Home / Mafia / Requiem For a Swan / Pesan Tersirat

Share

Pesan Tersirat

Author: Garis_Langit
last update publish date: 2026-03-31 00:20:20

Pagi itu, langit di atas Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana hati Lily yang pekat. Dia berdiri di depan pintu kayu mahoni yang bertuliskan 'Ketua Yayasan'.

Di balik seragam gurunya yang rapi, tiga microchip tertempel di jam tangannya dan satu kamera mikro menyamar sebagai bros perak di dadanya.

"Masuklah, Ibu Lilyana. Beliau sudah menunggu."

Suara penjaga di depan pintu menyentak lamunan Lily. Dia merapikan baju sejenak, menghembuskan napas panjang, lalu mendorong pintu itu.

Aroma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Requiem For a Swan   Red Swan Project

    Lily tidak kembali ke apartmen nya, dia juga tidak melaporkan posisi nya pada Samuel. Lily tahu protokol timnya, setiap jengkal rumahnya pasti telah dipasangi alat penyadap atau sensor panas untuk memastikan keselamatannya. Dia memacu mobilnya menuju kawasan industri di pinggiran kota, mematikan mesin di sebuah gedung parkir apartmen tua yang jarang terjamah. Sunyi. Hanya suara detak jam di dashboard yang menemaninya. Dia membuka laptop cadangan miliknya yang tidak terhubung pada server utama di markas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memasukkan flashdisk perak pemberian Adrian. Begitu folder terbuka, terdapat deretan file dengan kode 'Blue-Red' terpampang di sana, memancarkan cahaya biru pucat yang menerangi wajah Lily.Isi flashdisk itu menyingkap tabir yang selama ini tertutup rapat. Seluruh skema operasi yang selama ini dijejalkan milik timnya hanyalah informasi palsu. Entah mereka memang mendapatkan informasi palsu, atau informasi itu sendiri telah dipalsukan. Sindik

  • Requiem For a Swan   Pesan Tersirat

    Pagi itu, langit di atas Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana hati Lily yang pekat. Dia berdiri di depan pintu kayu mahoni yang bertuliskan 'Ketua Yayasan'. Di balik seragam gurunya yang rapi, tiga microchip tertempel di jam tangannya dan satu kamera mikro menyamar sebagai bros perak di dadanya. "Masuklah, Ibu Lilyana. Beliau sudah menunggu." Suara penjaga di depan pintu menyentak lamunan Lily. Dia merapikan baju sejenak, menghembuskan napas panjang, lalu mendorong pintu itu. Aroma mawar langsung menyambutnya. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang menghadap taman. Di balik meja kaca yang elegan, Elena duduk dengan anggun. Setelan blezer kremnya memancarkan otoritas sekaligus kemewahan yang tenang. "Ah, Ibu Lilyana. Silahkan duduk." Elena tersenyum. Senyum itu sempurna. Namun, di mata Lily itu adalah senyum predator yang sedang memamerkan wilayahnya."Terima kasih, Bu Elena. Suatu kehormatan bagi saya." Lily duduk, memastikan bros nya menghadap tepat pada meja kerja

  • Requiem For a Swan   Sekutu?

    Tiga hari setelah malam di mana dunianya hancur berkeping-keping, Lily kembali ke SMA Merpati Putih. Dia mengenakan turtleneck hitam ketat yang menutupi lehernya hingga batas rahang. Juga riasan yang lebih tebal untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat dan sembab. Sebelum benar-benar kembali, Lily harus ke markas lebih dulu atas perintah Samuel. Di koridor markas yang sepi, sang Kapten mencegatnya. "Lily," panggil Samuel lirih, suaranya terdengar ragu, kontras dengan seragam yang dia gunakan hari ini. "Laporan sudah diunggah di server, Kapten. Tidak ada anomali pada subjek Julian pagi ini," Lily berhenti, namun tidak menoleh. Samuel maju selangkah, tangannya setengah terangkat ingin menyentuh bahu Lily, namun dia menariknya kembali. Suasana di antara mereka begitu kaku, seolah-olah udara berubah menjadi kaca yang siap pecah. "Soal Elena ...," Samuel menjeda ucapannya, ada ragu di sana. Lily menoleh. "Kenapa dengan wanita itu?" Tanya nya dengan suara dingin. Samuel menyerahkan

  • Requiem For a Swan   Luka Menganga

    Lily masuk dengan langkah diseret ke apartmen nya yang gelap. Dia tidak menyalakan lampu, dia menutup pintu, mengunci rapat-rapat dan menyandarkan punggungnya di sana.Hening. Sunyi yang memekakkan. Tiba-tiba, bayangan Elena menggandeng mesra tangan Julian, dan suara tawa anak laki-laki itu, berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Perasaan yang dia tekan selama lima tahun, rasa dikhianati, rasa tidak berdaya, rasa kehilangan, dan rasa bersalah meledak seketika.PRANG! Lily menghantamkan vas bunga ke dinding hingga hancur berkeping-keping. "ARRGHHH!!" Teriakan itu pecah, tubuh Lily merosot, tanpa diminta, air mata jatuh membasahi pipinya. Lily meraung, raungan dari dasar jiwanya yang telah terlalu lama hancur. Lily menerjang meja rias, menyapu semua botol parfume dan alat rias hingga pecah dan berserakan di lantai. Dia mencengkram pinggiran meja, napasnya sesak, dia melihat bayangin dirinya yang rapuh di dalam cermin. Dia membenci sosok itu. BRAKKSatu hantaman tinjunya membu

  • Requiem For a Swan   Angsa Putih

    Satu Minggu Kemudian Aula utama SMA Merpati putih dihias dengan begitu megah. Ribuan bunga lily putih menghias setiap sudutnya, menebarkan aroma harum. Lily putih adalah bunga kesukaan Lily, sama seperti namanya. Karpet merah membentang di sepanjang aula. Para petinggi, politikus, pengusaha berkumpul. Lily berdiri di sudut ruang, menggunakan kebaya hitam anggun yang begitu pas di tubuhnya. Menyembunyikan pistol kecil dibalik keanggunannya. Matanya terus memindai kerumunan. Tiba-tiba seseorang menepuk pingganya. Begitu menoleh, Adrian sudah berdiri tegak di samping Lily. Tangannya masih dibebat perban, yang dia sembunyikan dibalik jas mewah yang dia kenakan. Tiba-tiba hening, ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan aula. Seolah seluruh perhatian tersedot keluar. Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun. Penampilannya begitu bersih dan beriwibawa. Adrian yang berada tak jauh di samping Lily mematung. Dia menatap wanita itu, seolah ingin menariknya keluar dari sana. Lal

  • Requiem For a Swan   Keping kenangan

    Suara wiper mobil taktis yang menerobos air hujan menjadi satu-satunya ritme di tengah keheningan yang menyesakkan. Lily duduk di kursi belakang, tubuhnya masih terasa kaku. Di sampingnya, Adrian sedang berusaha membalut luka di lengannya dengan satu tangan. Kain kasa itu berkali-kali merosot, membiarkan warna merah pekat kembali menodai kemejanya yang sudah compang-camping. Lily hanya memperhatikannya dari sudut mata. Ada keinginan untuk membantu, namun egonya yang baru saja dihantam kenyataan pahit menahan tangannya untuk bergerak membantu pria itu."Kau akan terus menonton sampai aku kehabisan darah, atau kau mau melakukan sesuatu?" suara Adrian memecah kesunyian. Dingin dan tanpa basa-basi.Lily menghela napas panjang, lalu merampas perban dari tangan Adrian. Jemarinya yang masih dingin menyentuh kulit lengan Adrian. Kontak fisik itu terasa canggung, terlalu intim untuk dua orang yang baru saja saling melontarkan ancaman, dan menatap tajam beberapa menit lalu, namun terlalu boh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status