Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Maya Yang Insecure

Share

Maya Yang Insecure

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-04-25 14:02:48

Tirto berbalik dengan langkah mengentak kasar, meninggalkan lapangan pos penimbangan dengan wajah merah padam.

Jono dan sisa preman bayarannya mengekor pergi dengan ekor terselip di antara kedua kaki mereka, tak berani menatap sorot mata mematikan dari Leonardo.

"Hidup Dokter Leo! Hidup Mandor Sekar!" sorak warga desa seketika pecah, menggema membelah perbukitan teh.

Ancaman yang sangat kekanak-kanakan, batin Leo sambil menyeringai tipis melihat punggung sang Kepala Desa yang menjauh. Bawalah s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Gadis Kota Yang Penasaran

    Suara pecahan asbak kristal itu terdengar hingga ke lorong luar. Pintu ruang direktur mendadak didorong paksa dari luar, memunculkan sosok Siska yang membelalak kaget melihat kekacauan di hadapannya."Ayah! Ada apa ini? Kenapa ruang kerja Ayah hancur berantakan?" seru Siska panik, berlari mendekati Juragan Darmo yang masih terengah-engah dengan wajah merah padam."Tamat sudah, Siska! Pabrik kita diboikot total oleh seluruh pedagang di kecamatan!" raung Darmo frustasi, menjambak rambutnya sendiri yang mulai menipis."Diboikot? Bagaimana mungkin? Ayah memegang monopoli distribusi teh terbesar di seluruh wilayah ini!" bantah gadis kuliahan itu tak percaya."Pria berjaket kulit itu... Dokter keparat dari desa teh itu yang menghancurkan kita! Dia membanjiri pasar dengan teh sialan yang kualitasnya seratus kali lebih bagus dari buatan pabrik kita!" umpat Darmo, membanting tumpukan dokumen ke lantai dengan kasar.Siska mematung. Wajah arogan dan

  • Rayuan Desa Wanita   Leo Mengguncang Pasar

    Perintah sang raja desa dieksekusi tanpa celah. Malam itu juga, puluhan toples kaca kedap udara telah tersusun rapi di dalam gudang, mengunci rapat aroma surgawi dari teh yang disangrai langsung oleh tangan sang dewa bedah.Menjelang subuh, sebelum matahari sempat memecah kabut tebal, Leo sudah berdiri tegak di depan balai desa. Di hadapannya, terparkir belasan motor trail dan tiga mobil pikap kecil milik warga yang sudah dimodifikasi."Truk besar kita diblokir total di jalan utama, Tuan. Bagaimana cara kita membawa ratusan toples ini ke pasar kecamatan?" lapor Sekar dengan napas yang mengepul di udara dingin."Siapa yang bilang kita akan melewati jalan utama dan menantang anjing-anjing Darmo secara langsung?" seringai Leo mematikan, mengusap kap salah satu pikap dengan santai."Maksud Dokter Leo, kita lewat jalur tikus?" tebak Pak Joko dengan mata berbinar."Tepat. Jalan setapak melintasi lereng utara. Truk besar Darmo tidak akan bisa ma

  • Rayuan Desa Wanita   Tunangan Siska Yang Mengamuk

    Pukulan mungil Siska di punggung lebar Leonardo sama sekali tidak berarti. Sang dewa bedah terus melangkah menembus malam dengan langkah panjang dan kokoh, memanggul mahasiswi kota itu layaknya barang rampasan perang yang paling berharga."Turunkan aku, Keparat! Kau bisa dipenjara seumur hidup karena penculikan!" jerit Siska dengan sisa-sisa suaranya yang mulai serak, memukul-mukul punggung Leo dengan tangan terikat."Ini bukan penculikan. Ini pengamanan aset desa dari mata-mata industri," jawab Leo datar, menendang pintu kayu rumah Maya hingga terbuka lebar.Maya dan Sekar yang sedang merapikan buku catatan timbangan di ruang tengah terlonjak kaget. Mata kedua wanita itu membelalak melihat raja mereka pulang membawa putri musuh terbesar desa."Tuan Leo? Bukankah itu Siska, anak perempuan Juragan Darmo?" pekik Sekar tak percaya, langsung berdiri menyambut."Siapkan kamar kosong di sebelah ruang tamu, Sekar. Kita punya tamu istimewa yang butuh 'perawatan' medis khusus malam ini," perin

