LOGINXuanqing geram, dia menggenggam erat pedang ditangannya. Senjata sihir itu sudah siap untuk menebas apapun dihadapannya.
"Hari ini kita lihat siapa yang akan mati," desis Xuanqing dengan seringainya. Setelah itu dia berlari untuk menyerang si siluman, gelang logam ditangannya dengan cepat terlepas dan salah satu senjata sihir lainnya muncul, yakni rantai besi yang diselimuti sengatan listrik. Xuanqing dengan cepat menebas udara kosong didepannya, menciptakan percikan api yang segera menghantam siluman itu. Siluman teratai hitam itu mundur beberapa langkah, serangan tidak langsung itu sudah bisa membuatnya terluka. Disaat itulah Xuanqing mulai mengangkat pergelangan tangannya, memutar dan dengan kecepatan kilat mengayunkan rantai besi miliknya. Rantai itu membidik targetnya dengan tepat. Pergelangan tangan si siluman teratai hitam langsung terjerat dalam rantai besi. Membuat pergerakan siluman itu terbatas sebab diikat oleh Xuanqing. "Jika untuk menghabisi satu siluman tingkat empat seperti mu, aku tak perlu menggunakan banyak tenaga!" Xuanqing menyeringai melihat lawannya yang cukup gentar saat ini. "Bedebah sombong, kita lihat saja nanti," balas Siluman teratai hitam itu. Dengan langkah yang gesit dia melakukan serangan-serangan, aliran api berserta asap hitam menyelimuti sekeliling mereka. Dari telapak tangan kanan siluman teratai hitam muncul gumpalan api lalu perlahan berubah menjadi runcing. Tangan siluman itu tak lagi menengadah seperti tadi, gumpalan api runcing juga tak menghadap ke arah langit melainkan dada kiri Xuanqing. Siluman tingkat empat itu kini mengincar jantung Xuanqing. "Lihat saja, apa kau bisa lolos dari bidikan kristal api milik ku!" Siluman teratai hitam itu menggerakkan tangannya, mendorong gumpalan api runcing agar melesat ke arah dada kiri Xuanqing. Ketika ujung kristal api tersebut hendak mengenai tubuh Xuanqing, Adipati muda itu mundur satu langkah. Dia lalu menangkisnya dengan menggunakan pedang. Kristal api itu kemudian kembali ke arah si siluman. Xuanqing berhasil membalikkan serangan dengan mudah, seperti memantulkan cahaya dengan cermin. Kristal api yang seharusnya menusuk jantung Xuanqing justru mengenai siluman teratai hitam itu. "Akh!" Siluman teratai hitam tersungkur, darah segar mulai keluar dari tubuhnya. Sebagian juga keluar dari mulutnya, dia muntah darah. Melihat lawannya mulai lemah, Xuanqing memanfaatkan keadaan. Sang Adipati menyimpan pedangnya, tapi di detik berikutnya dia mengeluarkan 'Pagoda Penahan Sembilan Siluman' untuk mengurung siluman tersebut. "Aku sedang berbaik hati hari ini, nyawamu ku bebaskan. Tapi membusuk lah dalam pagoda selamanya!" Xuanqing melempar pagoda miliknya ke atas langit sambil membaca mantra. Pagoda Penahan Sembilan Siluman itu langsung terbuka lebar diatas langit. Cahaya yang cukup silau dan panas itu memayungi siluman teratai hitam. Xuanqing memfokuskan pikirannya, sambil terus membaca mantra dia menggerakkan tangan untuk melempar siluman teratai hitam ke arah pagoda yang mulai terbuka. Tanpa perlu waktu lama pagoda itu menyedot si siluman dengan cepat, sehingga Xuanqing berhasil mengalahkan siluman tingkat empat itu dalam waktu yang singkat. Saat siluman tersebut berhasil dikurung, cahaya dari pagoda mulai redup. Perlahan pagoda mulai turun dan terjatuh tepat di telapak tangan Xuanqing. "Adipati!" Satu panggilan dari Fen Rou membuat Xuanqing menolehkan kepalanya. Dibelakangnya sudah ada para pemburu siluman lain yang berangkat bersamanya ke Gunung Jiaguan hari ini. "Anda baik-baik saja? Kami mendengar suara pertempuran dari arah sini," ucap Fen Rou dengan nada yang khawatir. Xuanqing mengangguk, dia lebih dulu menyimpan kembali rantai besi miliknya menjadi gelang logam. "Iya, hanya siluman tingkat empat. Dan dia sudah masuk ke dalam sini," balas Xuanqing sembari menunjukkan Pagoda