Beranda / Mafia / Requiem For a Swan / Bait-Bait Yang Mencurigakan

Share

Bait-Bait Yang Mencurigakan

Penulis: Garis_Langit
last update Tanggal publikasi: 2026-01-02 07:32:49

Lily akhirnya sampai di SMA Merpati Putih. Dia mengamati bangunan itu sebelum memutuskan mendekat. Sejenak, dia tertegun menatap gerbang tinggi berwarna emas di depan sana. 

SMA Merpati Putih tidak terlihat seperti sekolah. Dari kejauhan, bangunan itu lebih menyerupai sebuah kompleks kedutaan besar atau resor mewah di Swiss. Dindingnya terbuat dari batu alam putih bersih, dengan pilar-pilar tinggi yang menopang atap bergaya neoklasik.

"Bangunan itu terlihat seperti sebuah istana," katanya, menekan earpiece di telinga. 

"Istana yang menyembunyikan banyak kejahatan dan kebusukan," sahut Reptor. 

"Yah, rakyatnya bermanja-manja dengan kotoran," timpal Samuel.

Lily tersenyum tipis. 

Di balik keindahan itu, mata Lily melihat sesuatu yang lain. Dia menghitung ada setidaknya empat kamera CCTV di gerbang depan, masing-masing memiliki sensor gerak. 

"Keamanannya benar-benar ketat. Setiap CCTV memiliki sensor gerak." Lapor Lily.

Petugas keamanan yang berjaga di gerbang mengenakan seragam rapi, namun dari cara mereka berdiri dengan kaki terbuka selebar bahu, tangan tertaut di depan, mata yang terus memindai pelat nomor kendaraan menunjukkan bahwa mereka bukan petugas keamanan biasa. Mereka adalah personel terlatih.

Lily menurunkan kaca mobilnya saat mendekati pos penjagaan.

"Selamat pagi. Saya Lilyana, guru Bahasa Indonesia baru. Saya ada janji dengan bagian personalia dan Kurikulum," ujar Lily dengan nada suara yang sedikit ditinggikan, memberikan kesan gugup yang meyakinkan.

Salah satu penjaga memindai wajah Lily dengan tablet digital, lalu mencocokkannya dengan database. "Silakan masuk, Ibu Lilyana. Parkir di area B, lalu menuju lobi utama. Pak Adrian sudah menunggu Anda."

Lily mengangguk sopan dan melajukan mobilnya. "Mereka bukan petugas keamanan biasa," ujarnya begitu menjauh. 

"Maksudmu?" Samuel memantau pergerakan Lily. 

"Mereka orang-orang terlatih. Mungkin beberapa dari mereka orang-orang dari Medusa." 

Samuel mengacak rambutnya, jika benar akan sulit bagi mereka menembus pertahanan Merpati Putih. 

Lily sampai di area parkir, dia memarkiran mobilnya dengan rapi. Berjalan tenang menuju lobi.

Pak Adrian, batinnya. 

Adrian Pradipta, Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum Merpati Putih sekaligus mantan konsultan keamanan internasional yang direkrut oleh sekolah ini tiga tahun lalu. Sejak kedatangannya, keamanan sekolah meningkat sepuluh kali lipat, dan sekolah itu menjadi hampir tidak tertembus oleh pihak luar.

"Mereka menempatkan penjaga di setiap titik. Hampir tidak ada titik buta. Sepertinya akan lebih sulit dari yang diperkirakan." Lily memindai sekitar, masih dengan gelagat seperti orang pemalu yang melihat-lihat. 

Lobi sekolah itu berlantai marmer Italia yang mengkilap. Di dindingnya tergantung lukisan-lukisan abstrak mahal dan foto-foto alumni yang telah sukses. Saat Lily melangkah masuk, suara sepatunya yang berhak rendah bergema di ruangan yang sunyi itu.

"Ibu Lilyana?"

Sebuah suara bariton yang berat dan tenang memecah kesunyian. Lily berbalik dan sesaat, jantungnya berdetak kencang.

Seorang pria berdiri di dekat air mancur dalam ruangan. Dia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang dipotong sempurna, membalut tubuh atletis yang jelas dirawat dengan latihan fisik rutin.

Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata gelap yang tampak seolah bisa membedah pikiran seseorang hanya dengan satu tatapan.

Pria itu adalah Adrian.

