LOGIN“Arman, have you ever fallen in love ? (Arman, apa kamu pernah jatuh cinta?)” tanya Greg, di tengah makan malam mereka.
Arman terbatuk-batuk. Potongan daging yang telah ia telan hampir saja melompat keluar dari kerongkongan lagi. Para pengunjung yang duduk di meja sekitar sampai menoleh.
“What’s with the sudden question?! I almost choked! (Kenapa tanya seperti itu? Aku hampir tersedak!)” pro
“Good night, Arman. Have a great weekend!” ucap Greg, melambaikan tangan dari kejauhan.“Night, Greg! Say hi to Laila for me!” balasnya.Setelah pria berambut pirang itu tak lagi terlihat di ujung jalan, Arman berbalik. Ia menyusuri trotoar jalan yang masih ramai oleh manusia, menghabiskan sisa waktu akhir pekannya.Sementara Arman sudah kenyang. Ia tak punya lagi tujuan selain berbaring di sofa dan menikmati rasa kantuk. Berbeda dengannya, malam ini Greg mungkin harus tetap terjaga demi Laila.“Dia pria yang baik. Kadang aku merasa bersalah karena menjebaknya dalam pernikahan ini. Pasti dia tak pernah berharap punya istri yang sakit-sakitan,” ungkap Laila, saat Arman menjenguknya siang itu.“Jangan ngomong gitu. Bukannya hubungan suami istri layaknya seperti itu? ‘Susah senang ditanggung bersama’,” balas Arman.Laila, dalam tubuh lemah dan kulit pucatnya, mendengus panjang. Matanya kosong menatap keluar jendela, seakan kehadiran Arman di sisinya hanyalah bayangan semu.“Kamu bisa ngo
“Arman, have you ever fallen in love ? (Arman, apa kamu pernah jatuh cinta?)” tanya Greg, di tengah makan malam mereka.Arman terbatuk-batuk. Potongan daging yang telah ia telan hampir saja melompat keluar dari kerongkongan lagi. Para pengunjung yang duduk di meja sekitar sampai menoleh.“What’s with the sudden question?! I almost choked! (Kenapa tanya seperti itu? Aku hampir tersedak!)” protesnya.Rekan kerja Arman melemparkan senyum canggung. Arman menenggak gelas berisi air dingin hingga habis setengahnya.“Sorry. The thought suddenly came to mind. Everytime Laila spoke about you, it sounded like you’re too free-spirited to be tied down (Maaf. Tiba-tiba saja aku kepikiran hal itu. Setiap kali Laila bicara tentangmu, terdengarnya seperti kamu terlalu bebas untuk dikekang dalam sebuah hubungan),” ujar Greg.
“Jihan, lepasin. Aku mau berangkat, nih,” keluh Miri.Tubuh Miri kaku dalam pelukan erat Jihan, seakan menjadi jangkar kapal yang menahan lajunya pergi. Sepanjang pertemanan mereka, Miri belum pernah melihat Jihan bermanja padanya selekat ini.“Bentar lagi, Miri. Aku bakal nggak ketemu kamu untuk waktu yang lama. Jadi, aku perlu menyimpan stok pelukan buat 3 bulan ke depan,” rengek Jihan.“Ya, ampun. Kayak anak kecil aja sih,” ejek Miri, tapi ia tak menghindar.Miri melingkarkan tangannya di tubuh Jihan, menariknya dalam pelukan erat. Jihan terkikik geli sebelum akhirnya melonggarkan lengannya. Ia buru-buru menghapus titik air yang mulai merembes di sudut mata.Di tengah hiruk pikuk bandara sore itu, keberangkatan Miri ke Italia diiringi oleh pelukan dan doa dari keluarga dan sahabat-sahabatnya. Untuk pertama kalinya, Miri dapat memahami beratnya rasa kehilangan.Meski perpisahan mereka hanya sementara waktu, tangisan yang pecah membuat Miri bertanya-tanya apakah ia membuat keputusan
TOK, TOK, TOK.Miri mendengar ketukan di pintu kamarnya saat sedang mengisi koper. Ia bangkit dari lantai, membuka pintu. Wajah Bu Sara muncul, melemparkan senyum pada sang putri.“Masih belum tidur, Nak?” tanya Bu Sara.Di tangannya membawa setumpuk pakaian bersih dan wangi yang baru saja selesai disetrika.“Belum, Ma. Mau ngatur isi koper dulu supaya barang lainnya lebih muat,” ucap Miri.Ia menggeser diri, memberi ruang bagi ibunya untuk masuk ke dalam kamar. Bu Sara meletakkan tumpukan pakaian di tepi tempat tidur. Pandangannya beralih pada koper besar yang terbuka di tengah lantai.Sepasang sepatu dan tas kecil masih terbengkalai di sisi koper, sementara pakaian telah dilipat dan dikencangkan dengan tali pengaman di dalamnya.“Masih kurang apa
“Apa ada sesuatu di antara kamu dan Arman, Miri?” tanya Kemal, di penghujung jam kerja mereka.Keduanya berdiri di teras belakang dapur. Di bawah langit malam dan angin yang bertiup, Miri terpaku saat sahabatnya melemparkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang selama ini Miri hindari, karena ia takut dengan jawabannya sendiri.Miri memasukkan tangannya ke dalam saku jaket, lalu mendesah pelan.“Nggak ada yang spesial, Kemal. Belum, lebih tepatnya,” ucap Miri.Sebuah keberanian kecil nan tulus dari dalam hatinya, untuk mengakui bahwa Arman bukan lagi pria biasa baginya. Di hadapan Miri, Kemal mengangguk-angguk.“Berarti bisa dibilang perasaan kalian saling berbalas? Hanya saja tidak ada status?” lanjutnya.“Bisa dibilang begitu. Aku ingin berhati-hati dengan perasaanku sendiri, Mal. Bukan karena Arman nggak cukup buatku. Justru karena dia baik, aku mau berhati-hati,” ujar Miri sambil tersenyum simpul.Kemal dapat memaklumi sudut pandang itu. Ia mengulum bibir, tampak memikirkan hal yang seri
“Sepertinya ada yang lagi bahagia hari ini,” celetuk seorang senior, saat Miri bekerja di dapur.“Masa sih, Kak? Biasa aja, kok,” bantah Miri, memijat sudut bibirnya yang pegal karena terangkat tinggi seharian.Lagi-lagi, Miri harus menahan diri untuk tak senyum-senyum sendiri. Di antara tugasnya mengaduk adonan dan menambahkan hiasan pada sajian dolce, sesekali ia berhenti sejenak.Miri mengatur napas, menyimpan memorinya tentang pembicaraan dengan Arman semalam. Ia harus berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas sebelum jadwal paginya berakhir.“Dolce! Dua tiramisu! Satu torta!” seru Chef Dom, dengan suara membahana yang terdengar hingga bagian belakang dapur.“Si, va bene, Chef!” Miri dan timnya kompak menjawab.Dengan gesit, Miri mengambil gelas-gelas tir
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan







