Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Menyeduh Rencana di Ruang Medis

Share

Menyeduh Rencana di Ruang Medis

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-05-04 14:42:58

Punggung kokoh Leonardo Xaverius menghilang dari balik pintu kaca pabrik, meninggalkan benih penasaran yang tajam di benak Siska. Tanpa menoleh lagi, sang dewa bedah memacu Jeep rampasannya membelah jalanan berbatu, kembali menuju teritori kekuasaannya.

Setibanya di halaman balai desa menjelang sore, kerumunan warga sudah menanti dengan wajah tegang. Sekar dan Maya berdiri di garis depan, menatap harap-harap cemas ke arah kendaraan yang baru saja berhenti itu.

"Bagaimana negosiasinya, Tuan Leo?
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Bukti Dedikasi Siska

    Lampu neon di ruang direktur pabrik berpendar pucat, membelah kegelapan malam yang telah menyelimuti wilayah kecamatan.Di balik meja jati raksasa yang dulu menjadi simbol kesombongan Juragan Darmo, Leonardo Xaverius duduk dengan tenang. Pria itu menyandarkan punggung kokohnya, menatap tumpukan berkas yang baru saja selesai ia tinjau."Tuan, ini laporan pembukuan terakhir untuk pengiriman ke provinsi," suara lembut namun bergetar menyapa indra pendengaran Leo.Siska melangkah masuk dengan sangat anggun. Rok pensil hitamnya yang ketat menonjolkan lekuk pinggulnya, sementara kemeja putihnya yang kancing teratasnya sengaja dibiarkan terbuka memberikan kesan provokatif yang halus. Ia meletakkan map merah di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar."Duduklah, Siska. Aku tidak suka berbicara dengan orang yang berdiri di depanku seolah-olah mereka siap untuk lari," perintah Leo dengan suara bariton yang berat dan penuh wibawa."B-baik, Tuan Leonardo," jawab Siska patuh. Ia segera duduk

  • Rayuan Desa Wanita   Cetak Biru Puskesmas Elite

    Deru mesin Jeep rampasan itu kembali membelah jalanan tanah menuju pusat desa. Setelah meninggalkan teror absolut di pabrik kecamatan, Leonardo Xaverius pulang dengan wibawa seorang kaisar yang baru saja memperluas wilayah taklukannya.Begitu Jeep berhenti di halaman balai desa, Pak Joko langsung berlari menyambut dengan napas terengah-engah. Wajah pria paruh baya itu merah padam, dipenuhi euforia yang meluap-luap."Dokter Leo! Tuan sudah kembali!" sambut Pak Joko, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Kabar luar biasa, Tuan! Utusan Tuan Hendra dari provinsi baru saja pergi. Pembayaran teh kita dilunasi secara tunai dan transfer!""Berapa total yang masuk ke brankas kita hari ini, Joko?" tanya Leo datar, melompat turun dari kemudi dengan gerakan maskulin.Maya muncul dari pintu rumah kayunya, membawa sebuah buku tabungan tebal dan tas koper hitam. Wajah janda kembang itu berseri-seri, matanya berbinar menatap pria dominan di hadapannya."Totalnya nyaris menyentuh angka sepuluh miliar, T

  • Rayuan Desa Wanita   Kau Sadar Sedang Berurusan Dengan Siapa?!

    Kilatan bilah pisau lipat itu memantulkan cahaya lampu ruang direktur. Preman berotot di sebelah kanan Beni menerjang maju dengan kecepatan penuh, berniat merobek dada sang dewa bedah yang dianggapnya hanya seorang dokter kampung."Mati kau, Dokter sialan!" raung preman itu, mengayunkan pisaunya secara brutal.Namun, di mata seorang jenius medis seperti Leonardo Xaverius, gerakan preman jalanan itu terlihat selambat siput dan penuh celah. Leo sama sekali tidak mundur. Pria itu hanya memiringkan bahunya beberapa sentimeter, membiarkan ujung pisau itu lewat tanpa menyentuh sehelai pun kemejanya."Kuda-kudamu terlalu lebar. Titik beratmu hancur," cibir Leo dengan suara bariton yang teramat dingin.Secepat kilat, dua jari kokoh Leo mematuk keras ke arah pangkal ketiak preman tersebut."Saraf Plexus Brachialis. Tekanan empat puluh kilogram," desis Leo mendiagnosis serangannya sendiri.Takk!"Aaaargh!" Preman itu menjerit histeris. Pisau lipat di tangannya jatuh bergemerincing ke lantai. Se

