LOGINSuara harpa berdenting di setiap sudut sekolah, iramanya merdu, mengisi udara dengan harmoni yang menenangkan. Tapi, bagi, Lily, itu bukan musik. Melainkan sebuah tanda bahwa sandiwara telah dimulai. Lonceng sekolah yang aneh, lebih mirip pembukaan konser opera dibanding pengingat masuk kelas.
Lily merapikan roknya yang longgar. Memastikan penampilannya tampak norak dan tidak mengancam. Meraba pinggang, perasaan hampa itu masih ada. Mengetahui tidak ada senjata di sana. "Aku akan memulai misinya. Masuk area belajar. Status misi, aktif," bisiknya pelan, hampir tidak menggerakkan bibir. "Diterima. Berhati-hatilah, jadilah guru yang rapuh dan membosankan. Jangan banting muridmu jika mereka kurang ajar," suara Samuel terdengar di telinganya, disusul kekehan pelan Reptor. Lily menarik napas panjang, melemaskan otot tubuhnya sejenak, menyesuaikan letak kacamatanya, lalu mendorong pintu kayu jati yang berat. 12-A Hening seketika. Kelas itu tidak seperti ruang kelas pada umumnya. Tidak ada coretan di meja, tidak ada debu kapur. Setiap meja dilengkapi dengan tablet terbaru dan kursi ergonomis yang harganya mungkin setara dengan motor dinas Lily. Kelas ini bukan kelas biasa, melainkan kelas dengan kumpulan siswa kalangan atas. Rata-rata dari mereka adalah anak pejabat, pengusaha, atau pemilik kuasa yang koneksi menembus istana negara. Di depannya, dua puluh pasang mata menatapnya dari atas hingga bawah. Bukan tatapan penuh rasa ingin tahu, melainkan tatapan yang sedang menilai harga pakaian yang dia kenakan. Lily tidak akan terkejut jika anak-anak ini ikut terlibat atau menjadi kaki tangan. "Selamat pagi, semuanya," sapa Lily dengan nada sedikit canggung, dia meletakkan buku-buku sastranya di meja. "Perkenalkan, saya Lilyana, guru Bahasa Indonesia kalian yang baru." Seorang siswi di barisan depan, yang kukunya dipoles manicure sempurna, mengangkat tangan tanpa menunggu dipersilahkan. "Ibu Lilyana, sebelum kita mulai, boleh saya tanya sesuatu? Apakah tas yang Ibu bawa itu asli atau imitasi?" Beberapa siswa tertawa kecil. Lily tersenyum sabar, senyum yang biasa dia gunakan sebelum menyiksa pengedar kelas teri di ruang interogasi. "Sastra tidak peduli pada kulit tas, tapi pada isi di dalamnya," jawab Lily lembut. "Sama seperti manusia. Tidak peduli seberapa indahnya luar yang tampak, jika dalamnya busuk, maka tetap akan membusuk. Nah, mari kita buka halaman lima puluh, kita akan membahas tentang metafora dalam puisi Chairil Anwar." Saat dia mulai menulis di papan tulis elektronik, mata tajamnya terus memindai ruangan. Insting polisinya bekerja secara otomatis. Dia memperhatikan cara mereka duduk, cara mereka bernapas. Lalu, matanya terpaku pada seorang siswa di sudut belakang. Menurut denah bangku, namanya adalah Rangga. Anak itu tidak memperhatikan. Wajahnya pucat, jemarinya terus mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang tidak beraturan, tanda kecemasan atau stimulasi saraf yang berlebih. Matanya merah, dan dia terus-menerus membasahi bibirnya yang kering. "Rangga?" panggil Lily lembut. Siswa itu tersentak, bahunya menegang. "Ya? Saya, Bu?" "Bisa bantu Ibu membacakan baris pertama puisi ini?" Lily mengamati reaksinya. Rangga berdiri dengan goyah. Suaranya serak saat membacakan kalimat, "Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang..." Baru setengah jalan, dia terbatuk hebat dan terduduk kembali, menyeka keringat dingin di dahinya. "Kau tidak apa-apa, Rangga?" tanya Lily, melangkah mendekat. "Hanya flu, Bu," jawabnya