Penahan Sembilan Siluman. "Syukurlah kalau begitu." Fen Rou bernafas lega, begitu juga dengan pemburu siluman yang lain. "Kenapa kalian di sini, apa perintah dari ku sudah dilaksanakan?" Tanya Xuanqing setelah dia memasukkan kembali pagoda ke dalam hanfu hitam miliknya. Fen Rou mengangguk mengiyakan,"Sudah Adipati! Kami berhasil menyegel tempat ini. Jadi para siluman tidak akan bisa keluar dari area Gunung Jiaguan." "Bagus, lalu bagaimana dengan para siluman jahat? Apa hanya siluman tingkat empat tadi saja yang ada di sini?" Cecar Xuanqing. "Tidak, ada setidaknya dua siluman tadi. Tapi semuanya sudah dikalahkan," jawab Fen Rou sedikit membanggakan diri. "Hmm baiklah, kita turun gunung sekarang juga!" Perintah Xuanqing mutlak. Hal itu diangguki oleh yang lain, mereka semua akhirnya turun gunung saat menjelang senja. Sinar jingga mulai tersebar di langit Kekaisaran Sheng. Rombongan para pemburu siluman itu mulai menyiapkan keberangkatan untuk kembali ke Ibu Kota. "Adipati, ada apa?" Tanya Fen Rou ketika menyadari Xuanqing tidak berjalan disampingnya. Sang Adipati memang sengaja memisahkan diri, dia berjalan cukup pelan dibandingkan para anggota rombongan yang lain. "Ada yang harus aku periksa, kalian tunggu lah disini sebentar!" Xuanqing segera berbalik. Fen Rou juga tak sempat menghentikannya, tapi di detik yang sama sebuah cahaya melesat didepannya. Itu adalah jimat pengirim surat, ada pesan dari Kekaisaran. "Adipati tunggu! ada surat dari Kekaisaran," seru Fen Rou. Xuanqing menghela nafas berat, dia dengan terpaksa berbalik badan. Menunggu dengan malas Fen Rou membacakan surat dari Kekaisaran itu. "Setelah perburuan siluman selesai, Adipati Muda dan rombongan harap untuk segera kembali dan menghadap Ibu Suri." Fen Rou membacakan isi dari surat yang dikirim melalui jimat tersebut. Setelah surat berhasil dibaca, maka surat itu habis terbakar dengan cepat. Xuanqing mendecik sebal, dia menyilangkan tangan didepan dada. "Kita akan kembali, tapi tunggu sebentar." "Saya akan ikut dengan anda Adipati," ucap Fen Rou dengan sungguh-sungguh. Dia memang bertugas untuk memastikan keselamatan sang Adipati Muda. "Tidak perlu, kau dan yang lain tunggu lah disini. Aku segera kembali," balas Xuanqing dengan cepat. Tanpa perlu waktu lama Xuanqing segera berbalik arah, dia kembali menyusuri jalan setapak yang sempat dia lewati bersama para rombongan ketika turun gunung. "Seperti ada yang terlewat tadi, aku harus memastikannya. Lagi pula untuk apa aku buru-buru kembali ke Ibu Kota?" Xuanqing berbicara dengan dirinya sendiri. Jujur saja dia benar-benar muak dengan perintah Ibu Suri kali ini. Mata Xuanqing terbelalak ketika melihat seorang perempuan muda tergeletak tak berdaya di bebatuan tepian Sungai Qilin. Sungai itu sudah Xuanqing lewati tadi saat turun gunung, dia merasa tidak melihat adanya perempuan di sana. Hanya saja perasaannya tidak nyaman, akhirnya dia memutuskan untuk memeriksa ulang. Dengan cepat Xuanqing berlari mendekati si perempuan. Tangannya dengan lembut menarik perempuan tersebut dan melihat wajahnya. "Nona, Nona muda! Nona bangunlah!" Seru Xuanqing berusaha menyadarkan perempuan itu. Di sekujur tubuhnya penuh dengan luka, ada beberapa bagian tubuh yang koyak. Xuanqing yakin perempuan ini habis diserang hewan buas penghuni Gunung Jiaguan. "Dia tidak sadarkan diri, jadi seharusnya tidak masalah jika aku membawanya pulang dan menyelamatkannya." Xuanqing kemudian menggendong tubuh perempuan muda itu. Jubah yang dia kenakan juga lebih dulu dilepas untuk menutupi tubuh perempuan yang dia gendong. Sang Adipati berjalan kaki untuk menyusul rombongan yang sudah bersiap kembali ke Ibu Kota. "Adipati!" Seru Fen Rou ketika Ye Xuanqing mulai terlihat. "Kosongkan kereta kuda, dan siapkan obat-obatan. Aku harus menyelamatkan nyawa seseorang!" Xuanqing berteriak keras, dia mengabaikan panggilan dari Fen Rou. Para pemburu siluman yang merupakan anak buah Xuanqing pun gelagapan. Tapi mereka tetap melakukan perintah Xuanqing. Satu kereta kuda yang mereka bawa langsung disiapkan berserta obat-obatan dan juga keperluan lainnya untuk mengobati luka-luka. "Adipati, siapa yang anda bawa?" Tanya Fen Rou ketika melihat Xuanqing membawa perempuan tadi ke kereta kuda dengan hati-hati. Xuanqing menoleh dan tersenyum tipis, "Dia Dewi Penolong ku!"