ANMELDENPintu pagar bambu kembali memunculkan suara gesekan pelan dari luar.Nadia melangkah masuk membawa sebuah map plastik berwarna merah. Mantan inspektur provinsi itu menghentikan langkahnya melihat Diana tergeletak tanpa busana di atas batu datar."Saya membawa salinan pencabutan izin proyek komersial untuk Firma Tata Graha, Tuan," lapor Nadia datar.Nadia menatap lurus tubuh lemas arsitek elit tersebut tanpa ekspresi terkejut.Leo melempar handuk putih basahnya ke lantai batu."Berikan dokumen pembatalan itu padanya," perintah Leo mengambil kemeja linen hitamnya dari gantungan.Nadia berjalan mendekati undakan kolam dan menjatuhkan map itu tepat di samping kepala Diana.Diana tidak berusaha menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya. Wanita kota itu terlalu kehabisan tenaga bahkan untuk bergeser sejengkal pun dari posisinya."Kau tidak perlu bersusah payah membatalkan izinku, Inspektur Nadia," bisik Diana dengan suara serak.Arsitek elit itu menoleh menatap pergerakan tangan Leo yang
Bunyi retakan tulang terdengar pelan teredam genangan air belerang. Diana melebarkan rahangnya meraup udara kosong."Saraf lumbalmu sangat kaku," ucap Leo melepaskan tekanannya. "Terapi sesungguhnya dilakukan saat suhu malam mendingin."Lampu lampion menyala menerangi kolam VIP. Suara jangkrik menggantikan deru mesin alat berat yang telah pergi.Diana duduk bersandar pada dinding batu sedalam leher. Arsitek elit itu tidak mengenakan sehelai benang pun.Leo melangkah turun menapaki undakan semen. Pria itu menanggalkan kemejanya, menyisakan celana kain hitam ketat."Tuan, rasa sakit tulang ekorku kembali," lapor Diana bergetar.Keangkuhannya sebagai pengembang properti kota lenyap tak tersisa di hadapan sang dokter."Berbaliklah menghadap dinding batu," perintah Leo mutlak.Diana memutar tubuhnya susah payah. Air panas beriak menabrak dada polos wanita itu.Leo menyusupkan lutut kanannya di antara kaki Diana. Pria itu memberikan pijakan kokoh agar pasiennya tidak merosot."Manipulasi sa
Tangan kiri Diana mencengkeram pinggang kemeja sutranya. Hak sepatunya tergelincir menabrak bebatuan kerikil jalan setapak. "Nyonya Diana!" seru dua asisten berjas hitam itu serempak. Mereka membuang sabak digitalnya dan menjulurkan tangan. Diana menepis tangan kedua pria itu dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" Wanita kota itu memaksakan kakinya berdiri tegak. Ujung bibirnya bergetar hebat menahan siksaan fisik di balik pakaian mahalnya. "Kau memaksakan struktur tulang belakangmu," ucap Leo memecah keributan kecil tersebut. Leo melangkah satu tindak mendekati arsitek itu. Matanya memindai garis kaku di balik kemeja sutra putih Diana. "Aku hanya salah urat," kilah Diana memalingkan wajahnya. "Tanah di desamu ini terlalu bergelombang." "Korset pembentuk tubuh," potong Leo tanpa basa-basi. "Bahan serat kawatnya menekan tulang rusuk bawahmu terlalu kuat." Mata Diana membelalak lebar. Ia merapatkan kedua lengannya ke perut secara refleks. "Itu bukan urusanmu," desis Diana m
Leo memutar pena peraknya di atas meja kerja mahoni. Asap tipis mengepul lambat dari cangkir kopi hitam di sisi kanannya.Suara deru mesin berkapasitas besar bergemuruh di pelataran Puskesmas Elite. Sebuah SUV putih mengkilap berhenti tepat di dekat gerbang masuk.Kania mengintip dari balik tirai jendela ruang VIP. Gadis desa itu mengerutkan keningnya melihat logo perusahaan properti menempel di pintu mobil tersebut."Ada tamu dari kota kabupaten, Tuan," lapor Kania menoleh ke arah Leo. "Mereka tidak masuk ke lobi, tapi langsung berjalan menuju jalur bukit belakang."Leo berdiri dan mengambil jas dokter putihnya dari sandaran kursi. Pria itu melangkah keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Sepatu bot kulit Leo menapaki jalan setapak berbatu menuju area pemandian VIP. Bau belerang murni tercium semakin pekat di udara pagi.Seorang wanita berpenampilan modis berdiri berkacak pinggang di depan pagar anyaman bambu. Ia mengenakan kemeja sutra putih ketat dan rok pensil hitam ya
Ujung sepatu kulit Leo melesat menendang benda plastik hitam itu. Tutup lensa tersebut terpental keras menabrak dahi wartawan yang sedang menunduk."Aduh!" keluh pria berbaju kotak-kotak itu menarik kepalanya ke belakang.Tangannya refleks memegangi dahi yang memerah akibat benturan tajam tersebut.Leo merapatkan kedua lututnya, menutupi celah kolong meja mahoni sepenuhnya. Pria itu menatap tajam para penyusup di ruangannya tanpa rasa takut."Jaga etika Anda di ruang kerja medis saya," desis Leo datar.Wartawan itu mengusap dahinya sambil memungut tutup lensa yang tergeletak di dekat kaki kursi. Ia kembali duduk dengan raut wajah sangat kesal."Anda menyembunyikan Nona Bella di fasilitas ini," tuduh wartawan itu menaikkan volume suaranya. "Kami akan membongkar semua kebohongan Anda ke publik Megantara."Leo meraih telepon genggam hitam dari atas meja kaca. Ia menekan layar sentuh itu beberapa kali mencari kontak.Bella menahan napas di bawah meja. Jantungnya berpacu liar menunggu nasi
Leo menepis lensa kamera itu menggunakan punggung tangannya. Bunyi benturan plastik keras menggema nyaring di lorong bangsal timur."Jangan mengganggu staf kebersihanku," tegur Leo menatap tajam wartawan berbaju kotak-kotak itu. "Jika kalian butuh berita, masuk ke ruang kerjaku sekarang."Pria berbaju kotak-kotak itu menurunkan kameranya dengan ragu. Ia memberi kode pada ketiga rekannya untuk mengikuti langkah sang dokter desa."Kau, bersihkan tumpahan kopi di bawah meja kerjaku," perintah Leo melirik Bella.Bella mengangguk kaku menutupi ketakutannya. Wanita itu menyeret tongkat pelnya menyusul langkah mereka dari belakang menuju ruang VIP.Ruang kerja Leo cukup luas menampung lima orang dewasa. Meja kayu mahoni besar mendominasi bagian tengah ruangan tersebut.Kania melangkah masuk membawa nampan berisi botol air mineral. Gadis desa itu meletakkannya di atas meja kaca kecil."Duduklah di sana," tunjuk Leo pada sofa panjang kulit di seberang mejanya.Bella merangkak pelan masuk ke ko