MasukPagi pertama sebagai kepala keluarga di unit apartemen kami sendiri terasa begitu tenang.Tidak ada deru helikopter, tidak ada instruksi taktis dari Riko lewat earpiece, dan tidak ada denyut panas dari zat kimia yang dulu sering menyiksa kesadaranku. Aku terbangun karena aroma kopi yang baru diseduh dan suara denting spatula yang beradu dengan teflon di dapur.Aku melangkah keluar kamar, hanya mengenakan celana pendek santai. Sinar matahari Jakarta yang masuk melalui jendela besar menyinari punggung Sabrina yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Ia mengenakan daster rumahan tipis, rambutnya dicepol asal-asalan, namun di mataku, ia tampak jauh lebih cantik daripada saat mengenakan kebaya pengantin senilai ratusan juta semalam."Mas, sudah bangun? Sini sarapan dulu, aku buatkan omelet sayur kesukaanmu," sapanya tanpa menoleh, namun nada suaranya terdengar begitu ceria.Aku menghampirinya, melingkarkan lenganku di pinggangnya dan mengecup pundaknya yang hangat. "Harum sekali. Kamu bela
Pagi ini, meja bundar besar di sudut ruangan yang cukup privat itu diisi oleh orang-orang yang paling berarti dalam hidupku. Papa Adrian duduk tegap di sisi kananku, sesekali berbincang akrab dengan Ibu yang duduk di hadapannya. Di sebelah Ibu, Alisa sibuk menunjukkan foto-foto dokumentasi acara semalam dari kamera profesionalnya kepada Tante Sarah.Aku melirik Sabrina yang duduk di sampingku. Ia mengenakan terusan dress selutut berwarna krem yang sangat sederhana namun tetap memancarkan aura keanggunan seorang istri. Wajahnya tampak segar, sisa-sisa kelelahan dari resepsi megah semalam seolah menguap berganti dengan rona bahagia yang tulus."Bima, makan yang banyak. Hari ini kamu harus antar Ibu dan Alisa kembali ke Bandung, kan?" ucap Ibu sambil menyodorkan sepotong roti gandum panggang ke piringku. "Ibu sudah titip pesan ke Mang Ujang di toko, katanya stok beras Cianjur yang baru sudah masuk. Jadi Ibu harus segera sampai sana sebelum asar.""Tenang saja, Bu. Mobil sudah disiapka
Pintu Presidential Suite tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci seluruh hiruk-pikuk pesta, denting gelas sampanye, dan jepretan kamera wartawan di luar sana. Seketika, keheningan yang mewah menyelimuti kami. Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdesir pelan dan detak jantungku sendiri yang kini terasa jauh lebih tenang dibandingkan saat berdiri di pelaminan tadi.Aku melepaskan blangkon dan meletakkannya di atas meja marmer, merasakan aliran udara dingin menyentuh kulit kepalaku. Sabrina berdiri di dekat jendela besar yang menyajikan panorama Jakarta dari ketinggian lantai tiga puluh. Gaun kebaya beludru hitamnya yang megah tampak berkilau terkena pantulan lampu kota Sudirman. Ia perlahan melepas satu demi satu perhiasan yang melekat di tubuhnya—anting, kalung, hingga bros besar yang menghiasi dadanya."Mas... rasanya masih seperti mimpi," bisiknya tanpa menoleh, jemarinya menyentuh kaca jendela yang dingin. "Tadi aku melihat Ibu Dewi tertawa bersama Tante Sarah
Aroma bunga melati sisa siraman masih tercium samar dari kulitnya. Keheningan malam di apartemen ini seolah menjadi saksi betapa kuatnya ikatan yang telah kami bangun. Gairah yang tulus dan mendalam perlahan bangkit, bukan sebagai ledakan emosi liar, melainkan sebagai bentuk pengabdian terakhir sebelum kami sah menjadi suami istri di mata hukum dan Tuhan.Aku membimbingnya menuju kamar utama. Di bawah temaram lampu yang temaram, aku menanggalkan pakaianku dan membantu melepaskan jubah mandinya. Keindahan tubuh Sabrina selalu berhasil membuatku terpaku, namun malam ini ada aura kesucian yang berbeda.Aku membaringkannya di atas sprei sutra yang dingin. Aku masuk ke dalam dekapannya dengan penuh kelembutan. Kami bergerak dalam irama yang sangat pelan, seolah ingin merekam setiap detak jantung dan hembusan napas masing-masing.Aku membisikkan janji-janji setia di telinganya saat kami menyatu dalam kehangatan yang mendalam. Penyatuan malam ini terasa sangat sakral, menjadi penutup d
Kami menghabiskan hampir dua jam di sana, memastikan setiap detail mulai dari urutan musik hingga posisi meja Ibu Dewi dan Alisa yang aku minta diletakkan di tempat paling nyaman, tidak terlalu dekat dengan speaker namun memiliki pandangan jelas ke panggung.Saat kami berjalan menuju parkiran hotel, hujan gerimis mulai membasahi Jakarta. Suasana menjadi lebih sejuk. Aku membukakan pintu mobil untuk Sabrina, lalu masuk ke kursi kemudi."Mas," panggil Sabrina saat aku baru saja hendak menghidupkan mesin."Ya, Sab?""Tadi saat berdiri di panggung itu... aku tiba-tiba merasa sangat takut," ucapnya pelan, jemarinya bertautan gelisah."Takut kenapa?" tanyaku sambil menggenggam tangannya."Takut kalau ini semua hanya mimpi. Takut kalau tiba-tiba aku bangun dan kita masih di apartemen lama, dikejar-kejar oleh orang-orang jahat itu lagi. Segalanya terasa terlalu indah untuk jadi kenyataan."Aku menariknya ke dalam pelukanku, membiarkan wajahnya tersembunyi di dadaku. "Ini nyata, Sabrina. Semua
Kami duduk dan mulai membicarakan bisnis. Ternyata, ini bukan soal zat kimia atau penelitian ilegal. Beliau ingin mengajak perusahaanku bekerja sama dalam proyek pembangunan kawasan hunian hijau di dekat Ibu Kota Nusantara yang baru. Ini adalah proyek legal, besar, dan memiliki visi jangka panjang untuk negara."Kami butuh mitra yang punya integritas. Saya sudah dengar bagaimana kamu menangani sisa-sisa jaringan Hans dulu tanpa membuat kegaduhan publik. Kamu punya ketenangan yang jarang dimiliki anak muda zaman sekarang," lanjut Sang Jenderal.Percakapan malam itu berlangsung sangat produktif. Papa tampak sangat bangga padaku karena aku bisa mengimbangi pembicaraan teknis tingkat tinggi tersebut. Di satu sisi, aku merasa terhormat, namun di sisi lain, aku tetap menjaga hatiku agar tidak dikuasai oleh ambisi yang buta. Pelajaran dari Ibu di Bandung tadi pagi tetap bergema di kepalaku: jangan terlalu rakus.Menjelang pukul sepuluh, aku pamit pulang. Papa mengantarku sampai ke teras.







