FAZER LOGIN
"Punya kamu sempit banget. Sora mana pernah mau diajak kayak gini.”
Sora memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas gemetar. Dengan kaki yang bergetar hebat dan napas yang tertahan di tenggorokan, Sora melangkah pelan mendekati celah pintu kamar.
Ia berusaha berpikir positif, mencoba membodohi dirinya sendiri bahwa suara desahan itu mungkin berasal dari apartemen sebelah atau sekadar televisi yang lupa dimatikan. Tapi.. kalaupun adalah sekadar televisi mengapa menyeret namanya?
Dengan jemari yang gemetar, Sora melangkah ke kamar.
Langkahnya terasa begitu berat, seolah setiap pijakan ditarik oleh beban ratusan ton. Namun rasa penasaran dan firasat buruk menyeretnya untuk terus berjalan, meski dadanya kian bergemuruh hebat.
Begitu kakinya terhenti tepat di depan pintu kamar tidur Dion yang sedikit terbuka, pemandangan di dalamnya membuat seluruh tubuh Sora terpaku kaku. Darahnya seolah berhenti mengalir.
Di atas ranjang berantakan itu, Dion—pria yang selama sembilan tahun ini selalu ia cinta, dua tahun dirinya menjadi manajernya, kini sedang mengungkung seorang wanita berambut pirang dengan pakaian yang sudah tak karuan.
"Kamu beneran mau ninggalin Sora demi aku, kan, Sayang?" bisik wanita itu dengan nada bermanja-manja, melingkarkan lengannya di leher Dion.
Dion terkekeh dingin. Tanpa ragu sedikit pun, ia mendaratkan kecupan menyesakkan di leher wanita di bawahnya. Bunyi basah begitu memekakkan telinga di dalam keheningan malam.
"Sora belum pernah aku pakai. Lagian cuma kamu yang bakal aku nikahin." Napas Dion memburu kasar, meremas pinggul di bawahnya. "Aku mentokin ya?"
Deg.
Dunia Sora seketika runtuh. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak meloloskan rasa lemas yang luar biasa. Air matanya menetes tanpa permisi, membasahi pipinya yang mendingin.
Sembilan tahun. Sembilan tahun waktunya, tenaganya, dan seluruh mimpinya yang ia korbankan demi mendukung karier Dion dari bawah hingga menjadi aktor ternama. Dan sembilan tahun ia tak pernah mendengar Dion mengajaknya menikah.
Dan balasan yang ia dapatkan di malam ulang tahunnya adalah predikat sebagai wanita 'yang tidak bisa dipakai’. Rasa-rasanya, kue yang ia buat sepanjang hari ini lebih baik dilemparkan ke ranjang.
“Hebat!”
Dion terbelalak panik, terburu-buru menarik selimut. Namun Sora tidak sudi mendengar sepatah kata pun alasan dari mulut pria itu.
“Sampah memang cocok dibuang di tempatnya.” Ia berbalik, melangkah meninggalkan apartemen milik Dion yang sudah berteriak memanggil namanya.
…
Dada Sora rasanya mau pecah. Langkah kakinya menyusuri jalanan malam dengan nafas memburu, mengabaikan dingin yang sudah hampir membuatnya biru.
Ia tak mau merayakan ulang tahunnya diam-diam di apartemennya sendirian.
Tujuan langkahnya berubah. Sora justru memutar arah ke kantor. Meski patah hati, pekerjaan adalah satu-satunya hal rasional yang bisa ia pegang.
Sesampainya di gedung kantor yang sudah lengang, Sora langsung menuju kubikel kerjanya. Ia membuka laci terbawah dan mengeluarkan botol wine mahal dari sana.
Botol yang sengaja ia simpan dan berniat membukanya bersama Dion untuk merayakan kemenangan pria itu sebagai aktor pendatang.
Kini lebih baik ia tegak sendirian.
Sora menegak cairan merah itu langsung dari mulut botol. Rasa pahit dan menyengat membasahi tenggorokannya, membakar keputusasaan yang meluap-luap.
Padahal sebentar lagi adalah ulang tahunnya.
Dan ini alkohol pertama yang ia tegak seumur hidupnya.
Pahit. Tenggorokannya membakar seketika, membuat matanya terpejam rapat sambil batuk kecil.
Rasa terbakar merayapi tenggorokannya, menyatu dengan tangisnya yang pecah. Bagaimana ia bertahan dalam kesendirian, bagaimana ia bertahan dalam hubungan yang ia simpan jangka panjang.