  • Rayuan Desa Wanita   Utusan dari Kabupaten

    Ruang direktur utama itu kini terasa jauh lebih luas dan berwibawa setelah patung-patung murahan milik Darmo disingkirkan. Leonardo Xaverius duduk bersandar di kursi kulit kebesarannya, memancarkan aura seorang kaisar yang baru saja naik takhta."Semua dokumen pemecatan Hasan dan antek-anteknya sudah saya proses secara hukum, Tuan Leonardo," lapor Siska dengan nada suara yang sangat patuh.Mantan mahasiswi sombong itu berdiri di samping meja kerja, mengenakan rok pensil ketat dan kemeja putih yang mencetak lekuk tubuhnya. Tangannya dengan telaten menuangkan secangkir teh panas untuk sang raja."Kerja bagus, Sekretaris Siska," puji Leo dengan suara bariton yang berat, menyesap tehnya perlahan. "Bagaimana dengan jalur distribusi kita ke ibu kota provinsi?""Tuan Hendra sudah mengirimkan lima truk tambahan pagi ini. Semuanya berjalan sangat lancar, Tuan," jawab Siska, matanya tak bisa lepas dari rahang kokoh Leo.Namun, kedamaian di hari pertama itu tak bertahan lama. Suara derit rem mob

  • Rayuan Desa Wanita   Pembersihan Kandang Tikus

    Sorak-sorai kemenangan di lapangan balai desa telah berlalu, digantikan oleh fajar baru yang membawa angin perubahan tajam. Deru mesin Jeep rampasan itu membelah jalanan aspal kecamatan, berhenti tepat di depan gerbang utama Pabrik Teh Pengolahan yang kini telah berganti kepemilikan."Kita sudah tiba di kerajaan barumu, Tuan Leonardo," lapor Sekar seraya mematikan mesin, menatap bangga pada bangunan raksasa di hadapan mereka."Ini baru sekadar pos jaga, Sekar. Kerajaanku yang sesungguhnya baru akan dimulai hari ini," balas Leo dengan suara bariton yang berat dan maskulin. Pria itu melompat turun dari kursi depan tanpa keraguan sedikit pun.Dari pintu belakang, Siska bergegas turun. Mahasiswi kota yang dulunya sangat arogan itu kini mengenakan kemeja putih rapi dan rok pensil ketat, membawa tas dokumen layaknya abdi yang setia."Biar saya bawakan jaket kulit Anda, Tuan," ucap Siska menunduk patuh, kedua tangannya terulur sopan.Leo hanya mengangguk pelan. Ketiganya melangkah membelah h

  • Rayuan Desa Wanita   Raja Teh Yang Baru

    Pintu kayu tebal ruang belakang balai desa berderit terbuka, memecah ketegangan yang sejak tadi menyiksa Juragan Darmo. Lintah darat itu langsung terlonjak dari kursi tunggunya, mengabaikan lututnya yang masih bergetar parah akibat ketakutan."Bagaimana hasilnya, Ratna? Katakan padaku kau berhasil membujuknya! Bank tidak akan memberi kita waktu lagi besok pagi!" serbu Darmo tak sabar, wajah buncitnya dibanjiri peluh keputusasaan.Leonardo melangkah keluar lebih dulu, mengabaikan kepanikan musuhnya. Pria itu tampak sangat santai. Kemeja linennya sedikit kusut dan dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memancarkan aura kejantanan maskulin yang baru saja terpuaskan secara absolut."Dokter Leo, apakah tikus kecamatan ini masih mencoba melawan?" tanya Pak Joko yang sedari tadi berjaga ketat di teras bersama pemuda desa lainnya."Tikus ini sudah kehilangan semua giginya, Joko. Dia hanya datang kemari untuk mengemis dan menyerahkan sisa-sisa bangkai kerajaannya," jawab Leo dengan bariton

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status