Return of the Luna and the last Lycan clan

Return of the Luna and the last Lycan clan

last updateDernière mise à jour : 2024-10-23
Par:  Reanne MichelleComplété
Langue: English
goodnovel16goodnovel
Notes insuffisantes
95Chapitres
3.5KVues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Young Brooke is set to become Luna of the Sun pack, but a night of celebration turns into a tragic nightmare. When Brooke is left to protect the only survivors of her pack after they successfully escape and go into hiding, they soon learn that their nightmare is far from over and Brooke ends up face to face with the man that destroyed everything. Determined to get revenge on her enemy isn't as easy as she thought when she's put through more than she was ever prepared for, but Brooke..... doesn't give up!

Voir plus

Chapitre 1

Chapter 1 - The Invader

“Aku rasa ini bukan ide yang bagus, Daniel.” Jessie berdiri kaku di tengah kamar hotel mewah itu. Cahaya temaram lilin aromaterapi memantul di dinding marmer, menciptakan suasana intim yang justru membuat perutnya mual.

“Ayolah, Jess.” Daniel meraih tangan Jessie, jemarinya menggenggam lembut tetapi terasa memaksa. “Kita hanya butuh waktu berdua sebelum besok. Tanpa keluarga, tanpa teman-temanmu yang cerewet itu.”

Jessie menelan ludah. Ia selalu tahu bahwa pernikahan ini hanyalah kesepakatan dua keluarga. Ayahnya mengejar kekayaan keluarga Sanjaya, sementara ia hanya ingin lepas dari rumah, dari ibu tiri yang selalu meremehkannya, dari tekanan keluarga yang tak pernah peduli pada dirinya.

Tapi berada di kamar hotel seperti ini, malam sebelum pernikahan, tetap terasa salah.

Jessie mengedarkan pandangan. Ranjang besar, tirai tebal, anggur merah di meja, dan lilin-lilin wangi… semuanya seperti terlalu ‘disiapkan’.

“Kita bisa bicara di lobi, atau di restoran,” ucap Jessie lirih. “Kenapa harus di sini?”

Daniel terkekeh, nada tawanya ringan tapi matanya dingin. “Kamu terlalu tegang. Sedikit minum tidak akan membuatmu kehilangan kendali, kan?” Ia mengangkat dua gelas sampanye. Jessie ragu.

Tapi sebelum ia sempat menolak, Daniel sudah menyodorkan gelas ke bibirnya, seolah mendorongnya agar minum.

“Untuk masa depan kita,” ujar Daniel sambil tersenyum.

Jessie mengangkat gelas hanya untuk menghargai. Cairan itu hangat ketika melewati tenggorokan, namun rasa getir samar membuat alisnya terangkat. Aneh. Sampanye biasanya tidak seperti itu.

Ia baru meneguk sedikit, tetapi pandangannya langsung berputar. “Aku... kenapa rasanya—”

Dunia mulai memudar di sekelilingnya.

“Daniel… apa yang kamu—”

Kalimatnya terputus. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Napasnya memburu. Tubuhnya panas seperti sedang demam tinggi.

Dalam penglihatan yang mulai kabur, bayangan Daniel bergerak ke arah pintu. Jessie melihatnya samar berbicara dengan seseorang di luar kamar.

Satu kalimat dari Daniel samar terdengar di telinganya.

“…tiduri wanita itu…”

“Apa…?” Jessie mencoba menangkap arti kalimat itu. Tapi kepalanya berat, matanya menutup dengan sendirinya, dan ia jatuh ke ranjang tanpa daya.

Entah berapa lama ia tertidur. Ia hanya ingat tubuhnya terasa… aneh. Panas merayap dari ujung kaki sampai punggungnya. Nafasnya pendek. Kulitnya sensitif terhadap udara yang menyentuh.

Jessie menggeliat, meraih tepi selimut. “Daniel…?” panggilnya lemah.

Tidak ada jawaban dari pria itu.

Yang ada justru… seseorang lain.