"Y-ya, benar. S-saya..., saya Lilyana," jawab Lily, sengaja meremas tali tasnya kikuk untuk menunjukkan kegugupan.

Adrian berjalan mendekat. Langkahnya tenang, hampir tanpa suara, seperti seekor macan tutul yang sedang mengamati mangsanya. Dia mengulurkan tangan.

"Adrian. Bagian Kurikulum. Selamat bergabung di SMA Merpati Putih," ujarnya.

Saat Lily menyambut uluran tangan itu, dia merasakan sesuatu yang tidak ia duga. Telapak tangan Adrian hangat dan memiliki tekstur kasar di bagian pangkal jari, tanda seseorang yang sering berlatih menembak atau bela diri praktis.

Cengkeramannya kuat, namun tidak menyakitkan. Ada aliran listrik aneh yang merambat di lengan Lily, sebuah reaksi fisiologis yang dia benci karena dia tidak bisa mengendalikannya.

Adrian tidak segera melepaskan tangannya. Dia menatap Lily selama beberapa detik, matanya menyapu wajah Lily seolah mencari sesuatu yang tersembunyi di balik kacamata itu.

"Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang sering diremehkan oleh murid-murid di sini," kata Adrian, akhirnya melepaskan tangan Lily. "Mereka lebih fasih berbahasa Inggris atau Mandarin. Saya harap Anda punya cara untuk membuat mereka tertarik pada identitas bangsa sendiri."

"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Pak," jawab Lily. "Sastra adalah tentang rasa, dan saya percaya semua orang punya rasa."

Adrian tersenyum, namun senyum itu terlihat dingin dan mengandung banyak arti. "Di sini, kami menghargai ketertiban di atas segalanya, Ibu Lily. Kami menjaga privasi keluarga murid-murid kami seperti kami menjaga nyawa kami sendiri. Saya harap Anda bisa beradaptasi dengan protokol keamanan kami."

"Tentu saja, Pak Adrian. Saya hanya seorang guru. Selama saya bisa mengajar dengan tenang, saya tidak keberatan dengan aturan apa pun," Lily membalas dengan senyum manis yang hambar.

"Bagus," Adrian berbalik, memberikan isyarat agar Lily mengikutinya. "Mari, saya tunjukkan ruang kelas Anda. Dan omong-omong, Ibu Lily, kaca spion kanan mobil Anda agak sedikit bergeser. Mungkin Anda perlu memperbaikinya agar bisa melihat apa yang ada di belakang Anda dengan lebih jelas."

Lily tersentak. Kalimat itu meluncur begitu santai, namun bagi Lily, itu adalah sebuah deklarasi. Adrian tidak sedang membicarakan spion, dia sedang mengatakan bahwa dia tahu Lily sedang mengawasi, dan dia bisa melihat Lily lebih jelas dari yang Lily bayangkan.

Dia tersenyum kecil, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Terimakasih atas perhatian Anda, Pak." 

Adrian menoleh sekilas. Sepanjang jalan menuju ruang kelas, Adrian menjelaskan banyak tentang sekolah, filosofi, peraturan, hingga kurikulum. 

Ada satu peraturan yang mengusiknya. Semua guru memiliki jadwal piket malam, tapi mereka tidak boleh bertugas lebih dari 21.00. Alasannya, karena keamanan. 

Tapi, bagi Lily itu sebuah kode. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan di atas jam itu. Selain itu, semua guru tidak diperbolehkan masuk atau mendekati area ruangan Kepala Yayasan. 

Sampai di ruang guru, hanya ada beberapa guru yang menyapa Lily ramah. Dia diberikan kursi paling ujung, menghadap jendela, dengan pemandangan yang langsung mengarah ke lapangan dan gedung sebrang yang merupakan perpustakaan, lab komputer, lab kimia, klub ekstrakurikuler dan gymnasium. Itu adalah titik pantau yang sempurna. 

Sekilas, tidak ada yang aneh dengan sekolah ini. Tapi, bagi seorang polisi, ketidakanehan ini justru memantik rasa curiga. 

Keamanan yang sangat ketat, CCTV dari berbagai titik, hampir tidak ada titik buta. Petugas keamanan di berbagai sudut. Juga, Adrian. 

