ログインDeru mesin sedan hitam itu terdengar menyedihkan, merayap pelan meninggalkan kompleks pabrik yang kini dikuasai buruh beringas.Di kursi belakang, Juragan Darmo duduk gemetar dengan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya."Cepatlah sedikit, Sopir! Kau mau kita mati dikeroyok mereka?!" bentak Darmo dengan suara seraknya.Di sebelahnya, sesosok wanita muda bergaun sutra ketat menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Ratna, istri muda sang juragan, melipat tangan di bawah dada sintalnya yang sengaja ditonjolkan untuk memikat pandangan."Sebenarnya ada apa ini, Mas Darmo? Kenapa kita harus kabur dan pergi ke desa udik itu?" keluh Ratna dengan nada manja namun terselip rasa muak yang pandai ia sembunyikan."Kita tidak kabur, Ratna. Kita sedang menuju satu-satunya jalan keselamatan," jawab Darmo putus asa, mengusap wajahnya yang pucat. "Bank akan menyita pabrik dan seluruh aset kita besok pagi. Kita resmi bangkrut total.""Bangkrut?! Lalu bagaimana dengan jatah bulananku?!" pekik R
Pintu kamar tamu itu terbuka perlahan. Suara derit engselnya terdengar seperti palu godam yang menghantam jantung Rio di ruang depan.Leonardo Xaverius melangkah keluar lebih dulu, memancarkan ketenangan absolut tanpa sehelai pun benang yang kusut. Di belakangnya, Siska menyusul dengan langkah yang sedikit tertatih.Mahasiswi kota itu tampak berantakan; wajahnya memerah matang, rambutnya acak-acakan, namun matanya memancarkan ketundukan yang luar biasa saat menatap punggung Leo."Siska! Apa yang bajingan ini lakukan padamu?!" jerit Rio histeris, berlari menerjang maju namun terhenti oleh tatapan membunuh sang dewa bedah."Jaga nada bicaramu di rumahku, Tuan Muda," peringat Leo dengan suara bariton yang dingin. "Tawanan ini baru saja mengakui semua kesalahannya setelah kuinterogasi secara mendalam.""Kau pasti menyiksanya! Siska, Sayang! Ayo kita pulang sekarang! Aku membawa mobil di depan!" ajak Rio dengan mata berkaca-kaca, mengulurkan tangannya pada sang tunangan.Namun, pemandangan
Rio melangkah masuk ke dalam ruang tamu rumah kayu itu dengan langkah sangat kaku. Arogansinya sebagai tuan muda kota telah menguap separuh, namun gengsinya masih memaksa pemuda itu membusungkan dada dan menatap tajam ke sekeliling ruangan."Duduk dan diamlah di situ, Tuan Muda," perintah Leo dengan suara bariton yang berat dan berwibawa. "Maya, tuangkan secangkir teh panas untuk tamu kita. Aku akan memeriksa tawanan di kamar sebelah.""Pastikan kau tidak menyentuhnya, Bajingan! Atau ayahku akan memenjarakanmu seumur hidup!" ancam Rio dengan suara bergetar, menjatuhkan pantatnya ke atas kursi rotan dengan kasar.Leo hanya memberikan seringai meremehkan tanpa membalas ancaman murahan itu. Pria itu melangkah menuju pintu kamar tamu yang letaknya hanya berjarak lima langkah dari tempat Rio duduk. Begitu pintu dibuka, sosok Siska langsung terlihat mundur merapat ke sudut dinding.Klik.Suara kunci yang diputar dari dalam membuat darah gadis kuliahan itu tersirap. Wajahnya pucat pasi seket
Suara pecahan asbak kristal itu terdengar hingga ke lorong luar. Pintu ruang direktur mendadak didorong paksa dari luar, memunculkan sosok Siska yang membelalak kaget melihat kekacauan di hadapannya."Ayah! Ada apa ini? Kenapa ruang kerja Ayah hancur berantakan?" seru Siska panik, berlari mendekati Juragan Darmo yang masih terengah-engah dengan wajah merah padam."Tamat sudah, Siska! Pabrik kita diboikot total oleh seluruh pedagang di kecamatan!" raung Darmo frustasi, menjambak rambutnya sendiri yang mulai menipis."Diboikot? Bagaimana mungkin? Ayah memegang monopoli distribusi teh terbesar di seluruh wilayah ini!" bantah gadis kuliahan itu tak percaya."Pria berjaket kulit itu... Dokter keparat dari desa teh itu yang menghancurkan kita! Dia membanjiri pasar dengan teh sialan yang kualitasnya seratus kali lebih bagus dari buatan pabrik kita!" umpat Darmo, membanting tumpukan dokumen ke lantai dengan kasar.Siska mematung. Wajah arogan dan
Perintah sang raja desa dieksekusi tanpa celah. Malam itu juga, puluhan toples kaca kedap udara telah tersusun rapi di dalam gudang, mengunci rapat aroma surgawi dari teh yang disangrai langsung oleh tangan sang dewa bedah.Menjelang subuh, sebelum matahari sempat memecah kabut tebal, Leo sudah berdiri tegak di depan balai desa. Di hadapannya, terparkir belasan motor trail dan tiga mobil pikap kecil milik warga yang sudah dimodifikasi."Truk besar kita diblokir total di jalan utama, Tuan. Bagaimana cara kita membawa ratusan toples ini ke pasar kecamatan?" lapor Sekar dengan napas yang mengepul di udara dingin."Siapa yang bilang kita akan melewati jalan utama dan menantang anjing-anjing Darmo secara langsung?" seringai Leo mematikan, mengusap kap salah satu pikap dengan santai."Maksud Dokter Leo, kita lewat jalur tikus?" tebak Pak Joko dengan mata berbinar."Tepat. Jalan setapak melintasi lereng utara. Truk besar Darmo tidak akan bisa ma
Pukulan mungil Siska di punggung lebar Leonardo sama sekali tidak berarti. Sang dewa bedah terus melangkah menembus malam dengan langkah panjang dan kokoh, memanggul mahasiswi kota itu layaknya barang rampasan perang yang paling berharga."Turunkan aku, Keparat! Kau bisa dipenjara seumur hidup karena penculikan!" jerit Siska dengan sisa-sisa suaranya yang mulai serak, memukul-mukul punggung Leo dengan tangan terikat."Ini bukan penculikan. Ini pengamanan aset desa dari mata-mata industri," jawab Leo datar, menendang pintu kayu rumah Maya hingga terbuka lebar.Maya dan Sekar yang sedang merapikan buku catatan timbangan di ruang tengah terlonjak kaget. Mata kedua wanita itu membelalak melihat raja mereka pulang membawa putri musuh terbesar desa."Tuan Leo? Bukankah itu Siska, anak perempuan Juragan Darmo?" pekik Sekar tak percaya, langsung berdiri menyambut."Siapkan kamar kosong di sebelah ruang tamu, Sekar. Kita punya tamu istimewa yang butuh 'perawatan' medis khusus malam ini," perin