Siluet seorang pria tinggi berdiri tak jauh dari ranjang. Jessie memaksa matanya membuka lebih lebar. Ia ingin berteriak, tapi tubuhnya seperti tidak mau bekerja sama.

“Siapa…” Jessie menarik napas keras, dada naik turun tak teratur. “Apa yang… kamu lakukan di sini?”

Pria itu tampak terkejut melihat kondisinya. Matanya menajam, kemudian melirik gelas-gelas sampanye di meja. “Nona, kamu... apa kamu sadar apa yang kamu minum?”

Jessie tidak bisa menjawab. Otaknya kabur. Tubuhnya panas. Pikirannya berkata ia harus menjauh, tapi tubuhnya justru bergerak mendekat.

“Tol—tolong…” suaranya pecah, antara sadar dan tidak.

Pria itu tampak ragu. Tangan besarnya terulur hanya untuk memastikan Jessie tidak terjatuh. “Kamu tidak baik-baik saja. Duduk dulu.”

Namun ketika ia mencoba menjauh, Jessie malah meraih kerah kemejanya dan menarik pria itu ke arahnya.

Bibirnya menyentuh bibir pria itu.

Mata pria itu terbelalak. Ia tampak berniat mundur, tetapi Jessie sudah lebih dulu terseret oleh sensasi aneh yang membakar tubuhnya. Semua terasa berat dan panas, dan Jessie tidak punya kendali atas dirinya sendiri.

Yang terakhir ia ingat hanyalah tangan pria itu yang menahan pinggangnya agar ia tidak tumbang, lalu gelap.

Cahaya pagi yang tajam membangunkan Jessie. 

Kepala berdenyut, tubuh terasa lelah dan… sakit di beberapa titik. Ia meraba ranjang, dan tubuhnya membeku.

Kulitnya menyentuh seprai langsung.

Tidak ada kain.

Tidak ada pakaian.

“Tidak… tidak…” Jessie menoleh panik. Sisi ranjang kosong, tapi suara pancuran air terdengar dari kamar mandi.

Ketika pintu terbuka, uap hangat keluar bersama sosok pria tinggi berhanduk. Rambutnya basah, menetes, dan garis luka memanjang di rusuk kirinya terlihat jelas.

Dia bukan Daniel.

“Siapa kamu!?” teriak Jessie dengan suara serak. “Apa yang kamu lakukan di sini?!”

Pria itu berhenti, menatapnya dengan ekspresi rumit.

“Semalam… kamu yang menarikku,” katanya pelan.

Jessie merasa wajahnya panas, antara malu, marah, dan takut. “Tolong jangan bercanda! Lihat cincin di jariku! Aku ini wanita yang akan segera menikah.”

Pria itu tidak membalas, hanya melirik gelas sampanye di meja. “Minumanmu dicampur obat. Bukan efek alkohol.”

Jantung Jessie mencelos. Samar-samar ia mengingat panas yang menyiksa tubuhnya semalam.

Berarti…

“Kamu bekerja sama dengan Daniel!?” tuduh Jessie gemetar.

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil kemejanya, mengenakannya perlahan, lalu melangkah ke pintu.

“Jawab aku!” Jessie berteriak, suara pecah.

Pria itu berhenti, menoleh sedikit—namun tetap tanpa kata—lalu pergi.

Pintu tertutup dengan bunyi pelan, meninggalkan Jessie sendirian bersama seprai kusut dan tubuh yang terasa asing.

Getaran ponsel di meja membuatnya terlonjak. 

Pesan dari Daniel.

[Kamu tidur nyenyak, calon pengantinku?

Aku lihat ada lelaki keluar dari kamar hotelmu pagi ini. Siapa dia?]

Jessie menatap layar ponsel dengan tangan bergetar. Dunia seakan runtuh di sekelilingnya.

Dalam bisikan nyaris tak terdengar, ia berkata,

“Daniel… apa yang sebenarnya kamu rencanakan padaku? Kamu menjebakku…?”

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Pas de commentaire
95
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status