LOGINDetik-detik terus berjalan, dan kegelisahan semakin menebal.
Tamu undangan mulai berdatangan, mobil-mobil mewah berhenti di halaman, suara salam dan tawa memenuhi udara. Aula pernikahan sudah dihias indah, kursi-kursi penuh dengan orang-orang terhormat yang menunggu acara dimulai. Tapi satu hal yang tidak ada, pengantin wanitanya.
Bisik-bisik mulai terdengar di antara tamu.
“Kenapa belum dimulai?”
“Apakah terjadi sesuatu?”
“Mana mempelainya?”
Setiap bisikan itu menusuk telinga keluarga, membuat wajah Andrian semakin gelap.
Dan di tengah semua kegaduhan itu, Yuilan kembali menunduk, menggenggam tangan Camila erat, seakan ikut merasakan kesedihan. Padahal itu senyum samar yang tertahan, ia tahu semua ini adalah awal dari rencana panjang yang hanya dia sendiri yang pahami.
Camila tampak gelisah, mondar-mandir dengan wajah tegang.
Sementara itu, di ruang keluarga besar, Andrian menggebrak meja dengan tangan gemetar. Wajahnya merah padam menahan marah.
“Anak kurang ajar!” teriaknya lantang.
“Berani-beraninya dia membuat malu keluarga seperti ini! apa yang tamu-tamu itu pikirkan sekarang? apa yang keluarga Muller akan katakan pada kita?”
Camila hanya bisa menangis, tubuhnya gemetar karena menahan perih.
“jangan dulu menyalahkan putri kita. mungkin… mungkin ada alasan—”
“Alasan apa?!” bentak Andrian, matanya membelalak penuh amarah.
“Dia sudah mempermalukan kita semua! gadis itu… bukan lagi anak yang bisa kubanggakan!”
Suaranya membahana hingga membuat para pelayan ketakutan.
“Di mana dia?! hari ini adalah pernikahannya, tapi dia malah tidak ada di tempat! kalian semua mencari apa saja dari tadi?!” bentaknya, menggebrak meja hingga gelas di atasnya bergetar.
Beberapa pelayan jatuh berlutut, tubuh mereka gemetar. “Tuan… kami sudah mencari ke segala arah, tapi Nona Senian tidak ada. kami benar-benar tidak tahu ke mana nona pergi…”
“Bodoh! kalian semua bodoh!” Andrian mengibaskan tangannya dengan kasar.
“Kalian mau mempermalukan keluarga ini di depan semua tamu?!”
Yuilan berdiri di sudut ruangan, menundukkan wajah dengan pura-pura sedih. Namun bibirnya tersungging senyum tipis, nyaris tak terlihat oleh siapa pun.
“Bagus. semakin banyak yang percaya kalau Senian melarikan diri, semakin mudah aku mengambil tempatnya.”
Di kejauhan, pesta masih berlanjut. Namun di dalam hati keluarga Zhuge, badai sudah pecah.
Tamara muncul menghampiri mereka dengan cemas. Memandang satu persatu wajah-wajah yang tegang. Dia tau kalau pesta ini benar-benar sudah berakhir.
“Bagaimana ini? para tamu sudah mulai duduk, acara akan segera dimulai. kalau Senian tidak muncul, kita akan menjadi bahan tertawaan!”
“Apa kalian belum menemukannya?” tanyanya ke arah pelayan.
Ruangan itu hening sesaat. Pelayan saling pandang, bingung siapa yang berani menjawab, hanya bisa menggeleng pelan.
“Apa?!” Tamara terbelalak, tubuhnya kaku melihat situasi ini.
“Ini… ini benar-benar memalukan! tamu sudah memenuhi aula, dan kalian masih belum menemukannya?”
Andrian menggebrak meja sekali lagi dengan marah. “Itulah yang kubilang sejak tadi! anak itu bikin malu kita semua!”
Tamara menatap semua orang dengan panik. “Kalau begini… apa yang akan kalian katakan sama para tamu? mereka sudah menunggu! tidak mungkin acara ini ditunda begitu saja!”
Suasana menjadi semakin tegang. Semua orang seolah terjebak dalam kebingungan. Di balik semua itu, hanya Yuilan yang benar-benar tahu apa yang sedang dia rencanakan.
Andrian berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang, napasnya memburu, sementara suaranya terus meninggi.
“Memalukan! sungguh memalukan! anak itu sudah ngancurin nama baik keluarga kita! apa yang harus kukatakan pada keluarga Muller? semua tamu undangan sudah hadir?!” bentaknya lagi, membuat beberapa pelayan semakin menunduk dalam ketakutan.