  • Rayuan Desa Wanita   Tungku

    Semburat fajar memecah kabut tebal yang menyelimuti klinik desa. Pintu kayu berderit pelan, memunculkan sosok Leonardo Xaverius yang melangkah keluar dengan wibawa mutlak, diikuti Bidan Ayu yang menunduk patuh dengan wajah memerah dan napas teratur.Penaklukan ekstrem semalam telah mengubah sang gadis idealis itu menjadi abdi yang sepenuhnya takluk."Udara pagi yang sempurna untuk membakar kesombongan," gumam Leo dengan suara bariton yang berat, menatap kepulan asap yang mulai membumbung dari lahan kosong di belakang gudang."Tuan, warga sudah bersiap sejak subuh. Tungku-tungku tanah liat yang Tuan perintahkan sudah berdiri tegak," lapor Ayu dengan suara lembut, berjalan setengah langkah di belakang Leo layaknya asisten pribadi yang patuh."Bagus. Mari kita tunjukkan pada mereka keajaiban dari sepasang tangan ini," seringai Leo maskulin.Setibanya di belakang gudang, hawa panas langsung menyengat kulit. Belasan tungku raksasa dari tanah liat dan batu bata berjejer rapi. Ratusan keranj

  • Rayuan Desa Wanita   Menyeduh Rencana di Ruang Medis

    Punggung kokoh Leonardo Xaverius menghilang dari balik pintu kaca pabrik, meninggalkan benih penasaran yang tajam di benak Siska. Tanpa menoleh lagi, sang dewa bedah memacu Jeep rampasannya membelah jalanan berbatu, kembali menuju teritori kekuasaannya.Setibanya di halaman balai desa menjelang sore, kerumunan warga sudah menanti dengan wajah tegang. Sekar dan Maya berdiri di garis depan, menatap harap-harap cemas ke arah kendaraan yang baru saja berhenti itu."Bagaimana negosiasinya, Tuan Leo? Apakah Juragan Darmo bersedia membuka blokir truknya?" tanya Sekar buru-buru, bahkan sebelum Leo mematikan mesin.Leo melompat turun dari Jeep dengan gerakan maskulin, mengibaskan debu dari jaket kulitnya dengan tenang."Tidak ada negosiasi. Pria tua buncit itu menawarkan harga sampah untuk keringat kalian," jawab Leo datar, suaranya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan."Lalu bagaimana nasib daun teh kita, Dokter?! Besok daun-daun itu akan mulai layu dan membusuk!" seru Pak Joko panik,

  • Rayuan Desa Wanita   Kunjungan ke Wilayah Sang Juragan

    Deru mesin Jeep tua rampasan itu membelah jalanan berbatu menuju pusat kecamatan. Angin pagi menampar keras kaca depan, namun tak sedikit pun menggeser ketenangan absolut di wajah Leonardo Xaverius."Kita sudah sampai di kawasan kekuasaan Juragan Darmo, Tuan," lapor Ratih yang duduk di kursi penumpang depan. Tangannya menunjuk sebuah kompleks bangunan pabrik berpagar besi tinggi."Pabrik yang lumayan besar untuk ukuran lintah darat kelas teri," cibir Leo santai, memutar kemudi dan memarkirkan Jeep itu tepat di depan gerbang utama tanpa ragu."Pabrik ini dijaga ketat, Tuan. Ada belasan preman keamanan di pos depan," bisik Ayu dari kursi belakang, merapatkan pelukan pada tas medisnya dengan cemas."Seorang raja tidak pernah masuk melalui pintu belakang, Ayu. Turun sekarang," perintah Leo mutlak. Pria itu mematikan mesin dan melompat turun dengan gaya maskulin yang memancar kuat.Tiga preman bertubuh kekar langsung menghadang langkah mereka di depan pintu kaca kantor utama. Namun, tatapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status