LOGIN
Langit bergetar ketika Long Chen, Kaisar Langit bijaksana duduk bersila di tengah formasi besar. Aura surgawi berputar di sekelilingnya, membentuk pusaran qi yang menerangi seluruh istana suci. Satu langkah lagi, hanya satu langkah menuju ranah Immortal, puncak yang ia dambakan selama beribu tahun.
Namun di saat kekuatan itu hampir sempurna, dua sosok yang paling ia percayai muncul di balik cahaya formasi: Mei Ling, istrinya yang lembut, dan Long Chui, adik angkat yang ia besarkan dengan tangannya sendiri. "Chen ge… waktunya tiba," bisik Mei Ling dengan senyum samar. Long Chen tak tahu, di balik senyum itu tersimpan niat membunuh. Kilatan dingin menyambar. Sebilah pedang menembus punggungnya, disusul tusukan kedua dari sisi lain. Darah memancar, menodai lingkaran cahaya. Tatapan Long Chen membeku, antara tak percaya dan hancur. "Mei Ling… Chui ’er… mengapa?" suaranya nyaris tak terdengar. Namun hanya senyum dingin yang menjawab sebelum segalanya runtuh ke dalam kegelapan. Tubuh Long Chen bergetar hebat, darah mengalir membasahi jubahnya. Cahaya keabadian yang semula menyelimuti tubuhnya kini berhamburan seperti bintang yang padam. Pedang di punggungnya bergetar pelan, seolah menertawakan kejatuhannya. Di depan sana, Mei Ling menatap tanpa ragu, sementara Long Chui berdiri di sisinya dengan tatapan dingin penuh kebencian yang tak pernah Long Chen pahami. "Aku tidak pernah menyangka jika diriku akan berakhir di tangan orang-orang yang sangat aku percayai, "suara Long Chen parau, matanya bergetar menatap dua orang yang paling ia percayai itu. Mei Ling hanya tersenyum samar. "Kau terlalu tinggi, Chen-ge. Dunia ini sudah muak berada di bawah bayanganmu." Long Chui menambahkan dengan nada getir, "Aku tidak ingin selamanya menjadi bayang-bayangmu." Cahaya terakhir dari formasi spiritual meledak, mengguncang langit istana suci. Long Chen menatap ke atas, menembus gelapnya awan yang berputar di atas sana. Dalam napas terakhirnya, dia berbisik, "Kalau langit menolak keadilanku... maka aku akan kembali dari jurang kematian." Tubuhnya roboh, dan dunia Langit seakan ikut hancur bersama hembusan terakhir sang Kaisar. Langit bergemuruh, awan hitam bergulung. Petir turun menghantam istana suci, menghancurkan benteng. Di seluruh langit, para tetua dan murid sekte menatap ngeri. Mereka tak percaya, sang Kaisar Langit yang melindungi mereka selama ribuan tahun kini berlumuran darah di tengah formasi miliknya sendiri. "Kaisarr...!"jerit salah satu prajurit, namun gelombang qi meledak begitu kuat hingga semua yang berada di sekelilingnya terlempar. Formasi keabadian yang dibangun Long Chen selama sejak lama runtuh dalam sekejap. Pilar cahaya yang seharusnya membawanya menembus ranah Immortal kini berubah menjadi pusaran gelap yang menelan segalanya. Mei Ling menatap pemandangan itu dengan mata yang basah namun dingin. "Semuanya akan berakhir hari ini…" bisiknya. Ia meraih tangan Long Chui, dan keduanya mundur sebelum pusaran qi mengamuk hebat. Tubuh Long Chen terseret, separuh auranya terbakar, namun tatapannya masih tajam. "Kalian takkan pernah tenang… aku akan menuntut balas atas perbuatan kalian ini suatu hari nanti!," suaranya bergema, disertai kilatan petir terakhir yang menyambar istana itu menjadi debu. Saat tubuhnya lenyap ditelan pusaran, jiwa Long Chen pecah menjadi serpihan cahaya. Namun di tengah kehancuran itu, satu titik jiwa tetap bertahan dan berputar, terombang-ambing di antara ruang dan waktu. Dalam gelap yang tak berujung, ia mendengar suaranya sendiri berbisik, "Jika langit tak menginginkanku hidup, maka aku akan menantang langit itu sendiri…" Petir terakhir memudar, menyisakan langit kelam tanpa cahaya. Di tempat istana suci berdiri, kini hanya tersisa kawah luas yang berisi pusaran qi hitam yang perlahan menghilang. Mei Ling berdiri di tepi kawah itu, gaunnya koyak oleh badai qi, namun sorot matanya tetap dingin. "Sudah berakhir," gumamnya lirih, entah pada Long Chui atau dirinya sendiri. Tapi tangannya bergetar, seolah sesuatu di dalam hatinya ikut runtuh bersama tubuh pria yang baru saja ia bunuh. Long Chui menatap pusaran itu dengan pandangan kosong, lalu menunduk. "Dengan kepergiannya, tak ada lagi yang bisa menghalangi kita," ujarnya pelan. Meski begitu, di matanya terselip bayangan ketakutan pada sesuatu yang tak ia mengerti. Sejak