ketus, menghindari kontak mata. Lily menyentuh dahi Rangga, yang ditepis langsung oleh pemuda itu. "Pergilah ke uks, istirahat di sana. Sepertinya, kondisi badanmu sedang tidak baik-baik saja," ujar Lily, membuat ekspresi khawatir. Rangga menatapnya sejenak, lalu beranjak tanpa berkata-kata. Lily menghela napas panjang, menatap punggung siswa yang perlahan menghilang di balik koridor. Perasaannya kesal, tapi dia tahan sebaik mungkin. Dia kembali ke depan kelas, melanjutkan pelajaran dengan suara yang tetap tenang. Setelah pelajaran berakhir dan kelas kosong, Lily merapikan buku-bukunya bersiap keluar kelas. Dia sengaja melewati meja Rangga, menjatuhkan pulpennya. Saat membungkuk untuk mengambil pulpen, tangannya meraba kolong meja, jarinya menyentuh sesuatu. Sebuah benda kecil yang ditempel dengan selotip. Lily kembali berdiri, menyelipkan sesuatu di telapak tangan, dia berpura-pura tertarik pada tanaman di belakang meja Rangga. Mengamatinya sebentar, lantas keluar kelas dengan tenang. Segera dia menuju toilet guru, mengunci pintu, dan membuka telapak tangannya. Sebuah plastik klip mikro. Di dalamnya terdapat sisa-sisa kristal halus berwarna biru pucat, seperti warna langit di pagi hari yang dingin. "Kapten, aku menemukan sesuatu," bisik Lily. "Kristal halus, berwarna biru. Ditemukan di meja siswa bernama Rangga." "Amankan sampelnya, jangan sampai hilang, segeralah keluar dari toilet. Adrian mencarimu," suara Samuel terdengar cemas. Lily keluar dari toilet, namun langkahnya terhenti. Di ujung koridor yang sepi, Adrian berdiri bersandar pada dinding marmer, sedang membaca sebuah berkas. Saat Lily mendekat, Adrian menutup berkas itu dan menatapnya. "Bagaimana kelas pertama Anda, Ibu Lily?" tanya Adrian. Suaranya terdengar ramah, tapi matanya tetap dingin, mengamati setiap gerak-gerik Lily. "Anak-anak sangat .... kritis, Pak," jawab Lily, mencoba mengatur napasnya agar tetap stabil. Adrian berjalan mendekat, langkahnya pelan dan berwibawa. "Tadi saya melihat Rangga keluar kelas dengan wajah sangat pucat. Apakah ada sesuatu yang terjadi di kelas Anda?" Lily tersenyum kecil. "Dia bilang dia sedang flu. Saya hanya menyarankan dia ke UKS." Adrian berhenti tepat di depan Lily. Dia sedikit menunduk, jarak mereka kini hanya beberapa senti. Lily bisa merasakan aura intimidasi yang kuat. Adrian kemudian mengulurkan tangan, jemarinya bergerak menuju kerah blus Lily. Lily hampir saja melakukan teknik bantingan aikido, namun dia berhasil menahan diri. Dia menahan napas, mengepalkan tangan, tetap diam, berpura-pura membeku karena malu. Adrian hanya merapikan kerah blus Lily yang sedikit tertekuk. "Kerah Anda berantakan, Ibu Lily. Seorang guru harus selalu terlihat rapi di sini. Citra adalah segalanya." Jemari Adrian menyentuh kulit leher Lily. Lily merasakan sensasi panas yang aneh, dia menatap Adrian dari dalam, wajahnya menunjukkan ketenangan dan ancaman sekaligus. Namun, yang lebih membuatnya waspada adalah tatapan Adrian yang seolah sedang menembus lapisan penyamarannya. "Terima kasih, Pak," bisik Lily. Canggung. "Sama-sama. Dan Ibu Lily... sebaiknya Anda tidak terlalu sering masuk ke toilet jika tidak benar-benar perlu. Protokol keamanan kami mencatat setiap durasi penggunaan ruangan. Kami hanya ingin memastikan guru-guru kami dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," ujar Adrian dengan senyum tipis yang mematikan. Adrian berbalik dan pergi, meninggalkan Lily yang berdiri terpaku. Sial! Dia tidak hanya mengawasi spion