Compartir

BAB 4

Autor: arctrs_
last update Fecha de publicación: 2026-07-28 22:23:53

Sensasi pertama yang menyapa Sora saat kesadarannya berangsur pulih adalah rasa pening yang luar biasa hebat, seolah tengkorak kepalanya dihantam oleh palu godam secara bertubi-tubi. 

“Pusing,” ringisnya pelan.

Dengung konstan bergaung di telinganya, menyertai rasa mual yang masih tersisa di dasar perutnya. Sora merintih pelan, memejamkan mata erat-erat seraya memegangi pelipisnya yang berdenyut kencang.

Ketika Sora melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia membelalak tak percaya saat melihat pantulan dirinya di cermin. 

Banyak bercak kemerahan di sepanjang leher dan dadanya.

“Apa.. ada nyamuk?” gumamnya bingung sambil berusaha menggosok-gosok bercak kemerahan itu agar hilang. 

Namun nihil. Bercak kemerahan nyaris keunguan itu masih di sana.

“Apa aku alergi alkohol, ya? Harusnya aku enggak minum tadi malam—”

​Lalu, seperti bendungan yang runtuh, potongan-potongan ingatan semalam mendadak merangkak masuk ke kepalanya tanpa ampun.

​Ingatan saat ia menyiram seorang laki laki di ambang pintu, hingga berakhir di ranjang

Dan…

Ketika ia memuntahkan diri ke… 

Bosnya?!

​Sora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa malu yang begitu dahsyat mendadak membakar seluruh wajah dan lehernya. Ia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam bumi detik ini juga. 

Bagaimana mungkin ia melakukan hal serendah dan se-konyol itu pada bos sekaligus… sahabat mantan kekasihnya?!

​Mati kamu, Sora.

Belum habis kepanikan Sora, dering panggilan dan rentetan notifikasi di ponselnya terus bergetar tanpa henti di atas meja.

Sora buru-buru menyelesaikan kegiatan bebersih dirinya dan menyambar ponselnya.

​[Pesan Grup Agensi]: Rapat darurat pukul 09.00 WIB di Ruang Direksi. Pembahasan khusus. Seluruh staf dan Manajer Utama (Sora) wajib hadir.

“Ruang Direksi?” pekik Sora sambil membanting ponselnya ke kasur.

“Yang berarti… ia harus bertemu lagi?!”

Dengan cepat Sora menyambar perkakas make up di nakas, lalu berusaha menutup bercak kemerahan di lehernya. Kalau sudah begini, apa kata orang nanti?!

…

​"Selamat pagi. Mari saya mulai rapatnya." 

Suara bariton itu membuat Sora mendongak. Pria malam itu… Pria yang ia pikir objek di mimpinya kini menatapnya sekelebat.

Ia tak mau tahu, ia harus segera pergi dari kantor toxic ini!

​Sora mengambil napas dalam-dalam, lalu melangkah maju dan meletakkan selembar kertas di meja Zayne. 

"Sebelum rapat dimulai, Pak Zayne. Saya mengajukan pengunduran diri secara resmi sebagai Manajer Utama Dion terhitung mulai hari ini."

​Dion di ujung meja langsung membelalak panik. "Sora! Apa maksud kamu mau mengundurkan diri sekarang?"

​Zayne menatap lembar surat itu selama beberapa detik, lalu perlahan mendongak. Bukannya menyetujui, Zayne justru menggeser surat itu kembali ke arah Sora.

​"Ditolak," ucap Zayne dingin.

​Sora membelalak. "Kenapa? Saya punya hak penuh untuk—"

​"Dion baru saja dijadwalkan menandatangani beberapa tawaran proyek film besar minggu ini," potong Zayne tegas di hadapan seluruh peserta rapat. 

"Secara profesionalisme agensi, mengundurkan diri secara mendadak di tengah masa krusial akan memicu spekulasi skandal di mata publik dan investor. Dan saya tidak bisa mengizinkan keputusan impulsif yang merugikan perusahaan," lanjut Zayne.

​Sora membeku. Apa sekarang Zayne... sedang memihak Dion? 

Pria itu secara terbuka memasang badan untuk melindungi Dion dan kelangsungan proyeknya!

Kurang ajar!

​Dion tersenyum lega, menghembuskan napas puas karena merasa bos besarnya berada di pihaknya. "Terima kasih, Pak Zayne. Saya memang masih sangat membutuhkan Sora."

​"Sora," Zayne menatapnya tajam tanpa kompromi. "Kamu terikat kontrak penyesuaian selama satu bulan ke depan. Selesaikan serah terima pekerjaan sampai ada pengganti yang layak. Mari kita mulai rapatnya.”

“Tapi, Pak Zayne… saya—” ujar Sora ingin membela diri.

