurus ke arah kedua penjaga tersebut."Juragan Broto tidak menerima tamu di jam perah pagi," tolak salah satu penjaga mendorong dada Leo.Leo tidak mengulangi perintahnya atau mundur.Tangan kanannya bergerak secepat kilat meraih persendian siku penjaga itu.Leo memberikan tarikan presisi yang mengunci saraf lengan lawannya hingga tongkat besi itu terlepas.Penjaga itu menjerit tertahan dan ambruk berlutut di atas lumpur.Leo mendorong panel gerbang baja tersebut menggunakan satu hentakan bahu hingga ter
Gagang kunci inggris berbahan baja itu menghantam meja resepsionis kaca dengan keras.Retakan panjang terbentuk seketika membelah permukaan kaca tebal tersebut."Mana dokter sombong itu?!" bentak Sarah mengabaikan pecahan kaca yang berserakan.Montir wanita itu berdiri di tengah lobi puskesmas dengan pakaian mekanik yang masih dipenuhi noda oli. Wajah tomboinya merah padam menahan amarah.Bidan Ayu melangkah mundur berlindung di balik rak rekam medis dengan wajah pucat.Pintu ruang VIP lantai dua terbuka. Leo melangkah keluar sambil memasang kancing kemeja linennya dengan tenang.Sepatu pantofelnya menuruni anak tangga tanpa ada nada ketergesaan sedikit pun."Kau merusak fasilitas medisku, Nona Montir," tegur Leo berhenti di bordes tangga terakhir.Sarah langsung menodongkan kunci inggrisnya lurus ke arah dada Leo."Anak buah Maman membakar bengkelku tiga jam yang lalu!" teriak Sarah dengan suara bergetar."Kau bilang kau yang akan menanggung semua kerusakan fisik jika mereka berani m
Laras senapan menodong lurus menembus kegelapan gudang pengap tersebut.Juragan Maman berdiri di ambang pintu besi yang hancur. Pria tambun itu berjalan tertatih menyeret lutut kanannya yang terbungkus perban medis."Kau pikir bisa merampok gudangku malam ini, Dokter?" geram Maman menarik pelatuk senapannya.Tika bersembunyi di balik punggung tegap Leo. Jari wanita itu meremas erat ujung jaket kulit hitam sang dokter.Napas Tika memburu cepat menahan sisa gairah dan ketakutan yang kini bercampur menjadi satu.Leo memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku celana dengan gerakan santai."Aku tidak merampok. Aku hanya melakukan pendataan barang bukti," jawab Leo tanpa memundurkan langkahnya."Dua puluh ton pupuk curian dan amfetamin cair sudah cukup untuk memastikanmu membusuk di penjara perbatasan."Maman meludah kasar ke lantai semen. Ujung laras senapannya kini mengarah tepat ke dada kiri Leo."Tidak ada yang akan menemukan mayat kalian di hutan pinus ini," ancam Maman bersiap menembak
Senter medis kecil di tangan Leo kembali menyala. Sorot cahaya putihnya menyapu deretan tumpukan karung berlogo pemerintah."Dua puluh ton pupuk subsidi, persis seperti ucapanmu," catat Leo.Tumpukan blok mesin transmisi berjejer rapi di atas palet kayu. Bau besi berkarat mendominasi ruangan tersebut.Tika menutup pintu kayu di belakang mereka perlahan. Wanita itu melangkah mendekati tumpukan ban truk tronton."Maman menjual suku cadang ini ke penadah utara," jelas Tika."Data ini cukup untuk membusukkannya di penjara," balas Leo mengeluarkan ponsel pintarnya.Lensa kamera ponsel memindai nomor seri pada blok mesin curian itu. Kilat cahaya menyala redup mendokumentasikan bukti fisik.Tika berdiri di samping tumpukan ban truk yang tingginya mencapai pinggang orang dewasa.Tangan wanita itu bergerak menurunkan resleting dasternya dari arah kerah leher."Apa yang kau lakukan?" tegur Leo menghentikan bidikan kameranya."Membayar lunas perlindungan yang Anda janjikan," jawab Tika membiarka