Camila hanya bisa duduk di kursi dengan tubuh lemas. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Hatinya hancur membayangkan putrinya yang hilang entah ke mana, namun suaminya sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan atau mencari alasan.
“Aku… aku tidak tahu harus bagaimana,” ucap Camila lirih, suaranya hampir tak terdengar.
Andrian menoleh tajam, suaranya menggelegar.
“Tentu saja kau tidak tahu! kau yang membesarkannya, dan lihat apa jadinya sekarang?! dia kabur di hari pernikahannya! bikin malu keluarga ini!”
Camila terisak makin keras, kedua tangannya bergetar saat mencoba menutupi wajahnya. Dia ingin membela putrinya, ingin berteriak bahwa pasti ada sesuatu yang salah, tapi lidahnya kelu. Kenyataannya Senian memang tidak ada.
Tamara ikut terdiam, wajahnya tegang. Dia paham benar, dalam situasi ini, keluarga mereka benar-benar buntu. Tidak ada solusi yang bisa mereka berikan. Semakin lama mereka menunda, semakin banyak tamu yang akan bertanya-tanya.
Ruangan dipenuhi aura mencekam. Amarah, tangisan, dan kepanikan bercampur menjadi satu, tapi tidak ada jalan keluar. Semua hanya bisa marah-marah, tapi tak seorang pun benar-benar tahu harus berbuat apa.
Dan di sudut ruangan, Yuilan menunduk manis, menyembunyikan kilatan licik di matanya. Dalam hatinya, ia berbisik puas “Inilah saatnya. Mereka tidak punya pilihan lain… sebentar lagi, aku yang akan naik ke pelaminan itu.”
Pesawat mendarat tanpa jejak administratif yang bisa ditelusuri, nama Senian tidak tercatat di mana pun. Dia dibawa melalui jalur khusus menuju fasilitas medis yang berada jauh dari sorotan, dijaga oleh orang-orang yang bahkan tidak memakai seragam.Di ruang perawatan intensif itu, Senian terbaring dengan wajah pucat, napasnya teratur berkat alat bantu. Luka bakar ringan telah ditangani, asap yang menggerogoti paru-parunya dibersihkan perlahan. Dokter berbicara pelan, seolah takut dunia luar mendengar bahwa dia selamat.Keputusan diambil saat itu juga, keberadaan Senian dirahasiakan. Jalur medis disamarkan dan semua akses dibatasi.Dunia boleh mengira Senian telah mati terbakar. Biarlah Lucien tenggelam dalam kehilangan.Biarlah Yuilan percaya pada “kemenangan”-nya.Di balik dinding steril rumah sakit itu, sebuah keluarga yang hampir hancur menyatukan diri kembali pelan, rapuh, tapi utuh.Dan di ranjang putih itu, Senian tanpa tahu sedang dijaga oleh cinta yang tidak lagi akan membiar
Garis polisi terpasang mengelilingi puing-puing villa yang menghitam.Tim forensik bergerak di antara sisa-sisa kebakaran, mengukur, memotret, mengumpulkan selongsong peluru yang tertinggal di lantai dan dinding yang runtuh. Bekas tembakan terlihat jelas, beberapa bahkan tidak tersentuh api.Laporan demi laporan disusun. Ada pertempuran, bukan satu pihak.Di ruang sementara yang dijadikan pos komando, Lucien berdiri kaku menatap papan analisis. Foto-foto diperbesar, arah tembakan, sudut benturan, jejak sepatu, waktu kejadian.Ruang investigasi dipenuhi bau asap yang masih tertinggal di pakaian para petugas.“Serangan terjadi sebelum kebakaran,” ujar salah satu analis pelan. “Api kemungkinan besar disengaja… sebagai penutup.”Peta denah villa terpampang di layar besar. Tanda merah menyala terkonsentrasi di sisi kanan bangunan, zona dengan kerusakan paling parah, nyaris tidak bersisa.Seorang petugas forensik menunjuk area itu. “Dari analisis pola bakar dan arah penyebaran api, sumber u
