Share

Perlawanan

Bab 2 : Perlawanan

“Naira?! Apa yang kau lakukan di sini?”

Perempuan yang dipanggil Naira memiringkan wajahnya seraya memasang raut wajah bingung yang mungkin bagi sebagian orang akan terlihat imut dan menggemaskan.

Namun dimata Hanna, ekspresi yang gadis ini tunjukan terasa sangat menjijikkan. Hanna harus menahan isi perutnya agar ia tak muntah dengan ekspresi Naira yang terkesan sangat berlebihan.

“Kenapa kakak bertanya begitu?” Tanya Naira balik seraya memandang Hanna dengan lekat. Hanna menghela napasnya sejenak. Entah kenapa, dadanya terasa sangat sakit dan sesak jika mengingat Naira adalah salah satu dalang dari kejadian itu.

“Tentu saja aku bertanya. Memangnya kau tak pergi ke rumah suamimu?”

Hanna berkata dengan nada sarkas seraya menyunggingkan senyuman mengejek. Tangan Hanna bersedekap di depan dada sambil ingin menunjukkan bahwa Hanna ini adalah bosnya.

“Suami? Kakak bicara apa?”

“Tak perlu akting bila kau ada di hadapanku. Mengapa kau berada di sini dan tak pergi ke rumah suamimu?” lagi, Hanna harus mengulang kembali pertanyaannya pada adik tirinya itu. Hanna merasa jengah karena Naira terus berada di sekitarnya.

Naira menggelengkan kepala mendengar pertanyaan aneh kakaknya. Dengan lembut, ia mengelus rambut Hanna dan mengusaknya pelan. Tentu saja Hanna sangat terkejut dengan perlakuan adik tirinya itu.

“Kau bicara melantur, kak. Sejak kapan aku punya suami. Menikah saja belum,”

Hanna membelalakkan matanya karena terkejut dengan pengakuan dari adik tirinya itu. Dalam hati, Hanna berpikir jika adiknya ini sungguh sangatlah piawai dalam menipu dirinya dan semua orang.

“Ini kan baru tahun 2012. Pernikahanku itu akan diselenggarakan satu tahun lagi, kak,” jelas Naira dengan senyuman kecil.

“Tunggu, sekarang tahun 2012?” tanya Hanna dengan nada pelan. Naira menganggukkan kepalanya walaupun aneh dengan sikap kakaknya hari ini.

“Tentu saja, lebih tepatnya kita berada di tanggal 15 Juni 2012,” Naira menjeda sejenak perkataannya seraya memasang wajah curiga pada Hanna.

“Kakak kenapa terkejut, hm? Aku lihat kakak terlihat aneh sejak bangun tidur,” Naira mendekati Hanna dan menempelkan telapak tangannya di punggung tangan milik kakak tirinya itu. Ia menatap Hanna dengan pandangan lurus seolah tengah menganalisis sesuatu.

“Mungkin hanya perasaanmu saja,” jawab Hanna seraya memalingkan wajahnya ke arah lain agar Naira tak mencurigai dirinya lebih dari ini.

Setelah mengatakan demikian, keadaan menjadi hening. Baik Naira maupun Hanna, keduanya memilih untuk bungkam. Hal ini terus berlanjut setidaknya sampai lima menit. Karena situasi yang canggung, Naira pun angkat suara seraya memecah keheningan yang ada.

“ Oh, Ayah berpesan padaku kalau kakak tidak boleh kemana mana hari ini,” ujar Naira mengalihkan topik agar suasana tak terasa canggung.

Hanna tentu saja menoleh pada adik tirinya itu. Ia tak boleh kemana pun? Kenapa? Seingat Hanna dirinya tak ada acara apa pun di bulan Juni.

“Eh, kenapa?”

Naira menyentil dahi Hanna dengan cukup keras, cukup untuk membuat Hanna meringis kesakitan. Hanna mengelus bekas sentilan Naira yang ternyata memerah itu.

“Kakak lupa ya? Kakak kan harus datang ke pertemuan keluarga,”

Otak Hanna rasanya blank mendengar ocehan gadis di hadapannya saat ini. Pertemuan keluarga? Dengan siapa? Oh atau jangan jangan—

“Dengan keluarga Cakradara, bukan?” tebak Hanna.

Naira menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia menatap Hanna dengan senyuman teduh yang terasa palsu di mata Hanna. Naira pun menggenggam tangan Hanna yang mungil dengan sorot mata memohon.

