LOGINSepanjang makan malam bersama itu Lia memberengut, tidak banyak bicara, dan hampir tidak menyentuh makanannya. Berbanding terbalik dengan Elvan yang makan dengan lahap seperti tidak ada masalah apa pun.
“Kok kamu masih bisa makan?” bisik Lia.
Elvan malah balik bertanya, “Kamu kenapa nggak makan?”
“Mana bisa makan,” sahut Lia sebal, tapi tetap berusaha berbicara dengan pelan. “Ortu kita mau jodohin kita. Kok kamu bisa sesantai ini?”
Elvan memandang Lia, lalu beralih ke para orangtua yang sedang makan sambil mengobrol. “Paling cuma bercanda,” ujar Elvan. “Lihat aja, sekarang mereka asyik membicarakan politik dan gossip artis. Mana ingat mereka soal jodoh-jodohan tadi.”
Berbeda dengan Elvan yang santai, Lia justru khawatir. “Gimana kalau serius?”
Elvan menelengkan kepala. “Ya, tinggal tolak. Kecuali kamu memang mau, bisa deh aku pertimbangkan.”
“Nggak sudi!” Lia menyahut dengan cepat, tapi Elvan tidak terlihat tersinggung.
“Nanti kalau ortumu nanya tinggal bilang nggak mau. Nggak mungkin dipaksa juga.”
Sahutan Elvan yang santai membuat Lia cukup tenang. Paling tidak, Lia tahu kalau Elvan tidak akan setuju dengan perjodohan ini. Kalau mereka berdua sama-sama menolak, pasti perjodohannya batal.
“Sudah, jangan kebanyakan mikir. Mending makan,” kata Elvan.
“Makan mulu yang dipikirin,” sahut Lia.
“Jangan salah, kalau nggak makan nggak bisa mikir,” ujar Elvan.
“Terserahlah,” sahut Lia, tapi diikutinya juga perkataan Elvan. Lia menambahkan lauk dan sayur ke piring, lalu makan.
Makan malam akhirnya berakhir. Lia sangat lega akhirnya bisa berada dalam mobil dan sedang dalam perjalanan pulang. Lia duduk di samping sopir dengan tenang sambil membalas pesan dari Milan.
“Lia, menurutmu Elvan gimana?”
Lia mendengkus. Jika bisa Lia tidak ingin menjawab pertanyaan Mama, tapi rasa hormatnya pada orangtua membuatnya menjawab, “Biasa aja.”
“Kok biasa aja?” tanya Mama.
“Karena memang biasa saja,” jawab Lia.
“Menurutmu Elvan nggak ganteng atau gimana gitu?” Mama masih gigih bertanya.
Lia jadi berpikir tentang Elvan. Kalau dilihat-lihat Elvan memang ganteng dengan rahang tegas, alis tebal, dan tatapan tajam. Selain itu, juga punya tubuh tinggi, tegap, dan atletis.
Waktu pertama jadi sales di divisi sparepart motor, Lia pernah kagum dengan penampilan Elvan. Namun, persaingan dengan Elvan membuat kekaguman itu perlahan menghilang.
“Elvan memang ganteng sih, tapi menurut Lia nggak istimewa. Biasa aja.”
“Kamu nggak suka?” selidik Mama.
“Nggak. Jadi, nggak usah jodoh-jodohin Lia lagi sama Elvan. Lia mau fokus karier dulu.” Penolakan Lia ternyata membuat Papa langsung bersuara, “Karier terus yang diutamakan. Ingat, Lia. Kamu itu perempuan. Kodrat perempuan itu jadi istri dan ibu, bukan jadi wanita karier.”
Lia terdiam selama beberapa detik, lalu ia membuka mulut untuk membela diri. “Perempuan tidak harus jadi istri dan ibu saja, tapi juga bisa punya karier yang bagus. Perempuan tidak harus memilih salah satu jika bisa memiliki keduanya.”
“Pandai bicara kamu,” sahut Papa.
“Selain pandai bicara, Lia juga ahli dalam bidang marketing, bisa membuat pembukuan dan akuntansi,” ujar Lia. “Papa aja yang nggak tahu dan nggak percaya kalau Lia punya kemampuan.”
“Kamu-“ Papa naik pitam mendengar ucapan Lia sementara Mama mencoba menengahi keadaan.
“Sabar, Pa. Lia kamu juga jangan ngomong macam-macam.”
“Lia cuma bicara apa adanya, Ma. Selama ini Papa nggak pernah ngakuin kemampuan Lia, kan?” Lia terus bicara meskipun Mama menyuruhnya diam. “Papa bahkan nggak mau kasih Lia kesempatan ngurus toko karena merasa Lia nggak mampu. Benar, ‘kan?”
“Kamu mau ngelawan Papa, hah?”
“Bukan ngelawan, Pa. Lia cuma mau jujur. Papa memang nggak pernah bangga sama Lia, ‘kan?”
