مشاركة

Bab 3

مؤلف: Ren
Dalam pesan itu, dia menulis: [Kamu bilang kamu selalu ingin melihat hujan di kota kelahiran Ayahmu, 'kan? Komandan bilang, enam bulan lagi aku bisa mutasi ke pusat militer di sana. Nanti, kamu kuliah saja di Universitas Adiwangsa. Kita bisa melewati rintik hujan bersama, berjalan beriringan sampai rambut kita memutih dimakan usia, sebuah janji untuk menua bersama."

Dulu, saat membaca itu, air mataku jatuh karena rasa haru yang luar biasa.

Akan tetapi, sekarang, aku sadar bahwa itu hanyalah mimpiku sendiri. Mimpi yang pada akhirnya harus aku wujudkan sendirian.

Aku tetap diam di tepi pantai sampai fajar menyingsing sebelum akhirnya memutuskan untuk melangkah pulang.

Sepanjang malam ini, baik Rangga maupun Ibu, tak satu pun dari mereka yang ingat untuk sekadar bertanya di mana keberadaanku.

Satu-satunya yang terus diperbarui adalah status media sosial Ajeng. Dia terus-menerus mengunggah video yang memperlihatkan betapa perhatiannya mereka berdua saat membujuk dan memanjakannya.

Begitu sampai di rumah dan mendorong pintu, pemandangan pertama yang menyambutku adalah kasur dan bantal gulingku yang tergeletak berantakan di lantai ruang tamu.

Ibu menatapku dengan tatapan sedingin es. "Kalau Ajeng masih satu kamar denganmu, dia bisa mati tertindas olehmu. Mulai sekarang, kamu tidur di ruang tamu."

Mata Rangga tampak merah karena kurang tidur. Dia melangkah menghampiriku dan berkata, "Tindakan Ibu sudah benar. Lintang, sikapmu itu memang harus diperbaiki."

"Nanti kalau sudah menikah dan ikut aku bertugas di militer, terus kamu masih keras kepala begini, nggak akan ada lagi orang yang mau mentolerirmu."

Aku tidak membalas sepatah kata pun. Aku hanya membungkuk, memunguti kasur dan bantal itu, lalu membawanya ke sofa. Aku langsung meringkuk di sana dan memejamkan mata rapat-rapat.

Setelah terjaga semalaman di pantai, saat ini aku hanya ingin tidur dengan tenang tanpa gangguan.

Ibu mendengus kasar. "Dia sama saja seperti ayahnya yang sudah mati itu. Sama-sama keras kepala, persis batu di lubang kakus, sudah bau, keras pula!"

Setelah itu, dia tersenyum lebar sambil merangkul lengan Ajeng.

"Ayo, Ibu dan Rangga akan mengantarmu beli baju baru. Sebentar lagi, 'kan mau kuliah, kamu harus tampil cantik dan menawan."

Setelah berkata begitu, mereka bertiga pergi meninggalkan rumah dengan tawa yang bersahut-sahutan. Tak satu pun dari mereka yang menoleh lagi ke arahku.

Aku tertidur lelap hingga sore hari, sebelum akhirnya terbangun dengan kepala pening. Rumah terasa sunyi senyap, sesunyi kuburan.

Tenggorokanku terasa sangat kering. Aku bangkit, berjalan gontai menuju kamar untuk mengambil botol minumku, lalu meneguknya.

Akan tetapi, tepat saat aku menyadari ada aroma mangga di dalam air itu, semuanya sudah terlambat.

Seketika itu juga, napasku terasa sesak. Seluruh tubuhku mulai dipenuhi bintik merah yang gatal luar biasa.

Dengan panik, aku menggeledah kotak obat untuk mencari obat alergi, tetapi keajaiban tidak terjadi, semua obat itu lenyap tanpa sisa.

Sebaliknya, aku justru menemukan botol jus mangga terselip di dalam tas sekolah Ajeng.

Tak sempat lagi berpikir panjang, dengan sisa tenaga yang ada, aku menekan nomor darurat sebelum akhirnya pandanganku gelap dan kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, aku melihat Ibu sedang duduk di samping ranjang rumah sakit dengan raut wajah yang menunjukkan rasa tidak sabar.

"Kamu benar-benar nggak suka melihat Ibu senang sehari saja, ya? Sampai-sampai harus pakai drama bunuh diri segala!"

Aku menggeleng kuat-kuat, mencoba menjelaskan dengan suara serak, "Bu, aku nggak bermaksud begitu! Ini perbuatan Ajeng. Dia sengaja menuangkan jus mangga ke dalam botol minumku!"

Detik berikutnya, sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipiku.

