Share

Bab 4

Author: Ren
"Mungkin dia lupa kalau kamu punya alergi. Aku minta maaf padamu mewakili dia."

Kemudian, dia memalingkan wajah menghindari tatapanku dan lanjut bicara, "Masalah ini jangan sampai Ibu tahu. Ajeng sudah cukup menderita. Kalau sampai ibumu juga berpikiran buruk padanya, bagaimana dia bisa betah tinggal di rumah ini? Dia cuma punya kita."

"Masalah ini, lupakan saja. Jangan perhitungan lagi."

Jangan perhitungan lagi.

Tiga kata yang diucapkan begitu enteng itu seolah menghapus semua rasa sakit dan luka yang kuterima.

Aku pun mengangguk pelan.

Benar, aku memang tidak seharusnya menaruh harapan apa pun lagi pada mereka.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku mencari pekerjaan sampingan yang menyediakan tempat tinggal dan makan, lalu tidak pernah pulang lagi.

Aku baru pulang ke rumah pada hari saat surat penerimaan mahasiswa tiba.

Begitu pintu kudorong, pemandangan di dalam rumah tampak begitu harmonis.

Rangga dan ibuku sedang mengerumuni Ajeng yang mengenakan gaun baru yang cantik. Mereka berpelukan dengan penuh semangat.

"Ajeng, sekarang kamu sudah jadi mahasiswi. Ibu benar-benar bahagia untukmu."

"Ajeng ini sudah pintar, cantik pula. Pasti nanti banyak laki-laki yang mengejarmu."

Ajeng dengan wajah tersipu malu menggoyangkan lengan Rangga, merajuk manja.

"Nggak ada yang lebih baik dari Kak Rangga. Di mataku, Kak Rangga yang paling tampan!"

Akan tetapi, begitu mendengar aku masuk, gelak tawa mereka seketika lenyap.

Ibu melotot ke arahku. "Pergi berhari-hari, kupikir kamu sudah mati di luar sana."

Rangga yang melihat tubuhku tampak lebih kurus, memperlihatkan gurat rasa iba di matanya. Dia segera menghampiriku dan hendak menggenggam tanganku.

"Aku akan membantu Ibu membayar sebagian biaya kuliahmu dan Ajeng. Kamu nggak perlu menyiksa diri dengan bekerja banting tulang seperti itu."

Aku mengibaskan tangannya dan menjawab dengan nada dingin, "Nggak perlu."

Setelah itu, aku melangkah hendak menuju kamar.

"Lintang." Rangga memanggilku, kali ini dengan nada suara yang sengaja diperlembut. "Karena surat penerimaan mahasiswa sudah keluar, bagaimana kalau aku mengantar kalian keliling kampus dengan mobil? Supaya kalian bisa mulai terbiasa dengan suasananya."

"Serius? Wah, asyik!" Ajeng segera merangkul lengan Rangga dengan mata berbinar. "Kak Rangga, kamu baik sekali."

Akan tetapi, di detik berikutnya, tatapan mata Ajeng meredup. Dia melirikku dengan ekspresi ketakutan yang dibuat-buat. "Tapi, sepertinya Kak Lintang masih marah padaku dan nggak mau pergi bersamaku. Lebih baik kalian saja yang pergi, aku nggak apa-apa kok."

Mendengar ucapannya, aku hanya merasa sangat lelah.

Sebelum Ibu sempat membuka mulut untuk memaki, aku sudah bersuara lebih dulu.

"Kalian pergi saja, aku masih ada urusan."

Rangga mengernyit. Secara refleks, dia melangkah maju dan hendak mencengkeram pergelangan tanganku. "Lintang."

"Rangga." Ibu segera menahannya. "Lihat wajah masamnya itu, cuma merusak suasana saja. Jangan pedulikan dia, ayo kita berangkat."

Ajeng pun menundukkan kepala di saat yang tepat, lalu berbisik pelan, "Kak Rangga, jangan paksa Kak Lintang lagi. Mungkin dia memang benar-benar nggak mau pergi bersamaku."

Tangan Rangga yang terulur, membeku di udara.

Muncul rasa kesal dan amarah yang tak dapat dijelaskan dalam hatinya.