“Tolong gantikan aku ya kak. Aku tak mau menghadiri pertemuan itu. Kakak sayang aku, kan?”

Hanna tentu saja ingin menolaknya. Ia tak ingin kembali berurusan dengan keluarga Cakradara. Meskipun dirinya hendak membalas dendam pada orang itu, tetapi kembali bertemu dengan keluarga Cakradara adalah opsi yang paling buruk yang pernah ia dengar.

“Naira, aku tak—“

“Kakak harus mau karena ini adalah perintah Ayah,”

Bagai tersambar petir di siang hari, Hanna merasa terkejut hingga kehabisan kata kata. Ia tak bisa menyanggah perkataan Naira lagi jika ini menyangkut Ayahnya. Orang kedua yang paling ia benci setelah suaminya di masa depan.

Hanna menghela napas berat. Pilihan ini benar benar sangat sulit untuknya. Haruskah ia menjilat ludahnya sendiri? Ah, sejak kapan pula Ayahnya yang terkenal tak berperasaan itu mulai mengontrol dirinya?

“Terserah kau saja,” ucap Hanna setelah melakukan pertimbangan yang cukup panjang. Naira yang mendengarnya melonjak senang hingga melompat lompat kecil.

“Terima kasih ya, kak. Aku tahu kakak anak yang berbakti pada Ayah,”

Entah itu sindiran atau bahkan hinaan, Hanna tak tahu dengan pasti maksud dibalik ucapan adik tirinya yang beracun melebihi ular kobra itu. Hanya saja, Hanna harus berhati hati saat ini karena Naira pasti akan kembali melancarkan siasat untuk menghancurkan dirinya.

“Oh ya kak, Ayah bilang kakak harus menggunakan—“

“Aku tak suka di atur dalam urusan pakaian, Naira,” sambar Hanna dengan nada tegas membuat riak terkejut tampak begitu jelas di wajah cantik Naira.

“Aku akan memilih pakaian sendiri. Lagipula, Ayah tak menyuruhku untuk menggunakan pakaian tertentu, bukan?”

Mendengar jawaban dari Hanna yang tengah melawan, Naira melotot seraya menggigit bibir seolah sang gadis tengah menahan amarahnya pada Hanna. Tatapan matanya yang meruncing menggambarkan akan ada perang tak terlihat yang akan terjadi tak lama lagi. Hanna menyeringai tipis melihat ekspresi Hanna yang terasa lucu baginya.

“Eh, tumben sekali kakak tak mau diatur olehku. Biasanya, kakak akan meminta tolong padaku jika bepergian ataupun menghadiri pertemuan,”

“Itu dulu, Naira. Sekarang aku ingin berpakaian sesuai dengan kata hati, dengan catatan tetap sopan dan masih masuk dengan tema yang akan di pakai nanti,”

Bisa Hanna rasakan jika Naira berusaha sekeras mungkin untuk menekan egonya agar ia tidak meledak saat ini juga. Hanna juga bisa melihat jika tangan Naira terkepal begitu kuat hingga buku buku jarinya terlihat memutih.

Oh, Untung saja kuku Naira pendek saat ini. Jika saja kuku Naira panjang seperti dalam pikirannya, Hanna bisa melihat jika tetesan darah dari yang menetes indah dari telapak tangan Naira karena terlalu kuat mengepalkan tangannya. Jangan lupakan juga jika napas Naira terasa sedikit tersengal karena harus menahan emosi sebesar itu.

“Aku rasa kau benar benar berubah, kak. Apa yang merasukimu hingga kau melawanku seperti ini?”

Tak tahan, akhirnya Naira pun mengucapkan rasa kesal yang menumpuk di dadanya. Persetan dengan tata kram serta sopan santun. Naira tak peduli. Yang jelas, Hanna menjadi liar dan tak bisa ia kendalikan seperti dulu.

“Berubah? Aku tak berubah kok, Naira,” sahut Hanna dengan nada yang terasa menyebalkan di telinga lawan bicaranya. Untuk menambah kesan dramatisasi layaknya film drama Korea yang sering ia tonton, Hanna bersedekap seraya memasang wajah angkuh layaknya pemeran antagonis.

“Bukan aku yang berubah. Tapi kau, adik tiriku sayang,” Hanna menekan tiap kalimat terakhir dengan nada emosi. “Apa ini sifat aslimu, Naira? Kau marah ketika aku tak bisa lagi di bawah kendalimu?”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status