"Bicara apa kamu! Selama enam bulan Ajeng tinggal di rumah kita, kamulah yang selalu menindasnya. Mana mungkin dia melakukan hal sekeji itu!"

"Kenapa aku bisa melahirkan anak sejahat kamu!"

Setelah membentakku, beliau langsung berbalik dan melangkah keluar dari ruang rawat tanpa menoleh sedikit pun.

Air mata kepedihan seketika membanjiri pandanganku.

Tak lama kemudian, pintu kamar rawat kembali terbuka. Rangga melangkah masuk dan berdiri di hadapanku.

Dia tampak sedikit luluh, lalu mengulurkan tangan untuk menghapus air mataku dengan lembut.

Sambil menghela napas panjang, dia berkata, "Aku akui, belakangan ini aku kurang perhatian padamu. Tapi, Ibu yang memohon padaku untuk menjaga Ajeng, aku nggak bisa menolaknya. Beliau sudah melihatku tumbuh besar sejak kecil, aku nggak mungkin mengecewakannya, 'kan?"

"Aku janji, setelah kalian berdua masuk kuliah dan Ajeng punya teman baru di sana, aku akan menghabiskan seluruh waktu liburku hanya untukmu. Mengertilah, Lintang. Jangan buat keributan lagi."

Aku menatap kosong ke matanya dan bertanya, "Kalau kukatakan Ajeng yang mencelakaiku sampai masuk rumah sakit, apa kamu percaya?"

Sambil bicara, kusodorkan ponselku tepat di depan wajahnya. Di layar itu terpampang foto botol jus mangga di dalam tas Ajeng, lengkap dengan nota pembeliannya.

Rangga mengernyitkan dahi.

Seketika, secercah harapan muncul di hatiku. Aku berharap, sekali saja, dia akan memercayaiku.

Akan tetapi, di detik berikutnya, kata-katanya justru membuatku seolah terperosok ke dalam lubang es yang dingin.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 10

    Rangga menoleh ke arah ibuku dengan nada bicara yang sangat keras. "Bibi! Apa yang sudah Bibi janjikan padaku sebelumnya?"Ibuku sempat menciut ketakutan, tetapi sedetik kemudian dia kembali menangis histeris. "Ibu benar-benar nggak punya pilihan lain. Lintang, berikan sedikit uang pada Ibu, ya? Ibu benar-benar nggak bisa bertahan hidup lagi.""Aku nggak punya uang."Aku menolaknya mentah-mentah."Mana mungkin nggak punya!" teriak ibuku melengking. "Kamu sudah kuliah, kamu juga bisa bekerja sampingan, mana mungkin kamu nggak punya uang?"Aku mencibir dan langsung membongkar kedoknya. "Bu, Ibu nggak benar-benar sadar kalau Ibu salah. Ibu cuma sudah kehilangan jalan dan ingin memeras manfaat terakhir dariku.""Lagi pula, selama ini aku selalu bertanya-tanya. Aku ini anak kandung Ibu, tapi kenapa Ibu begitu jahat padaku? Kenapa Ibu jauh lebih menyayangi Ajeng daripada aku?"Tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Itu semua karena kamu

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 9

    Seketika, sebuah aliran hangat mengalir di lubuk hatiku.Ternyata, setelah berhasil keluar dari penjara itu, dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh kehangatan di mana-mana.Berkat adanya Kakek dan Nenek, aku akhirnya benar-benar memiliki rumah di Kota Banger.Setiap akhir pekan, aku selalu menyempatkan diri untuk menjenguk mereka.Nenek akan memasak satu meja penuh dengan hidangan lezat, sementara Kakek akan menanyakan perkembangan kuliahku dengan antusias."Lintang, apa uang sakumu cukup? Kakek dan Nenek punya uang pensiun yang cukup banyak, kamu nggak perlu bekerja terlalu keras sampai kelelahan," ucap Nenek yang selalu merasa khawatir padaku."Cukup, Nek," jawabku sambil tersenyum. "Sekarang penghasilanku dari kerja sampingan sudah lumayan, bahkan aku sudah bisa membelikan hadiah untuk Kakek dan Nenek."Proyek kewirausahaan yang kurintis bersama Rian benar-benar mulai membuahkan hasil.Kami sudah membentuk tim kecil di kampus dan jangkauan bisnis kami makin meluas dari hari ke hari.Has