Lily menyadari satu hal. Penyamarannya mungkin sempurna bagi orang awam, tapi di depan pria bernama Adrian itu, dia harus bermain jauh lebih cantik. Karena di sekolah ini, sepertinya bukan hanya murid-murid yang menyembunyikan rahasia, tapi juga pria yang baru saja menjabat tangannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Requiem For a Swan   Pria Misterius

    Krieeett—Bunyi pintu berkarat berdecit panjang, menggema di telinga Lily. Bau apek langsung menyerbu begitu celah terbuka. Dia mengibaskan tangan, terbatuk kecil saat debu berterbangan dan menggelitik tenggorokan.Tanpa ragu, dia menerobos masuk ke ruangan sempit dan pengap itu.Langkahnya terhenti sesaat ketika menemukan satu ruangan penuh barang bekas, tumpukan kardus, besi tua, dan kabel menjuntai seperti sarang. Di tengah kekacauan itu, seorang pria duduk membelakangi pintu, sepenuhnya tenggelam dalam layar komputernya.Tidak ada reaksi.Entah terlalu fokus, atau memang tidak sadar ada orang lain masuk.Lily menarik kursi terdekat, menggesernya kasar hingga berdecit di lantai, lalu duduk tepat di belakangnya.Masih tidak ada respons.Tanpa peringatan, Lily menendang kaki kursi pria itu.BRAKTubuh pria itu terantuk meja. Dia tersentak, menoleh cepat dengan wajah terkejut."Lu—!" tangannya terangkat menunjuk, tapi urung. Tatapannya berubah. Menciut. "Ngapain?" suaranya turun, nyar

  • Requiem For a Swan   Red Swan Project

    Lily tidak kembali ke apartmen nya, dia juga tidak melaporkan posisi nya pada Samuel. Lily tahu protokol timnya, setiap jengkal rumahnya pasti telah dipasangi alat penyadap atau sensor panas untuk memastikan keselamatannya. Dia memacu mobilnya menuju kawasan industri di pinggiran kota, mematikan mesin di sebuah gedung parkir apartmen tua yang jarang terjamah. Sunyi. Hanya suara detak jam di dashboard yang menemaninya. Dia membuka laptop cadangan miliknya yang tidak terhubung pada server utama di markas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memasukkan flashdisk perak pemberian Adrian. Begitu folder terbuka, terdapat deretan file dengan kode 'Blue-Red' terpampang di sana, memancarkan cahaya biru pucat yang menerangi wajah Lily.Isi flashdisk itu menyingkap tabir yang selama ini tertutup rapat. Seluruh skema operasi yang selama ini dijejalkan milik timnya hanyalah informasi palsu. Entah mereka memang mendapatkan informasi palsu, atau informasi itu sendiri telah dipalsukan. Sindik

  • Requiem For a Swan   Pesan Tersirat

    Pagi itu, langit di atas Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana hati Lily yang pekat. Dia berdiri di depan pintu kayu mahoni yang bertuliskan 'Ketua Yayasan'. Di balik seragam gurunya yang rapi, tiga microchip tertempel di jam tangannya dan satu kamera mikro menyamar sebagai bros perak di dadanya. "Masuklah, Ibu Lilyana. Beliau sudah menunggu." Suara penjaga di depan pintu menyentak lamunan Lily. Dia merapikan baju sejenak, menghembuskan napas panjang, lalu mendorong pintu itu. Aroma mawar langsung menyambutnya. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang menghadap taman. Di balik meja kaca yang elegan, Elena duduk dengan anggun. Setelan blezer kremnya memancarkan otoritas sekaligus kemewahan yang tenang. "Ah, Ibu Lilyana. Silahkan duduk." Elena tersenyum. Senyum itu sempurna. Namun, di mata Lily itu adalah senyum predator yang sedang memamerkan wilayahnya."Terima kasih, Bu Elena. Suatu kehormatan bagi saya." Lily duduk, memastikan bros nya menghadap tepat pada meja kerja

  • Requiem For a Swan   Sekutu?

