ログインAroma antiseptik memenuhi indra penciumannya ketika dia menggeser pintu ruang UKS. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara detak jarum jam.
Sinar matahari sore menembus celah gorden, menciptakan bayangan di atas lantai.
Lily melangkah perlahan, hampir tidak bersuara. Di balik tirai kedua, Lily mendengar suara napas yang tersenggal.
Lily menyibak tirai, menemukan Rangga yang meringkuk dengan baju yang basah oleh keringat. Sesekali pemuda itu mengerang, dan meracaukan sebuah kalimat.
Wajahnya semakin pucat, matanya yang terpejam tampak bergetar.
"Sa-kit...," ucapnya lirih, terbata, Rangga mencengkram seprei dengan erat hingga buku jarinya memutih.
Lily segera mendekat, dia meletakkan tangannya di kening pemuda itu. Panas. Panasnya yang tidak wajar. Ini bukan flu biasa. Lily mencurigai ini efek samping dari mengkomsumsi obat-obatan terlarang itu.
Sebagai polisi, Lily ingin sekali mengguncang bahu Rangga, berteriak padanya agar memberitahu siapa si pemasok. Tapi, sebagai guru, yang dia lakukan hanyalah membasuh kening Rangga dengan kain basah. Mengompresnya, dengan harapan pemuda itu segera pulih.
"Ka-tanya, i-ini akan membantu," gumam Rangga, suaranya parau, nyaris tidak terdengar.
"Apa? Apa yang kau katakan?" Lily mendekatkan telinganya ke bibir Rangga.
"To-tolong bawa dia, a-aku harus mene-muinya," Racau Rangga.
"Siapa? Siapa yang harus kau temui?" Lily gemas, tapi dia tetap berusaha sabar.
"Ju .... Ju-lian, b-bbawa dia ...,"
Lily bergeming, dunia seolah berhenti berputar, jantungnya berdentum begitu keras hingga dia merasa pening.
Julian?
"Apa katamu? Siapa Julian? Kenapa kau harus menemuinya?" desak Lily, dia hampir kehilangan kendali.
Namun, Rangga tidak menjawab, dia meringkuk seperti janin dalam kandungan. Memunggungi Lily, saat itulah Lily melihat, sebuah benda berwarna gelap di saku celana Rangga.
Matanya melirik ke arah pintu UKS memastikan tidak ada orang di sana. Tangannya menarik benda itu, perlahan.
Kertas origami yang dilipat membentuk origami angsa.
Napas Lily tercekat, dia melihat lipatan sayapnya sedikit ditekuk ke bawah. Itu ciri khas, sebuah tanda yang hanya diketahui dua orang.
Tangan Lily gemetar, kertas origami angsa itu seperti timah panas di atas tangannya. Nama Julian yang disebutkan Rangga, pasti bukan sebuah kebetulan.
Lily meremas dadanya yang berdenyut nyeri, napasnya tercekat. Dia tersenggal.
Otaknya memutar kembali kenangan lima tahun lalu, dimana dia akan menemukan kertas origami berbentuk angsa itu di meja setiap kali akan pergi misi.
"Sebagai pelindungmu, ketika aku tidak berada di dekatmu."
Suaranya bergema di kepala. Lily menggeleng kuat, menepis kenangan itu.
"Lily apa yang kau lakukan? Detak jantungmu meningkat drastis. Kau baik-baik saja?" Suara Samuel di earpiece terdengar khawatir.
Lily tidak bisa menjawab, lidahnya kelu.
Tiba-tiba suara langkah kaki menggema di koridor. Lily menoleh, dengan cepat memasukkan angsa tadi ke dalam saku roknya. Dia menarik napas panjang, menenangkan diri. Dia kembali memeras kain kompres saat tirai UKS tempat Rangga berbaring tersibak.
Adrian berdiri di sana, menatap Lily dengan sorot tajam. "Anda sangat berdedikasi, Ibu Lilyana. Sampai rela menghabiskan waktu istirahat di ruangan sempit ini demi seorang murid." Suara Adrian dingin.
