Mag-log in“Miri! Miri!” panggil Rosalie dengan suara berbisik.Miri tak mengalihkan pandangan dari isi panci, mengaduk saus custardnya pelan. Satu sisi telinganya panas karena Rosalie tak berhenti mencecarnya dengan rentetan pertanyaan.Di antara aroma vanila yang menyeruak seisi ruanga, ia merasakan Rosalie menarik lipatan lengan bajunya. Miri menggeram rendah. Denting perkakas dapur yang biasanya menenangkan mengetuk batas kesabaran.“Ada apa lagi, Rosalie?” tanya Miri dengan gigi rapat.“Kenapa custard-ku cair banget, ya? Warnanya juga pucat! Tolongin, dong,” keluh Rosalie, memperlihatkan isi pancinya.“Aku nggak bisa ninggalin panciku, Rosalie. Tunggu bentar, ya—”“Tolongin bentar aja! Masa aku udah gagal di hari pertama? Ini salah di mana, ya?” rengek Rosalie.Miri membuang napas panjang. Setelah mengecek konsistensi krim custardnya, Miri meyakinkan diri bahwa hasilnya cukup memenuhi standar.Ia mematikan kompor, mengesampingkan pekerjaannya sejenak.Melongok ke dalam panci saus di meja Ro
“Rosalie! Rosalie! Ayo, bangun!” teriak Miri di antara dering alarm yang memekakkan telinga.Sementara itu, sang pengguna alarm masih tertidur pulas di ranjang, berlindung di bawah selimut tebal. Rosalie merengek, menampik tangan Miri dari menarik selimutnya turun.Di luar jendela, kegelapan telah memudar. Sinar matahari masih malu-malu menembus gorden, tapi Miri telah siap dalam balutan seragam koki yang Bianca antarkan kemarin malam.“Kelas pertama dimulai 30 menit lagi. Masa kamu mau terlambat di hari pertama?” Miri mengingatkan, menepuk bahu teman sekamarnya.“Kamu berangkat duluan aja... Aku masih ngantuk,” balas Rosalie dengan suara menyeret. Ada aroma alkohol tersisa di rambutnya.Miri ragu Rosalie akan bangun jika ia meninggalkannya masih dalam keadaan terbungkus selimut. Ia pun tak punya kapasitas untuk menariknya turun. Mereka belum sedekat itu.Karenanya Miri tak dapat melarang ketika Rosalie berpamitan padanya, untuk pergi ke klub dengan seorang ‘teman’. Bagaimana bisa ia
“Here’s your room. And here’s the key,” ucap Bianca, meletakkan sebuah kunci di tangan Miri.Ia mendorong pintu, memasukkan dua koper besar lebih dulu. Ketika daun pintunya membuka lebar, Miri menganga saat melihat isi ruangan.Sebuah jendela berukuran besar berada di ujung ruangan, menghadap taman dengan pepohonan berwarna hijau pucat di baliknya. Dua tempat tidur single, masing-masing menempel rapat di sisi dinding. Sebuah lemari untuk menyimpan jaket di dekat pintu, dan pintu lain di dalam menuju kamar mandi.“Nggak jelek-jelek amat,” bisik Rosalie yang berdiri di samping Miri, sambil mengangguk-angguk.Perempuan itu melangkah masuk, memindai setiap sudut ruangan. Ia melepaskan jaket, melemparkannya ke kaki tempat tidur. Kasur tempat tidur mengambul saat Rosalie melempar dirinya yang ramping ke ranjang.“Tempat tidurku yang ini, ya, Miri,” ucap Rosalie tegas, tak menunggu Miri mengiyakan.Dua kasur terpisah itu identik bagi Miri. Tak ada alasan baginya untuk protes.“Well, I’ll let
“Kemirayu Salwa! Miss Kemirayu!”Miri tercengang mendengar namanya diteriakkan lantang di pintu kedatangan Bandara Leonardo da Vinci. Ia baru saja tiba, masih berkutat dengan jaket yang buru-buru Miri pakai. Sisa dari musim dingin masih terasa di kulit, membuat tubuh menggigil.Sambil mencari-cari asal suara, koper Miri meluncur bersamanya menyusuri koridor bandara. Seorang perempuan tinggi berambut pirang dan ikal melambaikan tangan ke arahnya. Ia membawa poster besar dengan nama lengkap Miri, ditulis tangan dalam tinta hitam.“Miss Kemirayu! Over here!” seru wanita itu dengan senyum lebar.Miri menengok ke kiri dan kanan, mengira akan ada seseorang di luar sana yang memiliki nama unik seperti dirinya. Ia menunggu dan tak ada seorang pun yang menyahut. Memberanikan diri, Miri menghampirinya.“Hello. I’m Kemirayu,” sapanya, mengulurkan tangan.“Hello, Miss Kemirayu! Nice to meet you! I’m Bianca. Chef Nervi sent me here to escort you. I’m also gonna be your interpreter during classes,”
“Good night, Arman. Have a great weekend!” ucap Greg, melambaikan tangan dari kejauhan.“Night, Greg! Say hi to Laila for me!” balasnya.Setelah pria berambut pirang itu tak lagi terlihat di ujung jalan, Arman berbalik. Ia menyusuri trotoar jalan yang masih ramai oleh manusia, menghabiskan sisa waktu akhir pekannya.Sementara Arman sudah kenyang. Ia tak punya lagi tujuan selain berbaring di sofa dan menikmati rasa kantuk. Berbeda dengannya, malam ini Greg mungkin harus tetap terjaga demi Laila.“Dia pria yang baik. Kadang aku merasa bersalah karena menjebaknya dalam pernikahan ini. Pasti dia tak pernah berharap punya istri yang sakit-sakitan,” ungkap Laila, saat Arman menjenguknya siang itu.“Jangan ngomong gitu. Bukannya hubungan suami istri layaknya seperti itu? ‘Susah senang ditanggung bersama’,” balas Arman.Laila, dalam tubuh lemah dan kulit pucatnya, mendengus panjang. Matanya kosong menatap keluar jendela, seakan kehadiran Arman di sisinya hanyalah bayangan semu.“Kamu bisa ngo
“Arman, have you ever fallen in love ? (Arman, apa kamu pernah jatuh cinta?)” tanya Greg, di tengah makan malam mereka.Arman terbatuk-batuk. Potongan daging yang telah ia telan hampir saja melompat keluar dari kerongkongan lagi. Para pengunjung yang duduk di meja sekitar sampai menoleh.“What’s with the sudden question?! I almost choked! (Kenapa tanya seperti itu? Aku hampir tersedak!)” protesnya.Rekan kerja Arman melemparkan senyum canggung. Arman menenggak gelas berisi air dingin hingga habis setengahnya.“Sorry. The thought suddenly came to mind. Everytime Laila spoke about you, it sounded like you’re too free-spirited to be tied down (Maaf. Tiba-tiba saja aku kepikiran hal itu. Setiap kali Laila bicara tentangmu, terdengarnya seperti kamu terlalu bebas untuk dikekang dalam sebuah hubungan),” ujar Greg.
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s