lama, Long Chui selalu menyimpan rasa iri terhadap keberuntungan Long Chen. Kakak angkat yang selalu dipuja-puja itu dicintai dan dihormati oleh banyak orang di dunia ilahi, dikenal sebagai Kaisar Langit yang adil dan bijaksana, serta memiliki istri yang begitu cantik hingga membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan tertarik, begitupun dengan dirinya. Namun yang paling membuat hatinya gelisah adalah Cincin Semesta milik Long Chen, artefak legendaris yang terdapat dunia kecil di dalamnya, buah buah abadi, sumber daya, dan kitab-kitab tingkat dewa kuno. Ambisinya perlahan berubah menjadi obsesi. Ia menginginkan segalanya, kedudukan, kekuatan, dan takhta sebagai Kaisar Langit. Maka, di balik bayangan kasih sayang yang pura-pura, ia bekerja sama dengan Mei Ling, wanita yang diam-diam juga telah ia rebut. Keduanya menenun pengkhianatan dalam diam, menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan sosok yang paling percaya pada mereka. Dari kejauhan, para tetua sekte menatap dengan wajah pucat kejadian itu, "Kaisar Langit….gugur?" bisik salah satu dari mereka. Tak ada yang menjawaban. Langit di atas kepala mereka masih bergetar pelan, seperti menolak kenyataan itu. Ribuan murid menangis dan bersujud di tanah, menyebut nama Kaisar Long Chen yang telah tiada. Mei Ling berbalik. Ia menatap reruntuhan yang dulu menjadi tempat tinggal mereka dengan mata kosong. "Mulai hari ini, istana Langit akan menjadi milik kita. Dan kamu akan menggantikan Long Chen sebagai Kaisar Langit," katanya tenang, tapi suaranya hampa. Long Chui hanya mengangguk, meski dalam hatinya terbersit sesuatu yang aneh sebuah perasaan tidak nyaman, seolah jiwa Long Chen masih mengawasi mereka dari balik langit. Sementara itu, jauh di balik kehampaan yang retak, seberkas cahaya kecil melayang di antara pusaran gelap. Cahaya itu berdenyut lemah, namun perlahan mulai bergerak, seakan menolak untuk padam. Di dalamnya, samar terdengar suara yang menggema di antara badai ruang dan waktu. "Ternyata langit masih menginginkanku untuk hidup. Jika demikian, maka di kehidupanku selanjutnya maka aku akan menjadi sosok paling terkuat melampaui kehidupanku sebelumnya." Langit bergemuruh sekali lagi, kali ini bukan karena kehancuran, melainkan sebagai tanda bahwa sesuatu yang tak seharusnya hidup... mulai bangkit kembali. “Suatu hari nanti, kau akan terlahir kembali di dunia bawah. Karena dunia ini masih membutuhkan sosok sepertimu. Bersabarlah… hingga waktu itu tiba." Dari kehampaan tanpa bentuk, suara itu bergema lembut menyentuh sisa jiwa Long Chen. Dalam keheningan, jiwa itu terkejut sekaligus terharu. Untuk pertama kalinya setelah kematiannya, muncul secercah harapan dan cahaya. Long Chen menutup matanya, menantikan waktu di mana ia akan kembali terlahir ke dunia.Saat Patriark Nan Shen dan Tetua Nan Shu larut dalam pemikiran masing-masing, udara di dalam kamar tiba-tiba bergetar. Wush... Sesosok Qing Long Chen muncul begitu saja di hadapan mereka. Tetua Nan Shu tersentak dan langsung berdiri. Patriark Nan Shen membuka mata lebar, napasnya tercekat sesaat. Pemuda itu berdiri tenang di tengah kamar. Jubahnya berkibar pelan meski tidak ada angin. Tetua Nan Shu menatapnya tajam, lalu menarik napas dalam-dalam. "Seperti dugaan… kau memang bukan pemuda biasa." Qing Long Chen menoleh ke arah ranjang. Tatapannya jatuh pada Patriark Nan Shen—wajah pucat, tangan membiru, napas berat. "Racun itu," ucapnya datar, "sudah menggerogoti jiwa, Patriark. Patriark Nan Shen tersenyum pahit. "Jadi… bahkan kau pun bisa melihatnya." "Aku datang bukan untuk basa-basi," lanjut Qing Long Chen. "Malam ini, klan Nan akan berdarah. Namun aku akan membantu menyembuhkan Patriark, Bagaimanapun keberadaan Anda masih di butuhkan." Qing Long Chen melan
Nan Rui memasuki paviliun dengan tergesa gesa. Ia ingin menyampaikan informasi itu secepatnya pada sang Ayah. "Apakah Tuan Muda Long Chen bersedia menolong kita, Rui'er?" tanya Nan Shu sambil menatap sang putra. "Tuan Muda Long Chen bersedia membantu kita, Ayah. Kita di perintahkan untuk tidak ikut campur dalam pertarungan yang akan terjadi bersama murid-murid yang masih setia pada Patriark," jawab Nan Rui. "Karena Nanti malam dia bersama rombongannya ingin menghancurkan klan ini." Tetua Nan Shu bernapas lega mendengar informasi itu. "Syukurlah. Kamu segera sampaikan hal ini pada murid-murid lain. Tapi ingat, jangan sampai hal ini di ketahui oleh murid-murid maupun Tiga Tetua yang berpihak pada Tetua Nan Kui. Bagaimanapun pergerakan kita selalu di awasi oleh mereka, jadi lakukan secara sumbunyi-sembunyi." Nan Rui mengangguk patuh, "Baik, Ayah," ucapnya sambil melangkah keluar dari paviliun. Selepas kepergian Nan Rui, Nan Yan menghampiri sang Ayah yang sedang duduk di ruang u