Lily menoleh, memasang wajah cemas untuk meyakinkan. "Saya hanya khawatir, Pak Adrian. Sepertinya Rangga sangat kesakitan, dia bahkan meracau dan menyebut nama seseorang."
Adrian mengangkat sebelah alisnya, dia melangkah lebih dekat, memangkas jarak antara dirinya dan Lily. "Apa yang dia katakan?"
Lily menatap Adrian. "Dia meracau tidak jelas, suaranya sangat lirih bahkan saya kesulitan mendengarnya. Sepertinya Rangga perlu penangangan medis yang lebih serius daripada sekedar UKS."
Adrian menatap Rangga sejenak. "Tentu, kami akan menanganinya. Tapi, untuk sekarang, rapat guru akan dimulai lima menit lagi, dan saya tidak staff saya datang terlambat."
"Baik, saya permisi," Lily berdiri, dan berlalu di hadapan Adrian.
Langkah Lily tertahan, Adrian tidak menoleh, namun suaranya merambat di udara. "Hati-hati, Ibu Lily. Terkadang, sesuatu yang terkubur, tetap harus terkubur. Karena jika Anda menggalinya, Anda mungkin tidak akan sanggup melihat apa yang ada di dalamnya."
Lily tidak menjawab, dia tetap berjalan tanpa menoleh. Namun, dia memeras angsa kertas di saku roknya hingga remuk.
Rapat guru diadakan di ruangan Kepala Sekolah untuk membahas agenda tahunan. Rupanya sekolah elit ini tidak memiliki ruangan khusus rapat. Mungkin sebagai bentuk perlindungan, ruangan besar dan khusus biasanya menjadi target utama musuh.
Lily mengetuk pintu, masuk dengan tenang. Disusul Adrian tak lama setelahnya.
Lily duduk di kursi paling ujung dekat dengan meja Kepala Sekolah. Dia memindai ruangan itu, dibandingkan ruangan Kepala Sekolah, ruangan ini lebih mirip ruang kendali.
Lily melirik monitor yang menampilkan Live Feed dari berbagai sudut sekolah, Adrian memimpin rapat. Pembahasan tentang festival budaya, malam dansa, dan acara kelulusan kelas 12 hanya seperti angin lalu bagi Lily.
"Lalu, untuk kejadian hari ini. Terima kasih, Ibu Lily. Atas dedikasi Anda pada murid yang sedang sakit dengan membawa dan merawatnya di UKS."
Suara Adrian membuat Lily tersentak, dia kembali menatap Adrian.
"Tapi, kita tidak bisa membiarkan kejadian ini terulang. Kesehatan siswa adalah prioritas utama, tapi integritas institusi ini adalah hukum tertinggi. Kedepannya, setiap tindakan medis harus dilaporkan secara tertulis kurang dari sepuluh menit."
Lily mengangguk, menundukkan kepala. "Saya minta maaf, Pak Adrian. Saya hanya terlalu khawatir hingga terbawa suasana."
Adrian mengangguk, dia kembali melanjutkan rapat. Lily meliriknya. Adrian, pria itu berwibawa dengan cara yang tidak biasa, caranya memimpin, tutur katanya, postur tubuh, bahkan setiap gerakan kecil tersusun rapi. Seperti orang yang telah lama dilatih.
Terlebih, pria itu seperti memiliki sistem sensor, dia bisa mengetahui di mana pun Lily berada.
"Baik, rapat saya cukupkan. Silahkan kembali ke kelas masing-masing." Adrian merapikan berkas materinya, berlalu keluar ruangan.
Saat Lily berdiri, matanya tidak sengaja melirik ke arah meja. Dia mengernyit, laci bawah meja itu tampak terbuka. Lily mendekat pada meja.
Dia menarik laci itu perlahan, menemukan sebuah plastik kecil yang mencuat diantara tumpukan dokumen.
