Beranda / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Mempermalukan Di Hadapan Publik

Share

Mempermalukan Di Hadapan Publik

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-05-12 15:32:26

"Enam puluh detik dimulai dari sekarang, Tuan Leonardo!" seru Bidan Ayu sambil menekan tombol stopwatch di ponselnya. Suara gadis berhijab itu melengking tegas, sepenuhnya terbawa oleh dominasi sang dewa bedah.

Mendengar hitungan mundur itu, wajah dr. Herman merah padam. Gengsinya sebagai dokter spesialis senior dari kabupaten merasa diinjak-injak hingga rata dengan tanah.

"Kau pikir trik murahan menghitung mundur itu bisa mengintimidasiku?!" geram Herman dengan urat leher menonjol. Ia berbalik
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rayuan Desa Wanita   Bilik Dekontaminasi

    Sepatu pantofel Leo menginjak lantai epoksi laboratorium utama Pabrik Farmasi Kimia Raya.​Pria itu melangkah melewati deretan mesin sentrifugal yang masih berputar memproses cairan kimia sintetik. Lampu neon putih memendarkan cahaya terang menyorot koridor panjang di area produksi obat tersebut.​Aroma klorin dan campuran amonia menyengat tajam di udara menandakan standar sterilisasi pabrik yang sangat buruk.​Di sudut ruang sterilisasi, Dokter Rosa berdiri tersudut membelakangi meja baja tahan karat.​Ahli farmakologi wanita itu mencengkeram erat sebuah tabung reaksi berisi serbuk putih di dada kirinya. Jas putih kebesaran miliknya terlihat kotor oleh noda debu dan bercak cairan kimia.​Dua penjaga berbadan gempal berseragam hitam menghalangi jalan keluarnya membawa tongkat kejut listrik.​"Serahkan sampel obat itu sekarang juga, Dokter Rosa!" bentak penjaga pertama menyalakan aliran listrik di ujung tongkatnya.​Suara gemeretak listrik bertegangan tinggi beradu dengan deru mesin di

  • Rayuan Desa Wanita   Monopoli Obat Sintetis

    Sisa abu pembakaran buku utang masih menempel di tepi sepatu pantofel Leo.​Pria itu baru saja menginjakkan kakinya kembali di lobi Rumah Sakit Terpadu. Karina segera menghampirinya dengan langkah tergesa membawa papan jadwal kerja.​"Stok obat anestesi dan antibiotik sintetis kita dihentikan paksa pengirimannya malam ini, Dokter," lapor Kepala Keperawatan itu menahan napas.​Laci penyimpanan farmasi yang berada di balik meja resepsionis terbuka lebar memperlihatkan rak baja kosong.Wanita berseragam putih itu menunjuk deretan kotak karton yang hanya berisi kemasan tanpa isi di sudut ruangan.​"Jadwal bedah trauma darurat terancam batal," tambah Karina merapikan letak kacamata kotaknya. "Obat herbal kita tidak diizinkan untuk pembiusan total pada prosedur operasi tulang besar."​Leo meletakkan pena logamnya ke atas meja tanpa mengubah ritme tarikan napasnya. Pria itu berjalan mendekati meja memeriksa sendiri tumpukan daftar inventaris farmasi yang tersisa.​"Siapa pihak yang berani me

  • Rayuan Desa Wanita   Lambung yang Bocor

    Suara pukulan benda keras pada dinding brankas baja memantul menyakitkan telinga di dalam ruang penyimpanan yang sempit. Udara pengap di dalam kotak besi itu semakin menipis digantikan oleh napas mereka yang memburu.​Leo perlahan menarik tangannya dari perut bawah Rika untuk mengakhiri manipulasi saraf pencernaan tersebut. Pria itu menahan kedua bahu sang penaksir gadai untuk menjaga agar tubuh wanita itu tidak merosot ke lantai.​Rika menarik napas meredam sisa lonjakan endorfin yang memanaskan aliran darahnya. Keringat membasahi kening dan lehernya menembus kerah kemeja kerjanya yang sederhana.​"Tetap di sini sampai aku membereskan masalah utang desa," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Rika dari lehernya.​Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita itu dan mengangkat kaki kanannya.​Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam panel pintu brankas baja dari arah dalam. Engsel kunci mekanik itu patah terlepas menghasilkan suara dentuman logam yang menggema d

