แชร์

Bab 44. Arman vs. Namira

ผู้เขียน: Mozze Satrio
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-08 19:05:23

“Aku nyalain radio, ya. Biar nggak ngantuk,” ucap Arman, menyentuh panel elektronik di dasbor mobilnya.

“Oke. Silakan,” balas Namira, sambil mengetik di ponselnya.

Melodi dari pemutar musik menjadi pengisi udara di dalam mobil. Entah karena tubuh yang lelah karena berpesta seharian atau sekedar tak ada lagi minat untuk bicara, Arman dan Namira dud

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Resep Cinta Miri   Bab 114. Malam bersama Jihan

    “Akhirnya bisa istirahat juga,” gumam Miri.Mari memandang langit-langit kamarnya, mengistirahatkan tulang punggungnya yang serasa terbakar. Kedua tangan dan kakinya merentang lebar, menguasai seluruh permukaan ranjang.Jihan baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan setelan piyama yang ia pinjam dari Miri. Rambutnya membentuk cepol di puncak kepala, dengan pembuluh darah seluruh tubuh yang membuka lebar, mengalirkan rona ke pipinya yang mulus. Sambil berjalan ke tempat tidur, Jihan menepuk-nepuk perutnya.“Geser, dong,” goda Jihan, mendorong tubuh Miri ke sisi lain ranjang. Ia terkekek ketika mendengar Miri menggerutu. Jihan menepuk bantal, menyandarkan kepala di permukaannya yang empuk. Ia bergabung dengan Miri menatap langit-langit. “Kalau besok pagi aku bisa buang air, aku siap makan setengah lusin masakanmu lagi,” ungkapnya lugas.Miri mengerutkan hidung.Mengabaikan protes Miri, Jihan menarik selimut hingga menutupi dada dan melepaskan ikatan rambut. Ia memutar tubuhnya m

  • Resep Cinta Miri   Bab 113. Miri Kalah Mental

    “Mir.”Sang pemilik nama membisu. Matanya menatap jauh keluar jendela. Langit tampak biru seperti bentangan kain satin, bersama helaian awan tipis yang bergerak pelan. Hangatnya matahari menerpa wajah, membuat wajah Miri berseri.Rasa kantuk yang datang memaksanya untuk menyipitkan mata. Namun, setiap kali pelupuknya menutup, wajah Arman terbayang lagi.“Miri!”Teriakan itu membuat Miri terperanjat.“Apa sih?!” pekiknya.Jihan, membelalakkan mata sambil menunjuk ke arah bak cuci di hadapan Miri.“Itu! Airnya luber!”Miri menu

  • Resep Cinta Miri   Bab 112. Rasa yang Sama

    “Kenapa, ya, aku selalu ketemu kamu di tempat tak terduga,” ungkap Miri, mengerutkan kening.Arman melepaskan tawa kecil. Ia juga berpendapat sama.Miri tiba di makam sambil memeluk sebuah buket bunga berwarna serupa. Di balik riasan tipis di wajah Miri, ada kelelahan yang bersembunyi. Helaian rambut yang hiatm jatuh di sisi wajah, membingkai pipi tirus dengan rona buatan.Meski matanya sayu dan langkahnya menyeret, Miri tetap memasang senyuman lembut yang Arman kenal. Tidak bisa. Sepertinya Arman tidak bisa melawan gelisah jika Miri dalam peredarannya. Debaran di dalam dadanya adalah saksi.“Mumpung ada waktu, aku mampir ke sini sebentar,” sahut Arman. Miri mengangguk, memaklumi.“Kamu sendiri? Jam segini di luar restoran. Bukannya ini hampir waktunya persiapan paruh kedua?” tanya Arman, memeriksa waktu di jam tangan.“Aku abis ngurus berkas untuk perpanjangan sertifikat profesi. Karena masih ada waktu, sekalian aja aku ke sini sebentar,” jawab Miri.Dari bangku tempatnya duduk, Mir