Lily menarik platik kecil itu. Di dalamnya, ada sebuah foto usang, foto dirinya yang diambil di taman bermain lima tahun lalu. Selain itu sebuah anting mutiara berkilau. Jantung Lily seperti diremas tangan tak terlihat. Itu miliknya. Anting yang hilang di taman bermain itu, tepat di malam ketika dunianya meledak menjadi sebuah serpihan.
Lutut Lily melemas, dia berpegangan pada sudut meja. Menggelengkan kepala. Rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin Julian masih hidup, dia dinyatakan tewas lima tahun lalu.
Lily kembali meletakkan foto dan anting itu di tempat semula.
"Kapten," panggil Lily melalui earpiece.
"Ya? Kau butuh sesuatu?"
"Apa mungkin membuka kembali kasus lima tahun lalu?"
Hening .... Samuel tidak langsung menjawab.
"Apa yang kau ketahui?"
Lily menghela napas sejenak, dia menatap foto itu dalam-dalam. "Mungkin, kita tidak hanya menghadapi pengedar narkoba kelas kakap, tapi juga hantu dari masa lalu?"
Samuel terdiam cukup lama, dia ragu untuk menjawab.
"Tapi, tidak mungkin, kan?" Lanjutnya.
"Kasus apa yang kau maksud? Ada banyak kasus dari lima tahun terakhir."
Lily tersenyum pahit, mungkin dirinya yang harus berusaha lebih keras. "Kapten, misi ini sungguh berat. Jadi kuharap, kau akan mendukungku, dan bersedia menyediakan semua yang kubutuhkan."
Samuel mengangguk, meski anggukannya tidak terlihat, tapi Lily tahu bahwa sang Kapten akan mendukungnya.
Lily berjalan keluar ruangan dengan tekad yang lebih berkobar. Perang ini mungkin bukan hanya sekedar perang melawan pengedar narkoba. Tapi, juga dengan masa lalu.
Begitu selesai mengajar, Lily melajukan mobilnya segera menuju markas. Namun sebelum itu, dia singgah ke rumah yang telah disediakan sebagai properti penyamaran. Mengganti baju, dan membawa motor dinasnya. Sesampainya di markas, seluruh rekan timnya sudah menunggu, mereka menyambut Lily dengan senyum merekah. Lily hanya melirik mereka sekilas, lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi. Perempuan itu merebahkan punggungnya, menghela napas panjang. Dia melemparkan sebuah plastik ke atas meja. Bubuk kristal biru, sampel narkoba. "Ruka, bawa ini ke forensik, sekarang!" Perintah Samuel, pria bernama Ruka itu segera berdiri dan mengambil sampel. Samuel mendekat pada Lily, gurat khawatir tercetak jelas di wajahnya. "Apa yang terjadi? Kau seperti orang yang baru saja melihat eksekusi mati." Lily menatap Samuel lekat, dia memperbaiki posisi duduknya. Lily menunduk, menyatukan kedua tangan di atas meja. Lalu merogoh saku jaket yang dia kenakan. Semua rekannya mendekat, menatap sebuah plastik
Aroma antiseptik memenuhi indra penciumannya ketika dia menggeser pintu ruang UKS. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara detak jarum jam.Sinar matahari sore menembus celah gorden, menciptakan bayangan di atas lantai. Lily melangkah perlahan, hampir tidak bersuara. Di balik tirai kedua, Lily mendengar suara napas yang tersenggal. Lily menyibak tirai, menemukan Rangga yang meringkuk dengan baju yang basah oleh keringat. Sesekali pemuda itu mengerang, dan meracaukan sebuah kalimat. Wajahnya semakin pucat, matanya yang terpejam tampak bergetar. "Sa-kit...," ucapnya lirih, terbata, Rangga mencengkram seprei dengan erat hingga buku jarinya memutih. Lily segera mendekat, dia meletakkan tangannya di kening pemuda itu. Panas. Panasnya yang tidak wajar. Ini bukan flu biasa. Lily mencurigai ini efek samping dari mengkomsumsi obat-obatan terlarang itu. Sebagai polisi, Lily ingin sekali mengguncang bahu Rangga, berteriak padanya agar memberitahu siapa si pemasok. Tapi, sebagai guru, yang
