INICIAR SESIÓNDespués de renacer, hice todo lo posible por evitar cualquier cruce con Sebastián Luján. Él se inscribió en la universidad más prestigiosa del país. Yo elegí irme a estudiar en el extranjero . Cuando viajó hasta Grandoria para buscarme, me fui todavía más lejos, acepté trabajos como reportera en zonas de conflicto. Años después, regresé a mi país tomada de la mano del hombre que amaba, para celebrar nuestra boda. Sebastián fue detenido en la entrada del lugar, sus ojos estaban enrojecidos, y sólo decía: —¿Por qué… por qué dejaste de amarme?
Ver más"Ayah, kenapa tiba-tiba menyuruhku pulang? Aku sudah kehilangan tiket pesawatku untuk datang ke tempat kerjaku di Singapore!" Viona mendengus kesal karena mimpinya untuk bekerja di firma besar Singapore harus kandas karena panggilan mendadak.
Dia sudah memegang tiket dan paspor untuk segera boarding. Hanya dengan satu baris kalimat, ia mengubur mimpinya.
"Pulanglah, Viona! Rumah kita akan disita!!!"
Dan setelah mendengar ucapan serius itu, ia langsung berbalik arah. Viona pulang ke rumah.
Sang ayah, Tuan Rusdi tidak banyak bicara saat ia datang dan hanya menunjuk pada selembar kertas terlipat di atas meja.
"Apa ini?" Viona akhirnya meletakkan tas backpack berisi laptop yang merupakan nyawa di dunia pekerjaan.
Sebuah koper yang berisi baju-baju sudah tergeletak begitu saja di dekat pintu.
"Surat penting yang harusnya kamu bisa baca apa isinya!" Bentakan itu membuatnya kaget.
Tak pernah sekalipun orang tuanya membentak, apalagi berkata kasar.
"Ayah sekolahin kamu itu biar pinter. Baca!"
Tangan Viona gemetar saat membacanya. Sebuah surat perintah untuk mengosongkan rumah dalam dua puluh empat jam.
Rumah yang ia tempat sejak kecil bersama keluarga itu disita oleh keluarga Mafia, Rossi.
"Kenapa sampai mereka bisa berlaku seperti ini pada kita? Bukankah kita tidak kenal dengan orang-orang semacam mereka, Ayah?" Tanya Viona masih bingung dengan keadaan.
"Nak, keluarga kita mengalami penurunan hasil bumi dan peternakan. Kerugian sudah terjadi sejak kamu mulai kuliah dulu, tapi Ayah bilang... kamu harus selesaikan kuliah dan baru boleh diberi tahu..." Bundanya, Nyonya Marisa menangis.
Ia tak tega membayangkan apa yang akan terjadi pada putri kecil kesayangannya yang baru saja menyandang gelar sarjana.
Harusnya dia sekarang melanglang buana dan memulai petualangan baru demi masa depan cerah.
"Apa yang harus kita lakukan Ayah? Apa kita hutang pada paman dan keluarga besar saja?" Viona mencoba memberikan solusi.
Setidaknya itu yang terpikirkan olehnya sekarang.
"Tidak semudah itu, Viona! Kamu mentang-mentang jadi sarjana, saranmu seolah-olah jadi solusi dalam satu malam!" Ayahnya bertitah, "semua keluarga kita bernasib kurang lebih sama. Hanya saja, hutangku yang paling besar. Dan sebagai saudata tertua dalam keluarga... aku harus bertanggung jawab!"
"Maksud Ayah, Ayah mau menyerahkan seluruh aset pada mereka dan kita dimiskinkan?" Gadis muda belia itu mendekati sang Ayah dengan harapan akan mendapatkan jawaban atas masalah ini.
Selama ini, ayahnya adalah sosok yang dituakan di wilayahnya. Tidak ada masalah yang tidak selesai saat seseorang menghadap Tuan Rusdi.
"Bahkan jika kita melakukan itu.. tidak akan bisa menutup hutang kita!" Jawabnya datar. "Kamu kerja seratus tahun pun, rasanya belum bisa menutup setengahnya!"
Matanya tertuju pada wajah anaknya yang cantik sempurna. Ingin ia menangis, tapi tak pantas dilakukan oleh seorang lelaki.
Anaknya masih muda dan harus menelan kenyataan pahit.
BRAKKK!
Tiba-tiba pintu ruang tamu mereka didobrak oleh tendangan kuat dari luar.
"Tuan Rusdi, sudah seminggu bos kami menunggu... sampai kapan lagi semua harus diberikan kejelasan?" Sosok bertubuh kekar dan berotot layaknya binaragawan maju ke depan berhadapan langsung dengan orang tua Viona.
"Aku mohon beri aku waktu!" Suara itu kini melemah.
Tak lagi punya taring.
Viona menyaksikan betapa hal yang dihadapi keluarganya bukanlah main-main.
"Hah, sudah empat tahun, ditambah sebulan... lalu minta tambah seminggu!" Satunya lagi menyela.
"Kami sudah berapa kali ke sini, jawabannya masih saja sama!" Kata sosok yang pertama tadi bicara.
Keempat orang yang datang itu semuanya memakai baju setelan hitam.
Tak seorangpun dari keempatnya yang memiliki perangai ramah. Tak ada gurat senyum di wajahnya.
"Maafkan aku!" Tuan Rusdi berdiri kemudian mengatupkan kedua tangannya.
Lelaki sepuh itu emohon agar diberi waktu lagi.
"Hah. sudah habis waktu untukmu, Pak Tua!" Orang suruhan mafia itu menendang meja dan akhirnya terjungkal.
"Tolong! Jangan berbuat seperti ini di sini..." Tuan Rusdi lagi-lagi membenarkan posisi meja itu seperti semula.
Salah satu di antara orang suruhan itu terdengar berbicara lewat telepon dan kembali beberapa saat kemudian.
"Oke, kami akan beri waktu kalian agar tetap bisa di rumah ini... tapi dengan syarat, ada jaminan untuk diberikan!" Ia menyambungkan lidah dari hal yang disampaikan bosnya.
"Kami sudah tak punya apa-apa lagi..." Tuan Rusdi tertunduk.
Kalau tanah dan perkebunan terakhir itu diberikan, mereka tak punya lagi sumber penghasilan.
Apalagi peternakan sudah dikuasai oleh para mafia kejam dan bengis.
Keempat orang itu memandangi sekeliling isi rumah. Akhirnya mereka sepakat dan saling mengangguk.
"Baik, kita bawa saja anak perempuan ini!" Salah satunya segera menarik lengan Viona dan yang lain mengamankan agar keluarga tidak bisa menolong.
"Hentikan! Jangan bawa anakku!"
Teriakan Tuan Sardi itu hanya bagaikan kicau burung tak bermakna.
"Jangan bawa Viona, bawa saja aku!" Marisa berteriak berharap anaknya dilepaskan. Bahkan ia sempat mengejar.
"Apa yang bisa wanita tua lakukan? Kamu tidak berguna di tempat kami. Hahaahahaahaha!" Mereka tertawa dan tetap memaksa untuk membawa Viona menuju mobil Landcruis** yang terparkir gagah di depan rumah.
"Lepaskan aku! Aku bisa membayar hutang keluargaku, aku ini lulusan arsitek dari kampus terkenal. Beri aku waktu dan aku janji akan membayarnya!"
"HAHAHAHAAHA! Sudah jadi miskin tapi masih sombong gadis satu ini, hahahaha!"