Dia menarik kembali tangannya, berjalan tepat ke hadapanku, dan nadanya pun berubah serius.

"Lintang, aku beri waktu satu hari lagi untukmu merajuk. Besok, aku sendiri yang akan membawamu melihat kampus."

Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada memerintah, "Besok, aku ingin melihat Lintang yang dulu, yang selalu tersenyum setiap kali melihatku. Bukan Lintang yang berpikiran picik seperti sekarang ini. Mengerti?"

Aku mendengus pelan, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.

Lintang yang dulu ... tidak akan pernah kembali lagi.

Setelah mereka pergi, aku segera mengemasi barang-barangku yang tidak seberapa. Aku pun membawa surat penerimaan mahasiswa dari Universitas Adiwangsa dan tiket yang sudah kubeli sebelumnya, lalu langsung bergegas menuju stasiun kereta cepat.

Sebelum naik ke atas gerbong, aku menoleh untuk terakhir kalinya ke arah kota di selatan ini, tempat yang telah menjadi saksi hidupku selama delapan belas tahun.

Setelah itu, aku melangkah pergi mengejar impianku tanpa menoleh lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 10

    Rangga menoleh ke arah ibuku dengan nada bicara yang sangat keras. "Bibi! Apa yang sudah Bibi janjikan padaku sebelumnya?"Ibuku sempat menciut ketakutan, tetapi sedetik kemudian dia kembali menangis histeris. "Ibu benar-benar nggak punya pilihan lain. Lintang, berikan sedikit uang pada Ibu, ya? Ibu benar-benar nggak bisa bertahan hidup lagi.""Aku nggak punya uang."Aku menolaknya mentah-mentah."Mana mungkin nggak punya!" teriak ibuku melengking. "Kamu sudah kuliah, kamu juga bisa bekerja sampingan, mana mungkin kamu nggak punya uang?"Aku mencibir dan langsung membongkar kedoknya. "Bu, Ibu nggak benar-benar sadar kalau Ibu salah. Ibu cuma sudah kehilangan jalan dan ingin memeras manfaat terakhir dariku.""Lagi pula, selama ini aku selalu bertanya-tanya. Aku ini anak kandung Ibu, tapi kenapa Ibu begitu jahat padaku? Kenapa Ibu jauh lebih menyayangi Ajeng daripada aku?"Tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Itu semua karena kamu

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 9

    Seketika, sebuah aliran hangat mengalir di lubuk hatiku.Ternyata, setelah berhasil keluar dari penjara itu, dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh kehangatan di mana-mana.Berkat adanya Kakek dan Nenek, aku akhirnya benar-benar memiliki rumah di Kota Banger.Setiap akhir pekan, aku selalu menyempatkan diri untuk menjenguk mereka.Nenek akan memasak satu meja penuh dengan hidangan lezat, sementara Kakek akan menanyakan perkembangan kuliahku dengan antusias."Lintang, apa uang sakumu cukup? Kakek dan Nenek punya uang pensiun yang cukup banyak, kamu nggak perlu bekerja terlalu keras sampai kelelahan," ucap Nenek yang selalu merasa khawatir padaku."Cukup, Nek," jawabku sambil tersenyum. "Sekarang penghasilanku dari kerja sampingan sudah lumayan, bahkan aku sudah bisa membelikan hadiah untuk Kakek dan Nenek."Proyek kewirausahaan yang kurintis bersama Rian benar-benar mulai membuahkan hasil.Kami sudah membentuk tim kecil di kampus dan jangkauan bisnis kami makin meluas dari hari ke hari.Has

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 8

    "Lintang, aku tahu posisi mana di perpustakaan yang paling tenang, sini kuberi tahu.""Lintang, akhir pekan ini ada kerja sampingan, mau ikut nggak? Aku sudah memesankan satu tempat untukmu."Perlahan-lahan, hatiku yang hancur mulai terobati di tengah kehangatan dan kebaikan hati Rian serta teman-teman sekelasku yang lain.Hidupku tidak lagi terasa hambar dan membosankan, melainkan mulai dipenuhi dengan warna-warna baru.Selama masa itu, sesekali ibuku masih menelepon.Kalimat yang diucapkannya selalu sama. "Lintang, sejak kamu nggak ada di rumah, hidup Ibu jadi jauh lebih bahagia. Ajeng setiap hari menemaniku jalan-jalan, Rangga juga sering datang berkunjung. Hubungan mereka berdua sekarang makin lengket, lho! Rasakan itu, kamu pasti menyesal sekarang!"Setiap kali mendengarnya, aku hanya mendengarkan dengan tenang sampai selesai, lalu menutup teleponnya.Sebenarnya aku tahu semua yang dikatakannya itu bohong, tetapi aku terlalu malas untuk membongkarnya.Karena kenyataannya, Rangga j

