LOGIN"Lepas dulu bajunya." racau Sora tak terima.
"Basah begini... nanti makin kotor."
Zayne menegang. "Saya bisa urus sendiri, Sora," suara Zayne merendah, menatap tajam tangan wanita itu yang masih meremas kemejanya.
Sora malah terkekeh parau, matanya menyipit akibat kepalanya yang makin berat. "Bapak kaku banget... Biar saya bantu.
"Kamu lagi mabuk, Sora," bisik Zayne serak, “Dan saya bukan pria yang suka memanfaatkan keadaan.”
Zayne memutus kontak mata, berbalik cepat hendak meraih jasnya.
"Mau ke mana, Pak?" potong Sora serak. Jemari wanitanya meraih pergelangan tangan Zayne, menahannya. "Minumnya kan belum habis. Kenapa sudah ingin pergi?”
Zayne menghentikan langkahnya. Matanya mengedar pelan, dia tahu bahwa tidak baik meninggalkan perempuan patah hati.
“Mari saya antar pulang.”
Ada guratan maklum yang mendadak muncul di wajah tegasnya.
Sora tertawa hampa. Dia menyambar botol wine di meja, menegaknya lagi langsung dari mulut botol. Alkohol pertama dalam hidupnya itu merusak daya pikirnya dengan cepat, membuat dadanya kian terbakar.
"Pak Zayne... berarti tahu kan dari dulu kalau dia brengsek?" cicit Sora, menatap Zayne dengan mata sayu yang mulai berkaca-kaca.
Zayne menurunkan gelas dari bibirnya, tak langsung menjawab. Pria itu menyesap wine-nya sekali lagi, menikmati rasa pahit-manis.
"Kata Dion..." Sora mendengus pedih, menyapu bibirnya yang basah. "Dia cuma bakal nikahin cewek yang udah pernah dia pakai. Memang... laki-laki kayak gitu semua ya pikirannya, Pak?"
"Enggak semua," balas Zayne dingin, menarik Sora ke rengkuhannya.
"Bohong," bisik Sora menyandarkan kepala di meja karena kepalanya makin berputar. “Memangnya laki-laki lihat perempuan dari apa, sih?”
“Dari hati," sahut Zayne pendek saat lift terbuka.
Sora terkekeh sumbang, tawanya terdengar begitu merana. "Iya... kalau hatinya enggak ketutup sama dada."
Wanita itu kembali meraih botol wine untuk menegaknya lagi, tapi gerakan tangannya langsung ditahan oleh jemari Zayne yang dingin.
"Cukup, Sora. Saya masih ada kerjaan yang harus saya urus," ucap Zayne datar, menarik pelan botol itu dari genggaman Sora. "Kamu bisa pulang `sendiri, kan?"
Begitu Zayne menariknya ke basement, Sora menarik lengan pria itu, menyusupkan tubuhnya di dinding basement.
Zayne tersentak kecil, napasnya tertahan. Cengkeraman tangannya di pinggang Sora mengeras seketika. "Sora, tolong lepas."
"Zayne..." bisik Sora pasrah, membiarkan jemarinya meremas bahu kaku pria itu.
Bahkan Sora lupa menyebutnya dengan sebutan lebih tua. Mungkin jika Sora sadar, ia akan memaki habis dirinya karena berlaku semena dengan bosnya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu? Sebagai teman."
Zayne menatapnya tajam, berusaha menahan emosi yang mulai bergejolak. "Tanya apa?"
"Apa bapak... pernah melihat saya sebagai perempuan?"
Zayne diam bergeming, matanya menggelap menatap wajah Sora yang merona panas akibat sengatan alkohol.
"Pertanyaan lain..." Sora menyunggingkan senyum tipis yang berantakan, menatap lurus ke bibir Zayne. "Biasanya sahabat itu seleranya sama. Kalau saya di mata bapak menarik gak, Pak?”
Zayne memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas kasar yang terasa panas di kulit leher Sora. Lalu mendorongnya pelan dengan menariknya ke mobil.
"Sora, sadar."
"Kalau bapak memang enggak pernah lihat saya sebagai perempuan..." Sora bergumam pelan, suaranya makin pecah dan serak. “Mau coba sekali gak, Pak?”
Tanpa memberi waktu bagi Sora untuk meracau lebih jauh, Zayne mendudukinya di kemudi.
Pria itu mengikis jarak, menunduk menatap Sora yang tampak begitu rapuh di bawah bayang-bayang tubuhnya.
"Memang... saya sama sekali enggak menarik ya, Pak?" cicit Sora meraba dada bidang Zayne.
