Se connecter“Jika ini pertama kalinya bapak-bapak sekalian datang ke Nero&Bianco, saya bisa merekomendasikan beberapa menu favorit pengunjung kami,” ucap Jihan ramah.
“Saya sendiri sudah beberapa kali ke restoran ini. Oh iya, minggu lalu kami juga baru kerja sama dengan koki di sini. Kami dari Arkate. Saya Seno Narendra,” balas Seno, melengkungkan senyum.
![]()
“Arman Arkani! BURUAN!” teriak Wisnu dari lorong kantor.“Semoga sukses, ya! Kabarin kalau lampu ijo!” dukung Seno.Arman menggaet tas kerja, laptop, ponsel, dan buku catatannya. Ia memasukkan seluruh gawai dan setengah berlari menyusul Wisnu ke pintu depan.Saat matahari sedang tinggi-tingginya, mobil sedan yang Arman kendarai telah menempati area parkir Alternata, sebuah restoran eksklusif di pinggiran Jakarta. Wisnu yang duduk di kursi penumpang, mengecek waktu yang ditunjukkan jam tangannya.“Oke, kita nggak telat,” ujarnya, setelah mobil berhenti di halaman parkir.“Gue laper. Kalau mereka belum dateng, kita pesan makan duluan, ya,” gumam Arman sambil memegangi perut.
“Arman.”Belakangan ini, Arman Arkani merasa ia bukan menjadi dirinya sendiri. Setiap kali ia bersama dengan seorang teman wanita, pikirannya tak pernah ada di tempat. Tubuhnya masih bereaksi alami ketika bersanggama dengan lawan main.Namun, seminggu ini kepalanya tak sedetik pun beranjak dari pertemuannya dengan Miri.Miri versi bioskop, bukan pekerja restoran berpenampilan kusut. Arman tak dapat melupakan wujud menawan itu. Dalam balutan gaun putih ketat bermotif bunga, bukan seragam kerja ala chef berwarna putih yang dua nomor kebesaran.“Arman.”‘Bagaimana bisa seseorang berubah menjadi jelita di satu hari dan lusuh di waktu lain?’ tanya Arman dalam hati.Rambut hitam Miri yang biasanya
“Mir, aku udah sampai–langsung ke atas aja? Oke. Mal, aku ke atas dulu, ya,” ucap Jihan, memutuskan kontak dengan Miri di telepon.“Oke. Aku tunggu di basement aja, ya,” balas Kemal.Jihan turut menyeret Kemal yang menjadi supir untuk menjemput Miri malam ini. Awalnya pria itu menolak, tapi Jihan bilang Miri menangis di telepon. Mereka tak bisa tinggal diam.Tiga puluh menit telah berlalu sejak telepon terakhir Miri. Jujur, mendengar suara sendu Miri di tengah malam cukup mengkhawatirkan. Ia mengira Baskara melakukan hal buruk pada Miri.“Kamu nggak papa, kan, Mir?” tanya Jihan.“Tolong temani aku pulang,” balas Miri.Bagaimana
“Peluk aku, Bas,” pinta Miri.Belum juga mereka melangkah jauh ke dalam apartemen Baskara, Miri telah menuntut perhatian lebih. Bukan karena ia haus kehangatan, tapi Miri ingin mendistraksi pikirannya dari ide-ide liar yang tak mau pergi. Keduanya berpelukan di ruang tamu, dalam gelap yang menyembunyikan mereka dari dunia.Dalam pelukan Baskara, ingatannya tentang anting pink muda yang ia temukan di lantai mobil memudar. Lengan Miri memeluk pinggang Baskara lebih erat. Kecupan singkat perlahan meningkat jadi gairah.“Jangan di sini, Miri,” bisik Baskara dengan telinga memerah.“Aku nggak mau pulang hari ini,” sahut Miri.Suara-suara dunia pun teredam. Di antara desahan napas dari bibir yang
Selepas menonton film, Miri dapat merasakan mood Baskara mulai membaik. Selama menonton, ia banyak tertawa dan menikmati adegan-adegan komedi. Keduanya juga berbagi popcorn besar yang Arman berikan.Sekedar kompensasi karena tak sengaja menabrak Miri dan menjatuhkan popcorn yang dibeli. Saat makan malam pun, Baskara tak berhenti membicarakan film itu.“Setelah ini mau ke mana lagi, Sayang? Kamu bilang mau coba mampir ke toko kue yang lagi viral itu, kan?” ajak Baskara.“Beneran nih? Asyik!” seru Miri riang, mengeratkan genggaman tangannya yang menggandeng Baskara.Setelah kenyang, Miri dan Baskara beriringan menuju area parkir. Saat hendak membuka pintu, ponsel Baskara berdering. Ia membuang napas panjang saat melihat layar.
“Buat nonton nanti, aku yang beliin popcorn dan minumnya, ya, Sayang. Kan kamu udah beliin tiketnya,” kata Miri, memecah keheningan.Baskara tak menjawab. Ia sibuk menatap lurus ke depan. Kedua tangannya menggenggam kemudi erat. Miri melirik, menangkap rahang Baskara yang mengencang.Semenjak meninggalkan rumah Nenek Aisha, keduanya diam seribu bahasa. Tanpa perlu saling melempar kata, keduanya memikirkan hal yang sama.“Pokoknya kalian menikah sebelum Miri berusia 30 tahun. Masalah uang, tidak usah kalian pikirkan,” pesan Nenek Aisha saat mengantar Miri dan Baskara ke mobil.“Nek … nanti aku kirim kabar setelah kami sepakat, ya,” dalih Miri.Dalam hatinya, ia tahu tengah berbohong.
“Siapa di situ?” teriak Miri, menegakkan diri.“Maaf. Saya nggak bermaksud nguping,” suara seorang laki-laki membalas.Sosok tinggi itu keluar dari k
“Semua orang yang kerja di properti pasti kenal Seno Narendra, Mir. Dia pemain besar di dunia konsultan,” balas Baskara penuh semangat.“Aku kan bukan orang properti. Di mataku dia ya temannya Mama,&rd
“Selamat malam, Miri,” sapa Seno Narendra dengan senyum mengembang.“Malam, Pak–eh, Om–” balas Miri gugup.Seno Narendra tertawa kecil.
“Kamu kenapa, Man?” tanya wanita cantik itu, mendekati Arman.“Nggak papa,” balas Arman dalam tawa kering sambil mengelus tulang kering yang ditendang Miri.







