Masuk“Kamu bersih-bersih dulu,” kata Elvan setelah sampai di rumah.Lia menggangguk sebagai jawaban. Niatnya memang ingin langsung mandi dan ganti pakaian sesampainya di rumah. Meski tidak terjadi hal-hal tak diinginkan, tapi Lia merasa ingin segera membersihkan diri.“Kamu mau dimasakin sesuatu atau pesan anta raja?”Lia berhenti di depan pintu kamar sesaat. Saat ini ia tidak merasa lapar dan tidak nafsu makan, tapi perutnya harus diisi. “Aku ngikut kamu aja. Soalnya nggak tau mau makan apa, belum ada selera,” sahut Lia.“Aku masakin aja, pakai bahan yang ada di kulkas,” kata Elvan dan Lia tidak protes. Ia langsung masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi.Saat Lia keluar kamar mandi, aroma masakan tercium dari dapur. Lia urung kembali ke kamar dan mengalihkan langkah ke dapur.Elvan sedang di depan kompor sibuk dengan wajan ketika Lia mendekat.“Bikin apa?” tanya Lia sambil menengok isi wajan.“Mi goreng seafood,” jawab Elvan.Meskipun Elvan tak menjawab, Lia su
Tugas dari Bu Elvira adalah mengantarkan penawaran ke CV. Adeera yang sebelumnya menghubungi untuk memesan sparepart untuk bengkel mereka. Sebelumnya CV Adeera pernah bekerjasama dengan perusahaan tempat Lia bekerja, tapi tiga bulan lalu kontrak berakhir dan tidak ada pesanan semenjak itu.Elvan adalah sales yang sebelumnya bertanggung jawab mengurus pesanan dari Adeera, tapi kali ini Lia lah yang dipercaya. Kesibukan Elvan dengan pesanan besar ternyata berdampak baik ke Lia hingga bisa mendapatkan kesempatan menangani klien besar. Sebab pesanan dari CV Adeera sebelum ini tidak pernah sedikit.[Lia, kamu di mana?]Pesan masuk dari Elvan saat Lia di perjalanan menuju CV Adeera. Lia langsung membalas.[OTW ke Adeera. Adeera udah jadi klienku ya, jangan coba-coba ngerebut.]Lia langsung memperingatkan Elvan. Kalau kejadian lagi seperti sebelumnya klien Lia diambil Elvan, Lia tidak akan diam saja dan melakukan pembalasan langsung.[Balik deh, nggak usah ke situ. Itu kliennya susah, ribet
Sesuai perjanjian yang telah disepakati, Lia dan Elvan mencoba bersikap seperti biasa di kantor. Jarang berinteraksi dan masih bersaing seperti hari-hari sebelumnya. Lia masih menganggap Elvan saingan terbesarnya di kantor dan berusaha menjaga gelar sales terbaik yang berhasil didapatkannya bulan lalu.Di rumah mereka juga jarang berinteraksi. Setelah pulang kantor, biasanya Lia langsung masuk kamar. Ia hanya keluar kalau ingin makan atau pergi ke kamar mandi.Lia jarang menghabiskan waktu di luar kamar karena masih kurang nyaman dengan Elvan, tapi jika Elvan memanggil untuk makan bersama Lia akan keluar. Sebab masakan Elvan enak sehingga Lia tidak akan melewatkannya.“Bulan ini aku akan mengalahkannya lagi,” ujar Lia pada Farah saat mereka makan siang bersama. Lia benar-benar harus menyemangati dirinya karena selama seminggu terakhir usahanya mendapatkan konsumen atau orderan besar tidak banyak berhasil.“Semangat yang bagus,” Farah memberi dukungan, mengerti kalau semangat Lia sedan
Lia lega karena Elvan mau makan spageti buatannya dan tidak mempermasalahkan pertengkaran mereka semalam.“Aku juga minta maaf. Semalam kita sama-sama lagi emosi dan capek,” ucap Elvan merespon permintaan maaf Lia. “Makasih untuk sarapannya. Nggak nyangka kamu bisa masak juga.”Lia memberengut. “Baru juga maaf-maafan udah ngajak berantem aja,” sahutnya kesal.Elvan mengangkat tangan. “Tahan dulu. Nggak ngajak berantem, tapi sebagai bentuk ekspresi kekaguman terhadap sesuatu yang kusangka tidak bisa kamu lakukan.”Kata-kata Elvan membuat Lia tertawa. “Lebay banget,” ujar Lia di sela-sela tawa.“Kamu lebih cakep kalau ketawa daripada marah loh.”Ucapan Elvan membuat Lia terdiam dan mengarahkan mata dengan tatapan curiga pada Elvan.“Kenapa, nggak senang dibilang cakep?” tanya Elvan takut-takut.Melihat Elvan yang gugup karena takut salah bicara, Lia tertawa.Elvan berdecak. “Serius, Lia. Becandamu itu nggak lucu,” keluh Elvan.“Tapi mukamu lucu,” sahut Lia yang masih tertawa.Elvan tida
“Kayaknya kita harus tinggal bersama mulai sekarang,” ujar Elvan.Lia tidak protes, karena memang itulah kenyataannya. Kalau Lia menolak yang ada malah jadi masalah baru lagi. Bahkan bisa membahayakan kesehatan Mama juga. Jadi, sama seperti Elvan, Lia hanya bisa pasrah.“Orangtua kita memang terlalu pemaksa,” kata Lia sambil memandangi koper dan barang-barangnya yang ada di tengah ruangan bersama koper dan ransel Elvan.“Kita aja yang terlalu penurut,” sahut Elvan pasrah diikuti tawa lelah.“Barangmu nggak banyak,” kata Lia sambil memandangi koper hitam Elvan yang berukuran 24 inch. “Hanya satu koper dan ransel.”Elvan mengikuti arah pandangan Lia. “Kosku nggak terlalu besar, jadi nggak bisa nyimpan banyak barang. Aku juga beberapa kali pindah kosan, lebih mudah kalau barangnya dikit.”Lia menoleh ke Elvan. “Kenapa pindah-pindah kosan? Nggak betah?” tanyanya.Elvan mengendikkan bahu. “Nyari yang murah.”Lia menatap Elvan penasaran. “Emang kamu kesulitan uang? Gajimu kan lumayan, bonus
Lia dan Elvan sepakat untuk langsung ke rumah pemberian orangtua mereka ketika sampai di Saranja. Mereka akan mengambil foto dan video call orangtua masing-masing untuk memperlihatkan kalau mereka sudah sampai di sana, lalu setelahnya pulang ke kos masing-masing.“Rumah ini cantik,” ucap Lia sambil memandangi rumah berlantai dua di depannya.Bangunan bergaya minimalis yang bagian luarnya dicat warna cokelat dan putih itu terlihat cantik di mata Lia. Sebab ia memang punya keinginan memiliki rumah seperti itu, bergaya minimalis dengan taman kecil yang bisa jadi tempat melepas penat.“Aku setuju, memang terlihat menawan bagian luarnya.” Elvan yang berdiri di samping Lia langsung setuju. “Ayo lihat dalamnya, ambil foto, lalu pulang.”Lia mengikuti langkah Elvan ke pintu depan. Rumah itu menggunakan smart lock dengan password tanggal pernikahan Lia dan Elvan. Ruang tamu didesain dengan gaya minimalis, menggunakan lantai ubin warna putih dan diberi karpet motif zigzag di bagian sofa cokelat