    Tiga hari setelah malam di mana dunianya hancur berkeping-keping, Lily kembali ke SMA Merpati Putih. Dia mengenakan turtleneck hitam ketat yang menutupi lehernya hingga batas rahang. Juga riasan yang lebih tebal untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat dan sembab. Sebelum benar-benar kembali, Lily harus ke markas lebih dulu atas perintah Samuel. Di koridor markas yang sepi, sang Kapten mencegatnya. "Lily," panggil Samuel lirih, suaranya terdengar ragu, kontras dengan seragam yang dia gunakan hari ini. "Laporan sudah diunggah di server, Kapten. Tidak ada anomali pada subjek Julian pagi ini," Lily berhenti, namun tidak menoleh. Samuel maju selangkah, tangannya setengah terangkat ingin menyentuh bahu Lily, namun dia menariknya kembali. Suasana di antara mereka begitu kaku, seolah-olah udara berubah menjadi kaca yang siap pecah. "Soal Elena ...," Samuel menjeda ucapannya, ada ragu di sana. Lily menoleh. "Kenapa dengan wanita itu?" Tanya nya dengan suara dingin. Samuel menyerahkan

  • Requiem For a Swan   Luka Menganga

    Lily masuk dengan langkah diseret ke apartmen nya yang gelap. Dia tidak menyalakan lampu, dia menutup pintu, mengunci rapat-rapat dan menyandarkan punggungnya di sana.Hening. Sunyi yang memekakkan. Tiba-tiba, bayangan Elena menggandeng mesra tangan Julian, dan suara tawa anak laki-laki itu, berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Perasaan yang dia tekan selama lima tahun, rasa dikhianati, rasa tidak berdaya, rasa kehilangan, dan rasa bersalah meledak seketika.PRANG! Lily menghantamkan vas bunga ke dinding hingga hancur berkeping-keping. "ARRGHHH!!" Teriakan itu pecah, tubuh Lily merosot, tanpa diminta, air mata jatuh membasahi pipinya. Lily meraung, raungan dari dasar jiwanya yang telah terlalu lama hancur. Lily menerjang meja rias, menyapu semua botol parfume dan alat rias hingga pecah dan berserakan di lantai. Dia mencengkram pinggiran meja, napasnya sesak, dia melihat bayangin dirinya yang rapuh di dalam cermin. Dia membenci sosok itu. BRAKKSatu hantaman tinjunya membu

  • Requiem For a Swan   Angsa Putih

    Satu Minggu Kemudian Aula utama SMA Merpati putih dihias dengan begitu megah. Ribuan bunga lily putih menghias setiap sudutnya, menebarkan aroma harum. Lily putih adalah bunga kesukaan Lily, sama seperti namanya. Karpet merah membentang di sepanjang aula. Para petinggi, politikus, pengusaha berkumpul. Lily berdiri di sudut ruang, menggunakan kebaya hitam anggun yang begitu pas di tubuhnya. Menyembunyikan pistol kecil dibalik keanggunannya. Matanya terus memindai kerumunan. Tiba-tiba seseorang menepuk pingganya. Begitu menoleh, Adrian sudah berdiri tegak di samping Lily. Tangannya masih dibebat perban, yang dia sembunyikan dibalik jas mewah yang dia kenakan. Tiba-tiba hening, ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan aula. Seolah seluruh perhatian tersedot keluar. Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun. Penampilannya begitu bersih dan beriwibawa. Adrian yang berada tak jauh di samping Lily mematung. Dia menatap wanita itu, seolah ingin menariknya keluar dari sana. Lal

  • Requiem For a Swan   Keping kenangan

    Suara wiper mobil taktis yang menerobos air hujan menjadi satu-satunya ritme di tengah keheningan yang menyesakkan. Lily duduk di kursi belakang, tubuhnya masih terasa kaku. Di sampingnya, Adrian sedang berusaha membalut luka di lengannya dengan satu tangan. Kain kasa itu berkali-kali merosot, mem

  • Requiem For a Swan   Folder Lullaby

    Samuel mondar-mandir di ruangan kendali. Suaranya sepatunya yang beradu dengan lantai menciptakan irama yang tidak stabil. Sesekali dia menggigit kuku, sebuah kebiasaan lama yang dia lakukan saat merasa terdesak. Ibu jarinya mulai memerah, darah mulai merembes dari sana. Tapi, Samuel tidak peduli.

  • Requiem For a Swan   Asap Menuju Kebenaran

    Lily menelan ludah, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya. Dia segera merunduk, membiarkan tangan Adrian bertumpu pada bahunya. Tubuh pria itu terasa berat dan panas, kontras dengan lantai marmer yang dingin. Aroma kayu cendana yang menjadi ciri khas Adrian kini bercampur dengan baubesi yang amis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status