Jika hidup adalah soal jaminan, bagaimana Sora meminta pengembalian?
Sembilan tahun bukan hal sebentar.
Namun sebelum ia merayakan kesepian, lampu tiba-tiba menyala.
Dengan langkah oleng menyusuri pintu kaca, Sora mengendap-endap. Siapa yang ke kantor malam malam begini selain dirinya?
Pikirannya langsung tertuju pada pria itu. Pria itu pasti menyusulnya, berniat mengarang alasan busuk agar ia kembali lagi.
Rasa benci yang membakar dada membuat jemari Sora mengepal erat pada leher botol wine yang masih terisi setengah.
Ia mendorong pintu kantor langsung menyiramkan isi botol di tangan kanannya tanpa melihat siapa yang berdiri di sana. “Dasar cowok brengsek!”
Cairan merah pekat membasahi kemeja beserta jas. Namun bukannya suara pekikan dan maafnya Dion, keheningan menusuk yang justru menyambutnya.
Sora perlahan membuka mata. Tubuhnya mendadak kaku, rasa pusing akibat alkohol menguap seketika digantikan sengatan horor.
“Pak Zayne?!”
Sora tahu pria ini, tapi ia tak pernah menyangka bahwa pria ini ke kantor miliknya malam-malam begini.
Pria itu berdiri tegap di ambang pintu, tampak tak bergeming sedikitpun meski siraman air itu…mengenai jasnya.
Sora tersentak baru menyadari siapa yang baru saja dia siram. Kepalanya makin pusing, matanya berkaca-kaca menatap pria yang ia salah siram basah karenanya.
"M—maaf, Pak! Saya kira—" bisiknya terbatam mundur satu langkah dengan tubuh yang oleng.
“Dion?" potong Zayne cepat.
Pria itu melepas jasnya yang bernoda merah pekat, melemparnya sembarangan ke atas sofa kulit.
"Kenapa kamu di sini, Sora?" suara Zayne merendah, dingin dan begitu kentara menahan emosi.
Sora menelan ludah, tenggorokannya masih terasa kering dan terbakar. Ia menggeser tubuhnya pelan, memberi ruang di ambang pintu.
Sora tahu betul siapa pria di hadapannya ini.
Sora menelan ludah.
"Maaf– bikin baju bapak basah. Saya ambilkan lap. Sebentar!”
Sora mengaduk-aduk kubikelnya. Mencari apapun yang bisa membersihkan baju bosnya.
Namun begitu Sora kembali ke ruang tengah, napasnya mendadak tertahan di tenggorokan.
Zayne sudah melepaskan jas yang basah.
Pria itu berdiri membelakanginya, namun karena basah, hanya tersisa kemeja yang menembus bahu lebar serta punggung tegap berotot yang kokoh.
Dadanya berdesir entah karena efek alkohol apa rasa gilanya yang membuncah.
Menyadari kehadiran Sora, Zayne menoleh pelan. “Tidak perlu repot-repot.”
"Ada urusan apa pak ke sini?" tanyanya serak.
Zayne tidak langsung menjawab.
Pria itu mengambil map tebal dari dalam tasnya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang berantakan dan… minuman.
"Saya gak tahu kalau kamu lagi mengadakan pesta," ucap Zayne datar, menatap Sora intens.
Pesta merayakan pria berselingkuh? Sangat meriah! Sora menyunggingkan senyum pedih yang tak sampai ke mata. “Ah— itu—”
"Ngomong-ngomong, bapak mau?" tawar Sora seadanya.
Zayne menimang dengan menatap kedua mata itu.
Sora tertawa hampa, tidak berniat memberikan botol itu. Malah, dengan gerakan ceroboh dan oleng, ia mengangkat botol itu tinggi-tinggi untuk menenggaknya sendiri.
Tapi pandangannya yang kabur bikin tangannya meleset.
Botol itu terbentur sudut pintu. Dan isi minuman itu terciprat membilas kemeja putih Zayne yang berdiri tepat di depannya.
Sora tersentak, tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga oleng ke depan dan menabrak dada tegap Zayne.
Jemarinya refleks meremas kerah kemeja Zayne yang basah kuyup oleh wine demi menahan tubuhnya sendiri agar tidak ambruk.
"Eh..." bisik Sora parau, menengadah dengan matanya yang berkaca-kaca dan senyum miring yang berantakan. "Basah deh... Gak sengaja, Pak."
“Sudah jas, dan kini kemeja saya yang basah. Mending kamu pulang, Sora.”
