Short
Renací: esta vez no seré su prometida

Renací: esta vez no seré su prometida

Por:  Lucía MonteverdeCompletado
Idioma: Spanish
goodnovel4goodnovel
9Capítulos
8.7Kvistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Después de renacer, hice todo lo posible por evitar cualquier cruce con Sebastián Luján. Él se inscribió en la universidad más prestigiosa del país. Yo elegí irme a estudiar en el extranjero . Cuando viajó hasta Grandoria para buscarme, me fui todavía más lejos, acepté trabajos como reportera en zonas de conflicto. Años después, regresé a mi país tomada de la mano del hombre que amaba, para celebrar nuestra boda. Sebastián fue detenido en la entrada del lugar, sus ojos estaban enrojecidos, y sólo decía: —¿Por qué… por qué dejaste de amarme?

Ver más

Capítulo 1

Capítulo 1

"Ayah, kenapa tiba-tiba menyuruhku pulang? Aku sudah kehilangan tiket pesawatku untuk datang ke tempat kerjaku di Singapore!" Viona mendengus kesal karena mimpinya untuk bekerja di firma besar Singapore harus kandas karena panggilan mendadak.

Dia sudah memegang tiket dan paspor untuk segera boarding. Hanya dengan satu baris kalimat, ia mengubur mimpinya.

"Pulanglah, Viona! Rumah kita akan disita!!!"

Dan setelah mendengar ucapan serius itu, ia langsung berbalik arah. Viona pulang ke rumah.

Sang ayah, Tuan Rusdi tidak banyak bicara saat ia datang dan hanya menunjuk pada selembar kertas terlipat di atas meja.

"Apa ini?" Viona akhirnya meletakkan tas backpack berisi laptop yang merupakan nyawa di dunia pekerjaan. 

Sebuah koper yang berisi baju-baju sudah tergeletak begitu saja di dekat pintu.

"Surat penting yang harusnya kamu bisa baca apa isinya!" Bentakan itu membuatnya kaget.

Tak pernah sekalipun orang tuanya membentak, apalagi berkata kasar.

"Ayah sekolahin kamu itu biar pinter. Baca!"

Tangan Viona gemetar saat membacanya. Sebuah surat perintah untuk mengosongkan rumah dalam dua puluh empat jam.

Rumah yang ia tempat sejak kecil bersama keluarga itu disita oleh keluarga Mafia, Rossi.

"Kenapa sampai mereka bisa berlaku seperti ini pada kita? Bukankah kita tidak kenal dengan orang-orang semacam mereka, Ayah?" Tanya Viona masih bingung dengan keadaan.

"Nak, keluarga kita mengalami penurunan hasil bumi dan peternakan. Kerugian sudah terjadi sejak kamu mulai kuliah dulu, tapi Ayah bilang... kamu harus selesaikan kuliah dan baru boleh diberi tahu..." Bundanya, Nyonya Marisa menangis.

Ia tak tega membayangkan apa yang akan terjadi pada putri kecil kesayangannya yang baru saja menyandang gelar sarjana.

Harusnya dia sekarang melanglang buana dan memulai petualangan baru demi masa depan cerah.

"Apa yang harus kita lakukan Ayah? Apa kita hutang pada paman dan keluarga besar saja?" Viona mencoba memberikan solusi.

Setidaknya itu yang terpikirkan olehnya sekarang.

"Tidak semudah itu, Viona! Kamu mentang-mentang jadi sarjana, saranmu seolah-olah jadi solusi dalam satu malam!" Ayahnya bertitah, "semua keluarga kita bernasib kurang lebih sama. Hanya saja, hutangku yang paling besar. Dan sebagai saudata tertua dalam keluarga... aku harus bertanggung jawab!"

"Maksud Ayah, Ayah mau menyerahkan seluruh aset pada mereka dan kita dimiskinkan?" Gadis muda belia itu mendekati sang Ayah dengan harapan akan mendapatkan jawaban atas masalah ini.

Selama ini, ayahnya adalah sosok yang dituakan di wilayahnya. Tidak ada masalah yang tidak selesai saat seseorang menghadap Tuan Rusdi.

"Bahkan jika kita melakukan itu.. tidak akan bisa menutup hutang kita!" Jawabnya datar. "Kamu kerja seratus tahun pun, rasanya belum bisa menutup setengahnya!"