Zayne memejamkan mata, menghela nafas lebar-lebar. Ia mengaitkan seatbelt erat di wanita yang sudah kepalang mabuk.
Rasa sakit hati dan kekecewaan yang menumpuk membuat jemarinya melayang turun ke tepi pakaiannya sendiri. Tanpa ragu, Sora membuka kancing kemejanya satu persatu “Kalau saya gini…”
“Apa masih gak menarik?”
"Sora, berhenti," bisik Zayne serak, rahangnya mengencang hingga urat lehernya menegang keras.
Pria itu mengaitkan lagi kancing kemejanya. Menekan pelan bahu Sora yang gemetar.
"Saya cuma mau tahu..." Sora menepis tangan Zayne, matanya menyipit karena alkohol dan air mata yang menggenang. "Kenapa Dion begitu?”
“Kalau dia tidak memilihmu, memang bukan untuk kamu. Jangan membuat pembalasan dendam yang gak sepadan.”
"Kalau gitu... kasih tahu saya," gumam Sora serak, jemarinya menyusup ke sela-sela baju yang ditahan Zayne, menyentuh pergelangan tangan pria itu.
“Apa?” sahutnya parau.
“Kalau ini... masih enggak menarik buat bapak."
Sebelum Zayne sempat membalas, Sora memotong jarak di antara mereka. Ia menarik tengkuk pria itu dan mendaratkan bibirnya langsung di atas bibir Zayne, menekan ciuman yang membara dan putus asa.
Zayne tersentak pelan. Tubuhnya membeku sejenak merasakan dinginnya jemari Sora di lehernya dan kehangatan bibir wanita itu yang masih wangi alkohol.
Pikiran Zayne berputar hebat. Ini salah. Tidak seharusnya ia mencumbu mantan kekasih sahabatnya.
Ciuman Sora membuat Zayne mematung seketika. Seluruh sarafnya serasa disengat listrik, membeku di tempat dengan kedua tangan yang masih memegang jas di dada Sora.
Zayne mencoba memanggil sisa akal sehatnya. Pria itu menahan napas, berusaha keras tidak membalas pergerakan bibir Sora yang menempel di atas bibirnya.
Merasa tak mendapat respons, Sora menggigit pelan bibir bawah Zayne.
Sengatan sakit yang tipis itu memancing erangan parau dari tenggorokan Zayne. Mulut pria itu terbuka secara refleks, membiarkan Sora menyelinap masuk lebih jauh.
Namun tepat saat ciuman itu makin liar, Zayne memutus di sela ciuman. Ia menarik kepalanya mundur, menahan bahu Sora yang gemetar di dalam kemudi. Napasnya memburu kasar saat memandangi wajah wanita di bawahnya.
"Jangan seperti ini, Sora," bisik Zayne serak, suaranya berat menahan gejolak.
Sora mendongak lemah, matanya yang sayu dan basah menatap Zayne penuh kebingungan. "Seperti apa?"
“Seperti pelacur atau perebut kekasih orang? Atau seperti orang yang tidak punya pengalaman?”
Selamat dari harimau, tapi tak selamat keluar kandang. Sora meratapi kebodohannya sendiri dalam hati. Ia pikir ia kini bisa memegang kendali atas dendamnya, tapi Zayne baru saja membuktikan siapa pemangsa yang sebenarnya di ruangan ini. Apalagi sebagai Manajer yang masih terikat kontrak satu bulan, Sora tetap harus mendampingi Dion di setiap aktivitas keartisannya.Termasuk pemotretan perdana hari ini—sebuah sesi first look dan poster promosi awal untuk proyek film layar lebar besar yang akan dibintangi Dion bersama Vivianne ke depannya.Di tengah set, Dion dan Vivianne tampak memamerkan pose terbaik mereka di depan kamera. “Sialan,” gumam Sora ketika ia lihat Vivianne berusaha melakukan pose saling berpangku dan terlihat seperti akan berciuman.Kau pikir aku cemburu? Jangan mimpi! Kata beruntung lebih bisa aku pakai, daripada menjadi korban buaya gila!Rutuk Sora dalam hatinya. Demi Tuhan ia hanya kesal dan merutuki nasib sialnya sebulan ke depan.Siapa yang bisa menebak masa depa