Lucien hancur.Dia tidak tahu siapa yang harus dia salahkan selain dirinya sendiri.Lucien berdiri di tengah reruntuhan, matanya merah, napasnya terengah karena kehilangan yang menggerogoti dari dalam.“Thomas,” suaranya serak namun tajam, memaksa diri kembali ke nada perintah, “periksa semua sudut. Setiap puing. Setiap abu. Aku ingin tahu semuanya.”Thomas mengangguk cepat, dia memberi isyarat.Para pengawal dan tim bergerak menyebar, membalikkan balok hangus, menggeser potongan dinding yang runtuh, menyisir sisa-sisa kebakaran dengan ketelitian yang dingin. Kantong-kantong bukti dibuka, lampu sorot dinyalakan. Bau arang dan logam panas masih menggantung di udara.Satu demi satu temuan dilaporkan, beberapa sosok yang tidak lagi dikenali, korban kekacauan malam itu. Wajah-wajah yang tidak bisa dipastikan karena Identitasnya menguap bersama api.Tidak ada yang berkata keras-keras, tapi pikiran itu menggantung berat di antara mereka “Senian bisa saja salah satu dari mereka.”Lucien mena
Dia melangkah mendekat, menatap Senian di pelukan Nathan. Pandangannya lembut, penuh rasa bersalah yang tidak terucap.“Kamu berutang hidup padanya,” ucapnya pelan entah pada Senian, entah pada dirinya sendiri.Nathan mengangguk tanpa menatapnya. “Aku tahu.”Tim medis segera bergerak, membantu menstabilkan Senian sebelum dibawa ke kendaraan evakuasi. Selimut darurat menutup tubuhnya, oksigen dipasang perlahan.Saat kendaraan mulai bergerak meninggalkan lokasi, Nathan duduk di samping Senian, tidak melepaskan genggamannya sedetik pun.Xieran menatap sisa villa Lucien yang masih menyala dengan sebagian atap yang sudah runtuh dan api yang perlahan padam.Malam itu berakhir bukan dengan kemenangan sempurna melainkan dengan satu hal yang jauh lebih berartiSenian hidup!***Kendaraan konvoi itu akhirnya memasuki area aman.Gerbang tertutup rapat di belakang mereka, memutuskan kekacauan yang tertinggal di luar. Lampu-lampu putih menyala terang, menyorot wajah-wajah yang kelelahan, terluka n
Xieran menoleh tajam.“Kita tidak punya waktu.”Nathan mengangguk, lalu menghantam pintu itu dengan bahunya sekuat tenaga.Sekali gagal, dua kali retak. Api menyambar lebih besar dari dalam.“Sekali lagi!” teriak Xieran.Nathan dan Xieran berteriak sekuat tenaga menghantamnya lagi. Pintu kamar itu akhirnya roboh dengan dentuman keras.Gelombang panas menerjang wajah mereka. Api menyala di kasur, tirai, dinding. Asap tebal membuat mata perih dan dada sesak.Dan sudut lantai, Nathan melihatnya. Matanya langsung menangkap sosok yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.“SENIAN!”Tubuh Senian terikat, terbaring di lantai, dikelilingi api yang semakin mendekat.Wajah Nathan kehilangan seluruh warnanya. Tanpa berpikir, tanpa ragu dia berlari menerobos api.“Jangan masuk sendiri!” teriak Xieran tapi terlambat. Nathan sudah menerobos masuk tidak pedulikan teriakannya dan Xieran berlari menyusul dari belakang.Nathan berlutut di samping Senian, tangannya gemetar saat meraih wajah istri
Senian menutup matanya.Putus asa menyelimuti dirinya seperti selimut dingin. Tidak ada lagi tenaga untuk melawan dan tidak ada lagi amarah. Hanya kelelahan yang dalam, kelelahan hidup yang terasa berulang dan kejam.“Jadi begini akhirnya” pikirnya “Sama seperti dulu.”Bayangan-bayangan muncul satu per satu di balik kelopak matanya, lembut dan menyakitkan sekaligus.Wajah Mama dan Papa. Marco yang tersenyum canggung. Gao Lin yang selalu berdiri setia. Emilia dengan tawa kecilnya. Xieran… penuh penyesalan. Dan Nathan tatapan itu, janji itu, tangan hangat yang selalu menggenggamnya.“Maaf,” bisiknya di dalam hati. “Aku pergi lagi.”Api kecil di tangan Yuilan bergetar siap dijatuhkan.Dan Senian, dengan mata terpejam dan napas tertahan, menyerahkan dirinya pada detik yang terasa tidak terhindarkan, meyakini satu hal yang paling menyakitkan“Kali ini… benar-benar tidak ada yang akan menolongku.”Korek itu melayang singkat di udara, lalu jatuh ke atas kasur yang sudah basah oleh bensin.Wu