Tanpa di duga, beberapa murid klan Nan mengikat Long Chen bersama rombongannya dengan rantai hitam penyegel energi qi ketika berada didepan penginapan. Membuat kultivator yang sedang berjalan kaki, pedagang yang di sekitar penginapan itu bertanya-tanya. Dahi Tang Mingyu mengerut, "Apa maksudnya ini? Bukankah kalian hanya ingin melakukan pemeriksaan terhadap kami. Kenapa malah mengikat kami dengan rantai penyegel qi seperti seorang tawanan?" tanyanya sambil menuntut kejelasan dari murid-murid klan Nan. Nan Bao menatap tajam Tang Mingyu sambil tersenyum sinis, "Kalian semua adalah pelaku yang membunuh murid-murid sekte Haiying semalam. Kami melihat sendiri bahwa kalian membunuh murid-murid sekte itu tanpa ampun, padahal mereka tidak melakukan kesalahan apapun pada kalian. Lebih baik kalian bertanggung jawab atas tindakan kalian. Di kota ini, tidak di perbolehkan adanya pembunuhan, dan kalian telah melanggar peraturan yang telah di tetapkan," jawabnya, ia telah di perintahkan oleh Te
Keesokannya, penduduk, para pedagang, dan para pengembara yang singgah di kota Tianjing dibuat gempar oleh kabar kematian enam murid sekte Haiying. Mereka ditemukan tewas mengenaskan dalam kondisi tidak utuh, kepala terpisah dari tubuhnya. Kabar itu menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kota, menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Bisik-bisik segera merebak di kedai teh, pasar, restoran penginapan, hingga gerbang kota. "Enam murid sekte Haiying mati dalam satu malam?" "Siapa yang berani melakukan itu di kota Tianjing?" Sebagian wajah tampak pucat, sebagian lain justru menyimpan rasa puas yang tak berani diucapkan. Nama sekte Haiying selama ini di kenal sering melakukan penindasan terhadap kultivator aliran putih, merampok, menculik para gadis, dan tidak segan-segan membunuh pada setiap klan, sekte, keluarga besar ataupun kota yang tidak mau tunduk di bawah perintah sekte itu. Kematian itu seperti batu besar yang dijatuhkan ke permukaan danau—riak ketakutan dan dugaan m
Tak berselang lama, Long Chen dan Jiang Ruyue sampai di depan penginapan. Pelayan yang berjaga menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Keduanya hanya mengangguk singkat, mereka terus melangkah menuju lantai empat. Beberapa saat kemudian, mereka masuk kedalam kamar. Begitu pintu kamar tertutup, keheningan turun. Jiang Ruyue melepaskan napas pelan. "Mereka tidak akan berhenti setelah ini." "Memang," jawab Long Chen datar. Ia berjalan ke meja dan duduk. "Itulah sebabnya aku memberi peringatan pada mereka. Jika Tetua kedua klan itu dapat memahami peringatanku itu, mereka tidak akan bertindak bodoh." Jiang Ruyue menoleh. "Klan Nan dan Zhou hanyalah pion." Long Chen mengangguk tipis. "Di balik mereka, pasti ada dorongan dari sekte Haiying atau Wuyin. Mereka tidak berani bergerak sendiri." Ia menutup mata sejenak, seolah menata pikirannya. "Besok," lanjutnya pelan, "kita tidak perlu mencari masalah." Jiang Ruyue tersenyum samar. "Masalah yang akan datang sendiri?" Long
Qing Long Chen dan Jiang Ruyue melangkah keluar dari ruang khusus setelah aula lelang benar-benar. Mereka berjalan menuju tempat pengambilan barang. Setelah berjalan cukup lama melewati lorong yang cukup panjang. Keduanya ahirnya tiba di ruangan itu dan melangkah masuk dengan santai. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Min Lan serta manajer Min Gui. "Tuan Muda Long Chen, Nona Jiang Ruyue, silahkan duduk," ucap manajer Min Gui mempersilahkan Long Chen serta Jiang Ruyue duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut. "Sungguh luar biasa.... baru kali ini lelang yang di adakan paviliun Bulan Perak semeriah ini, bahkan melebihi lelang sebelumnya. Anda telah membawa keberuntungan pada paviliun kami, Tuan Muda Long, Chen," ujar Manajer Min Gui yang kini lebih menghormati sosok Long Chen. Long Chen hanya tersenyum tipis melihat reaksi Min Gui