"Kalau… saya gak mau gimana?" bentak Sora pelan.
Sora tertawa hampa. Ia meraih gelas sisa di meja dan meneguknya dalam sekali tegukan.
"Kamu sudah sangat mabuk, Sora," suara Zayne merendah, rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang tertahan.
"Nggak! Saya mau ngelap ini..." racau Sora tak terima.
Jemarinya yang gemetar menyapu kemeja basah di dada Zayne. Namun bukannya bersih, gerakan tangannya malah makin kacau.
Usahanya membuat sisa minuman di gelasnya mendadak tumpah lagi—kali ini menyiram bagian perut hingga meresap basah ke celana yang dikenakan Zayne.
"Yah, Pak…” Sora tertawa parau, matanya menyipit fokus ke noda baru itu. "Tumpah lagi..."
Sora menunduk, tangannya refleks menempel di perut Zayne lalu mengusapnya makin ke bawah untuk mengeringkan kain yang makin membasah di sana.
Usahanya yang makin ceroboh justru membuat telapak tangannya menekan bagian bawah Zayne di balik celana tebalnya.
Napas Zayne mendadak tertahan. Pria itu menyambar pergelangan tangan Sora kasar, mencengkeramnya erat sebelum jari jemari Sora bergerak lebih jauh.
"Sora," bisik Zayne serak, aura dominannya mendadak mengancam. Matanya menatap tajam bibir Sora yang sedikit terbuka.
"Kok.. besar?" Sora mendongak sambil terkekeh pelan, bibirnya nyaris menyentuh rahang Zayne.
"Pak Zayne mau marah?"
Zayne menunduk pelan, mempersempit sisa jarak di antara mereka hingga embusan napas hangatnya menyentuh kulit leher Sora.
"Kamu tahu..." bisik Zayne serak di depan bibirnya, "apa akibatnya kalau terus memancing saya dalam keadaan mabuk seperti ini?"
Tanpa membalas godaan Kakeknya, Zayne berbalik dan langsung mengambil langkah lebar setengah berlari menerobos pintu VVIP. Pria itu memotong jalur tangga darurat dengan dada bergemuruh penuh amarah. Masa bodoh dengan taruhan Kakek, ia tidak akan pernah membiarkan pria mana pun menyentuh wanitanya!Di tengah lantai dansa, pria itu menyunggingkan senyum lebar, merangkul pinggang Sora dan hendak menariknya ke dalam putaran dansa.SREK!Zayne mencengkeram pergelangan tangan pria asing itu dengan tenaga yang kuat hingga sang pria terdorong mundur dan meringis kesakitan.Sebelum Sora sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya ditarik paksa ke dalam pelukan dada bidang Zayne. Aroma khasnya yang menenangkan seketika melingkupi Sora.Zayne mengunci pinggang Sora dengan lengannya yang kokoh, mengambil alih posisi tepat saat musik waltz bertempo lambat mulai mengalun.Lampu sorot mengunci pergerakan mereka berdua di tengah lantai dansa. Para tamu bersorak meriah, mengira Zayne adalah pasangan
Sora yang mendengar penuturan Kakek Zayne hanya bisa tertunduk lesu. Ia tidak bisa mengelak apapun, karena menurutnya ia masih memiliki banyak kekurangan jika disandingkan sebagai asisten pribadi Zayne. Sementara itu Zayne cuma bergeming dengan raut datar. "Sora, kamu tunggu di balkon luar sebentar ya. Aku mau bicara sama Kakek kaku ini," ujar Zayne, seraya mengelus pelan jemari Sora. Sora mengangguk sopan. “Saya permisi dulu, Ketua,” ucapnya lalu melangkah keluar. Pintu tebal itu tertutup rapat. Kakek menyandarkan punggungnya, menatap Zayne sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Asisten biasa, hm? Kakek tahu cara matamu memandangnya saat masuk tadi. Kau tidak mungkin membawa wanita sembarangan ke ruangan ini." Zayne berdiri tegap. Jemarinya merapikan ujung jasnya dengan santai, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi. "Sora bukan sekadar asisten pribadiku, Kek," potong Zayne langsung, suaranya terdengar sangat tajam dan mutlak. "Dia wanita yang aku
