Share

Bait Beracun

Author: Garis_Langit
last update Huling Na-update: 2026-01-02 11:49:55

Suara harpa berdenting di setiap sudut sekolah, iramanya merdu, mengisi udara dengan harmoni yang menenangkan. Tapi, bagi, Lily, itu bukan musik. Melainkan sebuah tanda bahwa sandiwara telah dimulai. Lonceng sekolah yang aneh, lebih mirip pembukaan konser opera dibanding pengingat masuk kelas.

Lily merapikan roknya yang longgar. Memastikan penampilannya tampak norak dan tidak mengancam. Meraba pinggang, perasaan hampa itu masih ada. Mengetahui tidak ada senjata di sana.

"Aku akan memulai misinya. Masuk area belajar. Status misi, aktif," bisiknya pelan, hampir tidak menggerakkan bibir.

"Diterima. Berhati-hatilah, jadilah guru yang rapuh dan membosankan. Jangan banting muridmu jika mereka kurang ajar," suara Samuel terdengar di telinganya, disusul kekehan pelan Reptor.

Lily menarik napas panjang, melemaskan otot tubuhnya sejenak, menyesuaikan letak kacamatanya, lalu mendorong pintu kayu jati yang berat.

12-A

Hening seketika. Kelas itu tidak seperti ruang kelas pada umumnya. Tidak ada coretan di meja, tidak ada debu kapur. Setiap meja dilengkapi dengan tablet terbaru dan kursi ergonomis yang harganya mungkin setara dengan motor dinas Lily.

Kelas ini bukan kelas biasa, melainkan kelas dengan kumpulan siswa kalangan atas. Rata-rata dari mereka adalah anak pejabat, pengusaha, atau pemilik kuasa yang koneksi menembus istana negara.

Di depannya, dua puluh pasang mata menatapnya dari atas hingga bawah. Bukan tatapan penuh rasa ingin tahu, melainkan tatapan yang sedang menilai harga pakaian yang dia kenakan.

Lily tidak akan terkejut jika anak-anak ini ikut terlibat atau menjadi kaki tangan.

"Selamat pagi, semuanya," sapa Lily dengan nada sedikit canggung, dia meletakkan buku-buku sastranya di meja. "Perkenalkan, saya Lilyana, guru Bahasa Indonesia kalian yang baru."

Seorang siswi di barisan depan, yang kukunya dipoles manicure sempurna, mengangkat tangan tanpa menunggu dipersilahkan. "Ibu Lilyana, sebelum kita mulai, boleh saya tanya sesuatu? Apakah tas yang Ibu bawa itu asli atau imitasi?"

Beberapa siswa tertawa kecil. Lily tersenyum sabar, senyum yang biasa dia gunakan sebelum menyiksa pengedar kelas teri di ruang interogasi.

"Sastra tidak peduli pada kulit tas, tapi pada isi di dalamnya," jawab Lily lembut. "Sama seperti manusia. Tidak peduli seberapa indahnya luar yang tampak, jika dalamnya busuk, maka tetap akan membusuk. Nah, mari kita buka halaman lima puluh, kita akan membahas tentang metafora dalam puisi Chairil Anwar."

Saat dia mulai menulis di papan tulis elektronik, mata tajamnya terus memindai ruangan. Insting polisinya bekerja secara otomatis. Dia memperhatikan cara mereka duduk, cara mereka bernapas.

Lalu, matanya terpaku pada seorang siswa di sudut belakang.

Menurut denah bangku, namanya adalah Rangga. Anak itu tidak memperhatikan. Wajahnya pucat, jemarinya terus mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang tidak beraturan, tanda kecemasan atau stimulasi saraf yang berlebih. Matanya merah, dan dia terus-menerus membasahi bibirnya yang kering.

"Rangga?" panggil Lily lembut.

Siswa itu tersentak, bahunya menegang. "Ya? Saya, Bu?"

"Bisa bantu Ibu membacakan baris pertama puisi ini?" Lily mengamati reaksinya.

Rangga berdiri dengan goyah. Suaranya serak saat membacakan kalimat, "Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang..." Baru setengah jalan, dia terbatuk hebat dan terduduk kembali, menyeka keringat dingin di dahinya.

"Kau tidak apa-apa, Rangga?" tanya Lily, melangkah mendekat.

"Hanya flu, Bu," jawabnya ketus, menghindari kontak mata.

Lily menyentuh dahi Rangga, yang ditepis langsung oleh pemuda itu. "Pergilah ke uks, istirahat di sana. Sepertinya, kondisi badanmu sedang tidak baik-baik saja," ujar Lily, membuat ekspresi khawatir.

Rangga menatapnya sejenak, lalu beranjak tanpa berkata-kata. Lily menghela napas panjang, menatap punggung siswa yang perlahan menghilang di balik koridor. Perasaannya kesal, tapi dia tahan sebaik mungkin.

Dia kembali ke depan kelas, melanjutkan pelajaran dengan suara yang tetap tenang.

