LOGINKalimat itu masih bergema di kepalanya, menampar sisa kesadaran Zayne yang tinggal separuh.
Dua puluh menit saat wanita itu terlelap, Zayne berhenti di parkir apartemen wanita itu.
Zayne tak pernah berkunjung ke tempat ini, tapi navigasi di dasbor dan deretan data karyawan di ponselnya memudahkan segalanya.
"Kita sampai," gumam Zayne datar.
Sora yang terkulai di kursi penumpang bergerak gelisah. Kepalanya terkulai ke samping, menatap deretan jendela unit yang sepi dengan pandangan buram.
"Gak usah... turun," bisik Sora parau. Jemarinya yang lemas mencoba membuka sabuk pengaman, tapi gerakannya kelewat kacau. "Saya bisa naik sendiri..."
Zayne tak mengacuhkan racauannya. Pria itu mencondongkan tubuh, menekan tombol seatbelt Sora hingga terlepas, lalu keluar mengitari kap mobil.
Begitu pintu unit apartemen Sora terbuka, Zayne mendorong pintu hingga tertutup rapat dengan tumitnya, lalu menurunkan Sora perlahan hingga tumit wanita itu menyentuh lantai
Sora terhuyung sedikit, namun cengkeraman tangan Zayne di pinggulnya menahan tubuh itu agar tak ambruk.
"Ini rumahmu," suara Zayne merendah, menatap Sora yang mendongak dengan mata basah dan bibir yang sedikit terbuka.
Sora tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat merana. "Rumah saya... yang sepi."
Wanita itu memajukan langkah, memangkas sisa jarak hingga dadanya menempel pada kemeja Zayne yang masih terasa lembab.
Tangannya merambat naik, melingkar kencang di leher sang CEO.
"Jangan pergi..."
Zayne menghela nafas. Ia memejamkan matanya saat mata cokelat itu menghunus tajam.
“Mau saya ajarkan, Sora?”
Sora menyeringai. “Ajarkan apa?”
"Ajari kamu agar tidak peduli?" pangkas Zayne dingin.
Zayne membalikkan posisi mereka. Pria itu menarik tengkuk Sora, merebahkan tubuh wanita itu ke atas sofa, lalu mengungkungnya dari atas. Tapi Zayne masih menahan diri.
Ia menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Sora, menjaga jarak agar tubuh tegapnya tak sepenuhnya menindih tubuh Sora.
"Tapi nanti, kalau kamu sudah sadar," bisik Zayne di atas wajah Sora, matanya memancarkan perang batin yang hebat. "Dan saya gak akan—"
Kalimat Zayne terputus saat Sora mendadak mengerang pelan dan bergerak gelisah. Akibat pengaruh alkohol yang makin membakar tubuhnya, Sora menggesekkan pinggulnya secara impulsif ke atas, tepat menabrak bagian bawah tubuh Zayne.
Pria itu membelalak, nafasnya tertahan hebat saat sesuatu di balik celananya menegang.
Menghancurkan tembok pertahanan yang susah payah dia bangun sejak tadi.
"Sora... aduh," geram Zayne parau.
Pertahanannya runtuh total. Zayne tak lagi menahan berat tubuhnya lalu menarik tengkuk wanita itu dengan membalas lebih dalam.
“Ah— mmphh—”
Desahan demi desahan saat lidah itu berpacu liar memaksanya masuk. Zayne meredam menahan Sora yang sayu. “Bukan seperti itu. Tapi, seperti ini.”
“Jangan salahkan saya, kamu yang memancing saya.”
Sebelum Sora sempat mencerna ucapan itu, Zayne sudah berbalik sepenuhnya menjadi buas. Dia tidak lagi menahan.
Tangan besarnya mencengkram kedua pergelangan tangan Sora, menguncinya kuat-kuat di atas kepala wanita itu hingga Sora tak bisa berkutik.
“Zayne—"
Kalimat Sora terputus saat Zayne menyambar bibirnya dalam ciuman dalam. Gerakan yang awalnya tenang berubah menjadi lapar dan berkuasa, mengunci napas Sora tanpa sisa.
Sora memejamkan mata rapat-rapat, pasrah dan membiarkan dirinya tenggelam dalam setiap sensasi asing yang memabukkan itu.
“Mngh… Zayne,” racau Sora.
Tanpa memutus tautan mereka, Zayne menyusupkan sebelah tangannya ke bawah lutut Sora. Dalam satu gerakan sigap yang tangkas, ia mengangkat tubuh ringan perempuan itu ke dalam dekapannya.
“Ah!... “ pekik Sora refleks melingkarkan tangannya di leher Zayne saat pria itu melangkah lebar menuju kamar utama.
Di sana, Zayne merebahkan tubuh Sora ke atas ranjang berukuran king size dengan sangat hati-hati. Zayne lantas mengecup leher Sora kemudian menatap ke dalam netra coklat Sora.
“Apa saya terlalu kasar?” bisik Zayne yang kembali menghantarkan rasa panas yang membuat darah perempuan itu berdesir.
Entah kenapa degup jantungnya kini berpacu gila-gilaan menerima perlakuan Zayne. Bahkan ketika ia pertama kali berciuman dengan Dion pun, ia tidak merasa perasaan berdebar yang sama.
Apa… karena Zayne sangat pandai dalam berciuman?
“Apa saya menggigit milikmu? Saya lihat.”
Sora kembali sadar dari lamunannya. Telapak tangannya tanpa sadar mengelus rahang milik Zayne dengan lembut lalu menangkup sekali lagi.
“Mm…”
Namun begitu Zayne mulai tersadar bahwa tindakannya ini terlalu gegabah, ia langsung melepaskan sentuhan tangan Sora.
"Kita hentikan—" ujar Zayne yang mulai mendapatkan kewarasannya.
Namun belum sempat Zayne menyelesaikan kalimatnya, Sora bergerak spontan.
Perempuan itu mendadak memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua tangannya di leher Zayne dan memeluk pria itu seerat mungkin.
Wajah Sora tenggelam di celah leher dan bahu kokoh Zayne, mengikis jarak hingga tak ada sekat tersisa di antara mereka.
Hembusan napas panas Sora yang menerpa kulit leher Zayne seketika membuat seluruh pembuluh darah pria itu berdesir hebat. Otot-otot tubuh Zayne membeku kaku di bawah sentuhan mendadak itu.
"Tidak... aku tidak akan mundur, Zayne," bisik Sora lirih namun mantap, suaranya terdengar seperti mantra pasrah yang mengayun lembut di telinga Zayne. "Ayo kita lakukan sekali."
Zayne menarik napas panjang yang berat. Sorot mata kelabunya yang tadi tertahan kini benar-benar menggelap pekat telah sepenuhnya terhipnotis oleh keberanian impulsif wanita di dekapannya.
Jemari kokoh Zayne bergerak cepat merasuki sela-sela rambut Sora, mengunci kepala perempuan itu agar menatap lurus ke dalam matanya yang penuh ancaman memikat.
Tanpa membuang waktu lagi, Zayne menangkup kedua pipi Sora dan menenggelamkan perempuan itu dalam ciuman yang intens, panas, dan menuntut.
Desahan halus lolos dari celah bibir Sora ketika jemari Zayne bergerak terampil membuka kancing kemeja yang dikenakan Sora satu per satu, menyisakannya di atas kulit polos yang hangat.
Zayne melepas kemejanya dalamnya sendiri dan melemparnya sembarangan ke atas lantai.
Hasrat di antara mereka membumbung makin tinggi. Zayne menunduk, mengecup leher Sora dengan penuh gairah, menikmati bagaimana tubuh di bawahnya ini bergetar pelan akibat sentuhan dan napasnya.
Namun, tepat saat Zayne baru saja bergerak hendak menurunkan celana wanita itu—
Ugh...
Tubuh Sora mendadak kaku. Perempuan itu memegangi dadanya, matanya yang sayu mendadak berkedip cepat beberapa kali. Wajahnya yang tadinya merona merah karena gairah tiba-tiba berubah sedikit pucat.
"Aku... aku..." Sora bergumam tidak jelas, tangannya meremas bahu telanjang Zayne dengan panik. "Aku... mau muntah..."