mobilku. Dia juga menghitung menitku di toilet? Pria menyebalkan. Batin Lily. Ada hal lain yang Lily sadari di sekolah ini, selain harus waspada pada para pengedar yang bersembunyi di kegelapan, dia juga harus waspada pada pria yang baru saja merapikan kerah bajunya dengan cara yang sangat protektif, sekaligus sangat mengancam. Lily tidak kembali ke apartmen nya, dia juga tidak melaporkan posisi nya pada Samuel. Lily tahu protokol timnya, setiap jengkal rumahnya pasti telah dipasangi alat penyadap atau sensor panas untuk memastikan keselamatannya. Dia memacu mobilnya menuju kawasan industri di pinggiran kota, mematikan mesin di sebuah gedung parkir apartmen tua yang jarang terjamah. Sunyi. Hanya suara detak jam di dashboard yang menemaninya. Dia membuka laptop cadangan miliknya yang tidak terhubung pada server utama di markas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memasukkan flashdisk perak pemberian Adrian. Begitu folder terbuka, terdapat deretan file dengan kode 'Blue-Red' terpampang di sana, memancarkan cahaya biru pucat yang menerangi wajah Lily.Isi flashdisk itu menyingkap tabir yang selama ini tertutup rapat. Seluruh skema operasi yang selama ini dijejalkan milik timnya hanyalah informasi palsu. Entah mereka memang mendapatkan informasi palsu, atau informasi itu sendiri telah dipalsukan. Sindik
Pagi itu, langit di atas Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana hati Lily yang pekat. Dia berdiri di depan pintu kayu mahoni yang bertuliskan 'Ketua Yayasan'. Di balik seragam gurunya yang rapi, tiga microchip tertempel di jam tangannya dan satu kamera mikro menyamar sebagai bros perak di dadanya. "Masuklah, Ibu Lilyana. Beliau sudah menunggu." Suara penjaga di depan pintu menyentak lamunan Lily. Dia merapikan baju sejenak, menghembuskan napas panjang, lalu mendorong pintu itu. Aroma mawar langsung menyambutnya. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang menghadap taman. Di balik meja kaca yang elegan, Elena duduk dengan anggun. Setelan blezer kremnya memancarkan otoritas sekaligus kemewahan yang tenang. "Ah, Ibu Lilyana. Silahkan duduk." Elena tersenyum. Senyum itu sempurna. Namun, di mata Lily itu adalah senyum predator yang sedang memamerkan wilayahnya."Terima kasih, Bu Elena. Suatu kehormatan bagi saya." Lily duduk, memastikan bros nya menghadap tepat pada meja kerja
Tiga hari setelah malam di mana dunianya hancur berkeping-keping, Lily kembali ke SMA Merpati Putih. Dia mengenakan turtleneck hitam ketat yang menutupi lehernya hingga batas rahang. Juga riasan yang lebih tebal untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat dan sembab. Sebelum benar-benar kembali, Lily harus ke markas lebih dulu atas perintah Samuel. Di koridor markas yang sepi, sang Kapten mencegatnya. "Lily," panggil Samuel lirih, suaranya terdengar ragu, kontras dengan seragam yang dia gunakan hari ini. "Laporan sudah diunggah di server, Kapten. Tidak ada anomali pada subjek Julian pagi ini," Lily berhenti, namun tidak menoleh. Samuel maju selangkah, tangannya setengah terangkat ingin menyentuh bahu Lily, namun dia menariknya kembali. Suasana di antara mereka begitu kaku, seolah-olah udara berubah menjadi kaca yang siap pecah. "Soal Elena ...," Samuel menjeda ucapannya, ada ragu di sana. Lily menoleh. "Kenapa dengan wanita itu?" Tanya nya dengan suara dingin. Samuel menyerahkan