Setelah pelajaran berakhir dan kelas kosong, Lily merapikan buku-bukunya bersiap keluar kelas. Dia sengaja melewati meja Rangga, menjatuhkan pulpennya. Saat membungkuk untuk mengambil pulpen, tangannya meraba kolong meja, jarinya menyentuh sesuatu. Sebuah benda kecil yang ditempel dengan selotip.

Lily kembali berdiri, menyelipkan sesuatu di telapak tangan, dia berpura-pura tertarik pada tanaman di belakang meja Rangga. Mengamatinya sebentar, lantas keluar kelas dengan tenang.

Segera dia menuju toilet guru, mengunci pintu, dan membuka telapak tangannya.

Sebuah plastik klip mikro. Di dalamnya terdapat sisa-sisa kristal halus berwarna biru pucat, seperti warna langit di pagi hari yang dingin.

"Kapten, aku menemukan sesuatu," bisik Lily. "Kristal halus, berwarna biru. Ditemukan di meja siswa bernama Rangga."

"Amankan sampelnya, jangan sampai hilang, segeralah keluar dari toilet. Adrian mencarimu," suara Samuel terdengar cemas.

Lily keluar dari toilet, namun langkahnya terhenti. Di ujung koridor yang sepi, Adrian berdiri bersandar pada dinding marmer, sedang membaca sebuah berkas. Saat Lily mendekat, Adrian menutup berkas itu dan menatapnya.

"Bagaimana kelas pertama Anda, Ibu Lily?" tanya Adrian. Suaranya terdengar ramah, tapi matanya tetap dingin, mengamati setiap gerak-gerik Lily.

"Anak-anak sangat .... kritis, Pak," jawab Lily, mencoba mengatur napasnya agar tetap stabil.

Adrian berjalan mendekat, langkahnya pelan dan berwibawa. "Tadi saya melihat Rangga keluar kelas dengan wajah sangat pucat. Apakah ada sesuatu yang terjadi di kelas Anda?"

Lily tersenyum kecil. "Dia bilang dia sedang flu. Saya hanya menyarankan dia ke UKS."

Adrian berhenti tepat di depan Lily. Dia sedikit menunduk, jarak mereka kini hanya beberapa senti. Lily bisa merasakan aura intimidasi yang kuat. Adrian kemudian mengulurkan tangan, jemarinya bergerak menuju kerah blus Lily.

Lily hampir saja melakukan teknik bantingan aikido, namun dia berhasil menahan diri. Dia menahan napas, mengepalkan tangan, tetap diam, berpura-pura membeku karena malu.

Adrian hanya merapikan kerah blus Lily yang sedikit tertekuk. "Kerah Anda berantakan, Ibu Lily. Seorang guru harus selalu terlihat rapi di sini. Citra adalah segalanya."

Jemari Adrian menyentuh kulit leher Lily. Lily merasakan sensasi panas yang aneh, dia menatap Adrian dari dalam, wajahnya menunjukkan ketenangan dan ancaman sekaligus. Namun, yang lebih membuatnya waspada adalah tatapan Adrian yang seolah sedang menembus lapisan penyamarannya.

"Terima kasih, Pak," bisik Lily. Canggung.

"Sama-sama. Dan Ibu Lily... sebaiknya Anda tidak terlalu sering masuk ke toilet jika tidak benar-benar perlu. Protokol keamanan kami mencatat setiap durasi penggunaan ruangan. Kami hanya ingin memastikan guru-guru kami dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," ujar Adrian dengan senyum tipis yang mematikan.

Adrian berbalik dan pergi, meninggalkan Lily yang berdiri terpaku.

Sial! Dia tidak hanya mengawasi spion mobilku. Dia juga menghitung menitku di toilet? Pria menyebalkan. Batin Lily.

Ada hal lain yang Lily sadari di sekolah ini, selain harus waspada pada para pengedar yang bersembunyi di kegelapan, dia juga harus waspada pada pria yang baru saja merapikan kerah bajunya dengan cara yang sangat protektif, sekaligus sangat mengancam.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Requiem For a Swan   Labirin Hitam

    Begitu selesai mengajar, Lily melajukan mobilnya segera menuju markas. Namun sebelum itu, dia singgah ke rumah yang telah disediakan sebagai properti penyamaran. Mengganti baju, dan membawa motor dinasnya. Sesampainya di markas, seluruh rekan timnya sudah menunggu, mereka menyambut Lily dengan senyum merekah. Lily hanya melirik mereka sekilas, lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi. Perempuan itu merebahkan punggungnya, menghela napas panjang. Dia melemparkan sebuah plastik ke atas meja. Bubuk kristal biru, sampel narkoba. "Ruka, bawa ini ke forensik, sekarang!" Perintah Samuel, pria bernama Ruka itu segera berdiri dan mengambil sampel. Samuel mendekat pada Lily, gurat khawatir tercetak jelas di wajahnya. "Apa yang terjadi? Kau seperti orang yang baru saja melihat eksekusi mati." Lily menatap Samuel lekat, dia memperbaiki posisi duduknya. Lily menunduk, menyatukan kedua tangan di atas meja. Lalu merogoh saku jaket yang dia kenakan. Semua rekannya mendekat, menatap sebuah plastik