Bibir Sora mengatup rapat, matanya membelalak menatap Zayne yang masih berjarak amat dekat darinya. Bisikan atasannya tadi sukses membuat debaran di dadanya kian bergemuruh tak terkendali."Zayne... jangan bercanda," cicit Sora pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri. "Acara Kakek itu sangat penting. Kamu sendiri padahal yang bilang kalau ini perintah. Kalau kita tidak datang—"Zayne mengikis jarak, terkekeh rendah seraya menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Sora, menggenggamnya hangat. "Aku tidak pernah bercanda soal kamu, Sora. Tapi tenang saja... aku tahu kapan harus mengalah."Zayne mengusap punggung tangan Sora dengan ibu jarinya, lalu menatap matanya dalam-dalam. "Ayo. Nanti kita terlambat."***Sedan hitam Zayne berhenti tepat di pelataran karpet merah Grand Ballroom hotel bintang lima milik Nareshwara Group. Kilatan lampu warna warni dan alunan musik instrumental menyambut kedatangan mereka.Zayne turun terlebih dahulu, membukakan pintu, lalu mengulurkan tanga
Senin siang di kantor pusat Nareshwara Group. Suasana di area kubikel mendadak bising. Bisik-bisik antusias merayap di setiap sudut ruangan, terutama di deretan meja Divisi Perencanaan Bisnis. Rumor mengenai siapa saja yang berhak memegang kartu akses ke pesta ulang tahun Ketua Besar Nareshwara nanti malam sudah merebak luas sejak jam makan siang tadi."Serius, tahun ini cuma eksekutif sama staf pilihan yang dapet!" bisik Rika pada Nadia yang sedang merapikan riasan tipis di mejanya. "Masuk ke ballroom pestanya aja udah kayak mimpi. Dengar-dengar sih pesta ulang tahun Ketua Besar tahun ini dibikin jauh lebih megah dari tahun lalu!"Nadia hanya tersenyum tipis dan anggun, mengatupkan cermin kecilnya dengan tenang. "Acara keluarga Nareshwara memang selalu berkelas, Rika. Nggak sembarang orang bisa berbaur di sana."Sora yang baru saja selesai mencetak beberapa lembar berkas draf laporan berjalan melewati kubikel divisi tersebut dengan tenang.Langkah Sora terhenti di depan meja kerjan
Dion melangkah maju dua tapak, mengabaikan cengkeraman tangan Vivianne di lengannya. Matanya yang merah menatap Sora dari ujung kepala sampai ujung kaki, melihat dress mahal yang melekat sempurna di tubuh wanita itu, tatanan rambutnya yang anggun, serta deretan tas belanjaan merek terkemuka yang bertumpuk di dekat meja. "Sora..." Dion menelan ludah kasar. Suaranya serak, penuh gejolak emosi yang bercampur aduk. "Kamu... kamu benar-benar pindah ke tempat pria ini? Secepat ini kamu menjual dirimu hanya demi harta, Sora?!" Plak! Suara itu tidak datang dari tamparan, melainkan dari dentang nyaring gelas kristal yang diletakkan Zayne secara perlahan di atas meja marmer. Gerakannya sangat tenang, namun gema suaranya cukup untuk memotong kalimat Dion secara telak. Zayne bersedekap dada, bersandar santai di kursinya. Aura dingin dan dominan yang menguar dari tubuhnya seketika menekan atmosfer di sekitar meja mereka. "Jaga mulut kamu, Dion," potong Zayne datar. Suaranya tidak keras, t
Namun Zayne benar-benar bebal. Pria itu seolah tuli, malah makin mengeratkan genggamannya di pinggang Sora dari belakang dan melanjutkan ciuman hangatnya di tengkuk wanita itu, membuat persendian Sora mendadak lemas tak berdaya. Mata Sora sampai berkaca-kaca karena kewalahan. Antara malu, jantungan, dan gelombang desiran hebat yang tak sanggup ia pangkas, Sora merasa matanya mulai memanas. Bagaimana jika pegawai butik datang dan memergoki mereka berdua sekarang? Pekik Sora dalam hati. Mau ditaruh mana mukanya? "Zayne, tolong… berhentilah..." bisik Sora jujur dengan nada merengek yang sangat pasrah, matanya sudah berkaca-kaca menatap bayangan Zayne di cermin. Zayne sendiri justru menikmati Sora yang pasrah dalam dekapannya. Apalagi nada memohon yang keluar dari bibir perempuan itu malah makin memantik gairahnya. “Zayne… kumohon... berhenti, ya. “ Pria itu akhirnya memandang Sora dari cermin. Terlihat mata Sora yang kini sudah menggenang air mata dan bibirnya yang melengku