  • Resep Cinta Miri   Bab 111. Arman Berziarah

    Lampu sen mobil mengedip dua kali saat Arman menekan tombol pada kuncinya. Ia merapatkan kerah jaket menutupi leher, berjalan cepat sambil menenteng seikat bunga peony di tangan. Arman menyusuri lantai berlapis paving berwarna terakota, mengantarkannya ke depan pintu gerbang TPU. Daun-daun pohon bunga kamboja di sisi gerbang mengayun bersama angin yang bertiup. Aroma udara selepas hujan terasa asam, mengeringkan tenggorokan.“Selamat siang, Bu. Gedung pengurus pemakamannya di mana, ya?” sapa Arman lembut pada seorang penjaja bunga kuburan di samping jalan setapak. Mengikuti petunjuk si ibu, Arman melanjutkan perjalanan. Setelah melewati gerbang, permukaan lantai memecah menjadi tiga. Ada jalan utama, sayap kanan, dan kiri. Arman terus melangkah, menuju bangunan sederhana dengan jendela besar menghadap jalan. Pintu ganda berbahan kayu menjadi satu-satunya jalan masuk.Di dekat pintu, sebuah meja menyambut, permukaannya kusam dengan beberapa titik bopeng di permukaan. Mesin komputer d

  • Resep Cinta Miri   Bab 110. Tantangan Baru Miri

    “Selamat pagi!” sapa Miri riang.Beberapa rekan kerjanya yang sudah tiba di dapur pagi itu menoleh, membalas sapaan yang sama. Senyum yang menghiasi wajah Miri membawa semangat baru yang membuat rekan kerjanya tercengang. Tak ada yang tahu bahwa ia menangis semalaman. Jika lembar kertas surat terakhir Nenek Aisha dapat bicara, ia akan bersaksi pada titik-titik air yang membekas dan mengerutkan permukannya. “Selamat pagi, Jihan!” seru Miri saat di ruang ganti.“Pagi, Mir. Semangat banget hari ini?” balas Jihan yang sedang mengancingkan kemeja kerjanya. Alisnya terangkat, menangkap sosok Miri yang lebih riang daripada biasanya. Dengan gesit, ia telah siap dengan seragamnya.“Iya, dong. Kita harus ceria setiap hari, biar semangat masaknya! Aku duluan, ya,” balasnya.Setelah mengganti pakaian dengan seragam kerja, Miri segera beranjak ke dapur. Ia membuka buku jurnal resep yang ia simpan pada salah satu laci dapur. Catatan dan sketsa yang terakhir kali ia torehkan pada lembaran kertas

  • Resep Cinta Miri   Bab 109. Surat Wasiat Nenek Aisha

    “Selamat pagi, Pak. Silakan masuk,” sambut Miri di pintu depan.“Terima kasih,” balas pria tua di hadapannya dengan suara parau.Bila langit mendung kota Jakarta dapat menyerupai manusia, Malik Hanasta adalah perwujudannya. Pak Malik adalah laki-laki tua, mengenakan warna jas kelabu dengan kemeja putih dan dasi biru tua bermotif batik. Ia melangkah masuk, mengikuti Miri hingga ke ruang tamu rumah mendiang Nenek Aisha. Semakin jauh ia melangkah, keheningan di dalam rumah semakin suram.“Silakan duduk, Pak. Sebentar saya buatkan kopi–”“Teh saja, Kemirayu. Saya tidak minum kopi,” potong Pak Malik tegas.Pria itu duduk di tengah sofa, dengan tubuh membungkuk. Tas kerja berbahan kulit yang ia bawa bersandar di kaki sofa. Satu tangannya memegang selembar dokumen, dengan mata tua yang menyipit, mencoba mengenali barisan huruf yang tercetak di kertas.Sementara itu, Miri menghilang ke dapur. Ia mengisi dua cangkir dengan seduhan teh di dapur. Perpaduan aroma melati dan teh yang pekat memban

  • Resep Cinta Miri   Bab 6. Berita Baru Bu Sara

    “Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten

  • Resep Cinta Miri   Bab 5. Ibu Sara Baru Pulang

    “Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M

  • Resep Cinta Miri   Bab 4. Makan Siang Keluarga

    “Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk

  • Resep Cinta Miri   Bab 3. Kedatangan Kemal sang Koki

    “Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status