Zayne memotong dengan cepat tanpa bantahan. “Rapat saya batalkan. Semua bisa keluar kecuali Sora.”

​Semua membubarkan diri, termasuk Dion. Sementara Sora berdiri kaku dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa dikhianati oleh Zayne.

​Namun, begitu ruang rapat kosong dan hanya menyisakan mereka berdua, Zayne berdiri dari kursinya. Pria itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap Sora yang menyala oleh amarah.

​"Kamu marah karena merasa saya memihak Dion?" tanya Zayne rendah.

​"Jelas!" tembak Sora serak. "Kamu menahan saya cuma demi menyelamatkan nama si anak emasmu itu!"

​Zayne menyunggingkan senyum tipis. Ia merapikan lengan kemejanya pelan sebelum menatap lurus ke dalam iris mata Sora.

​"Dengar, Sora. Satu bulan ini adalah panggungmu," ujar Zayne tenang. "Kamu bisa memanfaatkan saya. Buat Dion menyesal."

​

Sora tersentak, matanya melebar. "Apa?"

Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Sora.

Sora menahan napasnya saat pria itu menatap bibirnya dan lehernya bergantian. “Saya yakin harusnya masih berbekas di sini,” bisik Zayne seraya mengusap lembut leher Sora.

Sora membelalakkan matanya. Spontan menyentak dengan sedikit keras tangan Zayne yang menyentuh lehernya.

Zayne yang melihat pemberontakan kecil Sora, malah anehnya sedikit terkekeh. Ia mundur selangkah untuk menghormati perempuan kecil di depannya yang sekarang seperti kelinci yang tengah ketakutan. 

"Tapi… Sora,” Zayne memberi jeda pada kalimatnya. “Apa kamu tidak penasaran reaksi Dion kalau dia lihat kamu bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik?”

Sora tergagap tak percaya. Maksud bosnya apa?

“Manfaatkan lah saya.”

​Ruangan hening. Sora terpaku di tempatnya, menatap Zayne dengan tatapan tak percaya. 

Jadi… bosnya memintanya memanfaatkannya daripada menerima pengunduran dirinya?

Gila!

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   45: Terbakar Cemburu

    Tanpa membalas godaan Kakeknya, Zayne berbalik dan langsung mengambil langkah lebar setengah berlari menerobos pintu VVIP. Pria itu memotong jalur tangga darurat dengan dada bergemuruh penuh amarah. Masa bodoh dengan taruhan Kakek, ia tidak akan pernah membiarkan pria mana pun menyentuh wanitanya!Di tengah lantai dansa, pria itu menyunggingkan senyum lebar, merangkul pinggang Sora dan hendak menariknya ke dalam putaran dansa.SREK!Zayne mencengkeram pergelangan tangan pria asing itu dengan tenaga yang kuat hingga sang pria terdorong mundur dan meringis kesakitan.Sebelum Sora sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya ditarik paksa ke dalam pelukan dada bidang Zayne. Aroma khasnya yang menenangkan seketika melingkupi Sora.Zayne mengunci pinggang Sora dengan lengannya yang kokoh, mengambil alih posisi tepat saat musik waltz bertempo lambat mulai mengalun.Lampu sorot mengunci pergerakan mereka berdua di tengah lantai dansa. Para tamu bersorak meriah, mengira Zayne adalah pasangan

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   44: Match the Code

    Sora yang mendengar penuturan Kakek Zayne hanya bisa tertunduk lesu. Ia tidak bisa mengelak apapun, karena menurutnya ia masih memiliki banyak kekurangan jika disandingkan sebagai asisten pribadi Zayne. Sementara itu Zayne cuma bergeming dengan raut datar. "Sora, kamu tunggu di balkon luar sebentar ya. Aku mau bicara sama Kakek kaku ini," ujar Zayne, seraya mengelus pelan jemari Sora. Sora mengangguk sopan. “Saya permisi dulu, Ketua,” ucapnya lalu melangkah keluar. Pintu tebal itu tertutup rapat. Kakek menyandarkan punggungnya, menatap Zayne sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Asisten biasa, hm? Kakek tahu cara matamu memandangnya saat masuk tadi. Kau tidak mungkin membawa wanita sembarangan ke ruangan ini." ​Zayne berdiri tegap. Jemarinya merapikan ujung jasnya dengan santai, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi. ​"Sora bukan sekadar asisten pribadiku, Kek," potong Zayne langsung, suaranya terdengar sangat tajam dan mutlak. "Dia wanita yang aku