Selamat dari harimau, tapi tak selamat keluar kandang. Sora meratapi kebodohannya sendiri dalam hati. Ia pikir ia kini bisa memegang kendali atas dendamnya, tapi Zayne baru saja membuktikan siapa pemangsa yang sebenarnya di ruangan ini. Apalagi sebagai Manajer yang masih terikat kontrak satu bulan, Sora tetap harus mendampingi Dion di setiap aktivitas keartisannya.Termasuk pemotretan perdana hari ini—sebuah sesi first look dan poster promosi awal untuk proyek film layar lebar besar yang akan dibintangi Dion bersama Vivianne ke depannya.Di tengah set, Dion dan Vivianne tampak memamerkan pose terbaik mereka di depan kamera. “Sialan,” gumam Sora ketika ia lihat Vivianne berusaha melakukan pose saling berpangku dan terlihat seperti akan berciuman.Kau pikir aku cemburu? Jangan mimpi! Kata beruntung lebih bisa aku pakai, daripada menjadi korban buaya gila!Rutuk Sora dalam hatinya. Demi Tuhan ia hanya kesal dan merutuki nasib sialnya sebulan ke depan.Siapa yang bisa menebak masa depa
Sensasi pertama yang menyapa Sora saat kesadarannya berangsur pulih adalah rasa pening yang luar biasa hebat, seolah tengkorak kepalanya dihantam oleh palu godam secara bertubi-tubi. “Pusing,” ringisnya pelan.Dengung konstan bergaung di telinganya, menyertai rasa mual yang masih tersisa di dasar perutnya. Sora merintih pelan, memejamkan mata erat-erat seraya memegangi pelipisnya yang berdenyut kencang.Ketika Sora melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia membelalak tak percaya saat melihat pantulan dirinya di cermin. Banyak bercak kemerahan di sepanjang leher dan dadanya.“Apa.. ada nyamuk?” gumamnya bingung sambil berusaha menggosok-gosok bercak kemerahan itu agar hilang. Namun nihil. Bercak kemerahan nyaris keunguan itu masih di sana.“Apa aku alergi alkohol, ya? Harusnya aku enggak minum tadi malam—”Lalu, seperti bendungan yang runtuh, potongan-potongan ingatan semalam mendadak merangkak masuk ke kepalanya tanpa ampun.Ingatan saat ia menyiram seorang laki laki di ambang
Kalimat itu masih bergema di kepalanya, menampar sisa kesadaran Zayne yang tinggal separuh. Dua puluh menit saat wanita itu terlelap, Zayne berhenti di parkir apartemen wanita itu. Zayne tak pernah berkunjung ke tempat ini, tapi navigasi di dasbor dan deretan data karyawan di ponselnya memudahkan segalanya. "Kita sampai," gumam Zayne datar.Sora yang terkulai di kursi penumpang bergerak gelisah. Kepalanya terkulai ke samping, menatap deretan jendela unit yang sepi dengan pandangan buram."Gak usah... turun," bisik Sora parau. Jemarinya yang lemas mencoba membuka sabuk pengaman, tapi gerakannya kelewat kacau. "Saya bisa naik sendiri..."Zayne tak mengacuhkan racauannya. Pria itu mencondongkan tubuh, menekan tombol seatbelt Sora hingga terlepas, lalu keluar mengitari kap mobil. Begitu pintu unit apartemen Sora terbuka, Zayne mendorong pintu hingga tertutup rapat dengan tumitnya, lalu menurunkan Sora perlahan hingga tumit wanita itu menyentuh lantai Sora terhuyung sedikit, namun cen
"Lepas dulu bajunya." racau Sora tak terima. "Basah begini... nanti makin kotor."Zayne menegang. "Saya bisa urus sendiri, Sora," suara Zayne merendah, menatap tajam tangan wanita itu yang masih meremas kemejanya.Sora malah terkekeh parau, matanya menyipit akibat kepalanya yang makin berat. "Bapak kaku banget... Biar saya bantu."Kamu lagi mabuk, Sora," bisik Zayne serak, “Dan saya bukan pria yang suka memanfaatkan keadaan.”Zayne memutus kontak mata, berbalik cepat hendak meraih jasnya."Mau ke mana, Pak?" potong Sora serak. Jemari wanitanya meraih pergelangan tangan Zayne, menahannya. "Minumnya kan belum habis. Kenapa sudah ingin pergi?”Zayne menghentikan langkahnya. Matanya mengedar pelan, dia tahu bahwa tidak baik meninggalkan perempuan patah hati.“Mari saya antar pulang.”Ada guratan maklum yang mendadak muncul di wajah tegasnya.Sora tertawa hampa. Dia menyambar botol wine di meja, menegaknya lagi langsung dari mulut botol. Alkohol pertama dalam hidupnya itu merusak daya pik
"Punya kamu sempit banget. Sora mana pernah mau diajak kayak gini.”Sora memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas gemetar. Dengan kaki yang bergetar hebat dan napas yang tertahan di tenggorokan, Sora melangkah pelan mendekati celah pintu kamar. Ia berusaha berpikir positif, mencoba membodohi dirinya sendiri bahwa suara desahan itu mungkin berasal dari apartemen sebelah atau sekadar televisi yang lupa dimatikan. Tapi.. kalaupun adalah sekadar televisi mengapa menyeret namanya?Dengan jemari yang gemetar, Sora melangkah ke kamar.Langkahnya terasa begitu berat, seolah setiap pijakan ditarik oleh beban ratusan ton. Namun rasa penasaran dan firasat buruk menyeretnya untuk terus berjalan, meski dadanya kian bergemuruh hebat.Begitu kakinya terhenti tepat di depan pintu kamar tidur Dion yang sedikit terbuka, pemandangan di dalamnya membuat seluruh tubuh Sora terpaku kaku. Darahnya seolah berhenti mengalir.Di atas ranjang berantakan itu, Dion—pria yang selama sembilan tahun ini selalu