Leo menurunkan pandangannya menatap koper lusuh di dekat kaki Tika."Kau membawa seluruh sisa hidupmu dalam satu koper kecil itu," observasi Leo."Saya tidak memiliki harta benda. Semua rekening bank dipegang secara sepihak oleh suamiku," jawab Tika.Leo melangkah mendekati meja kaca administrasi.Tangannya menarik kursi tunggu berbahan besi ke arah wanita tersebut."Duduk!” seru Leo singkat.Tika mematuhi instruksi itu tanpa bantahan. Dia mendaratkan tubuhnya di atas kursi.Leo mengambil senter medis kecil dari saku jas putihnya.Pria itu menyalakan cahaya putih dan menyorotkannya tepat ke arah pelipis kanan Tika."Pembengkakan ini berumur kurang dari empat jam," diagnosis Leo memindai gradasi warna memar tersebut. "Ini benturan tumpul dari kepalan tangan pria dewasa."Tika memalingkan wajahnya sedikit menghindari silau cahaya senter."Juragan Maman mengamuk setelah pulang dari jembatan. Dia memukuli saya karena lauk makan malam terlambat dihidangkan," lapor Tika dengan nada hampa."
Tubuh tambun Juragan Maman jatuh berguling ke atas debu tanah perbatasan.Tangan pria itu mencengkeram lutut kanannya sambil terus berteriak kesakitan. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras membasahi wajah dan lehernya yang berlipat."Cabut jarum gila ini!" raung Maman menendangkan kaki kirinya ke udara. "Kalian diam saja? Bunuh dokter bedebah ini!"Sepuluh preman berwajah garang itu hanya mematung. Tangan mereka gemetar memegang gagang golok tanpa niat menyerang.Ketakutan melihat bos mereka takluk oleh tiga bilah jarum perak jauh mengalahkan nyali jalanan mereka. Mereka tidak mengerti ilmu medis macam apa yang baru saja digunakan sang dokter."Diagnosisku terbukti dalam hitungan menit," Leo menjelaskan anatomi rasa sakit itu dengan nada datar.Pria berjas putih itu menatap tumpukan sate daging di atas panggangan arang yang kini ditinggalkan."Tumpukan zat purin dari daging kambing itu memicu serangan asam urat paling parah di lututmu saat ini."Maman mengerang panjang hingga u
Malam merangkak semakin larut, membawa serta hawa dingin sisa hujan sore tadi yang menusuk pori-pori. Namun, suhu di dalam rumah kayu sederhana milik Maya justru terasa seperti mendidih.Dari balik bilik kamar yang hanya dibatasi anyaman bambu tipis, terdengar dengkuran halus Kania. Gadis belia itu
Terik matahari menjelang siang mulai memanggang tanah lapang di depan pos penimbangan teh. Belasan warga desa berdiri tertunduk dengan wajah putus asa, menatap keranjang-keranjang anyaman berisi pucuk teh hijau mereka yang kini tak ada harganya."Timbang yang benar! Ini tehnya sudah basah, potong l
Kania berlari membelah rintik sisa hujan pagi, napasnya terengah-engah saat ia mendorong pintu kayu rumah dengan kasar.Di belakangnya, Sekar mengekor dengan wajah bingung dan selendang batik yang melilit bahu sintalnya."Dokter... hah... Tante Sekar sudah kubawa," ucap Kania ngos-ngosan.Dada gadi
Malam semakin larut menyelimuti desa kebun teh. Hujan rintik-rintik yang turun sejak sore tadi kini berubah menjadi gerimis tipis. Leonardo Xaverius bangkit perlahan dari atas balai-balai bambunya, memastikan Kania dan Maya sudah tertidur pulas.‘Tidurlah yang nyenyak, wanita-wanitaku,’batin Leo sa