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 8

    "Lintang, aku tahu posisi mana di perpustakaan yang paling tenang, sini kuberi tahu.""Lintang, akhir pekan ini ada kerja sampingan, mau ikut nggak? Aku sudah memesankan satu tempat untukmu."Perlahan-lahan, hatiku yang hancur mulai terobati di tengah kehangatan dan kebaikan hati Rian serta teman-teman sekelasku yang lain.Hidupku tidak lagi terasa hambar dan membosankan, melainkan mulai dipenuhi dengan warna-warna baru.Selama masa itu, sesekali ibuku masih menelepon.Kalimat yang diucapkannya selalu sama. "Lintang, sejak kamu nggak ada di rumah, hidup Ibu jadi jauh lebih bahagia. Ajeng setiap hari menemaniku jalan-jalan, Rangga juga sering datang berkunjung. Hubungan mereka berdua sekarang makin lengket, lho! Rasakan itu, kamu pasti menyesal sekarang!"Setiap kali mendengarnya, aku hanya mendengarkan dengan tenang sampai selesai, lalu menutup teleponnya.Sebenarnya aku tahu semua yang dikatakannya itu bohong, tetapi aku terlalu malas untuk membongkarnya.Karena kenyataannya, Rangga j

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 7

    "Rangga!" pekikku tertahan, nyaris tak percaya.Dia mendongak menatapku. Wajahnya dipenuhi amarah, tetapi tidak bisa menyembunyikan gurat kelelahan yang luar biasa.Dia melepaskan Rian yang terkapar di tanah, mengibaskan pergelangan tangannya, lalu melangkah tegap ke hadapanku."Lintang, kita perlu bicara.""Kamu siapa? Lepaskan dia!" Rian yang melihat gelagat itu kembali mencoba menerjang untuk menghalanginya.Aku segera menariknya ke belakang punggungku. "Nggak apa-apa, aku mengenalnya."Barulah Rian mengurungkan niatnya.Aku menatap Rangga, lalu berucap datar, "Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan di sini."…"Aku mencarimu di Kota Banger selama tiga hari." Suaranya terdengar serak. "Aku menanyakan semua orang yang bisa kutanyai, memeriksa setiap hotel dan penginapan. Lintang, kamu benar-benar kejam."Aku mendengus sinis, tidak menyahut.Seketika itu juga, nada bicaranya menjadi lembut.Dia menghela napas panjang dan berkata, "Lintang, aku tahu seberapa besar kamu mencintaiku.

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 6

    Ajeng yang berada di samping mereka juga mulai terisak pelan. "Ini semua salahku. Kalau bukan karena aku, Kak Lintang nggak akan bertindak seperti ini. Kak Rangga, jemputlah Kak Lintang pulang, biar aku saja yang pergi.""Diam kamu!"Rangga tiba-tiba membentak dengan sangat keras.Seketika itu juga, ruang tamu menjadi sunyi senyap.Ajeng tersentak kaget mendengar bentakan itu, hingga dia lupa caranya menangis.Ratna pun menatapnya dengan penuh keheranan. "Rangga, kamu ….""Kubilang diam!" Rangga berdiri dengan sentakan kasar, dadanya naik-turun karena napas yang memburu. "Dia sudah pergi. Dia nggak akan kembali lagi! Apa kalian nggak paham?"Rangga menatap tajam foto di layar ponselnya, pikirannya kacau balau.Lintang benar-benar pergi ke Kota Banger.Gadis itu benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi.Lintang yang sejak kecil selalu mengekor di belakangnya, yang matanya hanya tertuju padanya. Lintang yang pernah berjanji akan menikmati hujan bersamanya. Lintang yang dia pikir tida

  • Rintik Hujan yang Tak Pernah Pulang   Bab 5

    Hari sudah larut malam saat aku tiba di ibu kota, tepatnya Kota Banger.Bulan September di utara, angin malamnya sudah mulai terasa dingin menusuk kulit.Aku menyeret koperku keluar dari stasiun, menatap deretan lampu yang benderang, tetapi asing di sepanjang jalan. Hatiku tidak merasa takut, sebaliknya, aku justru merasa tenang yang tak dapat dijelaskan.Masih ada waktu beberapa hari sebelum pendaftaran mahasiswa baru dimulai.Aku mencari hostel yang murah di dekat kampus. Satu kamar untuk delapan orang dengan tempat tidur tingkat. Tarifnya hanya seratus ribu per hari.Teman-teman satu kamarku berasal dari berbagai daerah. Ada yang sedang berjuang menempuh ujian pascasarjana, ada pula yang sedang mencari kerja. Malam harinya, kami saling berbagi makanan khas daerah masing-masing sambil membicarakan impian dari penjuru negeri."Kamu ke sini untuk kuliah?" Gadis yang tidur di ranjang seberangku bernama Dinda. Dia berasal dari provinsi lain dan sedang mempersiapkan diri untuk ujian CPNS.

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status