“Jangan tertidur!” Suara Jung Jinsi bergetar panik.Ia menahan tubuh Ye Xuanqing di pangkuannya, mencoba menyalurkan energi perak ke dalam tubuh pria itu.Namun setiap kali energi itu masuk ia langsung terpecah. Seolah tubuh Xuanqing sudah terlalu rusak untuk menampungnya.“Tidak... tidak... ini tidak boleh terjadi...”Jari-jarinya semakin gemetar. Ia kembali mencoba menyalurkan energi yang lebih lembut, lebih perlahan.Tetap sama. Energi itu hancur bahkan sebelum mencapai inti spiritual Ye Xuanqing.“Kenapa?” Suara Jung Jinsi nyaris pecah. “Kenapa tubuhmu menolak energiku?”Tak jauh dari sana, Putri Daiyan menggigit bibir. Wajahnya ikut memucat melihat kondisi sang adipati.“Energi inti spiritual Ye Xuanqing... sudah retak.” gumamnya lirih. “Kalau terus dipaksa... bahkan tubuhnya sendiri bisa ikut hancur.”Fen Rou mengepalkan tangan. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Jung Jinsi, ia melihat siluman rubah itu benar-benar kehilangan arah.Perempuan yang selalu tersenyum percaya diri
Ledakan energi biru meletup dari tubuh Ye Xuanqing. Energi dari pedang huoguang miliknya menjalar disekipanjang urat nadi tangan kanannya. Tanah paviliun retak lebih dalam, udara berderak dengan ketegangan yang tak terpecahkan. Semua bayangan yang menguasai tubuh manusia yang menjadi inang Hei Lian Hua seakan tertarik ke arahnya. Hei Lian Hua terdiam sesaat, tidak percaya pada apa yang dia saksikan sendiri. "Teknik ini... kau mempertaruhkan jiwamu sendiri demi mereka?" tanyanya, suaranya me najdi lebih dingin sekaligus heran. Jung Jinsi langsung membeku ditempatnya, sembilan ekor rubah miliknya bergerak-gerak gelisah dibelakang tubuhnya. "Xunqing, hentikan! itu teknik pemanggil inti jiwa, kau bisa mati!" serunya, yang berusaha keras menghentikan aksi nekad sang adipati. Namun pria itu tidak menoleh, dia seolah tuli akan peringatan Jung Jinsi. "Setidaknya harus ada yang keluar dari paviliun ini dengan hidup-hidup." Ye Xuanqing menoleh pada Jung Jinsi, kemudian beralih pada rekan
Darah hijau itu belum juga berhenti mengalir. Namun yang membuat semua orang terdiam adalah tawa kecil yang kembali terdengar. “Haha… kau benar-benar berpikir ini sudah berakhir, Ye Xuanqing?” Pertanyaan itu muncul entah dari mana, suaranya jelas bukan milik Putra Mahkota. Suara itu lebih berat, lebih tegas dan memiliki dendam pekat disetiap nadanya. Tubuh Putra Mahkota tiba-tiba bergetar hebat di dalam pelukan Putri Daiyan. Urat-urat hitam yang tadi sempat menghilang, kini muncul kembali dan kali ini lebih pekat, lebih liar. Mata Jung Jinsi membelalak melihatnya. Siluman rubah ekor sembilan itu menggeleng tidak percaya. “Tidak… ini tidak mungkin. Aku sudah mengikat inti rohnya!” Dari dada Putra Mahkota yang tertusuk, perlahan keluar kabut hitam pekat, menggumpal di udara… membentuk sosok samar dengan mata hijau menyala. Hei Lian Hua. Namun kali ini, bentuknya tidak stabil ia retak, berasap, seperti akan hancur… tapi justru memancarkan tekanan yang lebih mengerikan