Lily masuk dengan langkah diseret ke apartmen nya yang gelap. Dia tidak menyalakan lampu, dia menutup pintu, mengunci rapat-rapat dan menyandarkan punggungnya di sana.Hening. Sunyi yang memekakkan. Tiba-tiba, bayangan Elena menggandeng mesra tangan Julian, dan suara tawa anak laki-laki itu, berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Perasaan yang dia tekan selama lima tahun, rasa dikhianati, rasa tidak berdaya, rasa kehilangan, dan rasa bersalah meledak seketika.PRANG! Lily menghantamkan vas bunga ke dinding hingga hancur berkeping-keping. "ARRGHHH!!" Teriakan itu pecah, tubuh Lily merosot, tanpa diminta, air mata jatuh membasahi pipinya. Lily meraung, raungan dari dasar jiwanya yang telah terlalu lama hancur. Lily menerjang meja rias, menyapu semua botol parfume dan alat rias hingga pecah dan berserakan di lantai. Dia mencengkram pinggiran meja, napasnya sesak, dia melihat bayangin dirinya yang rapuh di dalam cermin. Dia membenci sosok itu. BRAKKSatu hantaman tinjunya membu
Satu Minggu Kemudian Aula utama SMA Merpati putih dihias dengan begitu megah. Ribuan bunga lily putih menghias setiap sudutnya, menebarkan aroma harum. Lily putih adalah bunga kesukaan Lily, sama seperti namanya. Karpet merah membentang di sepanjang aula. Para petinggi, politikus, pengusaha berkumpul. Lily berdiri di sudut ruang, menggunakan kebaya hitam anggun yang begitu pas di tubuhnya. Menyembunyikan pistol kecil dibalik keanggunannya. Matanya terus memindai kerumunan. Tiba-tiba seseorang menepuk pingganya. Begitu menoleh, Adrian sudah berdiri tegak di samping Lily. Tangannya masih dibebat perban, yang dia sembunyikan dibalik jas mewah yang dia kenakan. Tiba-tiba hening, ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan aula. Seolah seluruh perhatian tersedot keluar. Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun. Penampilannya begitu bersih dan beriwibawa. Adrian yang berada tak jauh di samping Lily mematung. Dia menatap wanita itu, seolah ingin menariknya keluar dari sana. Lal
Suara wiper mobil taktis yang menerobos air hujan menjadi satu-satunya ritme di tengah keheningan yang menyesakkan. Lily duduk di kursi belakang, tubuhnya masih terasa kaku. Di sampingnya, Adrian sedang berusaha membalut luka di lengannya dengan satu tangan. Kain kasa itu berkali-kali merosot, membiarkan warna merah pekat kembali menodai kemejanya yang sudah compang-camping. Lily hanya memperhatikannya dari sudut mata. Ada keinginan untuk membantu, namun egonya yang baru saja dihantam kenyataan pahit menahan tangannya untuk bergerak membantu pria itu."Kau akan terus menonton sampai aku kehabisan darah, atau kau mau melakukan sesuatu?" suara Adrian memecah kesunyian. Dingin dan tanpa basa-basi.Lily menghela napas panjang, lalu merampas perban dari tangan Adrian. Jemarinya yang masih dingin menyentuh kulit lengan Adrian. Kontak fisik itu terasa canggung, terlalu intim untuk dua orang yang baru saja saling melontarkan ancaman, dan menatap tajam beberapa menit lalu, namun terlalu boh
Samuel mondar-mandir di ruangan kendali. Suaranya sepatunya yang beradu dengan lantai menciptakan irama yang tidak stabil. Sesekali dia menggigit kuku, sebuah kebiasaan lama yang dia lakukan saat merasa terdesak. Ibu jarinya mulai memerah, darah mulai merembes dari sana. Tapi, Samuel tidak peduli.
Lily menelan ludah, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya. Dia segera merunduk, membiarkan tangan Adrian bertumpu pada bahunya. Tubuh pria itu terasa berat dan panas, kontras dengan lantai marmer yang dingin. Aroma kayu cendana yang menjadi ciri khas Adrian kini bercampur dengan baubesi yang amis