  • Requiem For a Swan   Angsa Hitam

    Aroma antiseptik memenuhi indra penciumannya ketika dia menggeser pintu ruang UKS. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara detak jarum jam.Sinar matahari sore menembus celah gorden, menciptakan bayangan di atas lantai. Lily melangkah perlahan, hampir tidak bersuara. Di balik tirai kedua, Lily mendengar suara napas yang tersenggal. Lily menyibak tirai, menemukan Rangga yang meringkuk dengan baju yang basah oleh keringat. Sesekali pemuda itu mengerang, dan meracaukan sebuah kalimat. Wajahnya semakin pucat, matanya yang terpejam tampak bergetar. "Sa-kit...," ucapnya lirih, terbata, Rangga mencengkram seprei dengan erat hingga buku jarinya memutih. Lily segera mendekat, dia meletakkan tangannya di kening pemuda itu. Panas. Panasnya yang tidak wajar. Ini bukan flu biasa. Lily mencurigai ini efek samping dari mengkomsumsi obat-obatan terlarang itu. Sebagai polisi, Lily ingin sekali mengguncang bahu Rangga, berteriak padanya agar memberitahu siapa si pemasok. Tapi, sebagai guru, yang

  • Requiem For a Swan   Bait Beracun

    Suara harpa berdenting di setiap sudut sekolah, iramanya merdu, mengisi udara dengan harmoni yang menenangkan. Tapi, bagi, Lily, itu bukan musik. Melainkan sebuah tanda bahwa sandiwara telah dimulai. Lonceng sekolah yang aneh, lebih mirip pembukaan konser opera dibanding pengingat masuk kelas.Lily merapikan roknya yang longgar. Memastikan penampilannya tampak norak dan tidak mengancam. Meraba pinggang, perasaan hampa itu masih ada. Mengetahui tidak ada senjata di sana. "Aku akan memulai misinya. Masuk area belajar. Status misi, aktif," bisiknya pelan, hampir tidak menggerakkan bibir. "Diterima. Berhati-hatilah, jadilah guru yang rapuh dan membosankan. Jangan banting muridmu jika mereka kurang ajar," suara Samuel terdengar di telinganya, disusul kekehan pelan Reptor.Lily menarik napas panjang, melemaskan otot tubuhnya sejenak, menyesuaikan letak kacamatanya, lalu mendorong pintu kayu jati yang berat. 12-AHening seketika. Kelas itu tidak seperti ruang kelas pada umumnya. Tidak ada

  • Requiem For a Swan   Bait-Bait Yang Mencurigakan

    Lily akhirnya sampai di SMA Merpati Putih. Dia mengamati bangunan itu sebelum memutuskan mendekat. Sejenak, dia tertegun menatap gerbang tinggi berwarna emas di depan sana. SMA Merpati Putih tidak terlihat seperti sekolah. Dari kejauhan, bangunan itu lebih menyerupai sebuah kompleks kedutaan besar atau resor mewah di Swiss. Dindingnya terbuat dari batu alam putih bersih, dengan pilar-pilar tinggi yang menopang atap bergaya neoklasik."Bangunan itu terlihat seperti sebuah istana," katanya, menekan earpiece di telinga. "Istana yang menyembunyikan banyak kejahatan dan kebusukan," sahut Reptor. "Yah, rakyatnya bermanja-manja dengan kotoran," timpal Samuel.Lily tersenyum tipis. Di balik keindahan itu, mata Lily melihat sesuatu yang lain. Dia menghitung ada setidaknya empat kamera CCTV di gerbang depan, masing-masing memiliki sensor gerak. "Keamanannya benar-benar ketat. Setiap CCTV memiliki sensor gerak." Lapor Lily.Petugas keamanan yang berjaga di gerbang mengenakan seragam rapi, n

  • Requiem For a Swan   Gema Yang Tertinggal

    "Elang, di posisi.""Reptor, di posisi.""Rubicon, sudah di titik pantau.""Alpaca, siaga.""Specter siap di titik buta."Suara-suara itu masuk ke telinga Lily melalui earpiece. Ini adalah hari ke-28 pengintaian. Selama hampir sebulan, mereka hidup di antara bayang-bayang pelabuhan yang berbau solar dan garam, menunggu hantu bernama Blue Swan muncul ke permukaan. Namun, dermaga itu tetap sunyi, hanya suara ombak yang menghantam beton."Semua fokus," suara Samuel, sang Kapten, terdengar berat dan penuh tekanan. "Target utama kita adalah titik transaksi. Jangan gegabah, jangan bergerak tanpa komando. Satu langkah salah, operasi ini tamat. Paham?""Paham, Sir!" jawaban serentak itu terdengar seperti janji setia.Lily, yang menggunakan kode Specter, menyandarkan tubuhnya di balik tumpukan kontainer. Dia mengenakan jaket hoodie kumal, menyatu dengan hiruk-pikuk buruh pelabuhan."Monkey keluar. Dia bergerak ke utara," bisik suara di earpiece. Specter, yang saat itu sedang berpura-pura mengu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status