“Sudah, Lia. Diam dulu,” pinta Mama.
Mobil berhenti di depan rumah, Lia langsung turun dan masuk ke rumah, lalu menuju kamarnya tanpa memedulikan suara Papa yang nyaring memanggil namanya.
Pintu kamar tertutup dengan suara nyaring dan dikunci rapat, Lia menjatuhkan diri di atas tempat tidur dan menangis.
Keesokan harinya, Lia bangun sebelum matahari terlihat. Masih jam empat pagi ketika Lia melihat jam di ponsel. Entah jam berapa Lia tertidur semalam, ia tidak mengingat jelas. Lia hanya tahu dia tertidur setelah lelah menangis.
Melihat penampilannya yang acak-acakan, Lia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi air dingin Lia merasa segar dan memutuskan untuk keluar setelah berganti pakaian.
Tidak ada siapa pun yang terlihat, sepertinya orangtua Lia masih tidur sehingga Lia melangkah cepat ke garasi. Tidak lama kemudian, Lia sudah keluar pagar mengendarai Motor Scoopy merah lama yang dulu digunakannya semasa kuliah.
Saat berkendara tanpa tujuan untuk menghilangkan suntuk, Lia merindukan Milan. Kalau saja saat ini ia ada di Saranja, Lia akan minta Milan menemaninya.
Lia langsung menghentikan motor di pinggir jalan, mengeluarkan ponsel dan menghubungi Milan. Lia hanya ingin mendengar suara Milan untuk mengurangi keresahannya, tapi Milan tidak menjawab telepon.
“Mungkin masih tidur.” Lia menyimpan ponsel dan memutuskan untuk memarkir motornya di penjual nasi kuning.
Sepiring nasi kuning dengan lauk ayam sambal merah lengkap dengan kerupuk tersaji di depan Lia.
“Kalau nggak makan nggak bisa mikir.”
Kata-kata absurd Elvan muncul di pikiran Lia.
“Kenapa malah kepikiran dia?” Lia menggerutu.
Ponsel Lia berbunyi. Mulanya, Lia mengira Milan yang menelepon balik. Namun, di layar ponselnya justru tertera nama Elvan.
Lia terbangun keesokan harinya di atas kasur di kamar utama yang ia tempati. Namun, seingatnya tadi malam tidak kembali ke kamar dan jatuh tertidur di sofa depan televisi setelah mengobrol dengan Elvan. Lia jadi bertanya-tanya apakah Elvan yang membantunya pindah ke kamar atau ia berjalan sendiri dalam keadaan setengah sadar?Lia tidak bisa memikirkan lebih lanjut karena ketukan di pintu meminta perhatiannya. Lia sudah berjalan ke pintu ketika suara Elvan terdengar.“Lia, sudah bangun?”“Sudah,” jawab Lia sambil membuka pintu.“Kirain belum bangun,” ujar Elvan saat melihat Lia.“Baru bangun,” sahut Lia. “Semalam kamu yang mindahin aku ke kamar?”“Huum,” ujar Elvan sambil lalu sementara wajah Lia merona setelah mendengar jawaban itu. Karena jawaban itu berarti Elvan menggendong Lia ke kamar, artinya mereka sudah bersentuhan."Takutnya, kamu masuk angin kalau tidur di luar. Jadi aku pindahin ke kamar.” Elvan terlihat biasa saja saat menjelaskan. Seolah itu bantuan yang akan diberikan El
“Emang kamu gitu ya kalau nyari klien?” tanya Lia hati-hati. Pertanyaan itu memang lancang dan bisa membuat Elvan tersinggung, tapi Lia tidak bisa menahan diri untuk menanyakannya.Lia penasaran. Selain itu, juga ingin tahu sisi Elvan yang lain. Bukan saingan sempurna yang sulit sekali Lia kalahkan sebelumnya, tapi Elvan yang merupakan manusia biasa sepertinya.“Apaan nih, mau nyontek strategiku?”Lia begidik. Teringat apa yang sudah dialaminya beberapa jam lalu. “Ogah!” sahutnya. “Cuma nanya karena penasaran, kalau nggak mau jawab juga nggak papa.”Elvan diam. Mata pria itu kembali mengarah ke layar televisi yang menanyangkan acara variety show yang dirancang untuk membuat penonton tertawa, tapi Elvan tidak tertawa sedikit pun. Sebab tidak memerhatikan tayangan sama sekali.Lia jadi serba salah. Daripada nanti salah omong lagi, ia mencomot apel untuk membuat mulutnya sibuk.“Dulu, aku memang sering begitu.” Tiba-tiba Elvan membuat pengakuan. “Aku melakukan apa saja yang penting dapat