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 7

    "Rangga!" pekikku tertahan, nyaris tak percaya.Dia mendongak menatapku. Wajahnya dipenuhi amarah, tetapi tidak bisa menyembunyikan gurat kelelahan yang luar biasa.Dia melepaskan Rian yang terkapar di tanah, mengibaskan pergelangan tangannya, lalu melangkah tegap ke hadapanku."Lintang, kita perlu bicara.""Kamu siapa? Lepaskan dia!" Rian yang melihat gelagat itu kembali mencoba menerjang untuk menghalanginya.Aku segera menariknya ke belakang punggungku. "Nggak apa-apa, aku mengenalnya."Barulah Rian mengurungkan niatnya.Aku menatap Rangga, lalu berucap datar, "Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan di sini."…"Aku mencarimu di Kota Banger selama tiga hari." Suaranya terdengar serak. "Aku menanyakan semua orang yang bisa kutanyai, memeriksa setiap hotel dan penginapan. Lintang, kamu benar-benar kejam."Aku mendengus sinis, tidak menyahut.Seketika itu juga, nada bicaranya menjadi lembut.Dia menghela napas panjang dan berkata, "Lintang, aku tahu seberapa besar kamu mencintaiku.

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 6

    Ajeng yang berada di samping mereka juga mulai terisak pelan. "Ini semua salahku. Kalau bukan karena aku, Kak Lintang nggak akan bertindak seperti ini. Kak Rangga, jemputlah Kak Lintang pulang, biar aku saja yang pergi.""Diam kamu!"Rangga tiba-tiba membentak dengan sangat keras.Seketika itu juga, ruang tamu menjadi sunyi senyap.Ajeng tersentak kaget mendengar bentakan itu, hingga dia lupa caranya menangis.Ratna pun menatapnya dengan penuh keheranan. "Rangga, kamu ….""Kubilang diam!" Rangga berdiri dengan sentakan kasar, dadanya naik-turun karena napas yang memburu. "Dia sudah pergi. Dia nggak akan kembali lagi! Apa kalian nggak paham?"Rangga menatap tajam foto di layar ponselnya, pikirannya kacau balau.Lintang benar-benar pergi ke Kota Banger.Gadis itu benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi.Lintang yang sejak kecil selalu mengekor di belakangnya, yang matanya hanya tertuju padanya. Lintang yang pernah berjanji akan menikmati hujan bersamanya. Lintang yang dia pikir tida

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 5

    Hari sudah larut malam saat aku tiba di ibu kota, tepatnya Kota Banger.Bulan September di utara, angin malamnya sudah mulai terasa dingin menusuk kulit.Aku menyeret koperku keluar dari stasiun, menatap deretan lampu yang benderang, tetapi asing di sepanjang jalan. Hatiku tidak merasa takut, sebaliknya, aku justru merasa tenang yang tak dapat dijelaskan.Masih ada waktu beberapa hari sebelum pendaftaran mahasiswa baru dimulai.Aku mencari hostel yang murah di dekat kampus. Satu kamar untuk delapan orang dengan tempat tidur tingkat. Tarifnya hanya seratus ribu per hari.Teman-teman satu kamarku berasal dari berbagai daerah. Ada yang sedang berjuang menempuh ujian pascasarjana, ada pula yang sedang mencari kerja. Malam harinya, kami saling berbagi makanan khas daerah masing-masing sambil membicarakan impian dari penjuru negeri."Kamu ke sini untuk kuliah?" Gadis yang tidur di ranjang seberangku bernama Dinda. Dia berasal dari provinsi lain dan sedang mempersiapkan diri untuk ujian CPNS.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status