Suara harpa berdenting di setiap sudut sekolah, iramanya merdu, mengisi udara dengan harmoni yang menenangkan. Tapi, bagi, Lily, itu bukan musik. Melainkan sebuah tanda bahwa sandiwara telah dimulai. Lonceng sekolah yang aneh, lebih mirip pembukaan konser opera dibanding pengingat masuk kelas.Lily merapikan roknya yang longgar. Memastikan penampilannya tampak norak dan tidak mengancam. Meraba pinggang, perasaan hampa itu masih ada. Mengetahui tidak ada senjata di sana. "Aku akan memulai misinya. Masuk area belajar. Status misi, aktif," bisiknya pelan, hampir tidak menggerakkan bibir. "Diterima. Berhati-hatilah, jadilah guru yang rapuh dan membosankan. Jangan banting muridmu jika mereka kurang ajar," suara Samuel terdengar di telinganya, disusul kekehan pelan Reptor.Lily menarik napas panjang, melemaskan otot tubuhnya sejenak, menyesuaikan letak kacamatanya, lalu mendorong pintu kayu jati yang berat. 12-AHening seketika. Kelas itu tidak seperti ruang kelas pada umumnya. Tidak ada
Lily akhirnya sampai di SMA Merpati Putih. Dia mengamati bangunan itu sebelum memutuskan mendekat. Sejenak, dia tertegun menatap gerbang tinggi berwarna emas di depan sana. SMA Merpati Putih tidak terlihat seperti sekolah. Dari kejauhan, bangunan itu lebih menyerupai sebuah kompleks kedutaan besar atau resor mewah di Swiss. Dindingnya terbuat dari batu alam putih bersih, dengan pilar-pilar tinggi yang menopang atap bergaya neoklasik."Bangunan itu terlihat seperti sebuah istana," katanya, menekan earpiece di telinga. "Istana yang menyembunyikan banyak kejahatan dan kebusukan," sahut Reptor. "Yah, rakyatnya bermanja-manja dengan kotoran," timpal Samuel.Lily tersenyum tipis. Di balik keindahan itu, mata Lily melihat sesuatu yang lain. Dia menghitung ada setidaknya empat kamera CCTV di gerbang depan, masing-masing memiliki sensor gerak. "Keamanannya benar-benar ketat. Setiap CCTV memiliki sensor gerak." Lapor Lily.Petugas keamanan yang berjaga di gerbang mengenakan seragam rapi, n
"Elang, di posisi.""Reptor, di posisi.""Rubicon, sudah di titik pantau.""Alpaca, siaga.""Specter siap di titik buta."Suara-suara itu masuk ke telinga Lily melalui earpiece. Ini adalah hari ke-28 pengintaian. Selama hampir sebulan, mereka hidup di antara bayang-bayang pelabuhan yang berbau solar dan garam, menunggu hantu bernama Blue Swan muncul ke permukaan. Namun, dermaga itu tetap sunyi, hanya suara ombak yang menghantam beton."Semua fokus," suara Samuel, sang Kapten, terdengar berat dan penuh tekanan. "Target utama kita adalah titik transaksi. Jangan gegabah, jangan bergerak tanpa komando. Satu langkah salah, operasi ini tamat. Paham?""Paham, Sir!" jawaban serentak itu terdengar seperti janji setia.Lily, yang menggunakan kode Specter, menyandarkan tubuhnya di balik tumpukan kontainer. Dia mengenakan jaket hoodie kumal, menyatu dengan hiruk-pikuk buruh pelabuhan."Monkey keluar. Dia bergerak ke utara," bisik suara di earpiece. Specter, yang saat itu sedang berpura-pura mengu