Matanya tertuju pada wajah anaknya yang cantik sempurna. Ingin ia menangis, tapi tak pantas dilakukan oleh seorang lelaki.

Anaknya masih muda dan harus menelan kenyataan pahit.

BRAKKK!

Tiba-tiba pintu ruang tamu mereka didobrak oleh tendangan kuat dari luar.

"Tuan Rusdi, sudah seminggu bos kami menunggu... sampai kapan lagi semua harus diberikan kejelasan?" Sosok bertubuh kekar dan berotot layaknya binaragawan maju ke depan berhadapan langsung dengan orang tua Viona.

"Aku mohon beri aku waktu!" Suara itu kini melemah. 

Tak lagi punya taring.

Viona menyaksikan betapa hal yang dihadapi keluarganya bukanlah main-main.

"Hah, sudah empat tahun, ditambah sebulan... lalu minta tambah seminggu!" Satunya lagi menyela.

"Kami sudah berapa kali ke sini, jawabannya masih saja sama!" Kata sosok yang pertama tadi bicara.

Keempat orang yang datang itu semuanya memakai baju setelan hitam.

Tak seorangpun dari keempatnya yang memiliki perangai ramah. Tak ada gurat senyum di wajahnya.

"Maafkan aku!" Tuan Rusdi berdiri kemudian mengatupkan kedua tangannya.

Lelaki sepuh itu emohon agar diberi waktu lagi.

"Hah. sudah habis waktu untukmu, Pak Tua!" Orang suruhan mafia itu menendang meja dan akhirnya terjungkal.

"Tolong! Jangan berbuat seperti ini di sini..." Tuan Rusdi lagi-lagi membenarkan posisi meja itu seperti semula.

Salah satu di antara orang suruhan itu terdengar berbicara lewat telepon dan kembali beberapa saat kemudian.

"Oke, kami akan beri waktu kalian agar tetap bisa di rumah ini... tapi dengan syarat, ada jaminan untuk diberikan!" Ia menyambungkan lidah dari hal yang disampaikan bosnya.

"Kami sudah tak punya apa-apa lagi..." Tuan Rusdi tertunduk.

Kalau tanah dan perkebunan terakhir itu diberikan, mereka tak punya lagi sumber penghasilan.

Apalagi peternakan sudah dikuasai oleh para mafia kejam dan bengis.

Keempat orang itu memandangi sekeliling isi rumah. Akhirnya mereka sepakat dan saling mengangguk.

"Baik, kita bawa saja anak perempuan ini!" Salah satunya segera menarik lengan Viona dan yang lain mengamankan agar keluarga tidak bisa menolong.

"Hentikan! Jangan bawa anakku!"

Teriakan Tuan Sardi itu hanya bagaikan kicau burung tak bermakna.

"Jangan bawa Viona, bawa saja aku!" Marisa berteriak berharap anaknya dilepaskan. Bahkan ia sempat mengejar.

"Apa yang bisa wanita tua lakukan? Kamu tidak berguna di tempat kami. Hahaahahaahaha!" Mereka tertawa dan tetap memaksa untuk membawa Viona menuju mobil Landcruis** yang terparkir gagah di depan rumah.

"Lepaskan aku! Aku bisa membayar hutang keluargaku, aku ini lulusan arsitek dari kampus terkenal. Beri aku waktu dan aku janji akan membayarnya!"

"HAHAHAHAAHA! Sudah jadi miskin tapi masih sombong gadis satu ini, hahahaha!"

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.

reseñas

Kary Pao
Kary Pao
Ya se acabó?
2026-03-03 07:34:36
1
0
Elizabeth Estrada Saldaña
Elizabeth Estrada Saldaña
Este hombre sería bipolar, primero le dijo que no se acercará a su novia y después no podía creer que no siguiera amandolo. Afortunadamente ella hizo su vida lejos de él
2026-02-08 11:37:20
0
0
MaFer Díaz
MaFer Díaz
un final super apresurado, no logras ni siquiera encariñarte con la protagonista, porque ya en 5 capítulos superó todo. Muy mal
2026-03-03 07:18:52
0
0
M Carballo
M Carballo
no me gustó, como que el final estuvo muy insípido
2026-02-26 08:09:46
9
1
9 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status