  • Rayuan Desa Wanita   Brankas Barang Sitaan

    Sepatu pantofel Leo menginjak lantai beton ruko pegadaian di tengah riuhnya suara musik dangdut dari pasar malam.Pria itu menyelinap melewati celah pintu gulung baja yang dibiarkan setengah terbuka.​Dua penjaga berbadan besar berdiri membelakangi lorong memegang tongkat kayu pemukul kasti.​"Hitung ulang bunga utang desa sebelah," ucap penjaga pertama membuang puntung rokok ke lantai.​"Mereka selalu telat membayar cicilan bulan ini," balas penjaga kedua menginjak puntung rokok tersebut hingga padam.Leo memangkas jarak dua meter di belakang mereka tanpa menimbulkan suara langkah sedikit pun.​Dua jari tangan kanannya melesat ke depan menyerupai peluru menekan telak simpul saraf di leher belakang penjaga pertama.​Pria itu merosot jatuh ke ubin beton tanpa sempat mengeluarkan erangan. Penjaga kedua menoleh panik melihat rekannya tumbang begitu saja.​"Siapa kau?!" bentak penjaga kedua mengangkat tongkat kayunya.​Lengan kiri Leo bergerak mengunci pita suara pria itu dari arah depan

  • Rayuan Desa Wanita   Teror Bunga Mencekik

    Suara tangisan tertahan terdengar dari deretan bangku ruang tunggu perawat di lantai dasar Rumah Sakit Terpadu.​Puluhan perawat muda berseragam putih duduk menunduk menutupi wajah mereka dengan kedua tangan.Operasional bangsal rawat inap terganggu total pagi itu karena sebagian besar tenaga medis gagal memfokuskan pikiran pada pekerjaan mereka.​Leo berjalan menyusuri koridor memeriksa kondisi para pekerjanya dengan langkah kaki yang terukur.​"Ponsel mereka terus berdering menerima ancaman fisik dari komplotan penagih utang Pusat Pegadaian Gelap," lapor Karina mengikuti langkah Leo dari belakang.​Kepala Keperawatan itu menunjukkan layar ponsel yang menampilkan deretan pesan teror bernada kasar.​"Hampir separuh staf kita menjaminkan ijazah dan kendaraan mereka pada lintah darat itu," lanjut Karina merapikan kacamata kotaknya. "Bunga pinjaman mencapai lima ratus persen per bulan menjebak mereka dalam utang seumur hidup."​Keributan besar mendadak memecah kesunyian dari arah gerbang

  • Rayuan Desa Wanita   Suara yang Hilang

    Suara derap sepatu pantofel Burhan berputar gelisah di depan meja operator ruang siaran. Tangan pria itu terus memukulkan tiang penyangga mikrofon berbahan baja ke lantai beralas karpet tipis.​Hawa panas dari mesin pemancar di belakang lemari penyimpanan semakin mendidih menyengat kulit.​Leo perlahan menarik tangannya dari perut bagian atas Sisca untuk menghentikan manipulasi saraf diafragma tersebut. Pria itu menyentuh kedua bahu sang penyiar wanita menstabilkan posturnya yang masih gemetar.​Sisca meraup udara pengap itu dengan mulut terbuka meredam sisa-sisa lonjakan hormon endorfin di aliran darahnya.​"Tetap di sini sampai aku membersihkan hama media itu," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Sisca dari lehernya.​Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita tersebut dan mengangkat kaki kirinya.​Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam daun pintu lemari kayu dari arah dalam. Engsel rapuh itu patah seketika memicu ledakan serpihan kayu jati yang terlempa

  • Rayuan Desa Wanita   Satu Kasur Bertiga

    Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter

  • Rayuan Desa Wanita   Ayo Kita Tidur Bertiga

    Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta

  • Rayuan Desa Wanita   Berikan Tubuhmu!

    Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in

  • Rayuan Desa Wanita   Dapur Yang Panas Dan Menegangkan

    Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status