Aura pekat itu akhirnya lenyap, menyisakan udara dingin yang berembus lembut di sekitar paviliun Selatan. Para pelayan dan penjaga yang sebelumnya terseok-seok karena tekanan aura, perlahan bisa bernapas lega kembali. Ye Xuanqing maju selangkah, menatap Jung Jinsi dengan sorot mata penuh kekhawatiran. “Jinsi… kau baik-baik saja?” Perempuan rubah berekor sembilan itu hanya tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Xuanqing. Aura itu terlalu lemah dibandingkan cahaya milikku. Tapi…” ia melirik ke arah paviliun Selatan yang kini sunyi dan pekat.“Hei Lian Hua tidak akan memasang jebakan ini tanpa tujuan. Dia pasti menunggu kita masuk.” Putri Daiyan yang sejak tadi masih berusaha menenangkan napasnya, menatap keduanya dengan wajah pucat. “Kalau begitu… berarti di dalam paviliun ini, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya?” Fen Rou menggertakkan giginya, matanya tajam penuh kewaspadaan. “Bisa jadi. Hei Lian Hua tak pernah bergerak tanpa rencana. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu untuk mengg
“Tidak mungkin Jinsi, kita harus selesaikan masalah dengan Lu Sangyun juga. Kita tak bisa pergi ke istana sekarang.” Jing Qian jelas menolak. “Tapi kak—” “Dengar Jinsi, istana memang tengah dikepung bahaya. Tapi kau juga jangan lupa bahwa Hei Lian Hua dan Lu Sangyun ada di luar istana. Mereka jauh lebih kuat dan berbahaya ketimbang ibu suri yang diasingkan di istana itu,” jelas Jing Qian lagi. Perempuan siluman rubah ekor tujuh itu mendekat pada Jung Jinsi, mengusap pelan pundaknya dan menatap tenang wajah adiknya. “Begini saja, kau pergilah ke istana sekarang. Lalu aku akan pergi ke biro penangkap siluman untuk menemui Lu Sangyun.” Jing Qian akhirnya mengalah dan memberi jalan tengah terbaik. Untuk saat ini hal ini lah yang paling efektif. “Apa kakak yakin?” tanya Jung Jinsi yang jelas sangat khawatir. Jing Qian malah tertawa kecil mendengarnya, dia malah mencubit pelan ujung hidung Jung Jinsi dengan gemas. “Kau ini, apa kau lupa kalau aku siluman rubah ekor tujuh? aku cu
Ye Xuanqing berjalan merapatkan diri ke sisi tembok ruang bawah tanah begitu mendengar suara kaki mendekat ke arahnya. Sementara Fen Rou bersembunyi dibelakang tumpukan kayu bakar di ruangan itu sambil berjongkok dan mata yang awas.Melalui pandangan saja keduanya saling berkomunikasi, menunggu siapa yang muncul di ruang bawah tanah selain mereka.“Penjaga tidak mungkin turun ke mari sebelum aku keluar, aku sudah memerintahkan mereka untuk tetap berjaga di pintu masuk.” Ye Xuanqing membatin, menerka siapa yang sekiranya akan muncul dihadapannya.Obor di sisi kanan dan kiri pintu masuk ruang bawah tanah bergoyang pelan tertiup angin yang masuk. Fen Rou menyipitkan matanya, tangannya sudah menggengam erat Tombak Qiankun disisi tubuhnya. “Kalian juga mencari petunjuk segel darah disini rupanya.”Suara perempuan terdengar begitu jelas dari pintu masuk, kening Ye Xuanqing berkerut dalam. Sosok yang baru saja masuk masih belum terlihat wujudnya dan sang adipati masih menerka-nerka siapa so
Ditengah malam, Jung Jinsi keluar dari kamarnya dan mendapati Jung Qian tengah duduk dengan bersandar pada pilar. Tidak ada siapa-siapa di luar kamarnya atau bahkan sepanjang koridor. Ye Xuanqing sendiri memang sudah meninggalkan Jung Jinsi sejak tadi, berharap bisa memberi ruang pada Jinsi agar
Ye Xuanqing berdiri dengan ekspresi dingin, sementara Ming Tian bersandar di meja kayu kecil, lengan terlipat, menatap siluman itu dengan tatapan tajam."Ulangi lagi," suara Ye Xuanqing terdengar tenang, namun mengandung tekanan yang tak terbantahkan. "Perempuan yang kau lihat beberapa tahun lalu..
Ye Xuanqing dan Fen Rou berjalan terburu-buru keluar dari Departemen Kehakiman, mereka segera pergi ke kantor Departemen Keuangan Kekaisaran yang memang masih satu kompleks dengan istana dan beberapa biro pemerintahan yang lain.“Dengar, Fen Rou… kau jangan tunjukkan wajah mencurigakan di dalam san
Jung Jinsi menghantamkan telapak tangannya ke segel dengan penuh amarah. Energi spiritualnya meledak, menghantam perisai tak kasatmata yang mengurungnya. Getaran kuat menyebar ke seluruh penjuru gunung belakang, membuat pepohonan bergemuruh dan angin bertiup kencang.Untuk sesaat, ia pikir usahanya