Aquella silueta alejándose le era demasiado familiar. Dos años atrás, Sebastián también había visto partir así a Valeria, sin poder hacer absolutamente nada para detenerla.Los fuertes brazos del personal de seguridad del aeropuerto lo sujetaban con firmeza. Mientras que a su alrededor, los demás pasajeros lo observaban con miradas de sorpresa, mezcladas con un leve desprecio.Sebastián forcejeaba, gritaba el nombre de Valeria hasta quedarse ronco, pero solo pudo mirar, impotente, cómo aquella figura tan conocida desaparecía al final del pasillo, sin una pizca de vacilación.—¡Valeria…!Al final, lo echaron fuera del interior del aeropuerto. Quedó de pie, desorientado, en medio de la avenida abarrotada de gente.El sol de comienzos de otoño en su ciudad seguía siendo cálido, pero al caer sobre él solo le provocaba un frío que calaba hasta los huesos. Ella realmente se había ido.Más tarde, cuando llegó el momento de presentarse en el Tec de Monterrey, fue su familia quien práctic
La vida en Grandoria era agitada, pero plena.El entorno desconocido, la carga académica pesada y los compañeros provenientes de todas partes del mundo hacían que todo me resultara abrumador, pero también me obligaban a crecer rápido.Me esforzaba por aprender el idioma, pasaba horas en la biblioteca y participaba en discusiones grupales. Mis días estaban completamente llenos. A veces, en medio de la noche, recordaba cosas del pasado, pero ese dolor ya se iba volviendo cada vez más leve.Cuanto más aprendía, más convencida estaba de que quería ser periodista. Aunque no exactamente como mi mamá, yo quería convertirme en corresponsal de guerra, para revelar el lado más oscuro del mundo.Hasta que llegó un fin de semana cualquiera. Salí de la biblioteca con algunos compañeros y nos disponíamos a ir a sentarnos a una cafetería del centro de la ciudad. El cielo de San Alda siempre estaba cubierto de nubes grises; el viento, cargado con la humedad de los canales golpeaba mi rostro, hacía
Sobre el escritorio todavía había una caja elegante y delicada. Dentro estaban algunos pequeños detalles que Sebastián me había regalado a lo largo de estos años, junto con un grueso montón de cartas que me había escrito.Abrí la caja, le eché un vistazo y, sin dudarlo, la tomé entre mis brazos. Caminé hasta el basurero del patio y lo boté todo. .—¿Valeria, tú…?Mamá estaba parada en la puerta, mirándome sorprendida.—Son cosas inútiles, es mejor botarlas.Me sacudí las manos y lo dije como si no fuera nada. En ese instante, mi mamá se acercó y me abrazó suavemente.—Hiciste bien, ahora hay que seguir adelante.Los días antes de viajar a Europa pasaron volando. Aproveché el tiempo para reunirme con amigos, acompañé a mi familia y además preparé el equipaje.A propósito, evitaba enterarme de cualquier cosa relacionada con Sebastián y Camila. Solo supe que Sebastián intentó comunicarse conmigo muchas veces, pero siempre sin éxito.El día que se enteró de que había tirado los reg
¿Quieren que haga de niñera, igual que en mi vida pasada? Ni lo sueñen.Pensando eso, me lancé hacia adelante y, frente a Sebastián, le di a Camila una bofetada brutal. Luego los clavé con la mirada y les dije:—Recuérdenlo bien, ahora sí lo hice yo.Esa bofetada, la descargué con toda la fuerza de mi rabia, hizo que la mejilla de Camila se hinchara de inmediato. El dolor fue tan intenso que su cuerpo entero comenzó a temblar sin control.—¡Valeria, tú…!La voz de Sebastián estaba cargada de una ira incrédula.—¿Cómo te atreves? ¿Delante de mí ya ni te molestas en fingir, verdad?Respiré hondo y hablé con calma:—¿Fingir qué? Yo solo la golpeé de forma clara y directa, delante de tus ojos. Ya que igual iba a ser acusada injustamente, mejor hacerlo realidad.Me incliné, recogí mi mochila, le sacudí el polvo y me la colgué al hombro.—Sebastián, llévate a tu Camila y manténganse lejos de mí.Le dije mirándolo fijamente a los ojos. —Con solo verlos me dan ganas de vomitar.D












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reseñas