Mag-log inSaat ini ruangan itu terasa penuh namun juga terasa berat, dua orang di atas brankar yang berbeda namun bersebelahan itu masih menutup mata dengan nafas teratur. Rigecherta dengan masker oksigen yang menutupi sebagian wajahnya, serta beberapa perban karena luka luka di tubuh serta pelipis nya juga selang infus di tangan kirinya. Tivane dengan wajah pucat dan selang oksigen di hidungnya serta selang infus di tangan kirinya kini wanita itu benar-benar terlihat lemah tak berdaya. Semua orang di dalam ruangan itu diam dengan helaan nafas berat. " Mau di kasih tau sama Tante Risa dulu nggak nih?" Tanya Skyler bersiap menelpon ibu Rigecherta. " Jangan dulu. Nanti kalau terlalu mendadak ia akan syok. Nanti om sendiri yang akan menjemput Risa." Ucap Aliandra membuat mereka mengangguk kecil. Pintu ruangan terbuka menampilkan Veros yang datang dengan Milenia di samping nya. Begitu sampai di dalam ruangan, Milenia langsung merasa lemas saat melihat sahabat baikny
Suasana langsung riuh dan tubuh keduanya di kelilingi. River yang masih berada di sekitar dan karena menunggu Ella ke bank tadi pun merasa terkejut hebat saat melihat Rigecherta di tabrak dengan keras dan tak lama setelah itu Tivane pun ikut pingsan di sana. " ada apa kok ribut?" Tanya Ella yang baru keluar juga langsung menoleh dan tersentak. " ayo kesana dulu. Kita aja yang bawa mereka. Ambulance masih lama banget itu" River langsung menyeruak di kerumunan dan berhasil di depan Rigecherta dan Tivane. "Bawa yang. Pak tolong masukin ke mobil saya saja. Biar cepat. Mereka butuh pertolongan pertama" pinta River pada salah satu warga dan mereka langsung mengangguk. Mereka semua membawa tubuh ke Rigecherta ke dalam mobil River, sementara Tivane ke dalam mobil Rigecherta yang akan di bawa oleh Ella. Mobil keduanya langsung melesat cepat membelah kerumunan. Di dalam mobil, River langsung menyambungkan panggilan dengan Veros juga Skyler. " Satu ikut gue ke rumah sa
Rigecherta yang awalnya diam sambil mengaduk makanannya tersentak saat melihat Tivane yang berdiri di depan pintu masuk warkop itu. Ella yang menyadari raut wajah Tivane yang terlihat salah paham pun juga ikut berdiri. Rigecherta dengan cepat langsung berdiri dan mengejar Tivane yang berbalik pergi. River yang baru datang dari toilet pun terkejut saat Rigecherta berlari melewatinya. Ya cowo itu juga ikut, tapi tadi saat Tivane datang, ia sedang di toilet. Rigecherta meraih tangan Tivane dan menahannya dengan lembut. " Sayang tunggu, kamu salah paham sumpah. River ada di dalam sayang. Sumpah" ucap Rigecherta membuat Tivane berbalik dengan mata memerah. " Kenapa nggak balik ke rumah hah?! Aku nunggu kamu sampe ketiduran tau nggak?!" Sentak Tivane memukul dada Rigecherta dengan keras. " Maaf.. aku nggak tau kalo kamu di rumah. " Rigecherta membiarkan Tivane. " Kamu jahat, dan sekarang aku malah liat kamu berduaan sama cewe lain" Tivane mulai lelah dan
Mobil Rigecherta berhenti di depan gerbang dan mengerutkan kening saat tak melihat mobil biasa ibunya lagi di sana. Rumah pun sudah tertutup dan terlihat tak ada orang. " Mereka pada kemana?" Gumam Rigecherta memutuskan untuk menelpon sopir pribadi ibunya. " Halo den." Suara sang sopir terdengar dari seberang namun hampir tenggelam karena suasana terdengar ramai. " Kalian lagi di mana emang mang? Kok rumah kosong?" Tanya Rigecherta. " Nyonya sama non Tivane lagi di mall. Katanya saya tunggu di sekitar sini saja karena mereka mau quality time katanya." Jawab sang sopir membuat Rigecherta menghela nafas lega. Padahal tadi kepalanya sudah membayangkan hal aneh. " O.. bisa bapak Sherlock? Biar saya saja yang datang kesana" ucap Rigecherta menyalakan kembali mobilnya. " Boleh den. Ini saya Sherlock ya" jawab sang sopir dan Rigecherta langsung memutuskan panggilan. " Pantau aja deh. Takut kenapa-napa" ucap Rigecherta seorang diri dan langsung melajukan mobil
