LOGIN‘Kalau nggak salah, Mama menyimpan kumpulan kartu pos itu di kamar,’ pikir Miri.Di apartemen yang kini ia tinggali sendiri, Miri memberanikan diri mengintip ke dalam kamar mamanya. Ruangan itu telah lama kosong semenjak Bu Sara menikah dan tinggal di rumah Seno. Sesekali ia datang untuk membersihkan setiap ruangan saat Miri pergi bekerja.Miri memutar knop pintu, membuka daunnya lebar-lebar. Ada satu tempat tidur single di satu sisi dinding, dengan lemari pakaian yang kini telah kosong. Ruangan itu hanya seluas 3x3 meter, tanpa jendela.‘Mudah-mudahan Mama tidak membawanya ke rumah Seno,’ gumam Miri.Satu-satunya tempat yang terpikirkan olehnya adalah lemari pakaian. Miri membuka kedua daunnya. Sisi kiri dan kanannya telah kosong, hanya tersisa beberapa sprei bersih yang terlipat rapi. Di dalam laci-lacinya terdapat beragam kaus kaki dan legging.“Nggak ada di kamar,” bisik Miri, mengerucutkan bibir. Ia melangkah mundur, duduk di tepi tempat tidur.DUK!Tumitnya menyentuh sesuatu yan
“Gara-gara aku, kalian sampai berantem tiga hari?” tanya Arman, ketika bicara dengan Miri di telepon malam itu.“Iya! Jihan memang kelihatannya selalu tenang dan dewasa, tapi kadang ada sisi lucunya juga. Seperti anak-anak,” ujar Miri, terkikik geli.Setelah meluruskan kesalahpahaman mereka sambil makan di minimarket, Miri dan Jihan pun berjanji. Mereka tidak akan mendiamkan satu sama lain lagi, dan menyelesaikan masalah secara dewasa.Keduanya saling melingkarkan jari kelingking. Siapapun yang melanggar janji, akan rontok giginya hingga gigi bungsu terakhir.“Kalau diingat-ingat, sepanjang aku mengenal dia, Jihan memang selalu jadi orang pertama yang hadir untuk temannya. Dia nggak menunggu orang lain menyuruhnya melakukan sesuatu. Keren banget,” aku Arman.Miri merenungkan kata-kata itu. Sepanjang persahabatannya dengan Jihan, sahabat Miri yang satu itu tak pernah terlihat lelah membantu orang. Setiap kali Miri ada masalah, Jihan memastikan ia tak menghadapinya sendirian.Seperti sa
“Miri. Bisa kita bicara?” tanya Jihan, berdiri di ambang pintu loker.“Kamu masih di sini? Aku kira udah pulang duluan,” sahut Miri keheranan.Setelah membawa Jihan masuk kembali lewat pintu belakang, Chef Dom telah menunggu mereka dengan wajah masam. Bibirnya cemberut. Matanya seakan menembakkan laser panas kepada sang pramusaji yang baru saja membuat ulah. Satu kaki Chef Dom mengetuk-etuk lantai, melambaikan jarinya pada Jihan.Jihan tahu ia tak akan pulang hidup-hidup setelah kejadian tadi. Bagaimanapun juga, ia melakukan kesalahan dengan menyiram balik si wanita pelakor. Ia melepaskan tangan Miri, tersenyum pahit, lalu menghilang bersama sang kepala koki.“Tadinya mau begitu. Tapi … aku tahu ada yang perlu kita bicarakan. Kalau boleh, temenin aku makan di minimarket,” ajak Jihan, menggaruk kepalanya malu-malu.“Aku ganti baju dulu, ya. Kamu tunggu aja di pintu belakang,” balas Miri, melemparkan senyum.Jihan menurut. Ia meninggalkan Miri di ruang loker sendirian. Setelah mengganti
“Jihan?” panggil Miri, memindai pintu belakang dapur.Tak ada jawaban. Ia melangkah lebih jauh, menutup pintu di balik punggungnya. Keramaian di dalam berubah menjadi kesunyian. Lampu dinding menyoroti lantai beton yang dingin.Di kejauhan, Miri mendengar suara orang sesenggukan. Setiap langkah membawanya mendekati sumber suara. Di dekat dinding, ia menangkap punggung Jihan.“Jihan?” panggil Miri lagi.Tubuh di hadapan Miri menegang. Tangannya bergerak-gerak, menyapu wajahnya cepat. Jihan tersedu, dadanya naik turun mengatur napas.“Kamu nggak papa? Ada yang bisa aku bantu?” tanya Miri berhati-hati.“Nggak papa. Biarin aku sendirian,” pinta Jihan dengan suara gemetar.Suaranya sengau, terhambat oleh ingus yang memblokade hidung. Ba
“Jadi, mau sampai kapan kalian diem-dieman? Udah hari ketiga, nih,” ucap Kemal mengingatkan.Miri hanya melirik diam, sambil mencuci tangan di bak cuci. Tanpa perlu menyebut nama, ia sudah tahu siapa yang dimaksudkan oleh Kemal.Sahabatnya mendekat, menyikut lengan Miri saat Jihan baru saja datang. Wajahnya tampak lesu, bibirnya bisu saat melewati Kemal dan Miri. Seakan-akan tak mengenali mereka.“Kalian yang berantem kenapa aku juga yang kena akibatnya, sih,” protesnya kesal.“Kalau kamu mau tahu jawabannya, tanya aja dia langsung. Aku udah coba tanya apa masalahnya, dia tetap diam,” sahut Miri, mengeringkan tangannya dengan handuk.Kemal menggeleng.Sambil mengamati Miri hilir mudik mengambil bahan dari gudang dan kulkas, Kemal coba mengulik masalah apa yang menyebabkan semua ini.“Apa kamu ngomong sesuatu yang buat dia marah?” tanya Kemal, mencubit dagu.“Aku nggak tahu, Mal. Dan … seingatku sih nggak,” bantah Miri.Kemal bergumam, menyesap kopi paginya.Di sisi lain, Miri menuangk
“Teman-teman, kita berhasil melewati masa Natal dan Tahun Baru dengan selamat. Meski sempat tertatih-tatih, tapi akhirnya peperangan sudah selesai,” kata Chef Dom memulai pidatonya pagi itu.Ia berdiri di depan, sementara tim pramusaji dan koki berkumpul dalam barisan. Dari tempatnya berdiri, Miri dapat melihat sisi wajah Jihan. Ia tampak menyimak dengan serius.“Saya mendengar banyak pujian dari para pelanggan kita. Mulai dari yang telah berulang kali ke Nero&Bianco maupun yang baru pertama kali singgah. Tapi, jangan sampai kalian lengah hanya karena mendapat sedikit pujian,” tegur sang kepala koki.“Iya, Chef!” seru para karyawan kompak.Sous Chef yang mendampingi Chef Dom di sisinya memberikan daftar bahan dan rekomendasi menu yang akan mereka gunakan hingga bulan depan.“Menu utama restoran akan kembali ke menu reguler yang biasa. Sementara untuk dolce, permintaan terhadap Grandma’s Sbrisolona masih tinggi. Jadi, selamat, ya, Miri!” puji Chef Dom, bertepuk tangan.Miri menunduk ma
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut