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   43: Hinaan Dari Kakek

    Bibir Sora mengatup rapat, matanya membelalak menatap Zayne yang masih berjarak amat dekat darinya. Bisikan atasannya tadi sukses membuat debaran di dadanya kian bergemuruh tak terkendali."Zayne... jangan bercanda," cicit Sora pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri. "Acara Kakek itu sangat penting. Kamu sendiri padahal yang bilang kalau ini perintah. Kalau kita tidak datang—"Zayne mengikis jarak, terkekeh rendah seraya menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Sora, menggenggamnya hangat. "Aku tidak pernah bercanda soal kamu, Sora. Tapi tenang saja... aku tahu kapan harus mengalah."Zayne mengusap punggung tangan Sora dengan ibu jarinya, lalu menatap matanya dalam-dalam. "Ayo. Nanti kita terlambat."***Sedan hitam Zayne berhenti tepat di pelataran karpet merah Grand Ballroom hotel bintang lima milik Nareshwara Group. Kilatan lampu warna warni dan alunan musik instrumental menyambut kedatangan mereka.Zayne turun terlebih dahulu, membukakan pintu, lalu mengulurkan tanga

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 42: Memantik Kecemburuan

    Senin siang di kantor pusat Nareshwara Group. Suasana di area kubikel mendadak bising. Bisik-bisik antusias merayap di setiap sudut ruangan, terutama di deretan meja Divisi Perencanaan Bisnis. Rumor mengenai siapa saja yang berhak memegang kartu akses ke pesta ulang tahun Ketua Besar Nareshwara nanti malam sudah merebak luas sejak jam makan siang tadi."Serius, tahun ini cuma eksekutif sama staf pilihan yang dapet!" bisik Rika pada Nadia yang sedang merapikan riasan tipis di mejanya. "Masuk ke ballroom pestanya aja udah kayak mimpi. Dengar-dengar sih pesta ulang tahun Ketua Besar tahun ini dibikin jauh lebih megah dari tahun lalu!"Nadia hanya tersenyum tipis dan anggun, mengatupkan cermin kecilnya dengan tenang. "Acara keluarga Nareshwara memang selalu berkelas, Rika. Nggak sembarang orang bisa berbaur di sana."Sora yang baru saja selesai mencetak beberapa lembar berkas draf laporan berjalan melewati kubikel divisi tersebut dengan tenang.Langkah Sora terhenti di depan meja kerjan

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 41: Bawa Calon Istrimu!

    Dion melangkah maju dua tapak, mengabaikan cengkeraman tangan Vivianne di lengannya. Matanya yang merah menatap Sora dari ujung kepala sampai ujung kaki, melihat dress mahal yang melekat sempurna di tubuh wanita itu, tatanan rambutnya yang anggun, serta deretan tas belanjaan merek terkemuka yang bertumpuk di dekat meja. "Sora..." Dion menelan ludah kasar. Suaranya serak, penuh gejolak emosi yang bercampur aduk. "Kamu... kamu benar-benar pindah ke tempat pria ini? Secepat ini kamu menjual dirimu hanya demi harta, Sora?!" Plak! Suara itu tidak datang dari tamparan, melainkan dari dentang nyaring gelas kristal yang diletakkan Zayne secara perlahan di atas meja marmer. Gerakannya sangat tenang, namun gema suaranya cukup untuk memotong kalimat Dion secara telak. Zayne bersedekap dada, bersandar santai di kursinya. Aura dingin dan dominan yang menguar dari tubuhnya seketika menekan atmosfer di sekitar meja mereka. "Jaga mulut kamu, Dion," potong Zayne datar. Suaranya tidak keras, t

  • Resign! Bosku Menolak Melepaskanku   BAB 40: Sentuhan Panas di Ruang Ganti 2

    Namun Zayne benar-benar bebal. Pria itu seolah tuli, malah makin mengeratkan genggamannya di pinggang Sora dari belakang dan melanjutkan ciuman hangatnya di tengkuk wanita itu, membuat persendian Sora mendadak lemas tak berdaya. Mata Sora sampai berkaca-kaca karena kewalahan. Antara malu, jantungan, dan gelombang desiran hebat yang tak sanggup ia pangkas, Sora merasa matanya mulai memanas. Bagaimana jika pegawai butik datang dan memergoki mereka berdua sekarang? Pekik Sora dalam hati. Mau ditaruh mana mukanya? "Zayne, tolong… berhentilah..." bisik Sora jujur dengan nada merengek yang sangat pasrah, matanya sudah berkaca-kaca menatap bayangan Zayne di cermin. Zayne sendiri justru menikmati Sora yang pasrah dalam dekapannya. Apalagi nada memohon yang keluar dari bibir perempuan itu malah makin memantik gairahnya. “Zayne… kumohon... berhenti, ya. “ Pria itu akhirnya memandang Sora dari cermin. Terlihat mata Sora yang kini sudah menggenang air mata dan bibirnya yang melengku

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status