Pagi itu ceah namun terasa berat dan sangat menyesakkan bagi Tivane yang baru bangun setelah beberapa jam tidur. Tidur nya semalaman ini tidak tenang. Padahal harusnya tadi malam adalah malam yang sangat pas untuk tidur karena hujan deras mengguyur. Namun yang ada di benak Tivane hanya kebimbangan dan keraguan. Ia baru bisa tidur beberapa jam tadi karena pikirannya tak bisa tenang sama sekali. Ingin sekali rasanya ia keluar dan membawa Rigecherta masuk ke rumah dan tidur di dalam saja. Tapi di sisi lain ia juga merasa tak enak jika tiba-tiba Risa terbangun karena terganggu. Semalaman Tivane hanya bisa memejamkan mata tanpa benar-benar tertidur. Ia akan duduk sesekali dan melihat ke arah balkon untuk memastikan mobil itu masih ada di sana. Kini Tivane duduk termenung di atas ranjang sampai decitan pintu yang terbuka membuat Tivane menoleh. Risa terlihat sudah segar namun matanya terlihat sedikit membengkak. Wanita itu terlihat membawa nampan. " mama? Pagi ma" sap
Rigecherta dan Veros serta River sudah berkumpul untuk membahas rencana mereka berikutnya. Selama mereka berbincang, pikiran Rigecherta tidak sepenuhnya ada di sana. Sebagian pikirannya melayang entah kemana yang membuat ia merasa pening. " Ge, Lo aman nggak?" Tanya Veros menyadari wajah Rigecherta mulai di penuhi keringat dan kecemasan terlihat jelas di sana. " Gue aman. Sekarang yang gue pengen. Kita harus secepatnya bongkar semuanya. Dengan begitu gue bisa ngobrol sama Vane pelan-pelan. Secepatnya kalo bisa" ucap Rigecherta menghela nafas berat. " Iya. Besok. Kita bakal bongkar semuanya. Soal Vane, kami bisa bantu kayaknya" ucap River membuat Veros mengangguk setuju. " Thanks. Tapi buat sekarang bujuk dia itu nggak mudah. Tapi yang penting semua kelar dulu" ucap Rigecherta melemparkan flashdisk yang berisi beberapa file ke atas meja. " Apa tuh isinya?" Tanya River mengambil dengan penasaran. " Semua jejak rekaman suara yang gue dapat dari beberap
Waktu berlalu dengan cepat. Kini hari kelulusan mereka sudah hampir dekat. Tivane dan Rigecherta juga selalu belajar bersama setiap hari saat hari ujian. Semester ini mereka benar-benar sibuk dan fokus belajar walau terkadang masih sempat marahan dikit. Besok adalah hari kelulusan mereka. Dan ha
Malam itu terasa indah dengan bintang yang bersinar terang di langit malam. Suasana di dalam rumah Tivane sepi namun di kamarnya terasa seperti ada sepuluh orang yang sedang mengobrol padahal ia hanya panggilan video dengan Rigecherta, Veros, Skyler dan River. " Kalian ada urusan nggak libur
Suasana di kelas tampak sangat sunyi bahkan terasa berat. Hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas dan bertepatan mata pelajaran terakhir ujian adalah sejarah. Di dalam ruangan Tivane terlihat gadis itu menunduk fokus ke arah lembar jawaban nya. Di setiap ruangan hanya berisi 15 siswa
Suasana sore itu terlihat cerah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Tivane di rumahnya terlihat sedang siap-siap untuk main bersama Rigecherta dan tiga temannya yang lain. Sesekali ia menoleh ke arah handphone nya memastikan apakah ada notifikasi yang masuk dari Rigecherta. Tivan