“Kamu bersih-bersih dulu,” kata Elvan setelah sampai di rumah.Lia menggangguk sebagai jawaban. Niatnya memang ingin langsung mandi dan ganti pakaian sesampainya di rumah. Meski tidak terjadi hal-hal tak diinginkan, tapi Lia merasa ingin segera membersihkan diri.“Kamu mau dimasakin sesuatu atau pesan anta raja?”Lia berhenti di depan pintu kamar sesaat. Saat ini ia tidak merasa lapar dan tidak nafsu makan, tapi perutnya harus diisi. “Aku ngikut kamu aja. Soalnya nggak tau mau makan apa, belum ada selera,” sahut Lia.“Aku masakin aja, pakai bahan yang ada di kulkas,” kata Elvan dan Lia tidak protes. Ia langsung masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi.Saat Lia keluar kamar mandi, aroma masakan tercium dari dapur. Lia urung kembali ke kamar dan mengalihkan langkah ke dapur.Elvan sedang di depan kompor sibuk dengan wajan ketika Lia mendekat.“Bikin apa?” tanya Lia sambil menengok isi wajan.“Mi goreng seafood,” jawab Elvan.Meskipun Elvan tak menjawab, Lia su
Tugas dari Bu Elvira adalah mengantarkan penawaran ke CV. Adeera yang sebelumnya menghubungi untuk memesan sparepart untuk bengkel mereka. Sebelumnya CV Adeera pernah bekerjasama dengan perusahaan tempat Lia bekerja, tapi tiga bulan lalu kontrak berakhir dan tidak ada pesanan semenjak itu.Elvan adalah sales yang sebelumnya bertanggung jawab mengurus pesanan dari Adeera, tapi kali ini Lia lah yang dipercaya. Kesibukan Elvan dengan pesanan besar ternyata berdampak baik ke Lia hingga bisa mendapatkan kesempatan menangani klien besar. Sebab pesanan dari CV Adeera sebelum ini tidak pernah sedikit.[Lia, kamu di mana?]Pesan masuk dari Elvan saat Lia di perjalanan menuju CV Adeera. Lia langsung membalas.[OTW ke Adeera. Adeera udah jadi klienku ya, jangan coba-coba ngerebut.]Lia langsung memperingatkan Elvan. Kalau kejadian lagi seperti sebelumnya klien Lia diambil Elvan, Lia tidak akan diam saja dan melakukan pembalasan langsung.[Balik deh, nggak usah ke situ. Itu kliennya susah, ribet
Sesuai perjanjian yang telah disepakati, Lia dan Elvan mencoba bersikap seperti biasa di kantor. Jarang berinteraksi dan masih bersaing seperti hari-hari sebelumnya. Lia masih menganggap Elvan saingan terbesarnya di kantor dan berusaha menjaga gelar sales terbaik yang berhasil didapatkannya bulan lalu.Di rumah mereka juga jarang berinteraksi. Setelah pulang kantor, biasanya Lia langsung masuk kamar. Ia hanya keluar kalau ingin makan atau pergi ke kamar mandi.Lia jarang menghabiskan waktu di luar kamar karena masih kurang nyaman dengan Elvan, tapi jika Elvan memanggil untuk makan bersama Lia akan keluar. Sebab masakan Elvan enak sehingga Lia tidak akan melewatkannya.“Bulan ini aku akan mengalahkannya lagi,” ujar Lia pada Farah saat mereka makan siang bersama. Lia benar-benar harus menyemangati dirinya karena selama seminggu terakhir usahanya mendapatkan konsumen atau orderan besar tidak banyak berhasil.“Semangat yang bagus,” Farah memberi dukungan, mengerti kalau semangat Lia sedan
Lia lega karena Elvan mau makan spageti buatannya dan tidak mempermasalahkan pertengkaran mereka semalam.“Aku juga minta maaf. Semalam kita sama-sama lagi emosi dan capek,” ucap Elvan merespon permintaan maaf Lia. “Makasih untuk sarapannya. Nggak nyangka kamu bisa masak juga.”Lia memberengut. “Baru juga maaf-maafan udah ngajak berantem aja,” sahutnya kesal.Elvan mengangkat tangan. “Tahan dulu. Nggak ngajak berantem, tapi sebagai bentuk ekspresi kekaguman terhadap sesuatu yang kusangka tidak bisa kamu lakukan.”Kata-kata Elvan membuat Lia tertawa. “Lebay banget,” ujar Lia di sela-sela tawa.“Kamu lebih cakep kalau ketawa daripada marah loh.”Ucapan Elvan membuat Lia terdiam dan mengarahkan mata dengan tatapan curiga pada Elvan.“Kenapa, nggak senang dibilang cakep?” tanya Elvan takut-takut.Melihat Elvan yang gugup karena takut salah bicara, Lia tertawa.Elvan berdecak. “Serius, Lia. Becandamu itu nggak lucu,” keluh Elvan.“Tapi mukamu lucu,” sahut Lia yang masih tertawa.Elvan tida