Sensasi pertama yang menyapa Sora saat kesadarannya berangsur pulih adalah rasa pening yang luar biasa hebat, seolah tengkorak kepalanya dihantam oleh palu godam secara bertubi-tubi. “Pusing,” ringisnya pelan.Dengung konstan bergaung di telinganya, menyertai rasa mual yang masih tersisa di dasar perutnya. Sora merintih pelan, memejamkan mata erat-erat seraya memegangi pelipisnya yang berdenyut kencang.Ketika Sora melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia membelalak tak percaya saat melihat pantulan dirinya di cermin. Banyak bercak kemerahan di sepanjang leher dan dadanya.“Apa.. ada nyamuk?” gumamnya bingung sambil berusaha menggosok-gosok bercak kemerahan itu agar hilang. Namun nihil. Bercak kemerahan nyaris keunguan itu masih di sana.“Apa aku alergi alkohol, ya? Harusnya aku enggak minum tadi malam—”Lalu, seperti bendungan yang runtuh, potongan-potongan ingatan semalam mendadak merangkak masuk ke kepalanya tanpa ampun.Ingatan saat ia menyiram seorang laki laki di ambang
Kalimat itu masih bergema di kepalanya, menampar sisa kesadaran Zayne yang tinggal separuh. Dua puluh menit saat wanita itu terlelap, Zayne berhenti di parkir apartemen wanita itu. Zayne tak pernah berkunjung ke tempat ini, tapi navigasi di dasbor dan deretan data karyawan di ponselnya memudahkan segalanya. "Kita sampai," gumam Zayne datar.Sora yang terkulai di kursi penumpang bergerak gelisah. Kepalanya terkulai ke samping, menatap deretan jendela unit yang sepi dengan pandangan buram."Gak usah... turun," bisik Sora parau. Jemarinya yang lemas mencoba membuka sabuk pengaman, tapi gerakannya kelewat kacau. "Saya bisa naik sendiri..."Zayne tak mengacuhkan racauannya. Pria itu mencondongkan tubuh, menekan tombol seatbelt Sora hingga terlepas, lalu keluar mengitari kap mobil. Begitu pintu unit apartemen Sora terbuka, Zayne mendorong pintu hingga tertutup rapat dengan tumitnya, lalu menurunkan Sora perlahan hingga tumit wanita itu menyentuh lantai Sora terhuyung sedikit, namun cen
"Lepas dulu bajunya." racau Sora tak terima. "Basah begini... nanti makin kotor."Zayne menegang. "Saya bisa urus sendiri, Sora," suara Zayne merendah, menatap tajam tangan wanita itu yang masih meremas kemejanya.Sora malah terkekeh parau, matanya menyipit akibat kepalanya yang makin berat. "Bapak kaku banget... Biar saya bantu."Kamu lagi mabuk, Sora," bisik Zayne serak, “Dan saya bukan pria yang suka memanfaatkan keadaan.”Zayne memutus kontak mata, berbalik cepat hendak meraih jasnya."Mau ke mana, Pak?" potong Sora serak. Jemari wanitanya meraih pergelangan tangan Zayne, menahannya. "Minumnya kan belum habis. Kenapa sudah ingin pergi?”Zayne menghentikan langkahnya. Matanya mengedar pelan, dia tahu bahwa tidak baik meninggalkan perempuan patah hati.“Mari saya antar pulang.”Ada guratan maklum yang mendadak muncul di wajah tegasnya.Sora tertawa hampa. Dia menyambar botol wine di meja, menegaknya lagi langsung dari mulut botol. Alkohol pertama dalam hidupnya itu merusak daya pik
"Punya kamu sempit banget. Sora mana pernah mau diajak kayak gini.”Sora memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas gemetar. Dengan kaki yang bergetar hebat dan napas yang tertahan di tenggorokan, Sora melangkah pelan mendekati celah pintu kamar. Ia berusaha berpikir positif, mencoba membodohi dirinya sendiri bahwa suara desahan itu mungkin berasal dari apartemen sebelah atau sekadar televisi yang lupa dimatikan. Tapi.. kalaupun adalah sekadar televisi mengapa menyeret namanya?Dengan jemari yang gemetar, Sora melangkah ke kamar.Langkahnya terasa begitu berat, seolah setiap pijakan ditarik oleh beban ratusan ton. Namun rasa penasaran dan firasat buruk menyeretnya untuk terus berjalan, meski dadanya kian bergemuruh hebat.Begitu kakinya terhenti tepat di depan pintu kamar tidur Dion yang sedikit terbuka, pemandangan di dalamnya membuat seluruh tubuh Sora terpaku kaku. Darahnya seolah berhenti mengalir.Di atas ranjang berantakan itu, Dion—pria yang selama sembilan tahun ini selalu







